fbpx

Arisan!; Detail yang Baik

Arisan!

FYI, dari tahun 1993 sampai 2003, tidak ada penyelenggaraan FFI sama sekali. Piala Citra terakhir diselenggarakan tahun 1992 dan baru diselenggarakan lagi tahun 2004. Setelah lama vakum, nama Tora Sudiro muncul sebagai aktor terbaik di film Arisan! yang disutradarai oleh Nia Dinata. 

Selain Tora Sudiro, Surya Saputra dan Rachel Maryam juga berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Pria dan Wanita Terbaik di tahun itu. Melihat banyaknya penghargaan yang didapatkan, kami jadi tertarik melihat permainan ketiganya. Apa saja yang berhasil dicapai dan apa saja yang tidak. Berikut pembahasannya;

Arisan!

Tora Sudiro dan Detail yang Menarik

Melihat permainan Tora Sudiro, kami jadi ingat dengan apa yang dikatakan Stella Adler di bukunya The Art of Acting; 

Physicalizing the emotions is essential in the theatre, and the more detailed the physicalization or justification, the better. (Adler, 2000:107) 

Itulah hal pertama yang kami dapatkan dan menarik perhatian kami. Sekedar informasi, kami terakhir menonton Arisan! Itu tahun 2006 an. Sehingga alur ceritanya kami tak begitu ingat. Hal itu membantu kami menikmati permainan Tora Sudiro di awal. Terutama ketika kami belum tahu bahwa Sakti, tokoh yang dimainkan Tora Sudiro adalah seorang “gay di fase awal”.  

Di awal-awal, kami melihat bahasa tubuh yang detail dari Tora Sudiro. Ada bahasa tubuh yang mengarah ke bentuk-bentuk feminim. Coba perhatikan bagaimana Tora Sudiro memainkan tangannya di beberapa adegan awal. Misalnya ketika ia memainkan kabel telepon saat sedang menelpon. Kami tak tahu pasti apakah bahasa tubuh itu bisa dikategorikan pada bentuk feminin atau maskulin, tapi kami merasakan ada kelembutan dalam bahasa tubuh itu. Hal itulah yang kemudian membuat kami merasa bahwa bahasa tubuh itu feminim. 

Bahasa tubuh yang feminim terjadi lagi di adegan ketika Sakti sedang berkonsultasi dengan Psikoterapinya yang diperankan Jajang C. Noer. Perhatikan tangannya, kami merasa bentuk-bentuk macam itu punya kesan feminim yang kuat. Ditambah dengan semua informasi yang ia ucapkan dalam dialognya, membuat bayangan penonton tentang posisi Sakti semakin jelas. Kami seperti disuapi informasi lewat pendengaran dan penglihatan sekaligus. 

Lalu perhatikan lagi pada nada bicara yang dipilih Tora Sudiro hampir pada semua adegan, terutama di adegan-adegan awal. Kami mendengarkan nada yang terasa lembut, dan sedikit agak diseret di bagian akhir.   

Detail itulah yang banyak kami tangkap dalam bahasa tubuh Sakti. Seperti apa yang dikatakan Stella Adler, semakin detail ejawantah fisik sebuah emosi, maka semakin baik permainannya. Tora Sudiro melakukan itu. Kami merasa emosi tokoh ini diwujudkan melalui bahasa tubuh dan juga pemilihan nada suara yang tepat. 

Setelah soal “memfisikkan” emosi dengan tepat, relevan dengan tokohnya dan menarik di beberapa adegan, mengenai respon juga cukup mencuri perhatian di beberapa adegan. Misalnya pada adegan ketika Sakti pertama kali bertemu Nino yang diperankan oleh Surya Saputra. Pada adegan itu kami melihat respon yang menarik. Setiap bit berhasil dijalankan dengan baik. Tora Sudiro berhasil mendengarkan dengan baik. 

Jika kami melihat secara keseluruhan permainan Tora Sudiro, kami rasa penciptaannya yang detail pada laku tubuh, dan tokoh yang “menantang” secara sosial adalah alasan utama kenapa ia berhasil bersinar di FFI tahun itu. Ditambah lagi Arisan! adalah film pertama Tora Sudiro yang dikenal luas oleh publik. Jadi hampir tidak ada objek yang bisa dibandingkan antara permainannya di Arisan! dengan permainannya di film sebelumnya. 

Surya Saputra dan Rachel Maryam 

Khusus untuk Rachel Maryam, kami merasa ciptaannya kokoh. Meskipun pada beberapa momen terasa berlebihan. Atau mungkin itu memang gaya akting era 2000an? Tapi ciptaan yang pada beberapa momen terasa berlebihan itu jadi terlihat kuat ketika ada di tempat yang tepat. 

Misalnya ketika ia berada di pesta bersama banyak orang. Ciptaan Rachel Maryam terasa lebih sesuai porsi. Lalu permainan dengan porsi yang tepat muncul lagi ketika ia secara tak sengaja mendengarkan pertengkaran Sakti dan Nino. Justru ketika ia diam dan banyak bahasa tubuh yang ditahan, aksen-aksen bahasa tubuh wanita Batak yang ia bangun malah keluar dengan baik. Aksen-aksen bahasa tubuh itu ada di posisi yang tepat dan keluar dengan porsi yang tepat pula. 

Sementara pada Surya Saputra, selain karena adegan ciuman sesama jenis yang menantang, caranya membangun kesan tokoh membuat ciptaannya menarik. Perhatikan cara Surya Saputra memandang, memilih nada, dan tempo bicara. Semuanya seperti perwakilan dari sifat lembut sekaligus mengayomi. Kami rasa memang itu kesan yang ingin dimunculkan dalam tokoh Nino. 

 

 

Cut Mini dan Emosinya yang Kuat

Tidak ada yang lain selain permainan emosi yang kuat dari Cut Mini yang mencuri perhatian kami. Kami bisa bilang, sepanjang film permainan emosi Cut Mini lah yang paling kuat dan paling logis. Semua perjalanan emosi Cut Mini diperlihatkan dalam film. Berbeda dengan Tora Sudiro dimana ada satu adegan ia menangis, tapi tidak ditunjukkan bagaimana emosinya tumbuh dari biasa, sedih, hingga meneteskan air mata. Berbeda dengan Cut Mini. Sehingga kami sebagai penonton lebih mudah melogikakan alur emosi Cut Mini. 

Permainan emosi yang ditunjukkan oleh Cut Mini pun cukup dinamis di beberapa adegan. Misalnya pada adegan ketika suaminya pergi tanpa pamitan. Dimana ia kemudian menangis, duduk di samping tempat tidurnya, mengambil rokok, dan menelpon. Kami melihat permainan emosi yang menarik disini. Tidak terlalu meledak-ledak memang, tapi dinamis, dan kami pikir sesuai porsi. 

Perjalanan emosi yang menarik lainnya terjadi setelah Meimei, tokoh yang diperankan Cut Mini melihat Sakti dan Nino yang ternyata gay dan memiliki hubungan khusus. Saat ia duduk di kursi belakang taksi kami melihat kontrol emosi yang menarik. Suaranya terasa sedikit bergetar, seperti mau meledak, tapi si tokoh seperti berpikir “agak nggak mungkin meledak disini, dan kenapa mesti meledak?”. Entah karena tempat atau karena alasan tangisan yang masih dibingungkan oleh si tokoh. Apakah ia mau menangis karena sedih, atau karena marah. Hingga pada adegan berikutnya, kami mendapatkan informasi bahwa si Meimei lebih cenderung marah dan kecewa dari pada sedih. Perjalanan dan kontrol emosi yang menarik. 

Apa yang Tidak Berhasil Dicapai Pemain Arisan!?

Di atas kami sudah mengatakan soal apa saja yang berhasil dicapai. Mulai dari bahasa tubuh yang detail, emosi yang relevan, tumbuh, dan menarik, hingga beberapa respon yang tepat dan sesuai bit. 

Tapi ada yang tak berhasil dicapai para pemain Arisan! salah satu yang utama dan sangat terlihat adalah soal respon. Perhatikan baik-baik di adegan ketika Sakti berbincang dengan Meimei di mobil. Lihat bagaimana hampir semua timing dialog keluar dengan tidak tepat. Kami mengatakan tidak tepat karena seperti tidak ada pikiran dan perasaan yang sedang berjalan karena sedang mendengarkan lawan main. Bahkan pada beberapa momen dialognya terasa dihitung. Para pemain seperti berkata bahwa “Setelah kata itu keluar, baru aku dialog”. Bukan dialog yang keluar dari hasil pikiran dan perasaan yang merespon segala stimulus yang hadir. 

Dialog dan respon yang terasa dihitung terjadi di banyak adegan. Meski begitu ada salah satu adegan yang kami rasa mengalir apa adanya tanpa terasa dihitung karena kedua pemain saling mendengarkan. Adegan itu adalah adegan saat Jajang C. Noer dan Tora Sudiro ada di satu ruangan dalam sesi terapi. Jajang C. Noer mendengarkan dengan baik. Tora Sudiro pun menyampaikan dengan baik setiap dialognya. 

Arisan!

 

 

Selain adegan-adegan yang kami sebutkan di atas, tidak ada respon dan pingpong dialog yang “hidup”. Kami bahkan menulis beberapa dialog terasa ditempel dan bau kertas. Entah apa yang terjadi. Apakah karena beberapa adegan dialognya di dubbing sehingga nyawa antara laku fisik, dan dialog jadi terputus? Entahlah. Hanya si aktor dan sutradara yang tahu. Atau mungkinkah itu adalah gaya akting yang lagi ngetren di tahun 2000an? 

Jika kita menggunakan pengertian akting dari Sanford Meisner, bahwa akting itu adalah hidup secara jujur dalam dunia imajiner, maka kekuatan meyakini imajinasi adalah kuncinya. Dalam sebagian film Arisan! kekuatan imajinasi itu terasa. Tapi di sebagian lainnya, tidak ada kekuatan meyakini imajinasi. Terlihat sedang “Acting”. Kami tahu memang mereka sedang akting. Tapi kalian pasti tahu kan prinsip “Acting tapi tidak Acting”? Bukankah itu salah satu cita-cita setiap pemeran dan metode serta mazhab seni peran apapun? 

Dari film ini kita bisa belajar soal detail, respon, dan prinsip keaktoran mana pun. Yakni mendengarkan dengan baik dan tidak menduga-duga akan bagaimana aktingmu. 

Terima kasih, viva aktor