fbpx

The Devil All the Time; Membahas Pattinson, Skarsgard, dan Stan

The Devil All the time

Kalau membaca judul artikel ini, maka kami akan menyimpulkan di awal kalau The Devil All the Time pada akhirnya adalah panggung bagi Robert Pattinson, Bill Skarsgard, dan Sebastian Stan. Tom Holland yang jadi “tokoh utama” di separuh terakhir, nampaknya masih belum berhasil memanfaatkan porsinya dengan baik. Tapi kenapa? Kenapa semua kesimpulan itu muncul? Bukankah terlalu cepat memberikan kesimpulan? Kesimpulan kok di awal? Ah cerewet! Nih, kita kasih alasannya! 

Mari Bahas Bill Skarsgard Dulu 

Pertama yang paling terlihat dari capaian Skarsgard adalah perubahan aksen yang signifikan. Bill Skarsgard sendiri lahir di Swedia dan besar disana, jadi kurang lebih ia memiliki aksen Swedish yang kalau didengar sekilas, seperti sama dengan semua pengucapan bahasa Inggris pada umumnya. Tapi ketika ia menjadi Willard aksennya berubah menjadi aksen West Virginia. Untuk tahu bagaimana aksen West Virginia, kamu bisa melihat video liputan berita The Guardian yang berikut ini;

Jika didengarkan baik-baik, aksen West Virginia terlihat seperti lidah yang sesekali dilipat ke belakang pada pengucapan beberapa kata terutama akhiran kata. Lalu jika diperhatikan lebih, orang-orang di dalam video tersebut kebanyakan bicara dengan bibir yang tidak terlalu terbuka. Hal ini sepertinya memberikan efek suara seperti dikulum di dalam mulut. Bahkan pada beberapa kesempatan, aksen orang-orang West Virginia terdengar seperti hampir bindeng. Setelah tahu bagaimana aksen West Virginia, sekarang mari kita dengarkan capaian Skarsgard di The Devil All the Time;

Hanya ada satu bagian kecil di trailer tersebut yang menunjukkan warna suara Skarsgard sebagai Willard. Sisanya bisa kamu tonton langsung di Netflix. Anyway, perhatikan lagi aksen yang diciptakan oleh Skarsgard dan coba bandingkan dengan aksen orang-orang West Virginia. Sama kan? 

Ketika kita bicara soal aksen pada permainan si aktor, kita bukan hanya bicara soal aksennya yang berhasil berubah, tapi apakah aksen yang berhasil berubah itu terdengar sama dengan aksen yang asli. West Virginia adalah daerah yang nyata adanya. Aksen mereka pun begitu. Jadi tidak ada kesempatan mengarang aksen sembarangan atau membuat aksennya terdengar dibuat-buat. Seperti yang sering terjadi di aktor-aktor Indonesia. Hasilnya, stereotipe dan artifisial. Bill Skarsgard tidak begitu. Capaiannya sesuai dengan kehidupan nyata. 

Bicara lebih lanjut tentang capaian Bill Skarsgard di The Devil All the Time, karena Skarsgard mengubah aksennya, dan ia kemudian mengubah laku lidah, serta sebagian bibirnya, secara tidak langsung warna suara Skarsgard jadi ikutan berubah. Lalu jika dibandingkan dengan warna suara Skarsgard yang asli, seperti di video berikut ini; 

Terdengar sangat berbeda kan? Ingat dengan apa yang sudah pernah kami tulis soal Analisa Suara yang Sering Terlupa? Dari apa yang dilakukan Skarsgard, ia mengubah aspek ketiga dari suaranya, yakni bagian fisiologis. Dalam hal ini bagian mulut. Sehingga secara tak langsung, mempengaruhi aspek yang lain seperti misalnya letak resonansi suara dan bahkan pada cara menggunakan nafas. Meski disana kami tulis kalau perubahan pada aspek lain itu seperti sponge yang bisa terjadi secara otomatis, artinya satu aspek tanpa disadari bisa mengubah aspek yang lain, tidak akan berlaku jika si aktor tidak memiliki kepekaan akan perubahan kecil itu. Skarsgard bisa jadi mengubah cara lidah dan mulutnya bergerak tapi tidak berhasil mengubah warna suaranya jika ia tidak memiliki kesadaran yang baik atas dirinya dan bagaimana tubuhnya bekerja atau sistematika di tubuhnya. Karena Skarsgard sepertinya memiliki kepekaan yang baik dan memahami sistematika di tubuhnya, maka ia berhasil mengubah banyak hal meskipun yang ia ubah sebenarnya hanya cara lidah dan mulutnya bekerja.

Tapi jika diperhatikan baik-baik, areal bibir sebelah kiri dan kanan Skarsgard tidak berubah. Ia tetap mengatup ketika berbicara. Sama seperti Skarsgard di luar film ketika tidak menjadi tokoh. Kamu bisa melihat itu di video interviewnya. Di satu sisi hal itu jadi sebuah celah dalam penciptaannya, tapi di sisi lain, karena tipikal aksen West Virginia itu mulutnya tidak terbuka terlalu lebar, membantu Skarsgard untuk memantapkan aksen West Virginia yang dimiliki tokohnya. 

Selain aksen dan warna suara, kami menemukan cara berdiri yang berbeda. Kamu bisa melihat cara berdiri yang lain di beberapa adegan. Misalnya adegan ketika ia sedang merokok dan bertemu istrinya pertama kali dan adegan ketika istrinya dimakamkan. Kita bisa melihat cara berdiri dimana punggung agak ditarik ke belakang, sehingga terkesan bungkuk.  Tapi sayangnya, cara berdiri itu tidak mengubah caranya berjalan. Di adegan ketika Willard mau memukuli orang-orang yang mengejeknya, Skarsgard melupakan bentuk punggung yang agak ditarik ke belakang. Inkonsisten? Mungkin. Atau lebih tepatnya, bentuk bungkuk itu sepertinya tak sengaja tercipta, sehingga lupa dikunci. 

The Devil All the time

 

 

Selain cara berdiri dan cara bicara serta aksen, kami tak menemukan capaian lain di aspek fisiologis. Meskipun itu semua tertutupi oleh perubahan aksen dan warna bicaranya. Lalu bagaimana dengan permainan emosinya? 

Kami memang mengatakan kalau caranya melihat tidak berbeda dengan cara Skarsgard melihat di luar film. Tapi pada beberapa adegan, seperti misalnya adegan saat Willard berdoa demi kesembuhan istrinya, kita bisa melihat mata yang berbeda. Cara pandangnya tetap sama, tapi muatan emosi di dalam mata tersebut berbeda. Sedikit banyak, hal itu membuat cara matanya bekerja jadi berbeda. 

Memang tidak ada kata lain yang lebih tepat selain menyebut permainan emosi Skarsgard di adegan tersebut intens. Bukan hanya intens kami pikir, tapi sejarah tokohnya, atau peristiwa yang terjadi sebelum ia berdoa, terpatri jelas di pikiran dan perasaannya. Sehingga itu membuat matanya penuh dengan emosi berharap pada tuhannya. 

Lalu ada adegan ketika Willard mengorbankan anjingnya demi kesembuhan si istri, kita bisa melihat emosi yang jauh lebih intens dan dalam. Kamu bisa mendengarkan itu dari caranya berbicara. Ada getaran pada beberapa kata yang ia ucapkan. Menariknya adalah tetap muncul dinamika dalam emosi se intens itu. Emosinya tidak melulu naik, tapi pada beberapa kesempatan di adegan tersebut dimana emosinya ditahan tapi tanpa intensitasnya tidak berkurang. Hasilnya, emosinya lebih tajam. Salah satu bagian terbaik justru frame terakhir di adegan tersebut dimana Willard terlihat mulai tenang. Tapi kita sama-sama bisa melihat emosi yang masih kuat dalam perasaannya. 

Durasi The Devil All the Time kurang lebih 2 jam 18 menit. Dan Skarsgard mendapatkan porsi sekitar 30 menit. Dengan durasi selama itu, ia berhasil memanfaatkan setiap detik kemunculannya. 

The Devil All the Time Milik Pattinson?

Kami rasa itu pernyataan yang tepat. The Devil All the Time ini memang jadi panggung Robert Pattinson. Bukan milik Tom Holland yang jadi tokoh utama, atau milik aktor lain, tapi punya Robert Pattinson. Kalau kita bicara soal capaian personalnya, maka ada banyak sekali capaian signifikan yang berhasil ia gapai. 

Pertama tentu pada aksen, cara bicara, dan warna suaranya. Aksen dan warna suara Pattinson yang paling terlihat berubah. Berdasarkan data yang kami dapatkan di film, aksen yang dipakainya adalah aksen Amerika Selatan, tepatnya Tennessee. Hal yang sama kami lakukan untuk melihat capaian aksen Pattinson. Bukan hanya soal berubahnya aksen Pattinson dan perbandingan dengan aksennya sendiri yang jelas berbeda, tapi ketepatan aksen yang ia ciptakan. Dari apa yang kami dengar dan lihat, aksen Pattinson terdengar sama dengan aksen Tennessee. Coba lihat video berikut ini; 

Lalu bandingkan dengan aksen yang diciptakan oleh Pattinson untuk tokohnya, Pastur Preston Teagardin. 

Kita bisa mendengar dan melihat cara bicara yang sama dengan orang-orang Tennessee. Selain bentuknya yang sama, proses penciptaannya yang juga menarik dan jarang terjadi Hollywood untuk aktor sebesar Robert Pattinson. Ia tidak menggunakan guru aksen. Pattinson murni menciptakan aksennya sendiri. Untungnya, ciptaan Pattinson tidak sembarangan dan tetap sesuai dengan realitas. 

Selain aksennya yang berhasil berubah dan sesuai dengan realitas atau dalam bahasa yang lebih sederhana, tidak mengada-ada, warna suara Pattinson juga berubah. Berbeda dengan Skarsgard yang mungkin warna suaranya berubah disebabkan oleh aksennya yang berubah. Pattinson sepertinya menciptakan warna suara sendiri dan tidak terpengaruh oleh aksennya. Warna suara yang Pattinson ciptakan sepertinya sesuai dengan kesan tokoh yang diinginkan. Sejauh yang kami tangkap, kesan tokoh yang diinginkan oleh naskah adalah brengsek dan menyebalkan. Warna suara Pattinson berhasil memunculkan kesan tersebut. Warna suaranya terdengar agak cempreng, tajam, dan menyebalkan. Hasilnya, warna suara tersebut seperti hampir selalu mencemooh setiap orang yang berbicara dengannya. 

Selain warna suara dan aksen yang berubah dan memunculkan kesan menyebalkan, cara tokoh Pattinson memandang juga memperkuat kesan tersebut. Dengan gaya rambut yang panjang sebelah, kepala Pattinson hampir selalu miring ke kiri. Ia kemudian menurunkan sedikit wajahnya sehingga bagian hitam dari matanya mau tidak mau hampir selalu berada di atas. Hal itu memunculkan kesan “picing” atau meremehkan setiap orang yang berhadapan dengannya. 

Selain cara Pattinson memandang dan memainkan kepalanya, caranya memainkan tangan juga membuat kesan menyebalkan semakin kuat. Perhatikan baik-baik, jarak antara lengan atas dan torso selalu agak jauh sehingga ketiaknya hampir selalu terbuka. Hal itu memunculkan kesan “angkuh”. Ditambah lagi dengan dada yang sedikit membusung dan perut buncit yang membuat laku tangannya hampir selalu terlihat seperti merendahkan orang lain. 

 

 

Sementara pada permainan emosinya, kami melihat dua adegan yang menarik. Pertama adalah ketika ia berkhotbah dan bicara soal delusi. Di adegan tersebut kami tidak melihat intensitas yang menarik. Maksudnya, intensitas emosi Pattinson sama seperti hampir semua aktor di film ini. Sehingga tidak sangat menarik. Tapi yang menarik dari adegan tersebut adalah dinamika emosinya. Permainannya di adegan tersebut penuh visi. Selain itu ia menaikkan nada di beberapa bagian kecil dan terasa tepat. Bukan hanya momen naiknya saja, tapi juga tingginya nada. Pun begitu dengan caranya menekankan setiap kata. Tapi, dengan kombinasi bentuk tubuh yang sudah kami sebutkan di atas, khotbah itu tidak memiliki kesan mencerahkan bagi penonton, malah sebaliknya. Semakin memberikan tekanan bahwa tokoh ini menyebalkan. 

Adegan kedua yang menarik adalah ketika Preston akan dibunuh oleh Arvin. Di dalam adegan tersebut kita masih bisa melihat kesan menyebalkan yang kuat dari si karakter, tapi sekarang dibungkus dengan ketakutan. Mau tak mau tokoh ini tidak bisa menyembunyikan ketakutan tersebut. Ia berusaha tenang dan menutupi ketakutan dengan cara “menyebalkannya” itu, tapi selalu gagal. Respon pada kematian yang sudah ada di depan mata membuatnya mampu memunculkan dinamika yang menarik. Ditambah lagi, kematian Preston adalah harapan bagi banyak penonton. Sehingga, hampir apapun yang dilakukan oleh Pattinson, meskipun tidak punya dinamika atau tidak mendengarkan kawan main dengan baik, akan terasa baik-baik saja. Coba kamu periksa sendiri, ketika adegan itu terjadi, satu-satunya yang kamu pikirkan dan harapkan adalah kematian Preston. Iya kan?

Satu-satunya kekurangan yang dimiliki oleh Pattinson yang mengganggu semua capaiannya itu adalah kenyataan bahwa ia menggunakan fatsuits atau baju yang membuatnya terlihat agak gendut. Bukan tidak boleh, tentu saja sah. Tapi hal itu membuat dedikasinya pada seni peran jadi agak berkurang. Mungkin karena memang The Devil All the Time di shooting berdekatan dengan proses shooting Batman. 

 

 

Bagaimana dengan Sebastian Stan?

Satu-satunya capaian yang menarik perhatian kami dari Sebastian Stan adalah bentuk pipi dan mulutnya. Bentuk itu sedikit banyak mengingatkan kami pada bentuk mulut Don Corleone, yang diperankan Marlon Brando di The Godfather I. Selain itu mungkin perubahan aksen juga bisa jadi satu poin yang harus kamu perhatikan dari permainan Sebastian Stan. Ia sama seperti Bill Skarsgard karena berhasil mengubah aksennya dan yang paling penting, cukup jauh dari setiap tokoh yang pernah ia mainkan di film-film sebelumnya. 

Soal permainan emosi Sebastian Stan sendiri, kami merasa permainan emosinya ada di taraf aman. Ia tidak bermain berlebihan, atau pun kurang. Stan memainkan emosinya sesuai porsi. Salah satu adegan dengan permainan emosi yang paling menarik dari Sebastian Stan adalah ketika adiknya, Sandy, mati ditembak. Permainan emosinya otentik. Caranya menunjukkan keterkejutan dan kesedihan pun otentik. Kita tidak bisa bilang kalau tidak ada kesedihan di perasaan Sheriff Lee, tokoh yang dimainkan Stan. Kesedihan itu ada, tapi porsinya sedikit dan lebih banyak ditutup dengan keterkejutan. Kami rasa porsi yang sedikit itu lumrah, karena ia memang tidak sangat dekat dengan adiknya. Selain itu, dari awal Sheriff Lee diperkenalkan sebagai tokoh yang agak heartless dan berdarah dingin. Sehingga keputusannya untuk tidak sangat sedih menurut kami tepat.  

Stan juga berhasil membuat tokohnya tumbuh dengan baik. Terlepas ini bantuan make up dan kostum ya. Misalnya kondisi perut. Perhatikan di awal ketika tokoh ini masih cukup muda. Sebelum Arvin dewasa. Kita bisa melihat perut yang tidak terlalu buncit. Tapi ketika Arvin sudah dewasa, perutnya jadi lebih buncit. Meskipun ada yang sedikit janggal soal pertumbuhan tokoh ini. Perhatikan mulutnya yang kami bilang mirip dengan Don Corleone itu. Di awal kemunculannya, mulut yang mirip Don Corleone itu tidak ada. Lalu ketika sudah berjalan beberapa tahun, bentuk mulut itu muncul. Kenapa? Mungkinkah? 

Bagaimana dengan tokoh yang lain? Tom Holland, atau tokoh yang lain kami rasa bermain aman saja. Kami tak bisa melihat capaian yang sama signifikannya dengan setidaknya tiga pemain yang sudah kami sebutkan di atas. Tom Holland misalnya, warna suaranya sama, caranya menjalankan beberapa emosi juga sama persis dengan ketika ia menjadi tokoh lain di film yang lain terutama Spiderman. Itu kenapa kami bilang Tom Holland tidak sangat mencuri perhatian di The Devil All the Time. 

Ketika kami melihat capaian akting di sebuah film, kami tetap harus melihat capaian personal terlebih dahulu. Di dalam film ini capaian personal yang harus kamu perhatikan baik-baik. Karena capaian personal masing-masing karakter ini memunculkan peristiwa yang menarik. Pada akhirnya, yang terjadi adalah manusia bertemu manusia dan menghasilkan peristiwa. Bukan peristiwa yang muncul lalu manusianya hadir. 

Terima kasih, viva aktor