[Acting Review] The Irishman; Pesci dan Pacino “Steal The Show”

The Irishman

Sudah baca flash review kami soal film The Irishman? Kalau belum, silahkan baca disini. Atau mungkin kalian sudah menonton filmnya di Netflix? Bagaimana setelah menonton filmnya? Apakah permainan Robert De Niro sebagus yang digembar-gemborkan banyak pihak? Sehingga ketika namanya tak masuk nominasi Golden Globe dan Screen Actors Guild, semua orang menganggap ini sebagai sebuah “snub” atau penghinaan atas capaian Robert De Niro? Sebagus itukah permainannya? Dan apakah sebuta itu para voter di Golden Globe dan Screen Actors Guild sehingga tak bisa melihat permainan Robert De Niro? 

Sebelum menjawab itu kita akan bahas dulu bagaimana permainan Robert De Niro, Joe Pesci, dan Al Pacino. Acting review ini penuh dengan spoiler. Jadi, kalau kalian belum menonton, kami sarankan untuk tidak membacanya sampai akhir. 

Robert De Niro yang Biasa Saja

Tidak, kami tak salah ucap. Kami sungguh-sungguh mengatakan ini. Permainan Robert De Niro memang biasa saja di The Irishman. Tak seperti yang digembar-gemborkan banyak pihak. De Niro seperti tak segarang dirinya saat muda dulu. Kalau tak percaya, coba bandingkan permainannya di The Irishman dengan Dirty Grandpa. Coba perhatikan baik-baik. Hampir semua bentuk dari kedua tokoh itu, baik Dick Kelly di Dirty Grandpa atau Frank di The Irishman sama. Mari kita breakdown bersama. Kita mulai dari suara. 

Dengarkan suara Robert De Niro yang asli berikut ini; 

Lalu bandingkan dengan apa yang sudah ia ciptakan di Dirty Grandpa berikut ini; 

Setelah itu bandingkan dengan apa yang De Niro ciptakan di The Irishman;

Coba bandingkan ketiga suara tersebut. Suara De Niro yang asli, suara Dick Kelly di Dirty Grandpa, dan suara Frank di The Irishman. Jika kalian dengarkan baik-baik, suara ketiganya hampir mirip. Hampir tidak ada yang berubah dalam soal suara. Satu-satunya yang kami tangkap berubah dari sisi suara De Niro adalah tempo bicara tiap tokoh itu. Selebihnya, tidak ada perbedaan lagi. 

Selain soal suara, perhatikan gesture-gesture tubuh yang dilakukannya di tiga video tersebut. Salah satunya ketika ia menurunkan bagian pipinya dengan ekspresi seperti meremehkan atau seperti berkata dalam hati “I don’t know” atau “Yeah, something like that” atau sejenisnya. Pada momen-momen dengan emosi yang macam itu, baik di Dirty Grandpa atau di The Irishman dan bahkan di interview, bentuknya sama. Persoalannya sederhana, kenapa bentuk itu selalu muncul? Apakah itu ciri khas? Tapi, apakah tiap manusia yang dimainkan De Niro memiliki bentuk yang sama? Jawabannya tentu bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Tapi bukankah De Niro, Dick Kelly, dan Frank adalah manusia yang berbeda dengan latar belakang mereka masing-masing?

Soal suara dan gestur kami memang menangkap tidak ada perubahan yang signifikan. Hampir semua bentuk gesture dan warna suaranya sama. Tapi bukan berarti De Niro muncul tanpa capaian. Di film ini ia bermain di 3 rentang usia yang berbeda. Pertama di usia sekitar 30 an tahun, lalu di usia 50an tahun, dan selanjutnya di usia 70an tahun. Mohon koreksinya jika kami salah. Tapi yang jelas De Niro bermain di 3 rentang usia yang berbeda. Kami menangkap bentuk yang sama dan relevan memang dari 3 rentang usia tersebut. De Niro berhasil menciptakan satu manusia yang sama dengan usia yang berbeda.

Tapi persoalan jadi muncul ketika De Niro tak cukup berhasil menciptakan “manusia baru” di The Irishman. Tentu semua bentuk itu akan jadi relevan, karena memang penciptaan “manusia baru”nya hampir tak ada. Dari gesture, jelas kami tak menangkap perubahan yang signifikan. Apalagi dari suara. Kami jadi bertanya. Mungkinkah seorang manusia di 3 rentang usia yang berbeda akan selalu memiliki 1 warna suara yang sama? Atau mungkinkan seorang manusia ketika ia semakin beranjak tua, suaranya jadi berbeda. Ini perlu riset lebih lanjut. Itu kenapa kami biarkan jadi pertanyaan. 

Masih soal gesture. Memang jika kita melihat gesture De Niro pada beberapa poin, kita akan menangkap bentuk yang sama. Tapi jika kita melihatnya pada poin yang lain, akan ada sedikit ciptaan yang tampak berbeda. Misalnya pada bentuk pundak De Niro yang kelihatan agak sedikit diubah menjadi lebih naik ke atas. Lalu karena pundaknya agak naik ke atas, cara berjalannya juga jadi ikutan berubah. Proses perubahan yang menurut kami menarik dan perlu diambil pelajaran. Bahwa satu bentuk tubuh yang berubah, bisa merubah gestur tubuh lainnya.  

 

 

Lalu jika pada bagian fisiologis De Niro tak cukup mencuri perhatian, bagaimana dengan perkara menjalankan pikiran dan perasaan tokoh? Bagaimana dengan respon yang dimainkan oleh De Niro? Jujur saja, dalam catatan kami ketika menonton, kami hanya menulis “Respon De Niro baik, tapi belum mendapati yang mencuri perhatian”. De Niro memang berhasil menjalankan responnya dengan luar biasa baik. Tapi sayangnya dalam 3 jam film, kami tak mendapati respon-respon yang menarik. Mungkin karena tokohnya tidak dibentuk menjadi “manusia baru” sehingga semua respon jadi terkesan sama. Jadi kami tak mendapati hal yang mencuri perhatian. 

Di luar itu, De Niro tetap menunjukkan kualitasnya. Ia berhasil menjalankan pikiran tokoh dengan baik, mendengarkan lawan main dengan baik, sehingga responnya baik. Salah satunya bisa kalian lihat di adegan ketika Frank dan keluarganya melihat berita Presiden Kennedy mati ditembak. Kami melihat momen silent act yang menarik. Pada momen itu, kami bisa melihat pikiran tokoh dijalankan dengan intens dan tak ada momen kosong. Cara menjalankannya pun halus dan baik. Kalian bisa melihatnya dari bagaimana De Niro memainkan mata dan sedikit pada ekspresi wajah serta helaan nafas. 

Permainan emosi De Niro yang menarik lainnya bisa juga kalian lihat ketika ia berbincang dengan Russell, tokoh yang dimainkan Joe Pesci di restoran hotel. Pada adegan tersebut, lagi-lagi De Niro berhasil menunjukkan perjalanan emosi yang relevan dan baik. Selain itu kita juga bisa melihat tangga emosi yang jelas. Sehingga ada semacam kesedihan yang tampak dan dibalut sedemikian rupa sehingga memunculkan permainan emosi yang menarik. Pada adegan tersebut, ada emosi berlapis yang sepertinya sengaja dibuat misterius oleh De Niro. Ia seperti sengaja menahan kesedihan agar orang-orang berpikir bahwa ia sedih, tapi dalam pikiran De Niro, dirinya bertanya sendiri kenapa ia bersedih. 

Adegan dengan emosi yang cukup menarik lainnya juga terjadi ketika ia dalam perjalanan membunuh Jimmy Hoffa yang diperankan oleh Al Pacino. Pada adegan tersebut kita bisa melihat emosi berlapis yang kompleks. Kami menangkap ada banyak emosi disana seperti misalnya sedih, takut, benci, marah, dan perasaan lainnya. Kami pikir semua perasaan itu relevan dengan peristiwa yang sebelumnya terjadi. Kami pikir juga gejolak tersebut secara logis memang layak hadir. Nah, emosi yang ramai dan berlapis itu terlihat jelas pada mata De Niro. Tak dipungkiri, De Niro punya kekuatan besar di matanya. 

Itu Robert De Niro. Opa De Niro memang tidak memiliki capaian signifikan di beberapa bagian. Tapi pada bagian lainnya, ia berhasil, setidaknya, menunjukkan kualitasnya sebagai legenda. Ia, kalau kami boleh bilang, bermain “So, so”. 

Al Pacino, Joe Pesci dan The Irishman yang Mereka “Curi”

Lalu bagaimana dengan Al Pacino dan Joe Pesci? Apakah mereka bernasib sama dengan De Niro? Tidak. Dalam sudut pandang kami, permainan Joe Pesci dan Al Pacino lah yang paling mencuri perhatian. Bahkan kami bisa bilang kalau mereka berdua berada di atas De Niro dalam soal capaian penciptaan karakter. Terutama Joe Pesci. Sekedar informasi, Joe Pesci sebenarnya sudah pensiun dan tidak bermain film selama kurang lebih 5 tahunan. Tapi akhirnya ia mau bermain film lagi karena “Dirayu” oleh Robert De Niro. Begitu kata beberapa media. 

Kita bahas Pesci dulu. Pertama soal suaranya. Kami sebenarnya tak menangkap perubahan suara yang signifikan, tapi ada perubahan aksen yang membuat perubahan suara yang tak signifikan itu jadi menarik. Coba dengarkan interview Joe Pesci ini. Anyway, Joe Pesci hampir tak pernah datang dalam interview atau promo The Irishman karena ia memang tak suka. Jadi ini salah satu footage yang langka. 

Dengarkan baik-baik bagaimana aksen asli Joe Pesci. Perhatikan juga bagaimana warna suara, dan tempo bicara. Lalu coba bandingkan dengan warna suaranya ketika bermain sebagai Russel Bufalino di The Irishman. 

Jika didengarkan baik-baik aksen Joe Pesci terdengar sedikit berubah menjadi macam aksen Italia. Kita perlu tahu bahwa tokohnya memang keturunan Italia. Lalu dengarkan lagi warna suaranya yang berubah menjadi lebih cempreng. Jauh lebih cempreng dari pada warna suara Pesci yang asli. Setidaknya dari 2 hal itu, perubahan begitu terasa pada aspek suara. 

Ada satu hal lagi yang menarik dari Pesci sejauh yang kami dengar. Ingat, tokoh ini juga melalui 3 rentang usia, sama seperti De Niro. Coba dengarkan baik-baik suara Pesci di 3 usia tersebut. Kita bisa melihat warna suara yang berbeda pada tiap usia. Meski tak terasa sangat berbeda, terutama warna suaranya, tapi perhatikan aspek lain dalam suara ciptaan Joe Pesci. Pada tiap usia ia merubah tempo bicaranya sedikit. Hal itu membantunya menciptakan kesan yang lain pada warna suaranya. 

Lalu soal capaian fisiologis lain, kami mendapat capaian yang menarik. Capaian ini bukan pada bentuk tubuh yang berubah drastis, karena nyatanya memang tidak ada bentuk tubuh yang sangat berubah dari Pesci. Tapi yang diubah oleh Pesci adalah ritme tubuhnya. Dengan kombinasi perubahan ritme tubuh, aksen, dan sedikit pada warna suara, maka capaian fisiologis Joe Pesci berada paling atas di antara De Niro dan Al Pacino. Soal ritme ini juga sepertinya diperhatikan betul oleh Pesci. Ia seperti menyadari bahwa pada tiap usia tokoh, ritme tubuh Russell harus diubah. Pesci berhasil melakukan perubahan tersebut dengan membuat ritme tokohnya makin lambat ketika tokohnya makin tua.

Lalu bagaimana soal permainan emosi? Mungkin ini bicara soal porsi. Tapi Joe Pesci tetap memiliki beberapa adegan yang membutuhkan permainan emosi yang dalam dan rumit. Misalnya ketika ia berbincang dengan Angelino dan Frank. Kita bisa melihat respon Russell sangat menarik. Ia berhasil mendengarkan dengan baik, dan menjalankan pikiran serta perasaan si tokoh dengan baik. Dari sana muncullah beberapa bahasa tubuh kecil yang hidup. 

Selebihnya, kami tak mendapat porsi permainan emosi yang mencuri perhatian. Mungkin memang karena tidak ada adegan yang macam itu. Tidak seperti De Niro atau Al Pacino yang memiliki porsi adegan meledak-ledak dan emosi berlapis. Joe Pesci mendapatkannya di beberapa kesempatan, tapi karena tokoh ini sepertinya memang dibangun sebagai tokoh yang flamboyan, dingin, dan tenang, membuat tokoh ini tak punya kesempatan banyak bermain emosi berlapis. 

Lalu bagaimana dengan Al Pacino? Dari suara, kami rasa suara Al Pacino tidak berubah banyak. Coba dengarkan interview Al Pacino beberapa waktu lalu;

Warna suara Al Pacino yang asli terdengar agak serak. Lalu coba bandingkan dengan warna suaranya ketika menjadi Jimmy Hoffa. FYI, tokoh ini adalah tokoh yang benar-benar ada di kehidupan nyata. Begitu juga dengan tokoh yang dimainkan oleh Joe Pesci dan Robert De Niro. 

Satu hal yang bisa kami tangkap dari dua warna suara tersebut adalah bahwa pada Jimmy Hoffa, suara Al Pacino terdengar lebih muda. Suaranya tidak seserak suara Al Pacino yang asli. Kami penasaran bagaimana ia merubah warna suara tersebut. Pasalnya secara fisiologis ia memang sudah tua dan warna suaranya terdengar serak. Tapi kenapa di film ini warna suaranya terasa muda dan tidak sangat serak? Semoga kami bisa bincang aktor dengan Al Pacino. 

Tapi, meski suara ciptaan Al Pacino terdengar lebih muda dari suara aslinya, warna suara itu jadi terdengar mirip dengan warna suaranya di Scent of a Woman. Film itu memang sudah rilis 20 tahun yang lalu sehingga mungkin kita tak bisa sangat membandingkannya. Tapi kami menemukan satu hal yang menarik kenapa kemudian kami mengatakan bahwa warna suara Al Pacino di The Irishman dan Scent of a Woman mirip. Kami menemukan kalau tempo bicara kedua tokoh di dua film ini sama. Terutama ketika adegan marah yang meledak-ledak. Tempo dan dinamikanya hampir mirip. Itu kenapa kami seketika terbayang tokoh Frank Slade di Scent of a Woman. 

Selain warna suara, pada dimensi fisiologis, kami menemukan perubahan lain yang menarik. Perubahan ini tidak sangat besar dan signifikan, sehingga tidak terlihat jelas. Perubahan tersebut adalah pada bagaimana ia memainkan tangan, pundak, dan beberapa bagian tubuh lainnya. Kami menemukan bentuk yang lain dari Al Pacino pada laku di beberapa bagian tubuh itu. Terlihat kecil-kecil, tapi ciptaannya terasa hidup, menyatu dan menyaru dengan bagian tubuhnya yang lain. Kalau soal wajah yang tampak muda, itu tentu karena CGI dan sentuhan make up yang mengagumkan. Tapi kalau kami perhatikan, caranya tersenyum dan bentuk mulut Jimmy Hoffa nampak sedikit diubah. 

Lantas bagaimana dengan permainan emosi? Tokoh Jimmy Hoffa adalah tokoh yang menggebu-gebu. Di The Irishman, Jimmy Hoffa mendapatkan banyak sekali porsi dialog dimana ia harus marah besar atau adegan-adegan yang harus menguasai khalayak seperti ketika ia sedang pidato. Pada adegan-adegan tersebut, kami melihat permainan yang menarik. Misalnya di adegan saat Al Pacino marah di ruang kantor di depan banyak anak buahnya. Kami melihat kemarahan yang dinamis dengan cara memainkan tangan yang otentik. Kita juga bisa melihat dan mendengarkan pada beberapa momen dia meledak lalu pada laku berikutnya nada Al Pacino tiba-tiba berubah. Hal yang menarik adalah bagaimana kedua nada tersebut masih terasa relevan dan berada di satu emosi yang sama. Tidak terputus begitu saja. 

Lalu pada adegan lain di kantor saat ia marah pada pengacara. Kita bisa melihat bentuk kemarahan yang otentik dan tempo kemarahan yang dinamis. Al Pacino terlihat sangat menikmati adegan marah itu. 

Tapi, kami merasa ada yang janggal dalam setiap adegan marah Al Pacino. Kami merasa bentuk-bentuk kemarahan itu mirip dengan kemarahannya di filmnya yang lain. Misalnya pada film Scent of a Woman, Misconduct, atau Danny Collins. Bentuk kemarahannya hampir-hampir mirip. Tentunya jika kita mengenyampingkan aspek-aspek kecil seperti misalnya gestur tangan, dan laku kecil lainnya. Kami merasa, gestur-gestur itulah yang membuat kesan sama antara Al Pacino di The Irishman dengan film Al Pacino yang lain jadi berkurang. 

Kenapa De Niro tak Masuk Golden Globe dan SAG Awards?

Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Pertama adalah karena mungkin tokoh yang dimainkan De Niro tak memiliki porsi sebesar Pesci dan Al Pacino. Dimana jika kami bisa mengatakan, Pesci porsi ciptaannya lebih lengkap secara dimensional tapi tak memiliki banyak adegan yang emosional, sementara Al Pacino sebaliknya. Ia memiliki banyak adegan emosional tapi tak memiliki capaian fisiologis yang lengkap. Tokoh De Niro berada di antara. Frank Sheeran ini memiliki porsi emosi yang tidak sangat intens dan emosional, dan aspek fisiologis yang mungkin oleh De Niro belum berhasil dicapai dengan baik. Secara singkat, capaian De Niro tak lebih lengkap dan lebih baik dari capaian Pesci dan Pacino. 

Alasan kedua adalah karena tahun ini memang banyak sekali aktor yang bermain luar biasa. De Niro tak mendapatkan tempat di antara banyak aktor yang bermain luar biasa itu. Coba saja bandingkan De Niro dengan beberapa pemain lain yang masuk nominasi Golden Globe. Seperti misalnya dengan Adam Driver. Mungkin memang Adam Driver tak memiliki capaian fisiologis yang signifikan, sama seperti De Niro. Tapi ia memiliki capaian permainan emosi yang jauh di atas De Niro. Mungkin ini juga persoalan porsi. Tapi bukankah mau punya atau tidak punya porsi yang cukup, seorang aktor harus bisa memainkan bagiannya sebaik mungkin? 

Menurut kami, bukan sebuah snub atau penghinaan ketika De Niro tak masuk Golden Globe dan Screen Actors Guild Awards. Karena memang ciptaan De Niro belum sampai pada standar tahun ini. Sementara untuk Oscar sendiri, kami tak yakin ia akan masuk. Sejauh yang kami tahu, dalam sejarah hampir tidak pernah ada aktor yang tidak masuk Golden Globe dan Screen Actors Guild tapi masuk Oscar. Jadi, kesempatan De Niro bisa masuk di nominasi Oscar sangat kecil. 

Secara keseluruhan, permainan De Niro memang menarik pada ranah emosi. Terutama di beberapa adegan menjelang akhir film. Ia berhasil melakukannya dengan intens. Sementara kalau dilihat utuh, permainan De Niro tak lebih baik dari Al Pacino dan Pesci. Pesci menciptakan tokohnya cukup lengkap secara dimensional. Al tidak cukup lengkap secara dimensional, tapi permainan emosinya dinamis. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: