First They Killed My Father, Menyentuh Titik Terdalam!

First They Killed My Father

First They Killed My Father adalah sebuah film kolaborasi Amerika dan Kamboja yang rilis di tahun 2017. Film ini bercerita tentang sejarah Khmer Rouge yang keji dan menyeramkan. Angelina Jolie adalah sutradara di balik film ini. Jolie juga menjadi penulis bersama dengan Loung Ung. Loung Ung ini adalah salah satu saksi hidup peristiwa Khmer Rouge. Sosok yang menjadi tokoh utama dari di cerita ini juga Loung Ung kecil. Jadi secara tidak langsung, film ini juga merupakan film biopic tentang kehidupan Loun Ung ketika masa keji Khmer Rouge. Film ini bersetting di tahun 1975 dan bercerita tentang seorang anak kecil berusia 7 tahun yang dipaksa untuk menjadi tentang anak-anak dan mengabdi pada rezim Khmer Rouge. Film yang mendapatkan banyak sekali pujian ini memang sangat menyentuh. Apa saja yang membuat film ini pantas kalian tonton tahun ini? Berikut review lengkapnya;

Source: bustle

 

First They Killed My Father Menyentuh Titik Terdalam

Kesan pertama yang muncul setelah selesai menonton film ini adalah tersentuh. Film ini memiliki alur cerita yang sama sekali tidak tertebak. Atau mungkin lebih tepatnya tidak diberikan kesempatan berpikir untuk menebak kemana cerita akan berjalan selanjutnya. Hal tersebut karena dalam film First They Killed My Father ini semua aspek dipergunakan dengan baik untuk bercerita. Film ini tak hanya bercerita dan menerangkan suatu kondisi melalui dialog saja. Tapi juga lewat ekspresi, peristiwa, respon pemain, suara, dan semua hal yang bisa tertangkap oleh mata dan telinga yang menonton.

First They Killed My Father juga berhasil menceritakan kembali peristiwa sejarah tersebut dengan rasa yang sama. Salah satu yang menjadi alasan kenapa saya menyebutkan hal tersebut adalah karena setelah selesai menonton film ini, saya segera mencari semua informasi tentang Khmer Rouge. Apa yang kemudian saya baca dan apa yang saya lihat di film tersebut punya efek rasa yang sama. Film ini bukan hanya menunjukkan kenyataan yang sebenarnya, tapi juga perasaan yang sebenarnya dirasakan orang-orang dulu ketika mengalami peristiwa keji Khmer Rouge tersebut.

Source: the santa barbara independent

 

Mungkin hal tersebut terjadi karena sudut pandang yang dipilih Jolie. Ia bukan memilih sudut pandang orang-orang dewasa yang melihat peristiwa-peristiwa bersejarah itu. Tapi ia memilih sudut pandang Loung Ung, gadis berusia 7 tahun yang bisa dibilang punya cara tersendiri untuk menerima dan merespon peristiwa yang terjadi di depan matanya. Mungkin jika sudut pandang yang dipakai adalah orang yang sudah dewasa, maka cara kita melihat film ini akan berbeda. Selain itu Jolie seolah tidak berusaha mengikutkan keinginan pribadinya dalam film ini. Ia berusaha seobyektif mungkin menceritakan peristiwa keji yang membantai jutaan orang Kamboja. Jolie berusaha duduk di sudut Loung Ung yang pernah mengalami peristiwa tersebut. Bukan hanya duduk di posisi Loung Ung, tapi duduk di posisi Loung Ung ketika ia berusia 7 tahun. Kemudian Jolie sepertinya juga berusaha untuk mengeksplore segala perangkat yang dimiliki si pemeran utamanya. Mungkin karena Jolie juga seorang aktor, jadi ia bisa memposisikan diri dengan baik. Ada satu ungkapan yang mengatakan bahwa “Aktor yang bagus, adalah sutradara yang bagus pula”. Ungkapan itu sepertinya layak disematkan pada Angelina Jolie.

Source: The Hollywood Reporter

 

Bukan hanya bicara soal kenyataan sejarah, Jolie juga menyelipkan beberapa simbol tertentu dalam film ini. Ada salah satu adegan dimana simbol itu terasa sangat menarik. Jolie mengambil kesenian tradisional khas Kamboja sebagai perwakilan peristiwa tertentu. Tentu saya tak bisa mengungkapkan apa itu dan di adegan mana, karena spoiler dilarang di rubrik ini.



Jolie, Aktor Tulus, dan Senyum Kecil

Lalu bagaimana dengan permainan para aktornya? Sulit membaca apakah ada bentuk penciptaan baru dari permainan para aktornya. Pertama karena tokoh utamanya adalah seorang anak kecil, dimana pasti standar mengenai penciptaan harus dirubah sedemikian rupa. Dan yang kedua, film ini berbahasa Kamboja yang membuat sulit meraba apakah laku dan dialognya punya nada yang tepat. Tapi mari kita kesampingkan soal itu untuk sementara. Karena satu hal yang bisa dilihat dari film ini adalah bahwa semua pemainnya berakting dengan sangat jujur. Terutama si tokoh utama, Loung Ung yang diperankan oleh Sreymoch Sareum. Ia bermain sangat tulus. Tidak ada embel-embel atau tendensi apapun dalam merespon peristiwa tertentu. Semua respon si Sareum jadi terlihat otentik.

Source: geektyrant

 

Sareum di film ini bisa dibilang tidak memiliki banyak dialog. Tapi justru momen-momen diam itu berhasil dimanfaatkan dengan baik melalui ekspresi, tatapan mata, air mata, nafas, dan hal-hal lainnya. Jadi akting Sareum tetap hidup dan menghidupkan.

Salah satu yang juga menarik dalam film ini adalah beberapa adegan yang memunculkan senyum kecil ketika saya menonton. Meskipun tidak banyak, setelah film selesai senyum-senyum kecil itu seolah menjadi pesan menohok yang menohok dari Angeline Jolie bahwa sekecil apapun kebahagiaan yang kamu punya, bersyukurlah.

Source: Google

 

Angelina Jolie memang pantas menyandang gelar sebagai sutradara. Film ini bukan film pertama Jolie sebagai seorang sutradara. Sebelumnya ia juga sempat menggarap film berjudul Unbroken dan By The Sea. Dalam kedua film tersebut, secara garis besar Jolie selalu berkembang. Ia terus berusaha mengasah kemampuannya pada bagian tertentu dalam soal cara menceritakan dan cara menyutradarai. First They Killed My Father adalah salah satu masterpiece Jolie yang wajib kalian tonton.

Sejauh informasi yang berhasil didapatkan, film ini sempat masuk kompetisi film berbahasa asing terbaik Oscar tahun lalu. Tapi First They Killed My Father tak berhasil menjadi salah satu nominasi.

Jika diberikan nilai, maka First They Killed My Father pantas mendapatkan nilai 8.2 dari 10. Bagaimana menurutmu? Berapa nilai yang tepat untuk film ini? Tinggalkan di kolom komentar ya!

%d blogger menyukai ini: