Roma, Tak Sebatas Film yang Sederhana

Roma

Pernah mendengar film yang satu ini? Roma judulnya. Film Mexico yang rilis pada tahun 2018 dan terpilih mewakili Mexico untuk masuk ke salah satu kategori di Oscar yakni Best Foreign Language Film. FYI, Roma adalah film yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan oleh para pemerhati film. Roma adalah sebuah film drama yang ditulis dan juga disutradarai oleh Alfonso Cuaron. Selain menyutradarai dan menulis, Cuaron juga menjadi co-producer, co-editor, dan juga DOP dalam film ini. Roma mendapatkan banyak sekali pujian dari beberapa pihak. Dari mulai penghargaan di Golden Lion, dipilih oleh mahalah Time dan New York Film Critics Circle sebagai film terbaik tahun 2018, dan dinobatkan oleh National Board of Review menjadi salah satu dari 10 film terbaik 2018 . Tak cuma itu, pada gelaran Golden Globe yang akan diselenggarakan Februari tahun depan, Roma berhasil mendapatkan nominasi Best Foreign Language Film, Best Director, dan Best Screenplay! Apa sejatinya Roma itu? Film ini bercerita tentang apa dan kenapa ia mendapatkan banyak sekali pujian? Akuaktor mencoba sedikit mengulas film yang luar biasa ini.

Source: mubi

Roma, Cara Bercerita yang Sederhana Tapi Dalam

Film ini dibintangi oleh Yalitza Aparicio, Marina de Tavira, Marco Graf, Daniela Demesa, Enoc Leano, dan Daniel Valtierra.Film ini bercerita tentang kisah seorang pembantu. Rasanya penjelasan soal sinopsis cukup 1 kalimat itu saja. Dari pada nantinya malah menjurus ke arah spoiler. Tentu akan jadi sangat tidak menyenangkan kan? Sementara film ini berhasil memukau saya ketika menontonnya. Film ini sepenuhnya berbahasa Latin, kalau saya tidak salah sebut. Film yang sutradaranya juga pernah meraih Oscar untuk film Gravity ini sepenuhnya hitam putih. Terkesan sangat sederhana, tapi cara Cuaron bercerita patut diacungi jempol.

Secara garis besar, setelah selesai menonton film ini, Roma kurang lebih bercerita tentang persoalan hidup dan mati. Mungkin bukan hanya soal hidup dan mati, tapi gagasan tentang reinkarnasi, hidup setelah mati, kehidupan sebelumnya, dan hal-hal yang berhubungan dengan hidup dan mati. Tema itu sejatinya sangat rumit untuk dibicarakan kan? Tapi Cuaron membuatnya seolah renyah untuk dinikmati. Dialog-dialog tentang pemahaman bahwa kita dulu pernah hidup sebelumnya, lalu bereinkarnasi menjadi orang lain pada masa kini, dengan sederhana didialogkan oleh seorang anak kecil berumur sekitar 5 tahun.

Source: DNA India

Selain pada dialog yang jika diperdengarkan baik-baik, film ini juga menjelaskan tentang gagasan tersebut dari komposisi gambar yang dipilihnya. Misalnya, pada salah satu adegan, jika kalian menonton film ini dan memperhatikan betul, akan ada semacam semiotika “pembuatan kehidupan” yang muncul disana. Saya tak bisa menjelaskan di bagian mana, tapi yang jelas, tanda-tanda semacam itu bertebaran di film ini. Lalu ada juga di salah satu adegan yang sepertinya sengaja untuk ditabrakkan, antara peristiwa dan juga emosi adegan tersebut. Saya akan jelaskan analoginya saja agar tidak spoiler. Jadi bayangkan ada semacam adegan pembunuhan binatang, tapi dialog yang muncul malah ucapan selamat ulang tahun. Hal itu adalah sebuah kontradiksi yang dimunculkan Cuaron dalam film Roma.

Kisah tentang hidup dan mati ini juga terus bertebaran di dalam film. Terutama ketika kita tahu bahwa si tokoh utama, Cleo, yang diperankan oleh Yalitza Aparicio tetiba hamil. Tenang, hanya sampai disitu penjelasannya. Ketika saya menonton film ini, saya seolah digiring untuk menebak ceritanya. Untuk mengarang cerita selanjutnya. Misalnya begini, setelah saya tahu bahwa Cleo hamil, saya kemudian berpikir bahwa pasti ia akan mulai kesusahan, ada banyak rintangan dihidupnya, dan konflik-konflik lain. Tapi Cuaron “menampar” saya dengan dugaan-dugaan tersebut. Dari segi cerita, Cuaron seolah membiarkan saya menebak, tapi sekaligus tidak membiarkan saya menebak cerita terlalu jauh.

Source: yahoo finance

Lalu dari segi pengambilan gambar, sebelumnya saya sempat bicara soal komposisi gambar, kali ini dari segi pengambilan gambar. Dari hasil bacaan saya, Cuaron seperti ingin menunjukkan bahwa dalam sebuah film bukan melulu manusia dan wajah manusia saja yang bercerita. Tapi genangan air, kaki, lilin, anjing, tai anjing, pedagang asongan, pesawat yang lalu lalang di langit, dan hal-hal lainnya juga bercerita. Ketika menonton film ini dan melihat pemilihan angle cameranya, kamu harus siap-siap untuk bosan. Cuaron dengan sangat berani mengambil gambar yang menurut banyak orang mungkin terkesan sia-sia. Tapi jika menunggu dengan sabar, gambar itu akan memberikan semacam kejutan pada anda. Hal semacam ini bahkan dimulai dari detik pertama film diputar.

Sederhana tapi Bercerita Banyak

Source: youtube

Film ini memang seolah sangat sederhana. Tema yang dibawakannya juga terasa sangat ringan dan sederhana. Tapi dibalik itu, Cuaron memberikan banyak sekali makna pada setiap gambar yang muncul. Bahkan mungkin ia tak hanya bercerita soal hidup dan mati. Tapi juga soal perempuan, soal tahun baru, soal musibah, kelahiran, kebohongan, dan lain sebagainya. Tapi semua hal yang terasa rumit jika disebutkan satu persatu itu menjadi sederhana di tangan Cuaron. Jika menilai Roma, maka nilai 8 dari 10 adalah angka yang tepat untuk Roma. Lalu bagaimana dengan permainan Yalitza, yang dibicarakan oleh banyak orang dan digadang-gadang bisa masuk salah satu nominator Oscar untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik? Kita akan bahas itu di artikel selanjutnya. Yang jelas, secara garis besar, Yalitza bermain sangat jujur, kompleks, sekaligus sederhana, dan luar biasa hidup.

Kalau akuaktor memberi nilai 8, berapa nilai yang pantas untuk film ini menurutmu? Tinggalkan di kolom komentar ya!

%d blogger menyukai ini: