fbpx

[Acting Review] The Silence of The Lamb; Membahas Hopkins

hopkins

Jika kalian ditanya mana akting film yang paling diingat dalam sejarah, maka mungkin salah satu yang akan kalian sebut adalah Hannibal Lecter di The Silence of The Lamb yang dimainkan oleh Anthony Hopkins. Tak dipungkiri, Anthony berhasil bermain luar biasa di film ini. Sampai saat ini ia adalah peraih Best Actor in Leading Role di Oscar dengan durasi on screen paling singkat. Anthony hanya muncul kurang dari 16 menit dari total durasi film yang mencapai 1 jam 58 menit. 

Tapi menyebut permainan Anthony luar biasa saja tidak cukup. Pasti banyak pertanyaan di kepala kalian, kenapa bisa begitu, bagaimana ia bisa bermain sebagus itu, apa yang terjadi? apa yang menjadi kunci dari permainan Hopkins? Kami memang belum memiliki kesempatan untuk melakukan Bincang Aktor dengannya, tapi kami berusaha melihat apa yang membuat permainan Anthony luar biasa dari sudut pandang seni peran. Berikut pembahasannya.  

Hopkins

Kontrol yang Baik dari Hopkins

Hampir semua guru keaktoran yang kami kenal dan bukunya pernah kami baca, selalu mengatakan bahwa salah satu kemampuan dasar yang wajib dimiliki aktor dan harus dilatih setiap saat adalah kemampuan untuk mengendalikan tubuh, pikiran dan perasaan. Kontrol adalah salah satu kunci dari permainan yang baik. 

Dalam banyak metode keaktoran, entah itu Stanislavski, Boleslavsky, Lee Strasberg, Stella Adler, Sanford Meisner, atau bahkan tokoh keaktoran lain yang tidak berhubungan dengan Stanislavski, mengatakan bahwa kemampuan mengendalikan tubuh, pikiran dan perasaan sangat penting dan hampir selalu menjadi fokus utama latihan. Ada banyak sekali bentuk latihannya. Misalnya isolasi diri dan bentuk latihan yang lain.

Lalu pada permainan Anthony, hal inilah yang pertama kali kami lihat. Ketika ia pertama kali dikunjungi Starling, kita bisa melihat ia mengendalikan tubuhnya dengan sangat baik. Terasa tenang, tidak ada tegangan apapun, tapi sekaligus tajam. Sebelum kami membahas kenapa bisa tajam, perhatikan bagaimana Hopkins berhasil mengendalikan tubuhnya dengan sempurna. Ia mengontrol bahkan sampai pada bagian terkecil di tubuhnya. 

Ingat, di adegan tersebut shot yang dilakukan kebanyakan adalah close up. Fokusnya pada bagian wajah. Perhatikan baik-baik bagaimana tidak ada satupun otot yang menegang di bagian wajah. Tidak banyak aktor yang mampu melakukan itu. Terutama mengendalikan bagian atas alis dan dahi yang terkadang pada beberapa dialog, tiba-tiba dahi mereka berkerut sendiri. Pada permainan Hopkins di adegan pertama, hampir tidak ada dahi yang berkerut. 

 

 

Lalu bagaimana dengan kesan tajam yang berhasil muncul. Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana dengan tubuh yang tenang dan tidak ada tegangan, Hopkins berhasil memunculkan intensitas yang menarik? Kami rasa kuncinya ada di pengendalian diri dan mata. 

Kami mengibaratkan Hannibal Lecter seperti sebuah bendungan besar. Dimana seluruh tubuhnya adalah bendungan itu. Emosi dan pikiran tokoh adalah air di balik bendungan. Lalu mata adalah lubang yang dipakai sebagai tempat lewatnya air. Seperti bendungan pada umumnya, air yang lewat diatur intensitasnya. Sementara Hopkins adalah operator yang mengatur kapan lubang akan dibuka dan sebesar apa lubang mesti dibuka. 

Ketika ia menjadi Hannibal, bendungan yang dibangun Hopkins sangat kuat. Sehingga mampu menahan segala emosi yang terjadi di dalam diri Hannibal. Dimana jika kami mengibaratkan, emosi dan pikiran Hannibal itu layaknya samudera. Besar dan begitu bertenaga. Hopkins juga jadi operator yang baik karena bisa membuka lubang air di waktu yang tepat dan dengan besar lubang yang tepat pula. Sehingga intensitas yang keluar selalu tepat. 

Jika kalian lihat lebih detail lagi, mata Hopkins pun serupa bendungan. Pupil matanya adalah lubang di bendungan itu. Pada adegan pertama ketika Starling datang, kami bisa melihat Hopkins membuat pupilnya membesar dan menjadi jalan bagi emosi dan pikirannya untuk keluar. Jika kalian perhatikan baik-baik, satu-satunya bagian otot di wajah yang kontraksi adalah pupil mata.

Lalu kenapa pengendalian diri dan mata bisa menjadi kunci permainan Anthony? Bayangkan saja, kalau seandainya semua emosi dan pikiran tokoh yang sebesar dan sekuat samudera itu keluar semua di tiap bagian tubuh. Tidak dikendalikan dan difokuskan dengan baik? Kalian mungkin tidak akan melihat ketajaman apapun karena emosinya menyebar. Tidak fokus di satu titik. 

Analogi yang lain dari permainan Anthony adalah pisau dari air yang bertekanan tinggi. Pada teknologi itu air yang besar hanya dikeluarkan melalui sebuah lubang kecil. Sehingga air yang awalnya tidak bersifat tajam dan bahkan tidak bisa memotong kertas, menjadi mampu memotong besi sekalipun. 

 

 

Sejarah dan Visi Tokoh yang Jelas 

Jika kalian perhatikan sekilas, memang tidak terdapat informasi tentang sejarah yang detail dari Hannibal kecuali bahwa ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin, kanibal dan seorang dokter. Tapi jika kalian perhatikan baik-baik tiap dialog entah itu dari kawan main Anthony atau dari dialognya sendiri, kita akan mendapatkan informasi tentang sejarah tokoh. 

Misalnya pada dialog Starling yang mengatakan bahwa Hannibal memiliki penglihatan yang bagus. Sekilas dialog itu tak penting. Tapi jika kita perhatikan baik-baik, dialog itu adalah kunci memahami bahwa Hannibal adalah seorang analis yang sangat jeli. Ia melihat detail. Hal itu relevan dengan banyak adegan setelahnya. Seperti misalnya ketika Starling kembali dengan kaki yang sedikit berdarah. Sebagian penonton mungkin bahkan lupa pada luka itu, tapi Hannibal melihat luka itu dan bahkan sampai mengatakan bahwa pendarahannya sudah berhenti. Artinya apa? Tokoh ini punya mata yang awas dan sangat jeli. Ditambah dengan latar belakangnya sebagai dokter, dialog dan laku tersebut relevan.

Jika sejarah tokoh itu kemudian kita sambungkan dengan bagaimana mata bisa menjadi salah satu senjata utama Hopkins, maka keduanya saling berhubungan dan relevan. Matanya yang tajam bukan hanya sebagai jalur emosi dan pikiran tokoh, tapi juga tajam karena ia memang seorang pemerhati yang luar biasa jeli. Akhirnya mata ciptaan Anthony tidak hanya soal bentuk yang mirip reptil, seperti apa yang ia katakan di Inside The Actors Studio, bahwa mata yang ia ciptakan di Hannibal terinspirasi dari mata reptil. Tapi mata yang dibuat oleh Anthony adalah mata yang penuh sejarah. 

Selain soal sejarah dan relevansi sejarah si tokoh dengan bentuk yang dihasilkan, visi tokoh juga jadi kunci kenapa Anthony bisa bermain hampir sempurna. Perhatikan baik-baik pada setiap perbincangan yang dilakukan oleh Hannibal. Hampir semua pilihan kata dan nada menandakan bahwa ia ingin mengambil kendali. Hannibal tak ingin ada di bawah lawan bicaranya. Ia harus memegang kendali sepenuhnya. Visi itu yang membuat permainan Anthony menarik. Karena visi yang jelas itulah ia jadi tahu kapan harus membuka jalur air dan harus seberapa besar jalur air itu dibuka. 

Tapi ada yang lebih menarik dari itu. Anthony terlihat beberapa kali memunculkan laku-laku yang tak terduga. Misalnya momen ketika ia berdesis. Itu adalah laku yang tidak terduga dan bahkan tidak terbaca sama sekali di bagian otot wajahnya. Laku berdesis itu muncul seketika. Jika kita kembali pada analogi bendungan, maka laku yang tidak terduga itu lumrah. Bagaimana mungkin kita bisa membaca sebuah laku akan keluar kalau air di dalam bendungan terlihat tenang dan bendungan tak bergeming sedikitpun? Maka ketika jalur air dibuka tiba-tiba oleh si operator, air itu akan mengalir mendadak dan tak terduga. 

Tentunya ketidakterdugaan itu juga soal bagaimana Anthony menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh yang pada tiap detiknya selalu berisi, kembali pada soal visi yang kuat pada tiap bit yang dilalui tokoh. Tidak ada satu pun momen yang lepas dari permainan Anthony. 

 

 

Jadi jika kami simpulkan, ada 4 hal yang setidaknya membuat permainan Anthony menarik di The Silence of the Lamb. Pertama adalah pengendalian diri yang baik, kedua adalah mata yang tajam, ketiga adalah sejarah tokoh yang kokoh, dan terakhir adalah visi yang kuat. 4 hal itu yang membuat permainan Anthony melegenda hingga sekarang. 

Soal bagaimana ia bisa memiliki mata yang tajam, bisa memiliki pengendalian diri yang baik, mengetahui sejarah tokoh hingga memiliki sejarah tokoh yang kokoh, dan punya visi yang kuat, kuncinya ada pada latihan. 

Terima kasih, viva aktor