fbpx

Nominasi FFI Versi AkuAktor; Memilih yang Dipilihkan

nominasi FFI versi akuaktor

Yak! Sehari lagi pengumuman peraih nominasi FFI diumumkan. Kami menulis nominasi FFI versi AkuAktor ini agak ngebut biar nggak keduluan si empunya acara. Jadi, kami sudah menonton semua film yang masuk ke dalam daftar pendek. Hampir semua film juga sudah kami buat Acting Reviewnya. Beberapa memang sengaja belum kami bikin acting reviewnya. Hal itu antara lain karena filmnya belum rilis di bioskop, atau baru saja rilis di platform digital. Atau, memang nggak enak kalau di tulis Acting Reviewnya. 

Lalu kenapa kami memberi tambahan “Memilih yang Dipilihkan” di judul? Sebenarnya itu adalah pilihan kata yang paling halus menurut kami. Mengingat bangsa ini kadang suka baperan sama tulisan. Bahkan si jurnalis itu sendiri. Bahkan si seniman itu sendiri. Agak bingung juga kami, kok seniman dan jurnalis rasa politikus sih? Ups! 

Okay! Nggak usah panjang-panjang bahasnya. Intinya, kami memang harus memilih apa yang sudah dipilihkan. Ya, bahasa paling kasarnya, mau nggak mau harus terpaksa memilih. Sama kayak orang tua yang pengen anaknya jadi TNI atau PNS dan meminta si anak memilih antara keduanya sementara si anak cuma mau jadi pengusaha. Tidak ada pilihan. Jadi, ini nominasi FFI versi AkuAktor beserta alasannya! Oh iya lupa, nominasi yang kami buat ini khusus pemeran ya! Karena kami AkuAktor, bukan AkuSutradara atau AkuProduser, atau Aku-aku yang lain. Di judul nggak kami kasih, biar gampang SEOnya. Oke, lanjut! 

 

Pemeran Utama Pria Terbaik:

Perlu disadari kalau urutan di dalam daftar ini tidak mempengaruhi siapa yang terbaik atau tidak ya. Ini urutannya acak saja. Kami akan sebutkan siapa yang punya kans paling besar menurut parameter AkuAktor. 

 

Ibnu Jamil – Mudik

Nama pertama yang masuk ke dalam daftar adalah Ibnu Jamil. Kami memasukkan nama dia di dalam daftar ini tak lain tak bukan karena permainan emosinya yang intens di film Mudik. Seperti yang mungkin sudah kamu lihat di Mudik, Ibnu Jamil dan Putri Ayudya sama-sama bermain dengan emosi yang kompleks, berlapis, dan intens. Meskipun tidak ada capaian fisiologis apapun, permainan emosi yang kompleks dan dalam itu sudah cukup. 

Kami juga memasukkan nama Ibnu Jamil mengingat permainan macam yang dilakukan Ibnu Jamil ini adalah permainan yang jadi selera banyak voter di FFI dari tahun ke tahun. Perhatikan baik-baik, sangat jarang voter FFI memilih berdasarkan capaian yang menyeluruh. Kebanyakan menilai dari kemampuan si aktor bermain emosi. Seolah-olah keaktoran itu cuma soal bermain emosi saja. Tapi apakah kansnya besar? Bisa jadi. Seperti yang kami bilang, “memenuhi selera para voter”. 

Nominasi FFI Versi AkuAktor

 

 

Gunawan Maryanto – The Science of Fictions

Nominasi FFI versi AkuAktor yang berikutnya adalah Gunawan Maryanto. Ia bermain luar biasa di The Science of Fictions. Acting Reviewnya memang belum ada, karena memang filmnya belum rilis di bioskop. Nanti kalau kami bikin duluan, bisa spoiler dan bikin kamu-kamu pada nggak mau nonton. Bahaya kan untuk kelanjutan pemasaran film ini. Jadi tunggu sampai rilis filmnya, nanti akan kami rilis Acting Reviewnya. 

Oke, alasan utama kami memasukkan nama Gunawan Maryanto adalah karena tokohnya yang kompleks dan keberhasilan Gunawan Maryanto memainkan tokoh tersebut. Seperti yang kalian tahu, tokoh di film ini hampir selalu bergerak lambat. Itu tidak mudah! Dalam salah satu latihan seni peran ada yang namanya Slow Motion, di dalam latihan tersebut dibutuhkan kesabaran dan tingkat pengendalian diri yang tinggi. Secara tidak langsung, Gunawan Maryanto juga menciptakan aspek fisiologis dalam permainannya. 

Selain itu soal permainan emosi kami pikir juga lebih baik dari banyak pemain lain yang masuk daftar pendek film panjang FFI. Pada daftar panjang pun kami rasa penciptaan Gunawan Maryanto yang paling kompleks. Itu kenapa, kalau kami sendiri, dalam nominasi yang kami buat ini, akan meletakkan Gunawan Maryanto sebagai pemenang. Kalau FFI yang asli sih, mungkin enggak. Karena nggak masuk selera kali. 

 

Reza Rahadian – Imperfect: Karir, Cinta & Timbangan

Bosen nggak sama nama ini? Iya, kami juga bosen sebenernya. Kalau mau jujur, pencapaian Reza di dua film yang ia mainkan dan masuk ke dalam daftar pendek itu biasa-biasa saja. Dalam Abracadabra, yang sudah kami tulis acting reviewnya, kami melihat ciptaan yang sama seperti Reza di kebanyakan filmnya. Begitu juga dengan Imperfect. Kami sampai mau bilang; kalau Reza nggak main tokoh yang biopic, atau main film yang tokohnya fiktif, hasil ciptaannya pasti biasa aja. Bahkan kalau dibandingkan dengan hasil ciptaannya di film yang lain seperti My Stupid Boss atau di Habibie Ainun. 

Tapi kenapa kami memilih Imperfect? Semata-mata karena pencapaian chemistry-nya. Di dalam film ini kami mendapatkan chemistry yang terbangun dengan sangat kuat antara Reza dan semua kawan mainnya. Bukan hanya Jessica Mila. Bahkan kami rasa, chemistry Reza di imperfect ini adalah salah satu yang terbaik di jajaran daftar pendek film panjang FFI 2020. Kalau soal kans? Kami tidak menjagokan. 

 

Ario Bayu – Perempuan Tanah Jahanam

Ada dua film Ario Bayu yang masuk ke dalam daftar pendek film panjang FFI 2020. Ratu Ilmu Hitam dan Perempuan Tanah Jahanam. Kenapa kami lebih memilih Perempuan Tanah Jahanam? Karena ciptaannya jauh lebih kompleks dan berjarak dengan Ario Bayu. Di Ratu Ilmu Hitam, kami tak mendapati capaian yang memuaskan dahaga estetika kami. Tidak ada capaian fisiologis, perubahan suara, atau aspek fisiologis yang lain. Memang, capaian dimensional yang lain tetap ada, tapi menurut kami tidak sebaik permainannya di Perempuan Tanah Jahanam. 

Kalau Di PTJ, kami bisa melihat tokoh yang berjarak, dengan sejarah yang jauh lebih kompleks dari si aktor, dan kemampuan-kemampuan baru yang mau tidak mau harus dikuasai oleh Ario Bayu atau setidaknya harus ia ketahui. Kamu bisa lihat sendiri di PTJ Ario Bayu menjadi dalang, dimana ia harus mempelajari laku dalang, memegang wayang, dan kegiatan lain yang mendekatkan dirinya pada dimensi tokoh. Tapi, kalau mau menjagokan, ya gimana ya, sama deh kayak Reza. 

 

J.S Khairen – Humba Dreams

Kalau yang satu ini kami jujur saja. Meletakkannya dalam daftar ini karena memang ini adalah film pertamanya dimana ia bermain cukup baik jika menilai dari sisi J.S Khairen sebagai aktor amatir. Seperti yang pernah kami tulis di Flash Reviewnya, kami nggak nulis Acting Review karena emang terlalu mencela kalau kami tulis Acting Reviewnya. 

Jadi, di Flash Review kami menuliskan permainan J.S Khairen begitu kaku. Sama seperti aktor baru. Tidak mendengarkan dengan baik, lebih ke menunggu dialog dan tidak menjadikan dialog sebagai buah pikir dan rasa atas proses melihat peristiwa, dan kekurangan lain. Tapi, dari sudut pandang J.S Khairen sebagai aktor amatir, ia bermain bagus. Capaiannya, kalau dilihat dari sudut pandang J.S Khairen (lagi), jauh banget. Tapi, kalau mau menjagokan, ya tau sendiri lah ya, kan kita “terpaksa memilih”.  

Jadi dari 5 nominee yang kami tuliskan di atas, kalau kami punya wewenang, kami akan berikan aktor terbaik pada Gunawan Maryanto. Kenapa? Ya kalian bisa lihat sendiri siapa yang memiliki ciptaan lebih lengkap, kompleks, terpercaya, emosi yang intens, dan lain sebagainya. 

 

Pemeran Utama Wanita Terbaik:

Kalau di nominasi FFI Versi AkuAktor yang kategori pemeran utama wanita terbaik ini, sejauh pengamatan kami, punya sifat yang sama seperti Best Actress di Oscar. Permainan emosi lah yang lebih banyak dinilai. Itu kenapa nama-nama ini masuk ke dalam daftar. Sebenarnya bukan cuma karena itu, karena ya emang cuma ada nama-nama ini aja. Dah lah, nih nama-nama dan alasannya! 

 

Putri Ayudya – Mudik

Sama kok, alasannya sama kayak kawan mainnya di Mudik, Ibnu Jamil. Permainan emosi yang kompleks jadi alasan utama kenapa kami memasukkan nama ini ke dalam daftar. Jangan nanya soal capaian yang lengkap, mungkin capaian yang lengkap itu nggak penting-penting banget kali buat aktornya. 

Memang kalau dilihat dari permainannya di Mudik, emosi doi sangat intens, kompleks, dan dalam. Meskipun kami merasa terkadang permainannya hilang arah. Tokohnya emang hilang arah, tapi yang kami rasakan aktornya yang hilang arah. Entah kenapa, karena kami masih melihat Putri Ayudya kali disitu, jadi kami sulit membedakan mana hilang arahnya karakter, mana hilang arahnya aktor. Kesempatannya? Kalau dalam nominasi versi AkuAktor ini ia ada di peringkat pertama. 

Nominasi FFI Versi AkuAktor

 

 

Laura basuki – Susi Susanti Love All

Alasan pertama adalah karena film ini biopic. Eh, sorry, itu alasan kami nonton film ini. Tapi pas nonton, ya karena mindset kami menonton adalah biopic, maka kami mengharapkan kemiripan. Sayangnya, nggak dapet e kemiripannya. Gimana ya? Tapi meski nggak mirip sama Susi Susanti, Laura Basuki tetep bisa masuk ke dalam daftar nominasi versi AkuAktor ini. Soalnya ada capaian aksen, perubahan tempo tubuh, dan tentunya, jeng jeng! Emosi yang intens! Selera voter banget kan? 

Kalau soal kesempatannya, ya kami bisa bilang dia ada di urutan kedua lah ya, beda tipis sama Putri Ayudya. 

 

Jessica Mila – Imperfect: Karir, Cinta & Timbangan

Kami mengapresiasi sepenuhnya proses pembuatan film ini dan proses si aktor yang menaikkan berat badan. Prosesnya aja ya, hasilnya nggak begitu. Kenapa? Bener sih, secara fisiologis berhasil berubah jadi lebih gemuk, kemudian secara nggak langsung cara berjalannya juga berubah, laku tubuhnya yang lain juga ikutan berubah. 

Chemistrynya juga cukup baik dengan Reza. Tapi, cuma sampai di situ. Kan kami bilang di acting review Imperfect kalau permainan keaktoran itu bukan hanya soal mengubah berat badan aja, tapi juga menjalankan hidup si tokoh. Nah di poin itu, kami tak begitu mendapatkan kepuasan. Nggak bisa dibilang jelek, tapi juga nggak bisa dibilang bagus banget. Kami sepakat mengatakan “cukup” aja. Kansnya? Sama lah kayak si Laura Basuki. Sekarang kembali ke para voter. 

 

Hannah Al-Rasyid – Ratu Ilmu Hitam

Satu-satunya yang membuat kami memilih nama Hannah Al-Rasyid adalah karena permainan emosinya yang luar biasa intens dan pembangunan relasinya dengan semua kawan main yang stabil. Maksud kami begini, di dalam film ini Hannah kan berperan sebagai ibu. Nah, semua lakunya dari awal sampai akhir tetap terlihat sebagai ibu, berbeda dengan Ario Bayu yang tetiba relasinya sebagai ayah di beberapa adegan hilang. Kekuatan relasi itulah yang menjadi alasan utama kami memilih Hannah Al-Rasyid. 

Sementara untuk yang lain? Ya kurang lebih sama lah ya, sama seperti kebanyakan nominee Best Actress di Oscar yang salah satu aspek dimensionalnya tidak begitu diperhatikan. Kemudian soal kans, ya so so, sama kayak Jessica Mila. 

 

Ully Triani – Humba Dreams

Kalau yang satu ini kami pilih karena… karena apa ya? Oh oke, karena permainan emosinya yang… apa ya? Kami nggak bisa bilang intens. Kalau soal intens, ada banyak yang lebih intens. Tapi sepertinya lebih tepat disebut emosi yang punya sejarah. Kalau Hannah Al-Rasyid kekuatannya pada relasi antar kawan main, kalau Ully Triani kekuatan relasi emosinya dengan peristiwa masa lalu. Udah gitu aja. Capaian yang lain… nggak ada. Kansnya, sama aja deh. 

Kalau di kategori ini kami rasa kans semua aktris sama besar. Tapi kalau kami diminta memilih, Putri Ayudya yang akan dapat Pemeran Utama Wanita Terbaik di Nominasi FFI Versi AkuAktor. 

 

Pemeran Pendukung Pria Terbaik:

Teuku Rifnu Wikana – Perempuan Tanah Jahanam

Di Perempuan Tanah Jahanam, Rifnu Wikana emang cuma dapet porsi yang dikit banget. Kami agak bingung juga apakah porsi sesedikit itu bisa masuk pemeran pendukung pria? Tapi ngapain bingung, kan ini versi AkuAktor yak! Bebas lah, suka-suka kami! Yang jelas, secara kualitas, doi masuk ke dalam daftar. Kenapa?

Pertama karena intensitas emosinya. Lagi dan lagi ya karena itu. Berikutnya, sama seperti Ully Triani, yakni karena relasinya atas peristiwa masa lalu yang begitu kuat. Di tambah lagi emosinya yang kompleks. Coba perhatikan lagi ceritanya, kan dia sebenarnya nggak pengen ngebunuh, tapi cuma pengen bayinya lahir normal dengan kulit. Sebesar apa kansnya? Entar ajalah di akhir sub ini kita bahas. 

 

Yayu Unru – Ratu Ilmu Hitam

Sama seperti Teuku Rifnu, Yayu Unru juga porsinya nggak banyak. Bahkan hampir nggak dapet dialog. Dia banyak main silent act. Tapi meskipun cuma silent act, vibranya kuat dan emosinya intens dan kompleks. Justru tingkat kesulitan aktor-aktor dengan porsi sedikit ini jauh lebih tinggi. Artinya ia harus bisa menunjukkan semua pengetahuan soal karakter di waktu yang sangat terbatas. 

Yayu Unru juga punya pengendalian tubuh yang sama baiknya dengan Gunawan Maryanto di The Science of Fictions. Soalnya mereka berdua sama-sama tidak bisa banyak bergerak, tapi mau nggak mau harus menunjukkan apa yang terjadi di dalam kepala dan perasaannya. Meski tubuh tokoh Yayu Unru mati, tapi tidak dengan pikiran dan perasaannya. 

 

 

Ade Firman Hakim – Ratu Ilmu Hitam

Al-Fatihah dulu untuk Ade Firman Hakim. Terima kasih. Kalau membahas permainan Ade, kami merasa kalau di Ratu Ilmu Hitam, yang berhasil menciptakan tokoh dengan lengkap ya cuma Ade Firman Hakim. Dia berhasil menciptakan fisiknya, aspek sosialnya, hingga aspek psikisnya. Semua aspek yang tercipta pun tidak buntung atau tanpa sebab, atau artifisial, atau bahasa kasarnya palsu. Semua terasa dan terlihat hidup. Itu alasan terkuat kami memilih Ade Firman Hakim. 

 

Alex Suhendra – The Science of Fictions

Kalian nggak tahu nama ini kan? Jelas nggak tahu, orang dia bukan aktor Jakarta yang dekat dengan industri. Tapi meski begitu, doi aktor yang nggak bisa dipandang sebelah mata. Sebelumnya sempat kami undang di Bincang Aktor untuk bicara soal permainannya di Kucumbu Tubuh Indahku. 

Di The Science of Fictions, doi bermain cukup baik. Pertama, ia mengubah aksennya ke Cirebonan kalau kami tak salah dengar. Kalau salah di koreksi yak. Memang menarik, tapi sayangnya, doi kan juga asli sana, ini juga seinget kami ya, kalau salah silahkan dikoreksi lagi. Tapi terlepas dari apakah ciptaannya dekat dengannya yang asli atau tidak, ia berhasil memainkan karakternya sesuai porsi. 

Tidak ada emosi intens yang sesuai selera voter FFI, tapi ada pertarungan rasa dan pikir yang terjadi di film ini. Tidak banyak, tapi kami rasa cukup kuat dan masuk “selera kami”. Tapi oh tapi… kalau melihat FFI harus berkembang ke dalam pasar yang lebih baik, nama ini susah masuk. Ya gimana, kurang menjual. Tapi kan ini versi AkuAktor, bodo amat mau ngejual atau enggak, yang penting kualitas. 

 

Lukman Sardi – Susi Susanti Love All

Terakhir ada nama Lukman Sardi. Kalau yang satu ini kira-kira kenapa hayo kita masukkan? Jangan suka ngomong di belakang ah! Hahahah! Nama beliau kita masukkan karena permainan aksen yang cukup menarik. Udah, itu aja. Soal emosi yang intens, kompleks, atau dalam, nggak ada. 

Tapi penciptaan aksen itu sudah cukup bagi kami karena selain aksennya berhasil berbeda, aksen yang tercipta juga berhasil hidup. Artinya, nggak palsu kayak kebanyakan aktor FTV atau Sinetron yang pada satu momen, aktor yang main orang Jawa dibilang “Kurang Jawa!” Lha ndasmu! 

Lalu siapa yang akan menang di nominasi FFI versi Akuaktor untuk kategori yang ini? Kami akan memberikan penghargaan pada Alex Suhendra dan Ade Firman Hakim. Ya sesekali seri nggak papa kan? Orang Oscar aja pernah seri kok. 

 

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik:

Dian Sastro – Guru-Guru Gokil

Di daftar pertama ada Dian Sastro yang bermain sebagai Nirmala di film Guru-Guru Gokil. Di dalam film ini Dian memiliki capaian fisiologis yang menarik. Meskipun, capaian fisiologis itu menurut kami mendekati artifisial. Beberapa memang soal bentuk, seperti make up yang kami rasa terlalu berlebihan dan juga laku tubuh serta pilihan nada ketika berdialog yang kami rasa nggak sesuai dengan realitas imajiner yang dimiliki si karakter. 

Seperti yang disebutkan di film bahwa tokoh ini agak telmi dan gampang lupa. Tapi pada momen-momen ke-telmi-an atau ke-gampang lupa-an itu terjadi kami merasa itu dibuat-buat. Ya emang, akting itu dibuat, tapi katanya harus jujur sebagai karakter? Anyway, kita nggak mau bahas itu. Acting Reviewnya emang belum ada. Kenapa belum dibikin? Karena belum ketemu poin yang menarik untuk dibahas dari film ini. 

Balik lagi soal alasannya kenapa bisa masuk ke dalam daftar nominasi versi AkuAktor ini. Jelas karena kompleksitas fisiologis dan beberapa respon yang ya… meski ada yang artifisial, tapi ada juga yang tidak artifisial. Mungkin kejebak komedi kali ya? Gimana mbak Dian (kali aja doi baca). 

 

 

Christine Hakim – Perempuan Tanah Jahanam

Kalau yang satu ini mah nggak usah ditanya lagi. Pertama, ciptaannya secara fisiologis jauh banget dari dia di kehidupan nyata. Bukan hanya bentuk wajah dan cara berjalannya, tapi juga warna suaranya. Selain itu semua bentuk-bentuk yang ia ciptakan itu nggak ada yang artifisial. Semuanya hidup setiap detik. Atau bahasa kerennya, living moment by moment! 

Apalagi, bahkan nggak ada alasan untuk nggak meletakkan Bu Christine Hakim sebagai salah satu nominee dalam daftar ini. Udahlah, pendek aja. Kalian juga pasti udah ngerti kan gimana permainan bu Christine di Perempuan Tanah Jahanam? Kalau kurang, baca acting review kita aja. 

 

Marissa Anita – Perempuan Tanah Jahanam

Kalau Marissa Anita, kami lebih condong pada permainan emosinya yang intens aja. Kalau soal penciptaan fisiologis atau aspek dimensional yang lain kami nggak terlalu puas. Kami bisa bilang, ya lebih baik Dian Sastro meski beberapa momen artifisial, setidaknya ada capaian. Kalau Marissa Anita, untuk aspek fisiologis, kami sulit menemukannya. 

Tapi, yang jadi alasan kami jelas bukan itu. Ya seperti yang kami bilang, emosinya intens, dan caranya menghidupkan dirinya dan kawan main yang kami jadikan alasan utama kenapa ia masuk ke dalam nominasi FFI versi AkuAktor untuk kategori ini. 

 

Dayu Wijanto – Susi Susanti Love All

Terakhir ada Dayu Wijanto. Satu-satunya alasan yang membuat kami memasukkan beliau ke dalam daftar ini adalah karena penguasaan aksennya yang baik, dan hidup. Seenggaknya nggak kayak sinetron atau FTV yang aksennya stereotipe dan artifisial. Dayu Wijanto berhasil menciptakan aksen yang hidup. 

Aksen yang hidup itu juga dibarengi dengan jatah permainan emosi yang intens. Jadi, dengan proses mendengarkan yang baik, emosi yang intens pada adegan yang memang membutuhkan emosi intens, serta aksen dan beberapa capaian fisiologis tipis lainnya, permainan Dayu Wijanto layak kami masukkan ke dalam daftar ini. Meskipun, capaian fisiologisnya ya itu aja. 

Udah, itu aja untuk daftar ini. Kok cuma 4? Ya gimana? Nggak ada lagi kok. Gimana ya? Kami nggak bisa maksain, kalau nggak ada ya kami kosongin aja. Tapi kalau bicara kans keempat orang ini, kami percaya, Christine Hakim layak mendapatkan penghargaan ini. 

 

Film-film yang menurut kami seharusnya masuk ke daftar pendek karena keaktorannya; 

Tunggu! Artikel tentang nominasi FFI versi AkuAktor belum beres! Masih ada sedikit tambahan. Kami merasa kalau 12 film yang dipilih oleh para juri nggak sepenuhnya berhasil menangkap semua kualitas keaktoran yang dimiliki Indonesia. Jadi, kami pilih beberapa film yang menurut kami seharusnya masuk daftar pendek, seenggaknya karena permainan para aktornya. 

 

Lampor: Keranda Terbang

Pertama ada Lampor. Kami udah bikin acting reviewnya juga. Dan, kalau sebuah film kami buat Acting Reviewnya, hal itu karena permainan para aktor di film ini cukup bagus. Tak pelak, emang beberapa menarik. Seenggaknya, di film ini ada Adinia Wirasti yang bermain sama intensnya dengan Putri Ayudya di Mudik. Seharusnya Adinia Wirasti masuk ke dalam daftar Pemeran Utama Wanita Terbaik. Kan emosi yang intens jadi selera banyak voter! Tapi karena nggak dipilihin sama juri, ya mau gimana. 

Selain itu ada Rendra Bagus Pamungkas yang bermain menarik sebagai Yoyo. Ia berhasil mengubah aspek fisiologisnya dengan cukup lengkap dan kalau seandainya Lampor masuk ke dalam daftar pendek, ia bisa masuk ke nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Tapi ya lagi-lagi, mau gimana. Orang nggak kepilih juri. Atau emang nggak diajuin produser? 

 

 

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Kalau film yang satu ini jelas penuh dengan permainan emosi yang intens. Sheila Dara bisa saja masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik karena intensitas emosinya dan perubahan tempo yang berhasil ia ciptakan. Di NKCTHI sih kami pikir hanya nama Sheila Dara saja. 

Oh enggak, ada satu nama lagi yang kami rasa pantas masuk ke nominasi Pemeran Pembantu Pria Terbaik. Dia adalah Donny Damara. Yes! Donny Damara punya permainan emosi yang intens dan penciptaan tempo yang menarik. Bukan cuma itu, relasi tokohnya dengan masa lalu yang sangat kuat patut jadi perhatian. 

Kemudian ada Niken Anjani yang bermain cukup intens di awal dan memiliki relasi yang kuat dengan sejarah karakternya. Harusnya sih bisa masuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Untuk Oka Antara, kami rasa bermain aman aja. Lengkapnya kalian baca di Acting Review kami tentang NKCTHI deh ya!

Warkop DKI Reborn 4

Terakhir ada Warkop DKI Reborn 4 yang kami pikir memiliki banyak kans dan alasan untuk bisa masuk ke dalam daftar pendek. Tapi, sayangnya nggak masuk pilihan juri. Mungkin karena terlalu komedi? Tapi kan Mekah I’m Coming yang juga komedi, banget malah. Anyway, kita nggak bahas itu. Tapi bahas soal; di dalam film Warkop DKI Reborn 4 ini ada banyak banget aktor yang seharusnya bisa masuk ke dalam jajaran nominee Pemeran Utama Pria Terbaik dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik. 

Untuk Pemeran Utama Pria Terbaik jelas ada Aliando. Meski ia tumbuh di sinetron, tapi ketika menjadi Dono, ia berhasil menciptakan bahasa tubuh yang mirip, warna suara yang mendekati, dan beberapa aksen khas Dono. Cukup menarik sebenarnya. Selain Aliando juga ada Ganindra Bimo yang berhasil menciptakan mocking terhadap produser India dengan tepat dan lucu. Tapi, kenapa nggak masuk ya? Nggak masuk selera juri? Atau filmnya terlalu kuat di satu sisi dan lemah di sisi yang lain? Atau jangan-jangan menurut para juri, penciptaan para aktor di film ini artifisial? Kalau artifisial kan di dalam daftar itu banyak yang lebih artifisial? Ah, sudahlah. Ingat peraturan lomba, keputusan juri “mutlak”!

Jadi itulah artikel nominasi FFI versi AkuAktor yang panjang bener. Ini mah menurut kami aja ya, kalau nggak setuju nggak masalah juga. Ya udah gitu aja. Untuk para penikmat FFI, selamat menonton para terpilih yang dipilihkan. Pesan kami satu, FFI belum jadi parameter kualitas seni peran Indonesia. Ups! 

Terima kasih, Viva Aktor!