[Acting Review] Istirahatlah Kata-Kata; Silent Act yang Ramai

Istirahatlah Kata-Kata

Istirahatlah Kata-kata atau Solo, Solitude adalah sebuah film garapan Yosep Anggi Noen yang rilis tahun 2016 lalu. Film ini mendapatkan banyak sekali penghargaan dari berbagai pihak. Memang agak basi rasanya jika mereview film ini. Tapi kita tidak akan mereview filmnya. Seperti judulnya, saya akan mereview bagaimana akting para aktornya dalam film ini.

Intens Dari Detik Pertama

Awal adegan di film ini dibuka dengan interogasi Intel yang diperankan oleh Rukman Rossadi. Dalam adegan tersebut si Intel kelihatan sedang menanyai anak kecil yang merupakan anak dari Wiji Thukul. Adegan interogasi ini cukup menarik untuk dibahas. Rukman Rossadi berhasil menunjukkan permainan yang apik. Dalam adegan tersebut keganasan yang ditunjukkan Intel kepada anak kecil itu seperti memiliki beberapa layer. Dalam layer pertama, cara bicara Intel dengan anak kecil itu terlihat seolah-olah lembut. Tapi sesekali ketika Intel membuang pandangan ke arah lain atau mengarahkan pandangannya ke sang ibu, keganasan dan pressure yang lebih besar muncul. Lemper yang ada ditangan dan ia makan pun terasa menyatu dengan aktingnya. Tidak terlihat lemper itu mengganggu tiap dialog dan tarikan nafas si tokoh.

Pada adegan berikutnya muncul si Wiji Thukul, yang diperankan oleh Gunawan Maryanto, yang sedang duduk di atas mobil yang berjalan. Tak banyak dialog yang diucapkan pada awal-awal kemunculannya. Meski begitu Gunawan Maryanto cukup berhasil memainkan pikiran Wiji Thukul yang sedang ada dalam pelarian. Jika anda perhatikan betul mata dan ekspresi wajahnya, semuanya benar-benar diisi. Intensitas pikiran dan perasaan yang terjadi dalam diri Wiji Thukul berhasil ditunjukkan dengan pandangan mata yang kuat dan beberapa bisnis akting yang tepat. Terlihat bahwa bisnis akting yang muncul bukan dibuat-buat, atau sengaja di desain, tapi muncul sebagai akibat dari apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh si tokoh. Silent act yang ditunjukkan Wiji terasa ramai dan berarti.

Hampir setiap nada yang diucapkan tiap aktornya dalam film ini terasa intens, rapat, dan berisi. Kondisi pelarian itu semakin terasa dengan nada-nada dialog yang dilontarkan tiap pemainnya. Meskipun ada juga beberapa dialog yang terkesan artifisial. Seperti misalnya ketika Darlip yang diperankan Edwin Setiadi Raharja mengantarkan makanan pada Wiji lalu berbincang sejenak. Ketika Darlip menimpali dialog Wiji, jeda yang terjadi dan ambilan nada terasa agak mendadak, dan punya proyeksi terlalu besar. Ini juga terjadi pada ekspresinya. Melihat Darlip, sedikit mengingatkan saya akan kecenderungan permainan sebagian aktor-aktor yang berkecimpung di teater kemudian main film. Ekspresi, nada dan emosinya punya proyeksi yang terasa terlalu besar untuk ukuran kamera.

Selanjutnya pada adegan ketika Wiji hendak masuk kamar bersama Thomas yang diperankan oleh Dhafi Yunan, Wiji terlihat sejenak menengok ke dalam sebelum masuk. Ia kemudian bertanya soal pintu lain untuk melarikan diri. Apa yang dilakukan Wiji tepat mengingat ia sedang dalam pelarian. Laku, nada, dan jeda dialognya tepat, berisi, tak panik, tapi juga tak bisa dibilang tenang.

Lalu pada adegan mati lampu ketika Thomas mengantarkan lilin pada Wiji dan terjadi dialog antar keduanya, dialog mereka berdua terlihat saling menghidupi satu sama lain. Keduanya sama-sama mendengarkan dan merespon dengan baik lawan mainnya. Bisnis akting yang dilakukan Thomas dalam jeda ketika mendengarkan dialog Wiji tepat. Hubungan yang disuguhkan Thomas dan Wiji pun menarik, meski terlihat seolah-olah Thomas agak sungkan ketika berhadapan dengan Wiji. Kesimpulan akan hal tersebut muncul ketika Thomas hendak pergi meninggalkan Wiji. Sepertinya Thomas masih ada beberapa kata yang ingin dia utarakan tapi dibatalkan dan pergi.

Pada adegan berikutnya Wiji mendengar suara bayi menangis dan berjalan ke arah jendela. Disana ia melihat sepasang suami istri yang berusaha menenangkan bayinya. Dalam adegan tanpa dialog atau yang kita sebut dengan silent act itu, Gunawan berhasil menunjukkan apa yang dirasakan Wiji dengan jelas. Ingatan saya seolah dilemparkan ke adegan awal ketika anak Wiji diinterogasi dan menyimpulkan bahwa suara bayi itu membuat Wiji rindu dan khawatir pada keselamatan anak dan istrinya.

Hal itu seolah semakin diperkuat dengan munculnya istri dan anak Wiji di adegan berikutnya yang juga sedang menghadapi mati lampu. Istri Wiji yang bernama Sipon diperankan oleh Marissa Anita. Adegan ini bukan kemunculannya yang pertama, tapi di adegan tersebut lah pertama kali terdengar suara dan logat yang diciptakan Marissa Anita. Aktris yang akrab dengan dunia jurnalistik ini sebenarnya mengucapkan bahasa Jawa dengan baik. Tapi entah ini hanya perasaan saya atau tidak, antara logat, dialog, dan warna suara yang dibuat Marissa terasa jauh. Kalau saya boleh bilang logatnya seperti Jawa yang dibuat-buat. Perasaan saya tentang logat yang dibuat-buat ini tak muncul terlalu sering di tokoh Sipon. Seperti pada adegan selanjutnya di depan kamar mandi umum, perasaan logat yang jauh dengan warna suara yang dipilih Marissa terlihat samar.

Lalu pada adegan perbincangan Thomas dan Wiji yang selanjutnya di siang hari di depan rumah mulai terlihat keakraban keduanya. Rasa canggung dan sungkan yang terjadi pada malam hari itu sedikit banyak mulai hilang. Ada pertanyaan yang membekas dibenak saya. Pertama adalah berapa lama Thomas dan Wiji saling mengenal? Apakah pelarian itu adalah perkenalan Wiji dan Thomas secara personal (bukan dari berita atau sejenisnya) atau sebelumnya Thomas dan Wiji sudah saling mengenal dekat satu sama lain?

Dalam adegan-adegan berikutnya intensitas tiap tokohnya masih terjaga dengan baik. Salah satu adegan yang mencuri perhatian saya adalah ketika potong rambut. Dalam adegan itu, sejauh yang saya ingat ketika seorang tentara datang, Wiji sama sekali tak menunjukkan matanya. Tapi justru ketika ia tak menunjukkan matanya sama sekali, bagian hidung ke bawah, gerakan pundak, tolehan kepala, dan sesedikit upaya mengintip yang tidak jadi berhasil menjadi perwakilan dari ketakutan Wiji.

Dialog tiap tokoh pada film ini kebanyakan tidak monoton, punya dinamika dan motivasi yang jelas. Meski begitu, ada satu dua adegan yang dialognya terasa agak monoton dan kurang dinamis. Dialog itu terjadi di adegan ketika Martin ke kedai bersama Wiji yang sudah berganti nama menjadi Paul. Dalam adegan tersebut Martin yang pada adegan sebelumnya, tiap dialognya terasa dinamis dan punya motivasi yang jelas, menjadi berbeda di adegan ini. Pada adegan ini, dari satu kalimat ke kalimat berikutnya, nadanya terkesan sama. Logat Medan yang Martin ciptakan memang kental, tapi logat itu jadi terkesan artifisial pada adegan ini. Logat tersebut seolah hanya menjadi bumbu dari pada menjadi identitas tokohnya. Martin yang dalam adegan tersebut menceritakan masa lalunya ketika di Medan seolah tidak tertuang seutuhnya pada nada dan irama dialog yang ia pilih.

Pada film ini, tak hanya soal dialog dan motivasi saja yang menarik untuk dibahas. Tapi pertumbuhan emosi tiap tokoh yang ada di dalam film ini. Secara garis besar, semua tokoh dalam film ini emosinya tumbuh di tiap adegan. Misalnya pada Wiji. Jika anda memperhatikan dengan baik, pada adegan pertama intensitas ketakutan pada wajah Wiji terasa kental. Tapi setelah akhirnya ia mendapatkan identitas baru, matanya yang seringkali awas dan ketakutan akan sergapan aparat menghilang. Jika diperhatikan lagi, pada awal adegan hingga menjelang pertengahan, air muka Wiji terlihat turun. Sementara setelah ia memotong rambutnya, air wajahnya kembali naik. Seolah Wiji mendapatkan kehidupan baru. Ia seolah-olah memiliki keberanian-keberanian yang baru. Apalagi ketika ia bertemu dengan istrinya setelah sekian lama. Air wajahnya semakin naik dan terlihat sumringah. Nampak bahwa pertumbuhan emosi dalam permainannya begitu diperhatikan. Selain itu semua pertumbuhan tersebut terasa jelas dan tidak mendadak. Semua pertumbuhan emosi itu punya alasan-alasan yang dijelaskan dalam film entah melalui adegan, dialog, atau akting para pemainnya.

Silent Act yang Ramai

Satu hal yang menarik untuk digaris bawahi dalam film ini adalah banyaknya adegan silent act yang terjadi. Meski silent act, hampir semua “kediaman” itu berisi. Terlihat bahwa semua silent act yang terjadi itu bukan semata-mata diam, tapi juga tetap menjalankan pikiran, mendengarkan lawan main dan merespon peristiwa dan lawan main dengan baik.

Bisnis akting juga menjadi salah satu pemberi warna menarik pada silent act yang terjadi di dalam film ini. Seperti misalnya pada adegan di kamar tepat sebelum mati lampu. Wiji yang hanya duduk memandang ke depan dan memainkan telunjuknya itu terlihat memikirkan sesuatu. Bukan hanya pandangan kosong yang tidak bisa terbaca. Bisnis akting kecil itu pun terasa berarti. Bisnis akting itu bukan semacam bisnis akting yang dibuat agar bisa menjadi bumbu pemanis aktingnya, tapi memang muncul dari pikiran dan perasaan si tokoh.

Perlukah Menilai Capaian Fisik?

Dalam film ini bisa dilihat bahwa Gunawan Maryanto bermain pada tataran emosi tokoh yang bagus. Semua yang dilakukannya bukan atas dasar ingin unjuk gigi mengenai kemampuan aktingnya. Tapi lebih kepada upaya untuk menjalankan hidup si Wiji Thukul. Tapi melihat film ini gatal rasanya ingin membahas mengenai capaian fisik yang dicapai para tokohnya terutama Gunawan Maryanto. Dilihat sekilas, satu-satunya yang nampak agak berbeda dari capaian fisik Gunawan dan Wiji adalah giginya yang tonggos itu. Setelah menonton film tersebut saya mencoba mencari footage wawancara atau video mengenai Wiji Thukul. Salah satu dari sedikit video yang berhasil saya temukan adalah video yang ada di bawah ini;

Dalam video tersebut memang keduanya nampak tidak mirip secara fisik. Selain itu ketika mencoba mendengarkan suaranya, suara keduanya sepertinya tidak sama. Sejauh yang saya dengarkan, suara yang diciptakan Gunawan Maryanto terkesan sedikit lebih berat, serak dan seperti memiliki banyak sekali beban. Sementara dalam video yang bisa anda lihat di atas, suara Wiji punya warna yang lebih ringan dan tidak serak. Meskipun, saya tahu bahwa itu adalah video perform pembacaan puisi dari Wiji Thukul yang mungkin itu bisa jadi bukan suara sehari-harinya, tapi rasa-rasanya suara ketika ia perform tidak akan terlalu jauh dari suara kesehariannya.

Mungkin salah satu alasan kenapa Gunawan Maryanto menciptakan suara Wiji Thukul seperti itu adalah karena minimnya footage yang bisa ia dapatkan tentang suara Wiji Thukul. Seperti yang dikatakan dalam salah satu sesi wawancara dengan sebuah stasiun televisi, Gunawan mengatakan bahwa salah satu metodenya untuk bisa mencapai tokoh Wiji adalah dengan membaca semua syair yang ditulis oleh Wiji. Mengetahui hal tersebut, sedikit banyak saya jadi lumrah kenapa kemudian suara yang dipilih oleh Gunawan Maryanto memiliki warna seperti itu. Sepertinya siapa pun yang membaca puisi-puisi Wiji dan belum pernah bertemu dengan sosok tersebut pasti berpikir bahwa ia adalah sosok lelaki garang, berani, dan sangat kritis. Poin-poin utama yang tertangkap dari puisi-puisi Wiji mungkin yang menjadi alasan kenapa suara yang diciptakan Gunawan serak dan agak berat.

Salah satu bentuk penciptaan suara Gunawan yang nampak sangat mendekati Wiji Thukul adalah caranya mengucapkan huruf S dan ke-cadel-annya. Coba anda dengarkan video di atas dan perhatikan setiap Wiji mengucapkan huruf S dan R, lalu lihat salah satu trailer Istirahatlah Kata-Kata. Disana anda akan merasa bagaimana 2 konsonan tersebut diucapkan dengan cara yang sama, baik oleh Wiji asli maupun Wiji ciptaan Gunawan.

Apa yang dilakukan Gunawan mengingatkan saya pada proses pencarian suara Daniel Day-Lewis dalam film Lincoln. Dalam salah satu wawancara dengan Oprah, dijelaskan bahwa salah satu cara Daniel bisa menemukan suara Lincoln adalah dengan membaca semua buku tulisan Lincoln keras-keras selama beberapa minggu hingga ia berhasil mendapatkan suara Lincoln yang sekarang. Mungkin jika beberapa orang yang tahu tentang Lincoln dan ditanya bagaimana suaranya, mereka akan mengingat ciptaan Daniel Day-Lewis.

Saya tidak akan membahas lebih dalam mengenai capaian fisik yang lain. Sebab saya pikir fisik terutama wajah adalah sesuatu yang sulit dicapai tanpa bantuan pihak-pihak di luar aktor, dalam hal ini pemake up. Rasanya masalah ini bukan hanya terjadi di perfilman Indonesia saja, tapi di Hollywood pun masalah serupa juga sering terjadi. Jadi agak terlihat tidak adil dan terkesan mencari-cari kekurangan ketika saya terus-terusan membahas soal capain fisik, kemiripan wajah, dan hal-hal yang berhubungan.

Tapi ada satu tanda tanya besar yang terlintas pada diri saya ketika mendengar pernyataan Marissa Anita dalam video yang sama dengan Gunawan Maryanto kepada salah satu stasiun TV. Marissa kurang lebih mengatakan bahwa ia dilarang oleh sutradara untuk menirukan Sipon dengan alasan bahwa Sipon yang sekarang sudah berbeda dengan Sipon yang dulu. Marissa hanya perlu memainkan perasaannya saja. Saya agak bingung dengan pernyataan ini, kalau tidak bisa dibilang tidak setuju. Pasalnya, jika ternyata Sipon memiliki ciri fisik yang berbeda dengan dia yang dulu, apakah dengan melihat Sipon yang sekarang, aktor tak bisa melacak bagaimana kira-kira bentuk tubuh, cara berjalan, cara menunjuk, cara melihat, cara bernafas, cara menutup mulut, cara bicara, cara menggaruk punggung, dan kebiasaan-kebiasaan tubuh Sipon yang lain?

Jika tugas aktor hanya sebatas memainkan perasaan saja, maka mungkinkah apa yang dibilang Stanislavsky pada Bab I di buku Membangun tokoh di halaman pertama;

“tanpa bentuk lahiriah, penokohan batin maupun ruh dari apa yang kalian citrakan memang mustahil sampai ke penonton..”

adalah salah?

Film ini memang bukan film yang memberi ruang para aktornya dengan emosi meledak-ledak. Film ini lebih memberikan intensitas emosi yang dalam, rapat, tebal dan berisi. Hampir bisa dibilang tidak ada celah pada intensitas emosi, motivasi, perjalanan pikiran, dan pertumbuhan pikiran dan perasaan dari tiap tokohnya. Semua dilalui dengan mulus dan dinamis.

Justru dengan banyaknya silent act dan sedikitnya adegan yang meledak-ledak membuat film ini seolah melontarkan busur panah emosinya langsung ke satu titik. Tajam dan tidak melebar sia-sia.

About The Author