[Acting Review] Wiro Sableng: Sedikit Hambar, Tapi Masih Terasa

acting wiro sableng

Menonton film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 adalah sebuah nostalgia. Menonton film ini rasanya sekejap mengingatkan kita, terutama generasi 90an akhir dan 2000an tentang tokoh pendekar hebat dengan gaya bertarung yang unik dan penciptaan tokoh yang ikonik dalam sinetron laga Wiro Sableng. Bagi para penggemar Wiro Sableng sejati, tiap tokoh yang muncul di film garapan Angga D. Sasongko ini menggelitik ingatan tentang pendekar-pendekar dengan nama yang “Indonesia Banget”. Film ini jadi layak untuk ditonton apalagi ketika jajaran pemainnya adalah aktor-aktor kawakan Indonesia. Maka mengulas acting di Wiro Sableng jadi menarik.

Dalam film fiksi semacam ini, penciptaan tokoh menjadi sangat liar dan menarik untuk dibahas. Karena itulah kemudian muncul review acting di Wiro Sableng ini. Menarik rasanya untuk membahas secara mendalam tentang permainan tiap aktor yang ada di dalam film ini. Jadi, apa saja kira-kira yang bisa direview dari film yang diproduseri langsung oleh 20th Century Fox ini, yang juga menjadi film Indonesia pertama yang produsernya langsung dari Hollywood? Sebelum kalian membaca lebih lanjut, alangkah baiknya menonton film ini terlebih dahulu, sebab akan ada banyak sekali spoiler di dalam review keaktoran kali ini.

 

Yayan Ruhian dan Dian Sidik yang Bermain “Cukup”

Kita mulai dari adegan pertama. Sayang sekali, secara singkat acting di Wiro Sableng tak ada yang menarik soal permainan para aktornya pada adegan pembuka. Yayan Ruhiyan yang berperan sebagai Mahesa Birawa dan Dian Sidik yang berperan sebagai Kaligundil bermain, maaf, dalam taraf yang biasa-biasa saja. Ini tentu soal penciptaan tokohnya. Kalau soal action dan yang berhubungan dengan bela diri, kedua aktor ini, terutama Yayan Ruhiyan tak boleh dipandang sebelah mata.

Source: detikHOT

Kenapa akting mereka biasa-biasa saja? Coba anda lihat track record permainan Yayan Ruhiyan dan Dian Sidik. Semua masih sama seperti film-film sebelumnya. Kecuali soal adanya upaya dari Dian Sidik merubah suaranya yang di pertengahan film, ia mencoba memunculkan sisi baru yang menarik dari Kaligundil yang berlawanan 180 derajat dari tokohnya yang sangar. Meskipun masih terkesan artifisial atau ciptaan kosong tanpa motivasi yang jelas.

Yayan Ruhian pada sebagian akhir adegan acting di Wiro Sableng, permainannya cukup bagus. Terutama ketika adegan Kaligundil melapor setelah ia dihajar oleh Wiro. Dalam adegan tersebut terlihat Yayan Ruhian ada usaha untuk mendengarkan baik-baik dialog Kaligundil sehingga respon yang muncul cukup baik. Hasilnya, dialog yang keluar dari mulut Mahesa Birawa jadi hidup. Tapi sayang, itu tak terjadi di semua adegan Mahesa Birawa.

Itu kurang lebih kenapa Yayan Ruhian dan Dian Sidik bermain dalam taraf “Cukup”.

 

Happy Salma yang “Biasa Saja” dan Yayu Unru yang “Sedikit Tapi Nyelekit”

Secara garis besar, 15 menit pertama dari acting di Wiro Sableng ini tak ada yang spesial soal permainan keaktorannya. Termasuk Happy Salma yang berperan sebagai Suci, yang punya track record cukup bagus dalam dunia penciptaan seni peran. Dalam kemunculannya yang hanya sedikit, Happy Salma bisa dibilang belum berhasil menunjukkan tajinya sebagai salah satu aktris Indonesia yang punya permainan emosi yang dalam di tiap permainannya. Entah karena waktu yang ia dapat dalam film ini terlalu singkat, atau karena penciptaan tokohnya yang belum utuh.

Source: KAORI

Dalam 15 menit pertama di film ini, justru yang menarik perhatian adalah permainan Yayu Unru yang berperan sebagai Kakek Segala Tahu. Seorang lelaki buta yang cuma punya bagian beberapa menit saja. Tapi dengan bagian yang sangat sedikit itu ia berhasil menciptakan tokoh kakek dengan sempurna. Sempurna artinya; penciptaan tubuh, mata yang buta, warna suaranya, telinganya yang menjadi alat melihat, hingga nada yang dipilihnya ketika berdialog terasa hidup dan utuh. Yayu Unru seolah hidup juga sebagai Kakek Segala Tahu di sekian menit kemunculannya di film ini. Bahkan butuh waktu untuk tahu kalau itu adalah Yayu Unru. Aktor kawakan satu ini patut diacungi jempol dalam acting di Wiro Sableng. Kenapa? Karena dengan kemunculannya yang hanya beberapa menit – tak sampai 5 menit bahkan – berhasil memukau dan membuat saya ingat sampai film berakhir.

 

Ruth Marini dan Akting yang Lengkap

Dalam 15 menit pertama juga, Ruth Marini yang menjadi Sinto Gendeng juga berhasil menyita perhatian. Terutama ketika tahu bahwa sebenarnya Ruth Marini berumur jauh dari tokoh yang ia mainkan. Disinilah kekaguman terhadap permainan Ruth Marini muncul. Ia mengingatkan saya pada seorang aktris jaman baheula yang pernah bermain di film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Fifi Young berperan sebagai nenek yang usianya juga jauh dari usia tokohnya. Sedikit catatan, waktu itu Fifi Young bermain sebagai Nenek di Tiga Dara ketika usianya sekitar 42 tahun, sementara tokoh nenek berusia di atas 60an. Ini adalah suatu hal yang jarang terjadi dalam dunia film kita. Kenapa? Memainkan tokoh yang jarak usianya jauh dari diri sang aktor biasanya terlalu berat bagi beberapa aspek dalam produksi. Terutama make up. Jadi, dari pada susah dimake up, lebih baik memakai aktor yang memang usianya sama dengan tokohnya. Begitu kira-kira. Tapi Ruth Marini, dengan bantuan make up yang – anda bisa menilai sendiri – berhasil menciptakan tokoh Eyang Sinto Gendeng dengan sempurna dan hampir tanpa celah.

Jika anda sempat, silahkan lihat beberapa footage wawancara Ruth Marini lalu bandingkan dengan Eyang Sinto Gendeng. Dari mulai raut wajahnya, perubahan suara yang diciptakan oleh Ruth, bahasa tubuhnya, caranya berjalan, nada dan intonasi dialog yang dipilih, semuanya berbeda jauh dari diri Ruth sendiri.

Masih tentang permainan Ruth Marini. Di adegan selanjutnya, ketika ia bercerita tentang Mahesa Birawa. Ruth berperan sebagai Sinto Gendeng muda. Di dalam adegan itu, awalnya saya berpikir bahwa penciptaan tokoh yang dilakukan Ruth akan melompat jauh dari Sinto Gendeng di usia tua. Nyatanya tidak sama sekali. Terutama soal suara. Ruth nampaknya meneliti betul bagian riskan yang satu ini. Suara Sinto Gendeng muda dan Sinto Gendeng tua memiliki kesamaan nada dan warna. Cerdasnya, suara Sinto Gendeng tua terlihat tumbuh dari Sinto Gendeng muda. Tak banyak aktor yang bisa menyadari pertumbuhan suara, bahkan sekelas aktor Hollywood. Akting Ruth dalam film Wiro Sableng patut diacungi jempol. Mengherankan rasanya jika Ruth tak dapat satu pun penghargaan dari aktingnya sebagai Sinto Gendeng.

Ini baru soal penciptaan suara dan tubuh yang terlihat secara kasat mata. Pada tataran emosi dan “halaman nol” tokoh, Ruth terlihat matang dan mengobservasinya secara lengkap. Entah dalam catatan Stanislavsky yang sebelah mana, saya tak sempat membuka satu persatu buku Stanislavsky yang bicara soal halaman nol, tapi tokoh itu tercipta dari halaman nolnya. Itulah yang membuatnya hidup utuh sebagai manusia.

Kenapa saya bisa bilang “mengobservasinya dengan lengkap”? Pasalnya emosi yang dibangun oleh Ruth dalam setiap adegan, muncul dengan tidak tiba-tiba. Pikiran Sinto Gendeng ikut berjalan beriringan dalam tiap adegan. Ruth terlihat mendengarkan setiap dialog lawan mainnya baik-baik, mengolahnya dalam ruang lingkup pikiran Sinto Gendeng, lalu mengeluarkannya dalam dialog dengan nada, irama, intonasi, dan jeda yang tepat. Ruth memiliki porsi yang tidak banyak di dalam film ini. Sama seperti Yayu Unru. Hanya saja ia berhasil menyita perhatian.

 

Acting di Wiro Sableng dan Capaian Baru Dwi Sasono

Dwi Sasono berhasil menggebrak pada filmnya yang satu ini. Awalnya tidak ada bayangan ia akan bermain seperti apa. Film terakhir dari Dwi Sasono yang sempat saya tonton adalah Gerbang Neraka, dimana ia bermain bersama Reza Rahadian. Disana, ia bermain seperti “seadanya”. Tapi di film Wiro Sableng kali ini Dwi Sasono seolah tahu bahwa ini adalah ruang untuk mengeksplorasi perangkat-perangkat keaktoran. Salah satu yang berhasil mencuri perhatian adalah perubahan suara yang ditunjukkan oleh Dwi. Jelas sekali bahwa Dwi Sasono yang berperan sebagai Raja Kamandaka berhasil menciptakan suara yang benar-benar baru dan jauh dari diri Dwi Sasono.

Source: Tabloidbintang

Warna suara yang dipilih oleh Dwi pun pas dengan tokohnya, seorang Raja yang gagah berani. Suara, bentuk tubuh, semuanya sinkron dan saling berkesinambungan. Penciptaannya kokoh sebagai raja Kamandaka. Sama seperti Ruth, Dwi Sasono juga menjalankan pikiran si tokoh pada tiap bagian, baik ketika berdialog atau pun mendengarkan dialog lawan main. Meskipun dalam beberapa pilihan nada, masih terasa sama seperti si Guntur Samudera di film Gerbang Neraka. Tak hanya itu, caranya membangun emosi juga mirip dengan Guntur Samudera di Gerbang Neraka.

 

Andi Rif/ yang Impresif

Satu lagi pemeran Wiro Sableng yang tampil cukup impresif. Ia adalah Andi Rif/. Musisi yang satu ini justru bisa tampil di atas rata-rata para pemain lainnya. Sejauh yang saya tahu, ini adalah film pertama Andi Rif/ yang mana ia berperan sebagai tokoh lain yang jauh dari dirinya. Andi berhasil menciptakan tokoh Dewa Tuak dengan cukup bagus. Bahasa tubuhnya terlihat diciptakan sesuai dengan namanya, Dewa Tuak. Kakek-kakek tukang mabuk yang pintar bela diri. Secara garis besar permainan Andi Rif/ juga cukup memukau di film ini.

Tapi ada satu yang sedikit mengganjal dari permainan si rocker yang satu ini. Hal tersebut adalah bentuk tangan yang ia ciptakan. Kalau anda sering melihat Andi Rif/ manggung, pasti tak asing dengan bentuk tangan itu. Bentuk tangan yang pergelangannya ditekuk ke dalam. Bagi saya, yang tak sering melihat Andi Rif/ beraksi di atas panggung, bentuk tangan itu seketika mengingatkan saya pada Andi, si vokalis band Rif/.

 

Rifnu Wikana dan Lukman Sardi, Mata yang Kuat dan Akting yang Matang

Dalam film Wiro Sableng ini Rifnu Wikana sebagai Kalasrenggi dan Lukman Sardi sebagai Werku Alit bermain cukup baik. Satu hal yang menarik dari Rifnu adalah kekuatan matanya. Hampir dalam setiap adegannya, mata Rifnu selalu terasa berisi. Seperti mata yang menggambarkan bahwa dalam otaknya sedang berjalan banyak pikiran licik. Tapi sayang, hanya mata Rifnu saja yang berhasil mencuri perhatian. Lagi-lagi, jika keaktoran adalah menciptakan tokoh baru secara lengkap dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari titik terluar sampai titik paling dalam, Rifnu hany aberhasil memperkuat motivasi dan emosinya.

Tapi di sisi lain, Rifnu terlihat seperti aktor yang tahu mana bagian dari dirinya yang paling kuat. Dari sanalah ia menggunakan bagian terkuat untuk muncul sebagai seorang aktor.

Source: Deskgram

Sementara itu Lukman Sardi, seperti yang sudah kita tahu, merupakan salah satu aktor dengan kemampuan akting yang diakui banyak khalayak. Lukman justru berhasil “menipu” penonton dengan aktingnya yang seolah-olah baik tapi ternyata adalah dalang dibalik semua konflik yang ada. Lukman Sardi berhasil memainkan akting dalam akting dengan cukup bagus. Hampir bisa dipastikan, jika anda menonton adegan Lukman Sardi, anda tak akan bisa mengira bahwa di dalam pikiran si tokoh, tersimpan niat paling buruk.

Tetapi coba perhatikan lebih dalam lagi, ada beberapa laku yang secara tidak langsung mengindikasikan bahwa tokohnya memiliki sesuatu yang disembunyikan. Terutama soal kenyataan bahwa Werku Alit ingin mengambil alih tahta sang kakak. Pemilihan mengenai kapan unsur kelicikan itu keluar, dan di bagian tubuh mana kelicikan itu harus keluar, bisa dikuasai dengan baik oleh Lukman.

Meskipun, lagi-lagi, jika aktor yang mengidolakan Daniel Day-Lewis ini beranggapan bahwa tujuan seni peran adalah menciptakan manusia baru, Lukman hampir – baru hampir – sampai pada titik itu.

 

Vino, Berikan Tepuk Tangan Secukupnya

Inilah pemeran utama dari film yang naskah aslinya ditulis oleh ayahanda, Bastian Tito. Vino, bermain dengan cukup bagus di film ini. Tapi dengan catatan, jangan memperhatikan suaranya. Kenapa? Karena begitulah Vino dan ia di film-film sebelumnya. Semua warna suara, nada, intonasi, pemenggalan kata, sama. Kalau tak percaya coba bandingkan dengan film-film Vino sebelumnya dengan ketika ia bermain menjadi Wiro Sableng. Hampir semua hal yang berhubungan dengan suara, dialog, dan ruang lingkup sekitarnya, bisa dipastikan sama.

Tapi lagi-lagi, semua itu bisa termaafkan. Kenapa? Pertama adalah karena adanya upaya Vino untuk membuatnya berbeda. Terutama dengan karakter Wiro yang sableng, dimana secara tak langsung sedikit merubah kecenderungan Vino dalam berdialog. Kedua adalah soal betapa rumitnya menciptakan tokoh yang berbeda dari diri aktor sendiri.

Source: Detikhot

Bukan hanya soal suara, jika seandainya ketika anda membaca tulisan ini kemudian anda berkata “suara terus yang dibahas! Nggak ada yang lain!” tenang, ada yang perlu anda perhatikan soal yang satu ini. Mendengarkan!

Setiap aktor tahu bahwa setiap lakunya muncul bukan tanpa alasan. Tapi karena ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu muncul dari banyak hal, mulai dari melihat peristiwa, mengingat peristiwa, mendengarkan dialog lawan main, sampai pikiran yang muncul dari diri tokoh sendiri. Semua itu harus “didengarkan” dengan baik. Jika tidak, maka laku yang “palsu” itu akan menemani aktor sepanjang permainannya. Itulah agaknya yang terjadi pada diri Vino. Coba anda perhatikan, ada beberapa dialog, seperti ketika ia berdialog dengan Rara di depan api unggun. Vino nampak menunggu, bukan mendengarkan. Entah apakah sebenarnya ia mendengarkan sungguh-sungguh dialog Rara, atau hanya mendengarkan saja dan menunggu dialognya selesai. Karena setelah itu dialog yang diucapkan Wiro terasa melompat dan tidak tepat. Bahkan jika anda bilang emosi dialog itu pas, pada kenyataannya memang emosinya tepat, tapi tangga menuju emosi itu hilang entah kemana.

Selama saya menonton film ini saya terus berpikir dan bertanya, sebenarnya seperti apa jalan pikiran Wiro? Seorang anak yang 17 tahun hidupnya tinggal di hutan bersama seorang nenek setengah gila yang ketika kecil ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ayah dan ibunya dibunuh. Apa yang ada di dalam pikiran Wiro di setiap peristiwa yang terjadi di depan matanya? Apakah ia hanya melewatkan peristiwa itu begitu saja, atau apa? Mungkin jika psikologi pertumbuhan tokoh Wiro dari kecil sampai dewasa dirunut betul – yang saya bilang halaman nol di atas tadi – maka akan tercipta bangunan tokoh yang kokoh. Sayangnya hal itu tak nampak pada diri Wiro yang diciptakan Vino.

Tapi saya tentunya tak bisa serta merta mendiskreditkan perjuangan Vino untuk bisa menguasai tokoh yang satu ini. Pada kenyataannya, ada banyak aspek yang berhasil dikuasi Vino dengan baik. Seperti misalnya, konsistensi karakter ketika sedang beradegan action. Jika anda lihat, Vino selalu berusaha memunculkan identitas sableng dalam tiap koreo bela diri yang dilakoninya.

Selebihnya, berikan tepuk tangan secukupnya untuk Vino G. Bastian.

 

Aktor lain, dan motivasi yang “hampir tak ada”

Lalu bagaimana dengan aktor lain? Apakah permainannya tak cukup menyita perhatian? Bahkan aktor-aktor yang memiliki porsi yang cukup banyak? Sejauh saya melihat film Wiro Sableng dari awal sampai akhir, banyak sekali dialog yang artifisial. Artifisial dalam hal ini artinya muncul secara dadakan, tidak ada motivasi, atau ada tapi tak terasa, dan bahkan bisa dibilang “Bau Kertas”.

Kita mulai dari Sherina. Aktris yang satu ini sebenarnya permainannya cukup bagus. Kalau anda perhatikan betul, ada upaya dari Sherina untuk menjalankan pikiran tokohnya dalam mendengarkan dan merespon setiap adegan yang ada. Tapi rasanya respon itu buntung. Kadang sudah dibangun dari awal, semakin lama semakin naik, tapi di tengah perjalanan, motivasi itu hilang entah kemana. Seperti busur panah yang sudah ditarik dan dibidikkan ke sasaran, tapi ketika hendak dilepas, busur panah itu tetiba menghilang.

Source: Amiratthemovie

Ini baru soal respon. Belum pada penciptaan tokohnya. Jika keaktoran itu artinya menciptakan manusia baru, maka Sherina dan beberapa pemain yang lain nampaknya belum sampai pada tahap itu. Sejauh yang saya tangkap, hanya muncul upaya bermain natural. Untuk soal menciptakan tokoh? Belum kesampaian.

Lalu Fariz Alfarizi, pemain baru yang berperan sebagai Bujang Gila Tapak Sakti. Persoalan yang sama juga muncul pada pemain baru yang satu ini. Lagi-lagi, jika dipandang dari sudut seni peran yang bertujuan memberikan hidup pada tokoh yang dimainkan, maka Fariz masih belum berhasil. Hampir semua dialog yang dikeluarkan terkesan artifisial dan tanpa motivasi yang jelas. Atau mungkin bisa saya bilang “Fariz tidak mendengarkan dengan baik lawan mainnya”. Padahal kalau dilihat dari tokohnya, Bujang Gila Tapak Sakti punya ruang yang cukup bagus untuk dieksplor.

Meskipun begitu, Fariz tetap punya upaya untuk memberikan identitas pada tokohnya yakni dengan “Nafas Babi”nya itu. Memang kemunculan “Nafas Babi” ini tak banyak, tapi tepat. Sehingga membuat tokoh yang diciptakan Fariz juga punya ruang tersendiri untuk dinikmati.

Sementara untuk aktor lain secara garis besar dialog-dialog mereka terasa bau kertas dan asal keluar. Mereka seolah-olah tidak menjalankan pikiran tokohnya masing-masing, menghidupinya, lalu melontarkan dialog dengan pilihan nada yang tepat, tarikan nafas yang pas, dan jeda yang tepat. Semuanya terasa asal ucap.

Terutama si Pangeran yang dimainkan oleh Yusuf Mahardika. Dalam adegan setelah ia behasil dibebaskan dari sekapan si Brewok, ada satu dialognya dengan Bujang Gila Tapak Sakti. Di dalam dialog itu kurang lebih Bujang Gila Tapak Sakti sedikit mencemooh ayah sang pangeran yang tak perhatian padanya. Tiba-tiba, entah dari mana datangnya nada itu, muncul begitu saja tanpa bangunan yang jelas. Hambar.

Jika anda sudah menonton film ini, anda akan tahu betapa kentalnya unsur komedi slapstik dalam film ini. Saya sempat bertanya pada diri sendiri, apakah dalam sebuah film komedi dan susunan dialog yang lucu itu tak ada motivasi? Apakah tujuannya hanya semata-mata lucu dan membuat penonton tertawa? Sepertinya tidak begitu, kan?

 

Apa Hanya Actionnya Saja yang Menarik?

Seperti genrenya, film ini adalah film action yang penuh dengan adegan bela diri. Sepanjang film anda akan disuguhi dengan banyak sekali adegan bela diri yang sangat memanjakan mata. Tak bisa dipungkiri, para aktornya sudah sangat berjuang untuk bisa melakukan adegan bela diri sebaik mungkin.

Selain itu, yang menarik dari bela diri di film ini adalah kenyataan bahwa setiap tokohnya punya gaya bela diri yang berbeda-beda. Dan masing-masing tokohnya konsisten dengan gaya bela dirinya masing-masing. Ini yang menjadi nilai positif dari permainan tiap aktornya. Coba anda perhatikan dari gaya bela diri Wiro sampai Mahesa Birawa, mereka semua berusaha tetap berada pada rolenya sebagai tokoh.

Source: Uzone

Tentunya hal ini harus diapresiasi. Kenapa? Keaktoran memang bukan hanya soal menciptakan dan menghidupkan manusia baru, tapi juga soal kesiapan fisik. Coba bayangkan jika mereka mudah lelah. Meskipun ini film, fokus mereka bisa rusak jika fisiknya mudah lelah. Kalau itu terjadi, maka konsistensi pada gaya bela diri tiap tokoh bisa hilang.

Tapi apakah dalam film ini hanya actionnya saja yang menarik? Sayangnya iya! Jika anda suka dengan film-film dengan akting yang deep dan banyak memainkan emosi dengan cerdas, Wiro Sableng nampaknya bukan untuk anda. Tapi jika anda mencari film yang penuh dengan pukauan visual, dari mulai bela diri, sampai efek CGI yang lebih, maka Wiro Sableng adalah tempatnya.

Jadi, bagaimana sebenarnya acting di Wiro Sableng? Jawabannya adalah cukup memuaskan, jika digabung dan bukan dinilai sendiri-sendiri. Sedikit hambar, tapi cukup terasa. Kenapa? Karena setiap aktor di dalam film ini berusaha menghidupkan peristiwanya bersama-sama. Seperti misalnya dalam satu adegan, salah satu tokoh tak nampak kuat, maka tokoh lain berusaha menghidupkan peristiwa dan memperkuat akting lawan mainnya. Jika diberikan nilai secara garis besar untuk akting para aktor di film ini, 7 nampaknya angka yang pas untuk mereka.

Akting itu tidak sulit, hanya rumit!

%d bloggers like this: