fbpx

Samurai Sakate, “Ksatria” yang Takluk Oleh Rumah Tangga

Samurai Sakate

“Bangsat! Pura-pura samurai ternyata!” itu adalah kata pertama yang muncul setelah membaca Samurai Sakate, sebuah monolog yang ditulis oleh Whani Dharmawan.

Pada awal-awal pembacaan kita dibuat percaya bahwa Sakate adalah orang Jepang sungguhan yang merupakan keturunan ketiga belas dari Saigo Takamori. Bahkan panggilan Biyang, saya anggap sebagai satu “panggilan sayang” sang istri pada suaminya yang seorang samurai. Tapi ternyata Biyang itu sepertinya kata dari Bahasa Jawa. Dan pada akhir naskah ini terkuak bahwa si lelaki yang mengaku keturunan ketiga belas dari Saigo Takamori adalah orang Jawa tulen. Cucu dari seorang kakek yang bernama Wongso Dirjo. Lelaki yang seolah-olah mencari jati diri dan kebanggaannya sebagai laki-laki melalui laku-laku yang mengikuti adat istiadat dan kebiasaan samurai.

Ia seperti lelaki yang gagal membina beberapa aspek dalam rumah tangganya. Lalu berlindung dibalik kebanggaan seorang samurai. Dengan harapan ia bisa memperbaiki kegagalannya dalam “membayar sekolah anaknya”. Keperkasaannya pun ternyata memang berakhir di mulut sang istri.

Source: pictame

Secara garis besar, itu impresi yang didapatkan setelah membaca satu naskah monolog karya Whani Dharmawan di buku kumpulan monolog karyanya yang berjudul Sampai Depan Pintu. Pada salah satu naskahnya ini, Whani Dharmawan yang juga seorang praktisi (kalau bisa dibilang begitu) dari beberapa seni bela diri, seperti mencurahkan pikiran-pikirannya yang terpengaruhi prinsip-prinsip pemikiran bela diri. Dalam Samurai Sakate ini prinsip samurai yang sangat terlihat. Tapi Whani juga tidak berusaha menonjolkan samurai dan budaya Jepang semata-mata. Ia juga tetap memunculkan unsur ke-Jawa-annya dalam naskah tersebut. Jika dilihat sedikit lebih dalam, mungkin samurai Sakate adalah satu upaya “menyentil” bangsa sendiri yang seperti kehilangan jati dirinya, lalu mencoba berlindung di balik jati diri bangsa lain.

Soal cara bercerita di naskah ini pun terbilang segar. Jika ditilik ke belakang, Whani juga sempat tergabung, dan sepertinya sampai sekarang, di Teater Gandrik. Salah satu kelompok teater Jogja yang punya gaya khas bernama Sampakan. Dari hal tersebut, unsur-unsur komedi yang terdapat di naskah ini terasa kental unsur sampakannya. Pertama dari pilihan kata, kemudian cara mengungkapkan dan neben text yang tertulis. Naskah yang sejatinya sangat serius bicara tentang satu tema, menjadi sedikit renyah dengan cara bercerita semacam itu.

Source: youtube

Lalu bagaimana dengan soal kompleksitas tokoh dalam naskah ini? Hal ini biasanya sengaja dicari oleh mahasiswa Keaktoran atau beberapa orang yang ingin mementaskan dan menguji kemampuan aktingnya. Naskah ini, dengan si tokoh Biyang itu, masih memiliki tingkat kompleksitas tokoh yang tinggi. Bahkan, jika melihat naskah ini dari kacamata realisme, tokoh Biyang akan terasa sedikit gila. Belum lagi soal pertikaian pikiran yang dialami Biyang, hingga kemudian ia memutuskan untuk memuja-muji Saigo Takamori, dan menganggap dirinya sebagai keturunan ke sekian belas Tokoh Samurai yang benar-benar ada di kehidupan nyata itu. Tapi kalau mau diulik lebih detail lagi, “gilanya” si Biyang ini bukan gila yang meraung-raung, suram, seram, psikopat, seperti kebanyakan arti “gila” dari sudut pandang keaktoran. Gilanya si Biyang ini adalah gila yang lucu, menertawakan dirinya sendiri, gila yang cerah, dan gila yang sumringah.

Terakhir, naskah Samurai Sakate ini bisa menjadi salah satu pilihan kalian ketika ingin pentas monolog. Ia punya kompleksitas tokoh, punya kedalaman tema, dan punya cara yang segar dalam bercerita. Sekali lagi, dari pada terus terjebak pada pentas yang pakai naskah itu-itu melulu. Lebih baik pakai naskah-naskah baru para penulis baru Indonesia. Pementasnya tumbuh kok naskah yang tumbuh juga nggak dipakai? Kapan berkembangnya?