[Acting Review] Bumi Manusia: Muda dan Masih Tumbuh

Bumi Manusia adalah sebuah novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer yang diangkat menjadi sebuah film dan rilis beberapa minggu yang lalu. Dalam sudut pandang pencapaian marketing, film ini terbilang sukses. Tentu saja! Mereka sudah resmi mendapatkan satu juta penonton kok! Meskipun belum untung katanya. 

Soal penyutradaraan? Apalagi yang mau diragukan? Novel se-filmis itu berhasil di alih wahanakan oleh Hanung Bramantyo dengan tepat. Soal bagus dan tidak bagus pasti relatif, tapi setidaknya tepat dengan pasar yang mau disasar, millenials. 

Lalu perkara penulisan? Salman Aristo juga terbilang berhasil memilih bagian-bagian dalam novel, meringkas beberapa peristiwa, dan menjadikannya satu bangunan naskah yang utuh. Meskipun terkadang masih lompat soal sebab akibat. Ya harap maklum. Bumi Manusia buku yang sangat tebal dan luar biasa detail. Kalau mau difilmkan, mungkin ia akan memiliki 3-4 sekuel. 

Lalu bagaimana dengan Iqbaal Ramadhan? Bagaimana dengan pemain lain? Bagaimana dengan Mawar Eva, bagaimana dengan Giorgino Abraham? Sha Ine Febrianti? Whani Darmawan? dan pemain lain yang tidak bisa kami sebut satu persatu karena takut terlalu bertele-tele dan menghabiskan waktumu? Apakah permainan mereka “sesukses” capaian sutradara, penulis, dan banyaknya penonton? Berikut pembahasan lengkapnya;

 

 

Bumi Manusia, Iqbaal, dan Pemain Muda

Jika biasanya kami akan membuka dengan “Apa yang mau diragukan lagi soal permainan aktor yang satu ini, dia pernah masuk ke jajaran nominasi FFI!” Maaf Iqbaal, no hurt feeling, tapi kami tidak akan menyebut kata itu. Sederhana, karena dari apa yang kami lihat, sampai sekarang, kami masih mempertanyakan kenapa ia berhasil masuk dalam nominasi FFI. 

Bahkan ketika dalam satu kesempatan kami pernah bertemu dengan ketua dewan juri FFI dan mendapatkan “bocoran” parameter penilaian FFI, Iqbaal dalam sudut pandang kami melihat parameter tersebut, berada di angka rata-rata 5 dalam tiap poin yang ada di parameter itu. Sebelum masuk ke Bumi Manusia, kami harus sedikit membahas permainannya di Dilan. Karena sedikit banyak, itu akan jadi perbandingan. 

Dalam Dilan, seperti yang sempat kami tulis sedikit di artikel Prediksi FFI, Iqbaal bermain monoton! Tidak dinamis! Artifisial! Dan beruntunglah Iqbaal karena dialog yang diciptakan oleh Pidi Baiq adalah dialog yang luar biasa hidup bahkan ketika ia diucapkan oleh siapapun. Tapi kalau begitu, dimana tugasnya sebagai seorang aktor yang kalau kata Stanislavski di buku Creating a Role;

Creation of the living word. (Stanislavski, 2000:262)

Kata yang hidup! Aktor punya tugas menghidupkan kata-kata yang diucapkan, punya tugas menghidupkan dialog itu dengan bentuk tokoh. Tapi di Dilan itu tidak terjadi. Ia, dengan sudut pandang keaktoran yang kami ketahui, gagal. Kami pikir itu juga jadi pikiran banyak orang. Kenapa kami bisa bilang begitu? Coba buka lagi berita soal film Bumi Manusia dan pengumuman bahwa Iqbaal lah yang akan memainkan Minke. Berapa banyak media yang membahas bahwa tidak banyak orang yang setuju dengan hal tersebut. Menurut kalian kenapa itu terjadi? Sederhana, karena apa yang terjadi di Dilan dan anggapan orang-orang tentang betapa masifnya Minke dan Bumi Manusia.  

Lalu bagaimana sekarang dengan permainan Iqbaal di film Bumi Manusia? Apakah yang dikatakan oleh banyak orang bahwa Iqbaal akan gagal dan “merusak bayangan mereka tentang Minke” benar-benar terjadi? Jawabannya iya dan tidak. 

Bumi Manusia

 

 

Kenapa Iya? Apa yang dipikirkan oleh banyak orang tentang permainan Iqbaal memang terjadi. Tapi ia tidak “merusak bayangan Minke” kenapa? Minke adalah tokoh fiktif dan tidak ada bayangan yang rigid atau perwakilan yang tepat di dunia nyata tentang tokoh ini. Pram mengatakan bahwa Minke adalah Si Jurnalis, Tirto Adhi. Tapi nyatanya, Minke ya Minke. Tokoh Fiktif yang Pram ciptakan dengan segala kondisi, pikiran dan perasaan yang sedang terjadi pada Pram saat itu. 

Sangat egois rasanya jika seorang penonton menganggap bahwa Minke harus selalu sesuai dengan bayangannya. Emangnye yang baca Bumi Manusia cuma lau doang! kan tidak. Kepala setiap orang tentu punya imajinasi, interpretasi dan bayangan sendiri soal Minke. Dan “merusak bayangan Minke” bukan jadi alasan kami mengatakan bahwa Iqbaal belum sepenuhnya berhasil dalam permainannya. 

Tapi ini alasannya; Coba perhatikan dari capaian 3 dimensi tokohnya terlebih dahulu sebelum nanti kita akan membahas soal bagaimana permainan emosi, respon, dan lain sebagainya. Dari fisiologis, kita bahas soal suara. Warna suaranya tidak berubah, hanya logatnya saja yang berubah. Capaian yang baik? Mungkin iya, atau tidak cukup. Selanjutnya, masih dalam ranah suara. Iqbaal berhasil menguasai bahasa Belanda. Menarik, tapi sayang, dalam beberapa bagian logat Jawanya tidak bertahan. Pertanyaannya apakah tokoh Minke, dengan segala data dan 3 dimensi tokoh yang hadir baik di bukunya Pram atau dalam penelitian lain bisa mengubah logatnya ketika sedang berbahasa Belanda? Mungkin iya, atau tidak? 

Soal capaian fisik. Tentu tidak ada yang berubah. Sepertinya memang jadi “penyakit” banyak aktor kita bahwa fisik (yang sangat terlihat, atau bahkan yang pertama kali terlihat) tidak perlu diubah banyak. Nyatanya memang begitu. Pertanyaannya, kenapa? Kenapa fisik seolah-olah jadi hal yang “ah, sudah mirip, nggak perlu dirubah”? Apa karena “emang tokoh itu badannya kayak kamu, gaya rambutnya kayak kamu, semuanya kayak kamu, kan pas ngasting emang ngebayangin kamu”? Apa karena hal itu sehingga fisik tidak pernah jadi bagian yang “penting untuk diubah”? Bagaimana menurut kalian? 

Singkat kata bentuk fisiknya tidak ada yang berubah. Lalu kami mencoba melihat pada bagian lain, masih di fisiologis tapi pada laku tubuh. Hal yang sama kami temukan. Kami tidak menemukan laku tubuh yang berubah. Bahkan kami mencatat bahwa laku tubuhnya tidak jauh berbeda dengan Dilan. Ada satu laku tubuh yang bagi kami menarik. Entah ini disadari diciptakan oleh Iqbaal atau tidak. Laku tubuh tersebut adalah ketika ia meletakkan topi di perut, setiap kali ia melepaskan topi dari kepala dan berjalan atau bergerak kemana pun. 

 

 

Laku itu kecil dan seolah-olah tidak berarti apa-apa. Tapi laku itu memberikan efek yang luar biasa besar. Dari laku sekecil itu saja, setidaknya ada beberapa simbol yang tertangkap. Misalnya, Minke orang yang beradab. Dalam soal fisiologis, tidak ada hal lain lagi yang mencuri perhatian. 

Sekarang kita melompat ke cara berpikir dan merasakan dimana kita sekaligus membahas soal capaian sosiologis dan psikologis. 

Pertama, pada cara berpikirnya. Ingat, Dilan adalah seorang anak muda, usianya sama dengan usia Minke (atau tidak beda jauh, Minke 19 tahun di film itu, kalian bisa ngecek di postingan Facebook Hanung Bramantyo), tapi ia hidup di Bandung, tahun 1990. Ia bawa motor, suka dengan musik keras, ikut geng motor, masuk SMA, dan tidak perlu berhadapan dengan Belanda. Sementara Minke, memiliki usia yang kira-kira sama dengan Dilan. Sekitar 18-19 an tahun. Tapi Minke hidup di era yang jauh berbeda. Ia berdekatan dengan penjajah. Sekolah di HBS, ia mendapatkan nama Minke dari celaan teman-temannya yang mengatakan dia Monyet, tumbuh dari sebuah keluarga Jawa yang ningrat, dan seorang jurnalis. 

Kedua tokoh tersebut punya latar belakang sosial yang luar biasa berbeda. Tapi kenapa cara berpikirnya masih sama? Terutama di adegan-adegan yang “seolah-olah sama”. Adegan yang kami maksud “seolah-olah sama” misalnya ketika Minke jatuh cinta pada Annelies. Kenapa caranya merayu, caranya memainkan mata, cara Minke memandang dan berucap pada Annelies, bahkan pilihan nada bicara serta tempo bicaranya, sama seperti ketika Dilan merayu Milea? Apakah Minke, yang seorang Jurnalis, siswa HBS terbaik, kritis dan berani, akan merayu perempuan dengan cara yang sama seperti Dilan, seorang anak SMA berandalan, berpikiran kiri, dan kritis tapi tak mau belajar?

Lalu pada cara bicara. Perhatikanlah saat Minke berbicara dengan emosi yang intens pada Annelies dan berusaha meyakinkan Annelies. Lalu bandingkan dengan Dilan ketika berbicara dengan emosi yang intens dan berusaha meyakinkan Milea. Nada yang dipilih dan pandangan mata keduanya sama. Padahal mereka berdua, Minke dan Dilan, adalah dua manusia yang hidup di era yang jauh berbeda. 

Cara Iqbaal menjalankan pikiran dan perasaan Minke jika dilihat dari sudut pandang dimensi Psikologis dan Sosiologis rasanya sama seperti Dilan. Kami sempat bertanya, kenapa Dilan masih tersisa? Apakah Dilannya yang terlalu kuat? Minke-nya yang terlalu lemah? Atau Iqbaal yang memang tidak mencipta? Ha yo loh! Yang mane? 

 

 

Kami tidak bisa mengatakan Iqbaal tidak mencipta. Nyatanya ia melakukan sekian banyak proses yang harus dilakukan oleh seorang aktor untuk mendapatkan tokohnya. Seperti apa yang diceritakan oleh Hanung Bramantyo dalam salah satu postingan Facebooknya dimana ia sedikit menceritakan kenapa memilih Iqbaal sebagai Minke. Setelah Iqbaal terpilih menjadi Minke, ia punya effort besar untuk menciptakan tokoh ini. Jadi, Iqbaal tetap mencipta. Tapi yang jadi persoalan, kenapa Dilan masih ada dalam tubuh, pikiran dan perasaan Minke? Sepertinya karena proses “penubuhan” tokoh Minke, tidak berjalan dengan baik. Iqbaal pasti punya data, orang dia meresensi buku Bumi Manusia untuk tugas kuliahnya. Tapi proses “penubuhan” tokohnya yang belum cukup berhasil. 

Kami berhenti disitu untuk melihat apa yang menyebabkan “Iya! Iqbaal tidak sepenuhnya berhasil memainkan Minke”. Karena selain itu, perbincangannya tidak jauh-jauh amat. Intinya masih tampak sama. Lalu apa yang membuat kami juga berkata bahwa “Tidak! Iqbaal juga berhasil memainkan Minke”?

Pertama, seperti yang kami ucapkan pada beberapa paragraf di atas. Iqbaal memiliki effort yang besar untuk menciptakan tokoh ini. Ia melakukan rentetan persiapan dan latihan. Observasi, meneliti Minke, belajar bahasa Belanda dan lain sebagainya. Upaya itu tidak bisa tidak kami hargai. Karena tidak banyak aktor yang mau melakukan “Kewajiban Profesionalnya” dengan proporsional. 

Kedua, ingat ketika di awal kami mengatakan bahwa dalam tokoh Dilan, Iqbaal tidak bermain dengan dinamis, terkesan monoton, dialog yang flat dan tidak hidup? Ya! Tapi dalam film Bumi Manusia hal itu tidak banyak muncul. Bahkan kami bisa bilang, soal dinamika permainan Iqbaal jauh lebih dinamis ketika memainkan Minke daripada ketika ia menjadi Dilan. Coba perhatikan pada dialog-dialog dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Kita bisa melihat permainan emosi yang dinamis. Setidaknya lebih dinamis daripada ketika ia menjadi Dilan. 

Meskipun, di adegan terakhir, ketika Annelies pergi, Minke menangis sejadi-jadinya. Kami berpikir dua hal. Pertama, apakah Minke yang sebegitu kritis dan kuatnya akan menangis se-merengek itu? Pertanyaan pertama harus sekaligus ditanyakan pada sutradara tentang pertimbangannya. 

Lalu yang kedua, apakah ia, (meskipun ketika Minke sedang menangis tersedu-sedan) akan sedatar itu perjalanan tangisannya? Terutama ketika sudah menyentuh akhir bagian tangisan? Dalam Flash Review Bumi Manusia, kami menulis Iqbaal terlalu lelah untuk mendaki lagi. Ia sudah mendaki terlalu tinggi, sehingga pada emosi yang seharusnya lebih tinggi lagi, ia mentok. Stamina emosinya tak kuat. Sehingga tidak ada dinamika yang cukup berwarna dalam bagian ini. 

Ketiga, Iqbaal berkembang. Ingat, ia masih sangat muda. Naif sekali rasanya jika menuntut anak semuda itu untuk punya kualitas permainan setingkat Reza Rahadian atau pemain lain. Ente pas umur 19 tahun juga nggak bisa langsung main sebagus Reza kan? Kami melihat Iqbaal tumbuh dan berkembang kemampuan keaktorannya. Kami tidak berusaha bijak agar selamat dari kepungan Iqbaal Lovers (Kami tak tahu apa sebutan fansnya Iqbaal, dan kami tidak peduli).

Dan satu lagi, perhatikan dengan baik upaya Iqbaal untuk selalu bertahan dalam konsentrasi tokoh. Salah satunya bisa kalian lihat di adegan ketika ia dan Annelies pergi ke pinggir danau untuk pertama kalinya. Perhatikan dengan baik matanya. Terlihat sekali bahwa ia sedang berusaha mendengarkan lawan mainnya dengan baik dan mempertahankan konsentrasi tokohnya. 

Tapi itulah yang terjadi. Iqbaal tumbuh. Dan itu yang harus disadari oleh aktor muda ini. Pernah masuk nominasi FFI dan jadi idola semua anak muda jangan sampai menjadi penghambat pertumbuhannya. Aktingnya belum bagus dalam ruang lingkup yang luas, apalagi jika kita memakai pemahaman Stanislavski. Tapi pertumbuhan kualitasnya lebih penting daripada aktingnya sekarang. (Bijak bet dah ah!)

 

Nyai Ontosoroh dan Darsam yang Mencuri Perhatian

Siapa pun yang selesai menonton Bumi Manusia akan setuju bahwa Nyai Ontosoroh dan Darsam bermain luar biasa! Sha Ine Febriyanti dan Whani Darmawan memang mencuri perhatian. Tapi kenapa?

Kita bahas Nyai Ontosoroh terlebih dahulu. Pertama, kita kesampingkan semua capaian fisiologis karena memang tidak banyak yang tercapai. Hanya saja, salah satu hal yang membuat Nyai Ontosoroh berhasil mencuri perhatian mungkin karena ia bermain bersama anak-anak muda yang secara kualitas, masih ada di bawahnya. Kami ambil contoh kecil soal perbedaan kemampuan penguasaan tokoh. Nyai Ontosoroh dan Annelies adalah orang Jawa Timur kan? Orang Bojonegoro. Dan hampir semua tokoh dalam Bumi Manusia adalah orang Bojonegoro. Kecuali Minke yang sejauh pengetahuan kami adalah orang Jawa Tengah.  

Kami lalu bisa menyimpulkan bahwa seharusnya logat Jawa Timur anak-anak Ontosoroh terasa kental sekali kan? Sayangnya, dari semua anak Ontosoroh sampai pembantu Nyai Ontosoroh, menggunakan logat Jawa Tengahan atau Jogja. Kami tahu itu karena salah satu tim penulis kami adalah orang Jawa Timur totok! Ia bisa mendengar bagaimana orang Jawa Timur seharusnya berbicara. Bagaimana ia menekan kata, kapan harus ditekan, semua terasa khas. Tapi hampir tidak ada yang berhasil memunculkan logat Jawa Timur dengan sangat kental kecuali Nyai Ontosoroh. Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa Nyai Ontosoroh dalam ruang audio kami paling mencuri perhatian setelah Darsam. 

Selanjutnya soal permainan emosi. Praktis, emosi yang mendalam hanya ada di bagian ketika Ontosoroh membela Annelies di depan pengadilan hingga ketika Annelies pergi. Sementara di bagian lain memiliki perbedaan emosi yang signifikan. Mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa Nyai Ontosoroh mencuri perhatian. Ia tahu bahwa ia memiliki ruang permainan emosi yang beragam. Ia juga seperti tahu bahwa pada bagian ini emosinya harus sederhana, sementara di bagian lain emosinya harus dalam. Kesempatan itu nampak dipergunakan dengan baik sehingga tidak ada emosi yang monoton. Meskipun, kami tak melihat “halaman nol” Ontosoroh yang luar biasa kompleks dalam banyak lakunya. 

Meskipun, kami juga bertanya. Sebenarnya sekuat apa Nyai Ontosoroh? Sampai akhirnya tangisnya meledak dan “bertele-tele” di akhir adegan ketika Annelies pergi? Pertanyaan lanjutan muncul. Apakah Nyai Ontosoroh juga sudah “kehabisan amunisi emosi” sehingga terlihat bertele-tele di adegan terakhir? Atau, di adegan terakhir ia tak berhasil membedah tiap “bit” yang ada di adegan tersebut? 

 

 

Mungkin jika ia berhasil membedah tiap “bit” dalam adegan terakhir, emosinya jadi lebih dinamis dan punya warna, tidak terjebak. “Bit” maksudnya begini; Dalam Method of Physical Action yang diperkenalkan Stanislavski, seorang aktor diwajibkan untuk “membedah” adegan sampai pada “laku terkecil. Misalnya, dalam sebuah adegan Annelies pergi. Dalam adegan tersebut ada banyak sekali laku yang kalau dipecah menjadi “bit” akan memunculkan banyak sekali “bit”. 

Contoh “bit” misalnya; Nyai Ontosoroh memegang gagang pintu, lalu membuka pintu. Kemudian Nyai Ontosoroh menengadahkan kepala dan melihat Belanda. Lalu Nyai Ontosoroh menutup pintu, dan berjalan ke dalam menuju Annelies. Nah, itu adalah bit. Dan Pada tiap bit ada emosi yang terkandung. Entah itu emosi yang sederhana seperti misalnya hanya ingin membuka pintu dan tahu siapa di balik pintu, atau emosi yang mendalam, seperti misalnya Belanda ini akan mengambil Annelies dan memisahkanku dari anakku. 

Ketika aktor berhasil membedah tiap bit tersebut, maka ia bisa memunculkan emosi yang tepat dan berwarna. Meminjam apa yang dikatakan Bella Merlin di buku Konstantin Stanislavski;

In other words, he sought a process in which emotions arose inevitably from the actions, rather than actors consciously trying to arouse emotions as the main challenge to their acting skills. (Merlin, 2003:29)

Jadi dalam pendapat Bella Merlin soal Method of Physical Action, emosi aktor muncul karena tindakan atau lakunya. Sehingga emosi bisa muncul begitu saja dan tidak terelakkan. Bukan hanya tidak terelakkan, ia bisa muncul sesuai dengan porsi laku karena fokusnya bukan pada emosi, tapi pada pemahaman bahwa laku memunculkan emosi. 

 

 

Lalu bagaimana dengan Darsam? Tidak dipungkiri ciptaan Darsam mencuri perhatian. Tapi kenapa? 

Dalam sudut pandang kami yang menjadi alasan kenapa Darsam mencuri perhatian di luar soal ciptaannya (nanti kami akan bicara itu), adalah karena sejak Minke datang ke rumah Nyai Ontosoroh, secara visual dan audio kita sudah “disuguhi” Darsam. Soal visual misalnya; dari pemilihan warna kostumnya Darsam sudah muncul sebagai pembeda. Di antara sekian banyak warna palet, Darsam muncul dengan warna hitam legam. Secara tak langsung dan tidak disadari, Darsam dari awal sudah mencuri perhatian. Selain itu, Darsam selalu muncul di adegan-adegan yang sangat penting. Bahkan ketika ia tidak memiliki dialog. Dengan kemunculan dan warna yang berbeda sendiri membuat Darsam semakin mencuri perhatian.

Terlebih lagi ketika hampir dalam semua dialog pemain lain, mereka selalu menyebutkan nama Darsam. Mereka bukan hanya menyebutkan nama Darsam saja. Tapi penyebutan nama Darsam disertai dengan penanda bahwa ia adalah sosok yang kuat dan ditakuti. Kalian pasti sering mendapati dialog “Aku laporkan Darsam kau!” atau sejenisnya kan? Dialog itu seolah membawa kami yang mendengarkan merasa Darsam tokoh yang kuat dan ditakuti bahkan sebelum kemunculannya. 

Semua impuls alam bawah sadar itulah yang kami rasa membuat Darsam menjadi tokoh yang sangat mencuri perhatian sepanjang film. Bahkan jika kita buat urutan, Darsam ada di urutan pertama kemudian Nyai Ontosoroh di bawahnya. Nah, dengan impuls sebanyak itu, beruntunglah Whani Darmawan berhasil memanfaatkannya dengan baik. 

Pada dialog pertamanya ketika di warung bersama Minke, kata, warna suara, dan logat yang muncul, seketika membuat kami tersenyum. Bentuknya di luar ekspektasi. Mungkin kebanyakan dari kalian, sebelum mendengarkan Darsam berbicara, menganggap bahwa Darsam bersuara besar dan berat. Ketika ia bersuara dan ternyata suaranya cempreng dan kecil, kalian pasti terkejut kan? Tapi yang aneh, suara itu tidak merusak “bayangan Darsam” yang sudah dibangun dari awal oleh pemain lain. 

Kami menduga, keseraman dari warna suara itu bukan hanya karena warna suaranya yang cempreng. Tapi logat yang dipakainya. Logat Madura Darsam di telinga kami terasa kental. Tapi apakah orang Madura benar-benar memiliki logat semacam itu? 

Kami bertemu secara daring dengan salah satu rekan aktor kami di Madura. Sebut saja inisialnya FI. Ia adalah aktor Madura, yang sampai sekarang masih berkecimpung dalam dunia seni peran, terutama teater dan tubuh. Ketika kami meminta pendapatnya soal aksen yang diciptakan Whani Darmawan, apakah tepat dalam telinga orang Madura, FI menjawab hampir atau kurang pas. 

Dalam penjelasan kawan kami tersebut, ia mengatakan bahwa dialek Whani Darmawan adalah dialek yang dimiliki oleh orang-orang Sampang dan Bangkalan. Ia juga mengatakan bahwa sejauh pendengarannya, Whani Darmawan seperti hanya menghafalkan intonasi. Mungkin maksudnya adalah dialek itu kurang “menubuh”.

Tapi di luar itu, Whani Darmawan berhasil menggunakan semua kesempatan yang dimilikinya untuk mencuri perhatian semua penonton Bumi Manusia. 

 

Bumi Manusia; Mereka Masih Muda, Masih Tumbuh   

Kemudian bagaimana dengan aktor yang lain? Annelies, Robert Mellema, dan Suurhorf misalnya? Kami tidak bisa berkomentar banyak. Robert Mellema misalnya, marah macam apa yang dilakukannya? Apakah dalam kepalanya kemarahan seorang Robert Mellema seperti itu? Kami tak menemukan alasan yang tepat kenapa dia marah. Seperti tidak ada latar belakang yang detail dan “dipegang erat” oleh Giorgino Abraham. 

Lalu bagaimana dengan yang lain, Suurhorf? Kami mendapati hal yang sama seperti Robert Mellema. Tak ada yang spesial. Pun begitu dengan tokoh yang lain seperti Panji Darman. Persoalannya mungkin karena data tokoh yang mereka dapatkan kurang detail. Atau mungkin sudah cukup detail, tapi mereka tak cukup sukses menubuhkan data yang detail itu. 

Sementara Annelies, rasa-rasanya pun sama. Sama seperti Robert, Suurhorf, dan Panji Darman. Kalau kami melihat dari sudut pandang capaian keaktoran 3 dimensi tokoh, maka sedikit yang berhasil dicapai. Persoalannya juga mungkin sama, karena data yang dimilikinya atas tokoh tidak sangat detail, atau cukup detail tapi belum berhasil menubuhkan semua data tersebut. 

Tapi apapun itu, Mawar Eva, Jerome Kurnia, Giorgino Abraham, Bryan Domani dan Iqbaal Ramadhan adalah aktor-aktor muda. Dalam usia mereka yang sekarang, apa yang sudah mereka capai sekarang terbilang luar biasa. Lagi pula, mereka masih punya banyak sekali kesempatan dan waktu untuk tumbuh dan seharusnya mereka juga sadar bahwa mereka juga harus terus menumbuhkan kemampuan keaktorannya.

Saran kami, untuk aktor-aktor muda. Bacalah buku keaktoran banyak-banyak. Perbincangkan dengan siapapun yang kalian pikir paham dengan buku dan wacana tersebut. Dan latihan lah setiap hari. Tapi jika kalian tak mau melakukan saran kami, tak apa. Tapi selamat datang pada kualitas keaktoran yang …. (Coba isi sendiri titik-titik tersebut)

Terima kasih, viva aktor! 

%d bloggers like this: