fbpx

The Iron Lady; Sampai Pada Cara Bernafas!

The Iron Lady

Film The Iron Lady rilis tahun 2011 dan bercerita tentang Perdana Menteri perempuan pertama Inggris, Margaret Thatcher. Meryl Streep yang berperan sebagai Margaret Thatcher menunjukkan ciptaan yang luar biasa detail. Ah terlalu banyak basa-basi. Kalian bisa mencari informasi lainnya di Google saja. Sekarang, mari kita langsung lanjut ke permainan Meryl.  

The Iron Lady Memanjakan Dahaga Capaian Fisiologis

Iya banget! Itu adalah kalimat pertama yang sebenarnya ingin kami jadikan judul setelah menonton The Iron Lady. Memang Meryl sangat berhasil memuaskan kami atas dahaga capaian fisiologis yang pada beberapa film yang kami tonton dan buat acting reviewnya, dahaga itu sama sekali nggak terpuaskan. Tapi di The Iron Lady capaian fisiologis Meryl benar-benar membuat kami puas. Ada banyak sekali capaian yang bisa kita lihat. 

Kita mulai di adegan pertama film The Iron Lady saat kita disuguhi Margaret Thatcher yang sudah tua. Dari make up nya, kita sudah melihat bentuk wajah yang berbeda. Terima kasih pada tim make up yang berhasil membuat wajah Meryl terlihat sangat berubah. Hal ini melengkapi capaian fisiologisnya. Nggak heran kalau akhirnya mereka juga mendapatkan Best Makeup dan Hairstylist di Oscar, BAFTA, dan beberapa penghargaan film yang lain. 

Setelah itu, masih di bagian wajah, kita bisa melihat ada perubahan pada bentuk giginya. Kami tentu sadar dan tahu kalau perubahan itu terjadi karena tim make up. Kami sedang tidak membicarakan soal adanya gigi itu saja, tapi efek dari adanya gigi itu. Coba perhatikan baik-baik dan mendetail. Gigi palsu tersebut berhasil memunculkan efek yang menarik pada cara Meryl berbicara dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan mulutnya. Caranya menutup mulut, membuka mulut, bicara huruf tertentu, semua jadi berubah. Hal kecil yang menurut kami membawa perubahan yang sangat signifikan. Selain itu coba perhatikan baik-baik caranya tersenyum. Cara tersenyum tokoh ini berbeda dengan cara tersenyum Merryl di kehidupan nyata atau di filmnya yang lain. Bibir bagian kanannya diangkat ke atas, sementara bibir bagian kirinya dibiarkan. Kami rasa hal tersebut muncul selain karena kesadaran Meryl menciptakan bentuk itu, juga karena gigi palsu yang memaksa struktur mulutnya berubah. 

Oke, jadi dari bagian wajah saja kita bisa melihat banyak sekali capaian fisiologis yang benar-benar memuaskan. Setelah wajah, mari kita perhatikan warna suara. Tapi kali ini kita fokus pada Margaret tua terlebih dahulu. Pada warna suara Margaret tua, kita bisa mendengarkan warna suara yang berbeda. Kami merasa ruang resonansinya berbeda dari ruang resonansi yang dimiliki Meryl. Selain itu aksennya juga terasa sangat berubah. Sementara pada Margaret paruh baya, berbeda. Coba kalian lihat ketika Meryl berbicara di video ini;

Dan video ketika Meryl menjadi Margaret paruh baya, seperti di video berikut;

Kemudian bandingkan. Menurut pendengaran kami warna suara si Meryl memang tidak sangat berubah. Tapi pada aksen, kami menemukan perbedaan yang cukup signifikan. Lalu coba bandingkan dengan warna suara Margaret Thatcher yang asli berikut ini; 

Dengarkan baik-baik, warna suara ciptaan Meryl di film The Iron Lady mendekati warna suara Margaret Thatcher paruh baya yang asli. Tapi hanya mendekati. Kalau kita ibaratkan pada angka dan suara Margaret Thatcher paruh baya yang asli itu ada di angka 10, maka ciptaan Meryl ada di angka 6 atau 6.5. Cukup jauh dari warna suara Meryl, tapi tidak cukup dekat dengan suara Margaret Thatcher yang asli. Itu kalau kita hanya membandingkan capaian warna suaranya saja. Tapi kalau kita membandingkannya capaian suaranya secara utuh, termasuk pada aksen, pemenggalan kata, dan cara bicara, maka capaian Meryl ada di angka 9. Sangat dekat dengan Margaret Thatcher yang asli. Dan menurut kami salah satu yang membuat aksen, pemenggalan kata, cara bicara dan aspek lain dalam suaranya berubah adalah keberadaan gigi palsu di mulut Meryl. 

Sementara ketika ia menjadi Margaret tua renta, warna suaranya jauh berbeda. Kami tak tahu apakah warna suaranya sama dengan Margaret Thatcher yang asli di usia yang sudah renta, karena kami tidak mendapatkan video footage Margaret Thatcher tua renta. Tapi sejauh pendengaran kami, warna suara Margaret tua renta ciptaan Meryl terasa sangat jauh berbeda dari warna suara Meryl yang asli di kehidupan nyata dan beberapa film yang pernah ia mainkan. 

Itu baru pada wajah dan suara saja. Lalu bagaimana dengan capaian yang lain? Masih di Margaret Thatcher tua. Kita dengan jelas bisa melihat cara berjalan yang berubah, cara duduk yang berbeda, cara mengambil barang yang berubah dan kami rasa semua relevan dengan usianya yang sudah renta. Coba kamu perhatikan baik-baik, pada beberapa adegan ketika Margaret Thatcher sudah tua, tangannya gemetar saat akan mengambil beberapa barang atau sekedar duduk dan menggunakan tangannya sebagai penopang. Hal itu juga secara konsisten muncul di beberapa peristiwa. 

The Iron Lady

 

 

Lalu bagaimana capaian Meryl ketika menjadi Margaret Thatcher di usia paruh baya? Sebelum pensiun dari pemerintahan? Ada beberapa capaian yang tersisa. Salah satunya adalah suara, seperti yang sudah kami sebutkan di atas, aksen, bentuk mulut, dan cara duduknya yang khas. Tapi cara berjalannya jadi sangat dekat dengan Meryl. Analogikan saja seperti ini. Ketika Meryl menjadi Margaret tua, ia berhasil mengubah cara berjalan dan laku tubuh yang lain sehingga ia ada di angka 9. Tapi ketika ia menjadi Margaret paruh baya, beberapa capaian terlihat samar dan yang awalnya ada di angka 9, jadi ada di angka 8 saja. Misalnya cara berjalan. Sebelumnya kami merasa cara berjalan Meryl ketika menjadi Margaret tua renta ada di angka 9. Sangat jauh dari Meryl dan kami rasa sangat relevan dengan kondisi usia Margaret Thatcher. Tapi ketika menjadi Margaret Thatcher paruh baya, cara berjalannya jadi menyesuaikan kondisi usianya tapi sekaligus mendekat pada cara berjalan Meryl di kehidupan nyata dan di beberapa film yang pernah ia mainkan. Kami tak tahu, apakah ini persoalan jarak usia yang awalnya sangat jauh menjadi sangat dekat dan mempengaruhi ciptaan cara berjalannya? 

Kalau kami melihat The Iron Lady, maka kami merasa ada 2 tokoh yang diciptakan oleh Meryl. Pertama adalah Margaret tua renta, dan kedua Margaret Paruh Baya. Capaian Meryl ketika jadi Margaret tua renta lebih memuaskan dahaga fisiologis kami. Sementara ketika ia menjadi Margaret paruh baya, dahaga fisiologis kami tidak sepenuhnya terpuaskan. 

Satu hal lain yang kami lupa catatkan. Ini soal Meryl ketika menjadi Margaret Thatcher tua renta yang kemudian membuktikan teori kami soal nafas yang menjadi salah satu dari 3 aspek yang menyusun suara. Perhatikan baik-baik cara Margaret Thatcher tua renta ciptaan Meryl bernafas. Kita bisa mendengar nafas yang terengah-engah dan itu membantu Meryl menciptakan cara bicara yang lain. Ada pemenggalan kata yang baru, jeda kalimat yang otentik, dan capaian menarik lainnya. Apa yang dilakukan Meryl membuktikan teori kami sebelumnya bahwa suara terdiri dari 3 aspek yakni nafas, ruang resonansi dominan, dan bentuk fisik. Meryl membuktikan bahwa nafas bisa diciptakan dan bisa mempengaruhi cara bicara seseorang. 

Kuatnya Taksu Meryl Streep

Kalau Stanislavski menyebutnya Inner Life, atau beberapa pengajar di Indonesia menerjemahkannya sebagai permainan dalam atau operasional dalam, tapi kami menyebutnya sebagai taksu. Kalau dalam bahasa Bali, taksu ini berarti daya, kekuatan, atau karisma. Kami akan menggunakan istilah ini sementara waktu. 

Kembali bicara soal permainan Meryl Streep yang menurut kami, selain memuaskan dahaga capaian fisiologis, juga berhasil menunjukkan taksu yang luar biasa kuat. Ada banyak sekali adegan yang menunjukkan kuatnya taksu Meryl. Misalnya ketika adegan Margaret melihat video saat anak-anaknya masih kecil, kemudian anak-anaknya berlari keluar dari televisi. Kita bisa melihat taksu yang luar biasa kuat dan mampu membangun imajinasi yang bisa kita, penonton, sangat percayai. Kita tahu memang pada shootingnya pasti ada anak-anak kecil itu. Tapi ketika anak-anak itu keluar frame, lalu tinggal Meryl sendiri di kamera, kami bisa melihat taksu yang begitu kuat menyampaikan emosi yang sedang dirasakan oleh si karakter. Kami jadi sangat meyakini peristiwa dan perasaan yang dialami oleh si karakter. 

 

 

Salah satu adegan dengan taksu paling kuat menurut kami adalah adegan terakhir ketika Margaret Thatcher mengemasi barang-barang suaminya dan mengantar suaminya pergi. Kami bisa melihat daya, vibra, atau taksu, atau apapun itu sebutannya yang muncul luar biasa kuat. Kami bisa merasakan kesedihan, kerinduan, ketakutan, tapi juga kerelaan yang begitu besar sedang terjadi pada Margaret. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa begitu? Kami memiliki beberapa dugaan. 

Pertama karena Meryl menjalani peristiwa. Ia kurang lebih menggunakan istilah yang dipakai Stanislavski yakni “here and now” atau disini dan sekarang. Atau kamu bisa menggunakan istilah lain seperti in the moment atau apapun itu. Tapi yang jelas, Meryl benar-benar meyakini setiap peristiwa yang terjadi pada si karakter ketika ia melakukan adegan-adegan tertentu. 

Kedua adalah karena Meryl tahu siapa karakternya dan tahu apa yang sedang dituju oleh si karakter di adegan tersebut. Meryl tidak kehilangan arah. Visi permainannya jelas, tidak hilang timbul seperti bingung mau kemana. 

Ketiga, Meryl mendengarkan dengan sangat baik. Ia tidak hanya mendengarkan lewat telinga saja. Tapi ia juga “mendengarkan” lewat mata, indera penciuman, kulit, dan perasaan. Semua indera yang dimilikinya digunakan semaksimal mungkin untuk merespon apapun yang terjadi di adegan tersebut. Bukti Meryl mendengarkan dengan baik bisa kamu lihat di adegan ketika ia berdebat dengan sang suami yang duduk di belakang Meryl. Kita bisa melihat Meryl merespon di momen yang tepat tanpa melihat ekspresi wajah dari suaminya. Selain itu responnya juga tumbuh dengan langkah yang tepat. Kami rasa itulah bukti bahwa ia mendengarkan dengan baik dan mengolah hasil pendengarannya dengan sempurna. 

Kami rasa tiga hal itulah yang menjadi alasan kenapa taksu bisa begitu kuat muncul. Kami sadar kalau taksu memang istilah baku dari bahasa Bali. Tapi kami rasa itu bukan hanya milik orang Bali. Taksu dimiliki oleh setiap manusia, tinggal siapa yang ingin menggunakan dan mau menjalani proses untuk memunculkan taksu tersebut. 

Begitu dulu untuk acting review kali ini.

Terima kasih, viva aktor!