[Acting Review] Warkop DKI Reborn Part 1; Belum Menubuh

Warkop DKI Reborn

Warkop DKI Reborn merupakan sebuah film yang saat kemunculannya berhasil menjadi film terlaris sepanjang masa. Film ini, seperti namanya, merupakan bentuk reborn dari Warkop DKI yang legendaris itu. Selain lucu (menurut banyak orang) film ini juga mendapatkan banyak credit dalam keaktorannya. Terutama permainan Abimana Aryasatya dan Vino G. Bastian yang memerankan Dono dan Kasino. 

Karena ini film reborn, maka setidaknya 3 aktor yang memainkan Dono, Kasino, dan Indro harus meniru semirip mungkin 3 tokoh legendaris itu. Lalu apakah ciptaan mereka mirip? Dan apakah mirip saja cukup? Lalu bagaimana memandang akting dalam film komedi yang satu ini, yang mana, banyak komedi-komedi slapstick. Berikut pembahasan lengkapnya;

Warkop DKI Reborn

 

 

Warkop DKI Reborn, Upaya Mirip Fisik, Tapi Belum Menubuh

Tidak ada yang meragukan, bahwa ciptaan Abimana, Vino, dan Tora terbilang sangat mirip dengan Dono, Kasino, dan Indro. Secara fisik mereka berhasil mendekati tiga legenda itu. Dari Abimana misalnya. Kita bisa melihat dengan bantuan gigi palsu, ia berhasil merubah keseluruhan bentuk dan laku tubuhnya. Warna suara Abimana nampak berubah, logatnya juga berubah. Bahkan, cara berjalan dan bahasa tubuh lain yang besar atau kecil juga turut berubah. Meskipun, mungkin jika kita sandingkan betul-betul dengan Dono, maka ada ketidak miripan, tapi kesampingkan itu sejenak. Coba lihat bagaimana Abimana berusaha mendekati tokoh Dono. 

Begitu juga dengan Vino. Secara fisik ia berhasil berusaha mendekati Kasino. Bahasa tubuh adalah salah satu poin yang paling terlihat berusaha sangat dimiripkan dengan Kasino. Meskipun, lagi-lagi, masalah Vino hampir pada semua filmnya adalah persoalan merubah suara. Suara yang sangat khas itu hampir tidak berubah. Ia memang berhasil merubah logat, dan bagaimana mulutnya berlaku. Tapi sayangnya suara tidak banyak berubah. Tapi lagi-lagi, kesampingkan itu sejenak. Bagaimana pun kita masih bisa melihat usaha Vino untuk mengubah suaranya. 

Sementara untuk Tora, sama seperti Vino dan Abimana. Ia juga terlihat berusaha mendekati semirip mungkin dengan Indro. Poin yang paling terlihat berubah dari permainan Tora adalah logatnya. Kita bisa mendengar logat yang berubah dan lain dari Tora di luar film atau di film yang lain, sejauh yang kami ketahui tentunya. Sementara soal laku tubuh, berbeda dengan Abimana atau Vino yang memiliki perubahan pada perilaku tubuh. Tora sebaliknya. Perubahan itu ada tapi minim. Sehingga hampir tidak ada yang berubah dalam sudut pandang laku tubuh kecuali kumisnya. 

 

 

Oke, pada intinya, mereka bertiga berusaha untuk membuat fisik mereka semirip mungkin dengan tokoh yang mereka mainkan. Abimana dengan Dono, Vino dengan Kasino, dan Tora dengan Indro. Dan mereka bertiga berhasil mirip secara fisik, atau setidaknya terlihat usaha mereka untuk mendekati kemiripan fisik itu. Tapi ada satu masalah. 

Sebelum membahas masalah tersebut, mari meminjam satu istilah Konstantin Stanislavski yang ia sebutkan di banyak bukunya, Kalian bisa mengeceknya di buku An Actor’s Work, atau buku Stanislavski apapun. Ia menyebutkan; “The Life of The Human Spirit”

Berdasarkan penjelasan Bella Merlin dalam bukunya Konstantin Stanislavsky, ia mengatakan bahwa; 

Stanislavsky believed that actors could go beyond the limits of their own personalities into a highly textured and powerful manifestation of a character. To do this, they placed themselves ‘in the very thick of [their character’s] imagined life’ (Stanislavsky 1984: 171), by analysing the text, by fully imagining the given circumstances of the play and by having ‘a good command of emotional and physical techniques’ (ibid.). In other words, the actors drew upon their emotional, physical, technical and spiritual resources to create the life of the human spirit for their role. This would give their characterisation ‘the highest power of impact’ and ‘the highest degree of receptivity from the audience’ (ibid.: 171–2). (Merlin, 2003:159-160) 

Dalam penjelasan Bella Merlin, dikatakan bahwa Stanislavski percaya kalau seorang aktor bisa melampaui batas personalitas mereka sendiri dan masuk ke dalam manifestasi yang kuat dan detail dari sebuah karakter. Untuk melakukan itu, aktor harus menempatkan diri mereka dalam kehidupan imaji si tokoh sepenuhnya. Caranya dengan menganalisis teks, sepenuhnya mengimajinasikan keadaan yang diberikan oleh tokoh, dan memiliki motivasi yang baik secara emosional dan fisikal. 

Dengan kata lain, aktor harus bisa menggambarkan emosi, fisik, teknik, hingga sumber spiritual mereka untuk menciptakan apa yang Stanislavski sebut sebagai “The Life of Human Spirit” dari karakter mereka. Dengan berhasil menciptakan hal tersebut maka karakter yang aktor ciptakan akan memiliki efek yang besar kepada penonton. Sederhananya karakter akan tercipta dengan utuh, jiwa dan raganya.  

Membingungkan? Sederhananya begini deh, aktor itu bukan hanya harus menciptakan fisiknya saja. Dia harus menciptakan pikiran dan perasaan si tokoh. Pikiran dan perasaan tokoh inilah yang disebut Stanislavski sebagai “The Life of The Human Spirit”. Jadi setelah ia berhasil mirip secara fisik dengan tokoh yang akan dia mainkan, seperti di kasus Warkop DKI Reborn ini, tugas selanjutnya adalah menciptakan Inner Life atau The Life of The Human Spirit-nya. Ini yang sulit. 

Sebelum kita membahas bagaimana ciptaan Vino Dkk, kami bahas dulu sebentar soal bagaimana menubuhkan tokoh dalam sudut pandang Stanislavski dengan The Life of The Human Spirit-nya ini.  

Prinsip The Life of The Human Spirit ini sebenarnya merupakan bagian akhir dari Method of Physical Action. Jadi, kalau dalam langkah-langkah penciptaan metode ini, secara sederhana, aktor harus mencari terlebih dahulu semua hal tentang tokohnya. Kita menyebutnya analisis karakter atau analisis naskah. Setelah kita berhasil menemukan semua data yang diperlukan, aktor kemudian mencobakan setiap adegan tanpa dialog yang ada di naskah. Aktor menggunakan dialognya sendiri, dengan berdasarkan data yang sudah dicari. Kita menyebutnya improvisasi. Tapi ingat, buang jauh-jauh pandangan improvisasi yang sembarangan dan tidak teratur itu. Improvisasi yang dilakukan ini berdasarkan data yang sudah didapatkan dari analisis teks tadi. 

Setelah improvisasi menggunakan dialog sendiri, si aktor berusaha mengecek ulang dialog-dialog yang tadi dia ucapkan. Apakah sesuai atau tidak dengan data teks atau data tokoh yang ia dapatkan. Dengan improvisasi ini si aktor di satu sisi tidak terkekang dengan naskah. Karena terkadang, aktor terjebak dengan dialog dalam naskah dan dialognya jadi “bau kertas”. 

Nah, langkah itu kemudian diulang beberapa kali sampai mendapatkan kesimpulan akhir. Kesimpulan inilah yang akhirnya memunculkan The Life of Human Spirit. Kenapa bisa muncul? Sederhana, secara disadari atau tidak, aktor dalam proses analisis, improvisasi, lalu analisis, lalu improvisasi lagi, dan seterusnya itu sebenarnya sedang berada dalam proses menubuhkan tokohnya. Ia sedang ada dalam proses memasukkan semua pemahamannya terhadap data-data yang didapatkannya dari analisis teks, berusaha memiliki data tersebut, mengeliminir data yang tidak penting, dan menubuhkan data yang penting. Proses itulah yang terjadi dalam Method of Physical Action. Jadi hasil akhirnya, aktor sudah sekaligus menubuhkan tokohnya. 

Mungkin Vino, Abimana, dan Tora tidak menggunakan cara ini. Atau memakai cara ini tapi tidak menyadari bahwa dalam proses tersebut tubuh dan pikiran aktor sedang dimasuki data-data tentang tokoh mereka. Sehingga ketika shooting, kami mendapati banyak sekali ciptaan yang tidak menubuh. 

Itulah yang menjadi masalah dari penciptaan ketiga aktor tadi. Mereka memang berhasil menciptakan “kendaraan” tokohnya, tapi tidak berhasil menciptakan mesin yang tepat untuk “kendaraan” tersebut. Sehingga yang muncul adalah respon-respon yang artifisial atau palsu dan dilebih-lebihkan. 

Salah satu yang paling terlihat dilebih-lebihkan responnya dalam film Warkop DKI Reborn ini adalah Vino. Mungkin karena dalam bayangannya, Kasino memiliki kebiasaan nyeletuk, Vino berusaha meniru kebiasaan itu. Tapi sekali lagi, ada semacam pemahaman yang terputus antara Kasino dan Vino. Mungkin Vino tidak menyadari bahwa celetukan yang dikeluarkan Kasino adalah celetukan milik Kasino sendiri yang muncul karena The Life of Human Spirit yang Kasino punya. Karena Vino belum sampai pada tataran itu, maka celetukan yang muncul memang lucu, tapi timing dan porsinya sering berlebihan. 

Hal yang sama juga terjadi pada Abimana dan Tora, meski tidak sebanyak Vino. Mungkin karena memang dua tokoh mereka, Dono dan Indro ini dibangun sebagai persona yang tidak senyeletuk Kasino. Sehingga mereka masih ada dalam tahap yang “aman”. 

Tapi coba perhatikan ketika ada di adegan yang Kasino tidak perlu nyeletuk. Ketika ia mendengarkan lawan mainnya dengan baik dan seperti tidak fokus harus nyeletuk. Permainan Vino tampak lebih baik dari pada ketika ia asal nyeletuk. Sekali lagi, perlu diketahui bahwa mungkin Kasino mengeluarkan celetukannya kala itu karena ia memang punya kecerdasan yang orang lain tidak punya. Lalu apa yang harus dilakukan oleh Vino untuk mengejar kecerdasan Kasino? Data. Analisa teks sedetail mungkin dan menubuhkan data yang berhasil ia dapatkan adalah cara untuk bisa mendekati ke-spontanitas-an Kasino yang tiada duanya itu. 

Persoalan “nyeletuk” ini juga dialami oleh Abimana dalam beberapa adegan dimana ia harus “nyeletuk”. Misalnya ketika adegan mendengarkan komandan polisi bernyanyi dangdut dan tetiba Dono nyeletuk. Respon tersebut seolah muncul bukan karena perjalanan pikiran dan perasaan si Dono atau The Life of Human Spirit yang dimiliki Dono. Sehingga terkesan artifisial dan dimunculkan biar lucu. 

Tora lebih aman. Karena sepanjang film, ia tidak banyak adegan “nyeletuk”. Tapi yang jadi persoalan, meski tidak ada adegan “nyeletuk” dalam beberapa momen respon yang ia munculkan tidak tepat. Baik porsi atau timingnya. Lagi-lagi, respon itu dimunculkan sebatas “biar lucu aja”. Lalu haruskah akting dalam film komedi mendapatkan perlakuan yang berbeda? “Biar lucu”? 

 

 

Biar Lucu, dan Akting Komedi  

Apakah kalian satu dari sekian banyak orang yang berkata “Ya jelas biar lucu! Kan film komedi!”? Jika iya, tak apa. Karena kami juga mempertanyakan hal itu. Kami juga bertanya, apakah memang dalam akting komedi, semua yang dilakukan oleh si aktor harus “dimunculkan secara sengaja dan palsu biar lucu”? Bukan berasal dari kehidupan tokoh yang ia ciptakan? 

Kami sampai sejauh ini tidak menemukan satu buku yang membahas bagaimana seharusnya akting dalam film komedi atau akting dalam pertunjukan komedi. Sejauh yang kami tahu, Stanislavski pun pernah mementaskan naskah komedi milik Molière. Moliere, sejauh yang kami tahu, adalah salah satu penulis naskah komedi pertama di dunia. 

Lalu apakah Stanislavski menggunakan prinsip “asal muncul biar lucu”? Sejauh yang kami tahu, ia tidak menggunakan hal itu. Justru lewat naskah-naskah komedi itu, Stanislavski berusaha mencari esensi dari seni peran realisme yang tepat. 

Kemudian apakah salah ketika seorang aktor dalam sebuah film komedi, “melebaykan” aktingnya untuk kebutuhan film, biar lucu? Tentu saja sah! Dan sangat boleh! Apalagi ketika filmnya menggunakan komedi slapstik bukan komedi cerdas. Tapi ingat, mereka adalah aktor dan punya tugas menciptakan tokoh. Betul?  

Itu tadi pembahasan soal bagaimana akting Vino, Abimana, dan Tora. Apakah akting mereka jelek? Tentu tidak! Kalau kita melihat dari satu sisi, penciptaan fisik. Tapi jika kita melihat dari sisi yang lain, seperti yang kami jelaskan di atas soal The Life of Human Spirit tadi, maka akting Vino, Abimana, dan Tora tidak sepenuhnya tepat. Menurut kalian? 

Terima kasih, viva aktor! 

%d bloggers like this: