[Acting Review] The Favourite; Tokoh yang Tumbuh

the favourite

The Favourite adalah salah satu film yang memperoleh banyak sekali penghargaan setelah perilisannya. Bahkan dalam Oscar, film ini berhasil mendapatkan 10 nominasi! 3 diantaranya adalah best actress, dan 2 best supporting actress. Bukan hanya nominasi, pada penghargaan sebelumnya, yakni di Golden Globe, Critic’s Choice, hingga SAG, para aktornya berhasil mendulang nominasi dan penghargaan. Pada Golden Globe misalnya, Olivia Colman berhasil meraih best Actress sementara Emma Stone dan Racel Weisz harus puas dengan nominasi. Tapi pada penghargaan-penghargaan selanjutnya, Rachel Weisz dan Olivia Colman berhasil mendapatkan kemenangan. Kami bahkan bisa mengatakan, hampir pada semua penghargaan, ketiga aktris tersebut selalu masuk nominasi.

Membahas permainan mereka dalam film The Favourite yang bercerita tentang secuplik kisah perjalanan hidup Anne, Queen of Great Britain ini sangat menarik. Mereka bertiga, Olivia Colman berperan sebagai Queen Anne, Rachel Weisz menjadi Sarah Churchill, sementara Emma Stone berperan sebagai Abigail Masham berhasil mengejawantahkan tokoh bersejarah ini dengan baik. Bukan soal tingkat kemiripan penciptaan ketiganya dengan tokoh yang hidup 400 tahun yang lalu itu, tapi soal relevansi mereka mengejawantahkan rasa dan pertumbuhan rasa dari tokoh yang mereka mainkan. Tak perlu terlalu lama lagi, berikut ini pembahasan lengkap mengenai permainan Olivia Colman, Rachel Weisz, dan Emma Stone dalam The Favourite.

Olivia Colman, Bukan Tubuh Saja yang Tumbuh

Melihat permainan Olivia Colman sebenarnya kami cukup kaget. Pasalnya aktris yang satu ini bisa dibilang lebih sering bermain sebagai pemeran pembantu dari pada pemeran utama. Daftar penghargaan yang dia dapatkan pun bisa dibilang tidak cukup banyak. The Favourite ini bisa dibilang menjadi film yang membawanya pada puncak karirnya baik secara kuantitas atau secara kualitas. Tapi ada yang disayangkan dalam permainan Olivia Colman.

Jika kalian melihat film ini pada menit pertama, dan sebelumnya kalian sudah melihat permainan Olivia Colman, atau melihat sesi wawancaranya, maka kalian mungkin akan menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari Anne dan Olivia Colman. Ada banyak aspek yang sepertinya tidak terkejar dengan baik. Kita runut dari yang paling sulit, yakni suara. Pada bagian ini, Olivia Colman tidak berhasil menunjukkan perbedaan yang signifikan dari suara Anne dan suaranya sendiri. Ketika kami mencoba mendengarkan suaranya pada menit-menit berikutnya, kami hanya menemukan sedikit perbedaan warna suara. Dalam soal dialek pun kami tidak menemukan perubahan yang signifikan. Perubahan yang pada pendengaran pertama bisa membuat kami seketika berkata “Beda! Suaranya melompat jauh!”. Hal semacam itu tidak berhasil kami temukan pada ciptaan suara Olivia.

 

Tapi ada yang lain dalam soal suara tokoh Anne ini. Olivia memang bisa dibilang gagal menciptakan suara Anne sejauh mungkin dari dirinya, tapi Olivia berhasil membawakan warna suara yang sama itu dengan cara yang berbeda. Yes! Olivia memang seperti tidak merubah suaranya, tapi ia berhasil merubah cara Anne berdialog. Cara disini bukan dialek atau logat ya. Tapi pembawaan dialognya. Sebab kalau kita mendengarkan dialek, tidak ada perbedaan yang jauh dari Anne dan Olivia Colman. Pembawaan dialog inilah yang berhasil memunculkan kesan lain dalam setiap dialog yang dilontarkan oleh tokoh Anne. Pembawaan dialog ini juga berhasil menyingkirkan persona Olivia Colman. Salah satu contoh adegan yang pembawaan dialognya terasa sangat berbeda adalah ketika adegan ia hendak bertemu dengan Duta Besar Rusia. Dalam adegan tersebut, kita bisa menangkap nada dialog yang berbeda. Nada dialognya terdengar agak manja. Meskipun ia memiliki warna suara yang sama dengan milik Olivia Colman dalam kehidupan sehari-hari, tapi dengan cara membawakan dialog yang berbeda, membuat kesamaan suara itu tidak terasa atau kita bisa bilang tidak terpikirkan. Kesan manja yang kuat berhasil ditunjukkan oleh Olivia Colman dalam tokoh ini.

Lalu bagaimana dengan capaian fisiknya? Secara kasat mata kami tidak bisa melihat perbedaan yang signifikan dari Olivia Colman sebelum film dan ketika ia bermain sebagai Anne. Jika kita melihat ukuran tubuh, rasanya Olivia terlihat sama. Dan lagi, kalau kita membandingkan Anne ciptaan Olivia Colman dengan Anne yang asli, dimana hanya ada dokumentasi berupa lukisan, maka kita tidak bisa mengatakan kalau Olivia Colman berhasil memunculkan Anne dengan utuh termasuk kondisi fisiknya. Maka dari itu, dalam film ini nampaknya relevansi kemiripan fisik benar-benar disingkirkan. Sepertinya bukan itu yang ingin mereka kejar. Tapi sebaliknya, perjalanan emosi yang ingin dicapai oleh tiap aktornya.

Setelah tidak ada capaian fisik yang menarik, maka kami segera melompat ke emosi. Pada tataran ini lah kami menemukan hal yang menarik. Dalam permainan emosi, Olivia Colman berhasil memainkan emosi dengan sangat dinamis. Perubahan emosi yang dinamis ini tidak asal berubah. Tapi ia muncul dengan tangga emosi yang jelas. Bukan hanya itu, seolah-olah pada tiap pijakan tangga emosi, berhasil ditunjukkan Olivia pada tiap matriks yang ia punya. Penjelasan sederhananya begini, misalnya pada adegan Anne melihat Sarah berdansa. Pada adegan itu ia awanya merasa senang. Kita bisa melihat itu dari senyumannya. Kemudian emosinya seperti beranjak dari senang ke marah. Langkah menuju ke kemarahan itu bisa kita lihat dari otot pipi yang mengencang. Setelah itu ia marah dan kita bisa melihat kemarahannya di matanya. Lalu setelah marah, kita bisa merasakan kemuakan sedang bergejolak dalam perasaan dan pikiran Olivia. Kita juga bisa melihat ejawantah dari perjalanan marah ke muak dari matanya dan lontaran dialog yang muncul dengan nada yang tepat dan timing yang pas. Olivia bukan hanya menunjukkan tiap tapak tangga emosinya dari perubahan ekspresi secara fisik, tapi juga dari tarikan nafas, buangan nafas, hingga lemparan pandang. Semua langkah emosi itu bisa dirunut dan terasa sangat logis. Sehingga ketika ia melontarkan dialog “Stop it” terasa sangat logis dan tepat.

the favourite

 

Bukan hanya soal ejawantah yang lengkap pada tiap langkah emosinya. Olivia Colman juga berhasil membuat kita bertahan, bertanya, menduga, sampai akhirnya diberikan jawaban soal apa perasaan yang sedang terjadi pada diri tokoh Anne.

Tercatat dalam film ini ada 2 kali adegan dimana permainan tangga emosi Olivia Colman terlihat rigid dan detail. Adegan yang lain bisa kamu lihat ketika ia mendengarkan segerombolan anak kecil yang sedang berlatih piano. Ia awalnya terlihat bahagia, tapi kemudian terlihat muak dan meledak-ledak. Bahkan dengan angle camera yang lebih lebar, Olivia tetap berhasil mengejawantahkan tiap langkah emosinya pada matriks-matriks tubuh dan semua perangkat dengan tepat. Semua emosi yang terjadi pada diri Anne, terutama soal kemuakan itu terasa logis ketika kita tahu bahwa dalam sejarah, Anne memang merupakan seorang perempuan yang hamil 17 kali dan setiap kehamilannya ia selalu gagal.

Selain soal emosi, hal lain yang menarik adalah bentuk yang dimunculkan oleh Olivia Colman sebagai representasi dari rasa dan pikiran yang terjadi di diri tokoh. Misalnya dalam salah satu adegan ketika Anne berputus asa. Dalam adegan itu Olivia Colman menunjukkan cara putus asa yang genuine atau asli. Jika kita memperhatikan film dari awal, kita seolah digiring untuk sadar bahwa cara putus asa itu adalah cara seseorang yang terkadang memiliki sifat kekanak-kanakan berputus asa. Meskipun cara putus asanya seperti anak-anak, kami tidak melihat adanya kepalsuan dari representasi pikir dan rasa itu. Salah satunya dalam adegan ketika ia memakan kue manis dan ketika ia hendak melompat dari jendela dan ditarik Sarah. Olivia berhasil menunjukkan cara frustasi dan ngambeknya orang tua yang punya sifat kekanak-kanakan. Meskipun jika kita melihat relevansi sejarah, kami belum menemukan data yang menyebutkan bahwa tokoh Anne, Queen of Great Britain ini memiliki jiwa kekanak-kanakan seperti yang ditunjukkan Olivia.

Masih bicara soal babakan permainan emosi dari Olivia Colman. Aktris yang satu ini bukan hanya berhasil menunjukkan emosinya, tapi ia juga berhasil mengendalikan emosi itu dengan baik. Contoh adegannya sama dengan ketika ia berjalan dengan Emma Stone dan melihat segerombolan anak kecil yang berlatih biola. Jika kita tahu bahwa Anne adalah tokoh yang sedang sangat muak saat itu, maka seharusnya ia langsung meledak saja. Tapi Olivia tidak bermain seperti itu. Jika kita melihat detail pada ekspresi dan bentuk tubuhnya, kita bisa menangkap emosi marah yang muncul terlebih dahulu. Tapi emosi itu dikendalikan. Seperti ada kesadaran lain bahwa anak-anak yang sedang bermain biola itu memang indah. Sehingga kemudian muncullah emosi senang. Tapi pengendalian terhadap emosi marah itu kemudian dilepaskan pada momen yang tepat dengan langkah dan alasan yang pas. Sehingga pengendalian itu memunculkan warna emosi yang beragam dari permainan Olivia Colman.

 

Masih hangat kan kalau di atas kami sempat bilang kalau tidak ada capaian fisik yang menarik di permainan Olivia? Ternyata kami salah besar. Ketika kami melihat film sampai pada adegan-adegan terakhir, kami diberikan tamparan keras soal capaian fisik yang kami lupakan, dan mungkin dilupakan juga oleh banyak aktor yang bermain di sebuah film. Apa itu? Pertumbuhan tokoh!

Hal itulah yang pada akhir film ditunjukkan Olivia Colman dengan sangat baik. Tokohnya yang kemudian berubah menjadi sakit, semacam stroke membuat bentuk ciptaan Olivia berbeda. Dari bentuk tubuh jelas terlihat berbeda. Dari cara bicara, bentuk mulut, warna suara, semuanya terlihat dan terdengar berbeda. Tapi yang menarik bukan hanya dari ciptaan fisiknya yang berubah dan bertumbuh, tapi dari cara mengolah emosi. Jika kita melihat cara tokoh Anne mengolah emosi di adegan terakhir kemudian membandingkannya di adegan pertama, kita akan melihat pertumbuhan yang menarik. Caranya mengolah dan menunjukkan emosi berubah. Dari yang sebelumnya terlihat seperti anak-anak, kemudian berubah menjadi dewasa. Poin yang keren adalah pertumbuhan emosi itu tetap ada di basis yang sama. Jadi bukan di basis berbeda yang kemudian bisa seolah memunculkan tokoh yang lain.

Rachel Weisz dan Emma Stone, Perubahan Kecil yang Berefek Masif!

Lalu bagaimana dengan permainan Rachel Weisz dan Emma Stone? Apakah permainan keduanya biasa saja? Apakah alasan keduanya bisa masuk Oscar dan nominasi lain karena mereka melakukan adegan vulgar berciuman sesama perempuan dan beradegan telanjang? Nampaknya bukan itu alasan kenapa mereka berdua berhasil menghiasi hampir seluruh penghargaan yang ada di dunia pada kategori best supporting actress. Kenapa? Berikut pembahasannya;

Kita lihat dari yang paling kasat mata terlebih dahulu. Capaian fisik. Keduanya, baik Rachel atau pun Emma memiliki capaian fisik yang tidak jauh beda dengan Olivia. Hampir tidak ditemukan perbedaan yang sangat signifikan dari Emma dan Rachel di kehidupan di luar film dan tokoh yang mereka ciptakan di film The Favourite. Tapi ada satu yang sepertinya diciptakan dengan baik oleh Emma Stone. Poin itu adalah bentuk mulut Emma dan bentuk mulutnya ketika berbicara.

Coba lihat video di bawah ini dan perhatikan pelafalan huruf th.

Lalu bandingkan dengan bentuk mulut Emma Stone dalam film The Favourite.

Kita bisa melihat bahwa di luar film, bentuk mulut Emma terlihat sedikit menggelembung. Dan ketika berbicara, bentuk mulutnya membulat. Seperti kata-kata dan suara ngumpul di depan giginya dan berputar di pipi dan bibirnya. Lalu coba bandingkan dengan tokoh ciptaan Emma di film The Favourite. Kita bisa melihat cara bicara Emma yang berubah. Ia terlihat sedikit mengendalikan bagian mulutnya agar cara bicaranya tak sama dengan cara bicara Emma di kehdiupan nyata dan cara bicaranya di film sebelumnya. Nah, perubahan kecil yang ditunjukkan oleh Emma Stone itu berpengaruh besar terhadap cara wajahnya berekspresi.

Lalu bagaimana dengan Rachel Weisz? Nyatanya kami tidak melihat perubahan yang signifikan kecuali bahasa tubuh bangsawannya yang terlihat matang. Mungkin jika ciptaan lain dalam tubuhnya tidak terasa signifikan, pada bahasa tubuh terasa berbeda. Rachel yang memerankan tokoh Sarah Churcill ini berasil merepresentasikan bahasa tubuh bangsawan kerajaan. Bukan hanya asal tegap dan berwibawa, tapi bentuk tubuh itu ikut membentuk respon yang genuine dari tokoh Sarah ketika ia merespon sesuatu. Memang, sekali lagi jika kita melihat capaian fisik melulu dari sejauh mana fisik terlihat berbeda antara tokoh dan si aktor, kita akan menemukan banyak kekurangan. Tapi ingat bahwa fisik bukan melulu soal bentuk tubuh, tapi juga cara membawa tubuh, dan lain sebagainya.

 

Lalu jika kita bicara soal pertumbuhan tokoh seperti apa yang sudah kita bahas pada permainan Olivia Colman, maka kita juga bisa mendapatkan pertumbuhan tokoh pada kedua aktris ini. Baik Emma atau pun Rachel sama-sama berhasil menunjukkan pertumbuhan tokohnya. Kita mulai dari Emma dulu. Pada awal film kita diperkenalkan pada tokoh Abigail, seorang perempuan baik-baik dan cerdas yang tidak mungkin bersifat licik. Tapi seiring berjalannya film, kita disuguhkan perubahan kepribadian dari Abigail, tokoh Emma dalam film The Favourite. Emma berhasil menunjukkan perubahan kepribadian, dari perempuan yang baik menjadi perempuan licik. Ingat, yang berubah adalah kepribadiannya, bukan bentuk fisiknya. Emma berhasil merubah yang memang harus berubah tanpa merubah bentuk fisik atau hal-hal yang tidak perlu dirubah. Dalam bayangan kami sebagai penonton, kami tetap melihat tokoh Abigail yang kepribadiannya berubah, bukan tokoh lain.

Lalu pada Rachel Weisz di film The Favourite, kita pun bisa melihat perubahan itu. Perubahan ini paling terlihat jelas setelah adegan ia jatuh dari kuda dan diselamatkan oleh para pelacur. Jika Emma secara kepribadian berubah menjadi licik, tokoh Rachel berubah menjadi semakin dewasa. Terutama ketika ia berhadapan dengan Olivia Colman. Jika kalian perhatikan, cara Sarah menghadapi tokoh Anne di awal film dan di akhir film terlihat berbeda. Tapi sekali lagi, basisnya tetap sama.

 

Alasan Ketiganya Mendapatkan Banyak Penghargaan

Awalnya kami berpikir bahwa alasan mereka mendapatkan penghargaan atau masuk nominasi adalah karena mereka berani untuk tampil vulgar dan melakukan adegan-adegan panas. Karena seperti yang kami bilang, bahwa pada awal film The Favourite, kami tidak jatuh cinta pada pandangan pertama dengan permainan mereka. Tapi ternyata, bukan itu alasan mereka bisa mendapatkan banyak penghargaan dan nominasi termasuk merajai persaingan Best Actress dan Best Supporting Actress di Oscar tahun ini.

Pertama, untuk Olivia Colman dalam The Favourite, ia berhasil muncul sebagai tokoh utama dengan porsi yang tepat. Selain itu ia berhasil menunjukkan pertumbuhan tokohnya dengan baik. Tak cuma itu, secara garis besar, Olivia berhasil menunjukkan permainan emosi yang menarik dalam tokoh Anne.

Lalu pada Rachel Weisz dan Emma Stone, mereka juga berhasil berada pada porsi yang tepat. Mereka masing-masing tidak berusaha melebihi porsi mereka. Tak cuma itu, dua aktris ini berhasil membantu tokoh yang dimainkan Olivia Colman menjadi lebih hidup. Hal itu yang tidak semua aktor bisa melakukannya.

Ketiganya juga berhasil mengingatkan kita bahwa tokoh adalah juga manusia yang seiring berjalannya waktu dalam film juga bertumbuh. Ia tidak stuck di satu masa saja. Tapi terus tumbuh dengan alasan-alasan yang jelas dan logis.

Kurang lebih itu pembahasan mengenai permainan ketiga aktris ini. Lalu kira-kira, apakah salah dua dari mereka bertiga akan bisa mendapatkan Best Actress dan Best Supporting Actress di Oscar 25 Februari besok? Kita tunggu!

Viva Aktor!

%d bloggers like this: