Kenapa Gary Oldman Mendapatkan Best Actor Oscar?

Best Actor Oscar

Mungkin sebagian dari kamu sudah sempat menonton siaran langsung Oscar 2018 yang baru saja dihelat tadi padi jam 8.00 WIB atau mungkin kamu belum tahu kalau Oscar baru saja dihelat tadi pagi? Jika belum tahu, kamu bener-bener butuh membaca banyak berita, men! Oke, kali ini aku nggak akan bahas soal apakah kamu tahu tentang Oscar, nonton Oscar, atau semacamnya. Tapi aku akan bahas tentang persaingan di dalam salah satu kategori paling prestisius di dalam Oscar. Kategori tersebut adalah kategori Best Actor Oscar.

Sebelum masuk perhelatan Oscar, aku sempat membuat sebuah prediksi tentang siapa yang akan meraih aktor terbaik dalam Oscar tahun ini. Tentunya dari 5 nama yang keluar setelah pengumuman nominasi sekitar awal Februari lalu, aku memutuskan membuat sebuah prosentase kemungkinan siapa yang akan mendapatkan Oscar untuk aktor terbaik tahun ini. Kira-kira begini: Gary Oldman 35%, Daniel Day-Lewis 30%, Timothee Chalamet 28%, Denzel Washington 10%, Daniel Kaluuya 2%.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa muncul angka itu? Ini penjelasan lengkapnya. Kita akan mulai dari aktor dengan presentase terendah.

Daniel Kaluuya (2%)

Daniel Kaluuya
Source: google.com

Daniel Kaluuya cukup menggebrak dunia keaktoran ketika ia berhasil memainkan Chris Washington di Get Out. Mungkin ia juga menjadi salah satu nama yang cukup mengejutkan banyak orang ketika ia berhasil masuk nominasi Best Actor Oscar. Hal itu yang kemudian membuatku tertarik untuk menonton Get Out. Namun sayang, setelah aku menonton Get Out, ekspektasi tentang permainan keaktoran Daniel Kaluuya yang masiv, runtuh. Kenapa bisa kubilang runtuh? Aku punya ekspektasi besar karena mendengar namanya masuk banyak nominasi penghargaan. Seharusnya Daniel Kaluuya punya capaian keaktoran yang tinggi. Tapi sayang, buatku dalam film tersebut Daniel Kaluuya hanya mampu memainkan emosi si tokoh tapi tidak sepenuhnya menciptakan hidup si tokoh dari ujung kepala sampai kaki. Kenapa begitu? Daniel Kaluuya memang berhasil memainkan perasaan tokoh yang terjebak dalam situasi menggerikan. Emosi yang dimainkan cukup berhasil. Tapi tidak dengan tubuh, suara, bahasa tubuh, dan hal lain yang seharusnya menjadi bagian dari penciptaan keaktoran. Keaktoran tak hanya soal emosi, tapi juga bagaimana bisa menciptakan manusia baru, bukan begitu? Daniel Kaluuya gagal menciptakan manusia baru. Ia hanya menjalankan emosi tokoh dengan perangkat tubuh yang kenampakannya masih terasa “Daniel Kaluuya”. Tapi patut diapresiasi ketika ia berhasil menjadi salah satu peraih nominasi Oscar. Dan sesuai perkiraanku, tadi pagi, bukan Daniel Kaluuya yang menjadi peraih Best Actor Oscar. Mungkinkah ia cukup disebut sebagai penggembira dalam persaingan Aktor Terbaik sejagad itu?

Denzel Washington (10%)

Denzel Washington
Source: google.com

Mengejutkan mendengar nama Denzel Washington dalam daftar ini dan hanya mendapatkan prosentase kemungkinan mendapatkan Best Actor Oscar sebesar 10% saja? Not too much surprised! Filmnya yang berjudul Roman J. Israel Esq. memang merupakan film yang bagus. Denzel juga berhasil memainkan Roman dengan baik (hanya dengan baik, baik saja tak cukup untuk Oscar). Tapi sekali lagi, Oscar sepertinya punya semacam “standar” untuk siapa saja yang bisa mendapatkan penghargaan dan siapa saja yang cukup masuk dalam nominasi saja. Jadi begini, ini impresi ketika menonton Roman J. Esq pertama kali. Denzel berhasil memainkan Roman dengan baik dan ada semacam effort untuk menciptakan Roman dalam 3 dimensi tokohnya secara menyeluruh. Maksudnya, ada upaya dari Denzel Washington “menjauhkan” pribadinya sebagai Denzel dan mendekatkan dirinya pada tokoh Roman. Tapi sayang sekali penciptaannya tak utuh. Ada beberapa bagian “Denzel” yang tersisa dari tokoh ini. Mulai dari caranya menutup mulut setelah berbicara, yang terasa begitu “Denzel”, hingga suaranya yang mirip dengan suara tokohnya di Fences, film yang tahun sebelumnya juga mendapatkan nominasi Oscar. Tapi kenapa 10%? Jujur saja, sebenarnya salah satu pertimbangannya adalah nama besar Denzel Washington. Terkesan nggak fair? Tentu tidak. Nama besarnya seiring dengan kemampuannya dalam berakting. Jadi rasanya sah-sah saja kalau Denzel Washington mendapatkan 10% sementara Daniel Kaluuya hanya 2%. Seperti yang kubilang di atas, mungkin cukup jadi tim penggembira.

Timothee Chalamet (28%)

Timothee Chalamet
Source: google.com

Percayalah bahwa sebelumnya aku menuliskan presentasenya 25% sebelum aku melihat filmnya. Sebelum akhirnya aku mendapatkan filmnya yang berjudul Call Me by Your Name, aku hanya bisa melihat permainannya di Lady Bird, dan juga beberapa trailer di Youtube. Dari trailernya aku melihat bahwa dalam film ini Chalamet memiliki banyak adegan yang cukup menantang bagi seorang aktor. Ia berakting sebagai seorang anak muda yang “mendadak” gay dan menyukai salah seorang kawan ayahnya yang seorang arkeolog. Nah, adegan menantang itulah yang menjadi dasar meletakkan Chalamet pada posisi ketiga dengan kesempatan 25% awalnya. Setelah akhirnya aku berhasil mendapatkan filmnya dan menontonnya, prosentase tersebut naik 3% menuju angkat 28%. Bukan hanya soal adegan menantang tersebut, tapi soal penciptaan keaktoran Chalamet. Aktor muda ini bagiku berhasil Elio Perlman karena pertama; ia berani melakukan adegan menantang, kedua; dalam film ini dia menguasai dengan fasih 3 bahasa, Inggris, Perancis, dan Italia lengkap dengan logatnya (bahkan ketika ia mengucapkan bahasa Inggris, terasa bahwa Inggris bukan bahasa utamanya, dengan logat yang kental), dan yang ketiga, ini yang paling penting, Chalamet berhasil membangun 3 dimensi tokohnya dengan cukup baik. Meskipun berhasil membangun 3 dimensi tokohnya dengan cukup baik, sayangnya bangunan yang dibuatnya tak cukup kokoh. Aku mengingatnya dalam film Lady Bird yang bermain sebagai seorang anak band yang eksentrik, lalu melihat sesi wawancara Chalamet dan menyimpulkan bahwa Chalamet belum bisa konsisten berada dalam tokohnya. Dalam beberapa bagian (kamu bisa mengecek langsung dengan menonton filmnya) Chalamet nampak seperti dirinya ketika di wawancara media. Ketika memutuskan memberikan score 28% pada Chalamet aku ingat bahwa salah satu poin penting yang menjadi nilai kenapa seorang aktor bisa masuk nominasi Best Actor Oscar adalah filmnya. Dalam film ini Chalamet mendapatkan banyak sekali kesempatan untuk mengeksplor emosi tokohnya. Mulai dari emosi bergairah dengan perempuan, sampai emosi bergairah dengan laki-laki. Itulah yang membuatku memberikan Chalamet score 28%. Apakah dia penggembira saja? Jika dibandingkan dengan 2 nama sebelumnya, maka dia bukan penggembira, tapi jika dibandingkan dengan 2 nama setelah ini, maka Timothee Chalamet patut bersyukur dia bisa masuk nominasi.

Daniel Day-Lewis (30%)

Daniel Day-Lewis
Source: google.com

Menilai Daniel Day-Lewis sangat sulit buatku. Pertama karena dia adalah idolaku, dan yang kedua, dia adalah Role Model dalam soal keaktoran, baik kemampuan akting dan juga kehidupan pribadinya. Tapi kali ini aku harus dengan sangat rela memberikannya posisi kedua dalam peta persaingan peraih Best Actor Oscar 2018. Legenda yang satu ini, dengan raihan 3 kali Oscar (menjadi satu-satunya manusia yang meraih Oscar 3 kali untuk Aktor Terbaik) dan 6 kali nominasi (menjadikannya satu-satunya aktor yang ketika namanya masuk nominasi, bisa dipastikan 50% bahwa dialah jawaranya) bermain dalam film Phantom Thread. Sebuah film yang bercerita tentang seorang penjahit terkenal di Inggris masa 1950an. Mendapatkan filmnya cukup sulit karena tidak rilis di Indonesia. Seperti Chalamet, aku menonton Day-Lewis di Youtube melalui trailer-trailer Phantom Thread. Sekedar informasi, ini adalah film terakhir Daniel Day-Lewis, dia akan pensiun setelah film ini. Film ini juga merupakan film yang sangat aku nantikan, karena butuh waktu 5 tahun untuk menyaksikan permainan Daniel Day-Lewis semenjak film terakhirnya yang mendapat Oscar yaitu Lincoln. Aku kecewa dengan permainan Day-Lewis ketika melihat trailernya. Kesalahan terbesar adalah menilai keaktoran sang legenda ini melalui trailer 3 menitan. Emangnya aku siapa? Baru nonton 3 menit udah kecewa. Dan benar, setelah aku mendapatkan film utuhnya, aku tak bisa berkata apa-apa pada kemampuan akting manusia satu ini. Mungkin cuma bisa bilang Anj*ng! Keren!

Jadi begini, Daniel Day-Lewis buatku selalu punya standar kemampuan akting dalam setiap film yang ia mainkan. Jika 10 adalah nilai sempurna, maka ia akan bermain stabil diangka 8.8. Jika dia berhasil bermain di angka 9, maka ia akan dapat nominasi, dan jika bermain di angka 10, maka dia akan mendapatkan Oscar. Dalam Phantom Thread ia bermain pada kisaran angka 9-9.5. Tidak sempurna tapi bagusnya luar biasa.

Day-Lewis berhasil menciptakan tokoh Woodcock, sang penjahit dengan sangat sempurna. Cara tokoh itu berbicara, caranya memandang, caranya duduk, caranya berpikir, semuanya berbeda dengan apa yang pernah Day-Lewis mainkan. Tapi ada satu hal yang mengganjal yaitu tabir antara tokoh dan diri Day-Lewis dengan Woodcock terasa sangat tipis. Ini salah satu kelihaian Day-Lewis ketika memainkan tokoh yang mungkin secara fisik tidak nampak perbedaan yang mencolok dengan dirinya atau mungkin juga menjadi boomerang “kekalahannya” dalam persaingan Oscar tahun ini. Ia berhasil membawaku, sebagai penonton, meyakini bahwa dia bukan Day-Lewis. Tapi tidak seperti ketika ia memainkan tokoh lain seperti Lincoln, There Will Be Blood, atau My Left Foot yang sepanjang film hanya yang nampak hanya tokoh dan bukan Day-Lewis. Dalam film ini, ada celah dimana aku masih bisa berpikir bahwa itu adalah Day-Lewis. Terutama dari wajahnya yang masing terasa sedikit Day-Lewis. Mungkin sebagian dari kamu akan bilang “ya wajah mana bisa dirubah?!” sebelum menjawab itu, coba kamu tonton dulu film Day-Lewis lain yang memiliki perbedaan wajah yang tipis dengan Day-Lewis. Misalnya pada film There Will be Blood. Hanya kumis yang membedakan Day-Lewis dengan tokohnya. Tapi Day-Lewis mampu mendapat Oscar dan bermain dengan sempurna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sementara pada Phantom Thread, tabir yang terlalu tipis itu rasa-rasanya yang membuatnya menduduki posisi kedua dalam persaingan Aktor Terbaik Oscar tahun ini. Selain itu, dalam film ini hanya sedikit adegan dengan emosi-emosi kompleks yang hadir. Sehingga seolah-olah tidak ada kesempatan bagi tokoh ini menunjukkan dirinya dalam berbagai jenis emosi. Atau mungkin juga karena pesaingnya terlalu solid dan kuat untuk dikalahkan?

Gary Oldman (35%)

Gary Oldman
Source: google.com

And the Oscar goes to! Gary Oldman! Yups! Dialah yang memenangkan Best Actor Oscar tahun ini dengan tokohnya sang politikus legendaris Inggris, Winston Churchill. Ini adalah Oscar pertamanya dan nominasi kedua Gary Oldman setelah film Tinker Tailor Soldier Spy tahun 2011 lalu. Pada tahun 2011 lalu ia hanya menjadi nominasi setelah Aktor Terbaik berhasil diraih Jean Dujardin. Dalam perjalanannya di perhelatan Oscar, nama Gary Oldman memang bukan nama yang “cukup dikenal” karena jarang masuk nominasi. Tapi sepertinya nasib baik sedang menghinggapinya tahun ini ketika ia mendapatkan kesempatan memainkan tokoh Churcill dan berhasil memainkan Churcill dengan luar biasa. Oldman mendapatkan prosentase paling besar dari 5 aktor yang masuk nominasi tahun ini. Kenapa bisa begitu? Kenapa Oldman nggak ada di posisi kedua? Jawabannya cuma satu, akting dan perangkat yang mendukung keaktoran Oldman di film Darkest Hour sangat solid!

Maksudnya mas? Jadi begini, dalam film Darkest Hour, kamu bisa lihat sendiri bahwa kenampakan fisik Gary Oldman sebagai Winston Churcill jelas berbeda dari Gary Oldman yang asli. Hal ini didukung dengan make up yang juga mendapatkan beberapa penghargaan termasuk Oscar tahun ini sebagai make up terbaik. Itu yang pertama. Lalu yang kedua, Gary Oldman nampaknya juga membangun 3 dimensi tokoh ini dengan solid. Semua hal dia perhitungkan betul dan diciptakan dengan sangat detail. Setiap nada yang dipilih, setiap gerakan mulut yang dibuatnya, caranya memandang, semuanya benar-benar bukan Gary Oldman. Dia, seperti layaknya Daniel Day-Lewis yang berhasil menciptakan Lincoln, juga berhasil menciptakan Churchill dengan sempurna. Point ketiga adalah bahwa dalam film Darkest Hour, Gary Oldman sebagai Churcill memiliki banyak sekali adegan untuk menunjukkan kompleksitas tokohnya. Baik secara emosi atau pun laku. Lengkap sudah penciptaan tokoh Gary Oldman sebagai Winston Churcill. Semua orang yang melihatnya bermain pasti tak meragukan keaktorannya dalam film ini. Kalau Daniel Day-Lewis bermain dikisaran nilai 9-9.5, maka Oldman bermain diangka sempurna! 10! Itu kenapa ia akhirnya berhasil mendapatkan Oscar tahun ini.

Kurang lebih itu kenapa aku membuat prosentase perkiraan siapa yang akan mendapatkan Best Actor Oscar. Sekali lagi selamat untuk Gary Oldman yang telah mendapatkan penghargaannya. Semoga mitos Best Actor Oscar yang berkata bahwa siapapun yang pernah meraih Best Actor Oscar, maka karirnya akan meredup tidak terjadi pada anda tuan. Dan untuk Daniel Day-Lewis yang terhitung semenjak selesainya proses shooting Phantom Thread memutuskan untuk pensiun, selamat menikmati kehidupanmu lagi pak! Semoga selalu sehat dan kita bisa ketemu suatu saat nanti!

Diluar itu semua sepertinya ada semacam pola yang bisa dibaca dari penilaian Best Actor Oscar untuk kategori pemeran utama pria terbaik. Soal apa saja yang membuatnya menang, apa saja yang membuat seseorang bisa masuk nominasi, dan lain sebagainya. Hal itu nanti akan dibahas di artikel berikutnya.

Jika ada masukan, silahkan tulis saja dikomen dan jangan lupa di share ya!

%d bloggers like this: