[Acting Review] Tengkorak; Konten Film yang Bagus, Tapi Akting yang…

tengkorak

Mendengar kabar tentang film Tengkorak sebenarnya sudah beberapa tahun yang lalu. Tapi kesempatan untuk menonton baru saya dapatkan akhir-akhir ini, yang sepertinya menjelang ujung keberadaannya di bioskop. Film yang disutradarai oleh Yusron Fuadi, ditulis dan juga dimainkan olehnya ini sebenarnya memiliki konten yang bagus. Bicara mengenai tengkorak raksasa dan menjadi salah satu film sci-fi Indonesia yang pertama dengan cita rasa lokal dan berkesempatan berkompetisi di beberapa festival film baik nasional maupun Internasional, film ini jadi penyegar dalam kancah perfilman Indonesia. Ceritanya tak perlu banyak dipertanyakan sepertinya. Tapi bagaimana soal aktingnya? Apakah akting para pemainnya sama bagusnya seperti konten film ini? Berikut pembahasannya;

Tanda Tanya yang Bertebaran Tentang Aktingnya di Sepanjang Film

Ada, rasanya, ¼ film berjalan saya masih kebingungan untuk mencari apa yang menarik dari akting para pemain di film ini. Di 15 menit pertama mungkin, saya disuguhi banyak sekali footage tentang penemuan Tengkorak raksasa yang secara tak langsung menggiring untuk mencoba mempercayai bahwa penemuan tengkorak itu benar adanya. Tapi soal permainan para aktor dalam footage tersebut, yang sepertinya sebagian dari footage tersebut adalah footage asli yang dipotong di bagian tertentu agar masuk ke dalam konteks film, tidak mencuri perhatian. Hingga sebelum Eka Nusa Pertiwi yang memerankan Ani muncul, dengan berat hati saya katakan tidak ada yang spesial soal keaktorannya.

Pertama kali Ani muncul adalah ketika ia diwawancara untuk magang di BPBT atau Balai Penelitian Bukit Tengkorak kalau saya tak salah ingat. Dalam dialog tersebut, saya mencoba meraba bagaimana seharusnya dialog yang dilontarkan oleh si tokoh.

Source: Film Tengkorak

Sebelum lebih lanjut, dalam review kali ini saya sengaja tidak akan membahas soal capaian fisik, dan perubahan suara, karena memang belum ada capaian semacam itu yang bisa terbaca dalam film ini. Saya hanya akan mencoba membahas logika pikiran, perasaan dan respon para pemainnya.

Berlanjut ke awal kemunculan Ani yang diwawancara untuk magang. Saya merasa agak janggal dengan dialog yang terbata-bata dari Ani ketika ditanya alasan kenapa ingin mengikuti program magang di tempat tersebut. Kenapa terasa janggal? Begini, Ani adalah seorang mahasiswa tingkat akhir, semester 7 yang punya nilai yang bagus (ini saya tangkap dari dialog pewawancara). Dalam dialognya juga dikatakan bahwa ia ikut dalam program magang itu karena ingin lulus dengan uangnya sendiri. Itu artinya tokoh ini punya kedewasaan pikiran, kecerdasan, dan keberanian kan? Tapi kenapa dalam dialognya ketika ditanya alasan untuk bergabung, dimana jawabannya adalah jawaban yang seharusnya meyakinkan si pewawancara, malah sedikit terbata-bata? Semacam tersilap lidahnya dan membuat momen “meyakinkan” tersebut jadi sama sekali tak meyakinkan.

Selanjutnya hampir tak ada yang sangat spesial soal akting beberapa aktornya di dalam film ini. Sorry to say, tapi rasa-rasanya kebanyakan akting yang dilakukan di dalam film ini terkesan artifisial, ambilan nada dialog yang sembarangan, motivasi yang janggal, dan respon yang tidak logis.

Pembunuhan yang Biasa Saja

Lalu ke adegan pembunuhan yang terjadi di depan kosan Ani. Sebelum itu, Yusron Fuadi yang berperan sebagai Yos sudah muncul beberapa kali dan tanpa banyak dialog. Tapi itu pun tak memberikan sesuatu yang spesial dan mencuri perhatian. Kecuali informasi bahwa ia adalah semacam pembunuh bayaran atau agen rahasia pemerintah dengan gelagatnya yang awas. Hanya itu.

Pada adegan pembunuhan yang terjadi di depan kos Ani dan di depan mata Ani. Akting Eka dalam adegan ini terasa janggal. Baik, akan saya jelaskan kenapa rasanya janggal. Rasa-rasanya dalam kondisi manusia normal, seorang perempuan yang tidak pernah melihat pembunuhan di depan matanya, apakah hanya akan duduk dan terdiam. Mungkin dalam sepersekian detik hal itu mungkin terjadi karena ada efek kejut melihat seorang manusia disembelih di depan matanya. Tapi kemudian saya mencoba memperhatikan mata Ani setelah kejadian pembunuhan itu berlangsung. Seolah yang terlintas di pikirannya hanyalah rasa panik akan dibunuh Yos.

Source: Film Tengkorak

Pembunuhan itu akhirnya terasa seperti pembunuhan biasa yang sering dilihatnya. Hal tersebut makin janggal ketika Ani juga melihat wanita itu digorok lehernya oleh Yos. Coba anda bayangkan, manusia mana dari kalangan awam, yang bukan dilatih secara khusus oleh tentara atau badan intelejen pemerintah, yang mungkin mahasiswa itu cuma sebatas mengikuti kegiatan kampus, berusaha lulus dengan predikat terbaik, yang tidak akan memiliki trauma yang mendalam ketika melihat manusia digorok lehernya tepat di depan matanya? Jika apologinya adalah si Ani tidak melihat adegan penggorokan itu, pada kenyataannya, realitas yang tergambar pada mata saya sebagai penonton adalah, penyembelihan itu terjadi di depan mata Ani.

Semuanya jadi lebih janggal lagi ketika Ani dengan seolah tanpa beban, ikut begitu saja dengan Yos ketika Yos hanya berkata – kalau saya tak salah ingat – “Aku ra nduwe waktu nggo presentasi, melu aku po kowe mati”. Apa yang janggal? Lelaki yang baru saja menyembelih seorang wanita, mengajakmu untuk ikut, dan Ani semerta-merta ikut? Saya mencoba menerima logika itu. Saya sempat berpikir, mungkin Ani memang sudah mengenal baik Yos. Mungkin mereka itu semacam bersaudara, berteman baik, atau berpacaran.

Pikiran bahwa tokoh Ani dan Yos saling kenal satu sama lain terus saya pegang selama menonton film. Saya terus menunggu Yusron akan mengungkap bahwa kedua tokoh ini memiliki hubungan yang erat sehingga penyembelihan itu terasa biasa di mata Ani. Saya bahkan berpikir bahwa Ani adalah anggota Tim Kamboja, mengingat beberapa adegan sebelumnya, Ani sempat seolah-olah mengawasi Profesor Phillip yang masuk ke sebuah ruangan.

Source: Film Tengkorak

Semua logika pembenaran dari respon atas peristiwa tersebut saya pertahankan. Termasuk ketika adegan Ani meneteskan air mata di sumber air. Saya kembali berpikir, mungkin itu adalah “buah” dari perasaan Ani yang sangat terkejut melihat peristiwa penyembelihan yang terjadi di depan matanya. Tapi sayangnya semuanya logika yang saya pertahankan itu runtuh seketika di adegan Yos yang membenarkan motornya.

Ani dengan gamblang mengatakan bahwa mereka berdua tidak saling kenal! Anda bisa bayangkan? Kenapa respon-respon yang dilakukan Ani setelah adegan penyembelihan itu terjadi pada diri tokoh Ani? Ketika ia melihat seorang perempuan disembelih di depan matanya, lalu ia ikut bersama Yos pergi entah kemana, dan ternyata mereka berdua tak saling kenal! Apakah mungkin Ani tidak bisa menguasai pikirannya ketika pembunuhan itu terjadi? Mungkin, jika sepersekian detik setelah pembunuhan itu terjadi dan Ani masih belum bisa menguasai pikirannya, maka itu bisa jadi logis. Yang menjadi persoalan adalah, jika anda ingat, pada adegan Yos meminjam motor pada temannya, Ani dengan nada yang seolah tanpa beban berkata;“monggo pak” pada teman Yos. Kenapa itu jadi janggal? Kalau memang Ani tak bisa mengendalikan pikirannya, kenapa dia bisa dialog “monggo pak”? Seolah-olah penyembelihan itu terjadi atas kesepakatan Yos dan Ani. Padahal mereka berdua benar-benar tak saling kenal satu sama lain.

Selanjutnya ketika adegan Ani melihat matahari tenggelam. Memang terlihat ada sesuatu yang dipikirkan oleh Ani, tapi lagi-lagi, tak tergambar dengan jelas apa yang dipikirkan Ani. Apakah yang ada dalam pikiran Ani adalah peristiwa yang ia alami beberapa waktu belakangan, atau bingung, sedih, takut, atau apa? Saya tak bisa membaca dengan jelas apa yang ada dalam pikiran si tokoh.

Hubungan antar tokoh yang Janggal

Source: Film Tengkorak

Hubungan antar tokoh di film ini memang sepertinya tidak digodog betul oleh Yusron. Sekali lagi, jika bicara konten film secara keseluruhan, film ini memiliki konten yang bagus. Tapi jika bicara soal penokohannya, hubungan antar tokoh, dan lebih lanjut lagi mengenai halaman nol tiap tokoh dan hubungan satu tokoh dengan tokoh lainnya, benar-benar terasa janggal. Pada salah satu adegan ketika Ani menangis dan bertengkar dengan Yusron karena telah membunuh 13 orang, rasanya jadi semakin aneh. Keanehan pertama adalah karena tidak jelasnya bangunan emosi sebelum tangisan itu muncul. Entah dari adegan atau tangga emosi yang disusun si aktor. Kedua, tangisan itu semakin mengaburkan hubungan kedua tokoh tersebut. Kenapa kemarahan atas pembunuhan yang dilakukan Yos baru muncul beberapa hari mereka bersama setelah Ani melihat penyembelihan itu?

Respon yang Kurang Tepat

Dalam film ini juga banyak sekali respon-respon dialog yang kurang tepat. Dalam hal ini soal timing dan bahasa tubuh. Seperti misalnya, ketika adegan setelah Yos bertengkar dengan Ani dan ia keluar kamar. Sebentar ia berdiri di ujung pagar, melihat jauh ke depan, lalu si Letnan Jaka menegur Yos. Rasanya, dengan emosi yang sedang naik, tingkat sensitifitas telinga dan perasaan Yos akan jadi lebih peka. Tapi respon yang muncul agak meleset. Yos yang menimpali dengan dialog “menengo lek!” dengan emosi yang tinggi dan timing dialog yang terasa kurang tepat. Akhirnya yang tertangkap oleh saya adalah dialog yang artifisial.

Karakter yang Menarik Tapi Kurang Hidup

Seperti yang perlu anda tahu, bahwa dalam akting, ada banyak sekali aspek yang harus dicari oleh si aktor. Mulai dari 3 dimensi tokoh, perjalanan pikiran dan perasaan, halaman nol, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebutlah yang membuat akting menjadi rumit. Bukan sulit, tapi rumit. Begitulah kira-kira yang terjadi pada kebanyakan tokoh yang ada di film ini. Hampir semua tokoh sebenarnya memiliki karakter yang menarik dan kompleks. Salah satu contohnya adalah karakter yang dibuat oleh Yusron. Yos adalah seorang pembunuh bayaran, yang secara sederhana bisa kita bilang masa bodoh dan urakan. Tapi nampaknya pada proses pencarian tokohnya tidak dicari pertumbuhan perasaan dan pikiran si tokoh. Tidak nampak halaman nol dari tokoh Yos yang memiliki masa lalu yang besar dan kompleks. Hasilnya kebanyakan dinamika yang ditunjukkan tokoh Yos tidak tepat. Selain itu Yusron nampaknya tidak mendengarkan dengan baik lawan mainnya berdialog, menggodoknya dalam pikiran Yos, lalu membalas dialog lawan mainnya. Justru yang kebanyakan muncul adalah semacam improvisasi-improvisasi dialog yang tidak perlu dan malah “membunuh” dialog lawan mainnya. Seolah-olah yang ingin ditebalkan oleh Yusron adalah tokoh Yos yang urakan dan masa bodoh, hanya itu.

Source: Film Tengkorak

Salah satu contoh Yos tak mendengarkan lawan mainnya dengan baik adalah ketika ia berdialog dengan Letnan Jaka di atas kamar ketika Letnan Jaka sedang memperbaiki kamera. Baiklah, jika rasanya tokoh tersebut adalah tokoh urakan yang seenaknya sendiri, tapi ia juga manusia. Bagaimana ia bisa merespon sesuatu jika seolah-olah ia tahu betul kemana arah perbincangan, dan dialog selanjutnya dari lawan mainnya?

Emosi Besar Tanpa Motivasi Jelas

Source: Okezone

Sebenarnya dalam film ini banyak sekali adegan-adegan dengan emosi besar yang menarik. Terutama yang dilakukan oleh Ani. Banyak sekali adegan-adegan yang dilakoni Ani memiliki emosi besar. Tapi emosi besar itu seolah menguap begitu saja karena tidak adanya motivasi yang jelas. Seperti pada adegan terakhir ketika Ani menangis, dan menahan tangisannya di dada Letnan Jaka. Pada adegan ini sebenarnya emosi yang ditunjukkan Ani sangat kuat. Tapi sayangnya yang tertangkap hanya seseorang yang mencoba menahan tangisannya tanpa motivasi yang cukup jelas. Apa motivasinya? Pengetahuan akan kenyataan tentang Bukit Tengkorak itu? Seberapa penting pengetahuan itu terhadap diri Ani? Pada adegan-adegan sebelumnya semua dibangun secara samar dan tidak kokoh. Sehingga emosi-emosi besar yang muncul jadi terkesan sia-sia. Seharusnya emosi yang besar itu juga turut dibangun dengan landasan motivasi yang jelas dari adegan-adegan sebelumnya.

Lalu, Apa yang Menarik Dari Aktingnya?

Pertanyaan itu terus mengiang dalam benak saya selama dan setelah menonton film ini? Pertanyaan itu sepertinya harus benar-benar digaris bawahi. Tugas Yusron memang berat, karena ia harus menulis, menyutradarai, sekaligus bermain. Tapi tentunya hal itu tak bisa dijadikan apoloji, bukan?

Ketika saya memutuskan untuk tidak membahas soal capaian fisik dari tiap aktor yang ada di dalam tokoh ini, semata-mata karena mungkin permainan emosi lebih penting dari pada hanya sekedar capaian fisik. Tapi bagaimana jadinya jika permainan emosi itu terasa janggal? Tidak tumbuh? Dan bahkan tidak memiliki sebab akibat yang jelas?

Source: Film Tengkorak

Bukan bermaksud mendiskreditkan permainan para aktornya dalam film ini. Sejatinya, film ini memiliki konten yang baik, hanya mungkin ada satu atau dua bagian yang tidak sengaja dilupakan para pemainnya dalam pencarian tokohnya. Entah soal halaman nol, pertumbuhan pikiran, mendengarkan, atau soal capaian 3 dimensi tokohnya.

Di luar soal permainan para aktornya, film ini patut diapresiasi sebagai salah satu penyegar kancah perfilman Indonesia. Ide cerita yang menarik dan konten cerita yang bagus menjadi salah satu nilai plus dari film ini.

Sekali lagi, akting itu tidaklah sulit, hanya rumit. Tapi itulah akting. Kerumitan itulah yang menyebabkan akting menjadi menarik. Dan ketika aktor sampai pada titik rumit tersebut, maka bisa dipastikan semua lakunya akan menarik untuk dinikmati.

%d bloggers like this: