[Flash Review] The Irishman; Para Legenda Berkumpul

The Irishman

The Irishman adalah salah satu film yang kami tunggu tahun ini. Apalagi alasannya kalau bukan karena berkumpulnya para legend di film ini. Dimana jarang sekali para legenda ini ada di satu film. Bahkan bukan hanya di satu film, tapi juga disutradarai oleh seorang legenda, Martin Scorsese. Siapa yang tak menunggu film ini jika tahu siapa cast dan sutradaranya? 

Setelah menunggu cukup lama, lalu akhirnya mendapatkan kesempatan menonton, kami dibuat terkejut. Bukan, bukan karena permainannya, tapi karena hal bodoh. Durasi. Film ini berdurasi 3 jam 20 menit. Kami berpikir, bagaimana caranya mempertahankan penonton selama itu? Dan ya, memang itu pertanyaan bodoh untuk yang keluar untuk sebuah film garapan Martin Scorsese. Kenapa? Flash review ini bebas spoiler! Jadi aman dibaca sampai akhir! 

 

The Irishman Lama, tapi Memuaskan

Inilah alasannya. Setelah kami selesai menonton 3.2 jam, film ini tetap memuaskan. Kami lalu berusaha mencari, apa yang membuat kami mau bertahan sampai akhir. Padahal, kalau kami perhatikan betul, film ini tak memiliki tangga dramatik yang menggebu-gebu dengan tempo yang cepat dan menguras energi. Dari sudut pandang kami, semua dramatik di film ini terasa pelan, tenang, tapi tidak membosankan. Kami menduga karena intensitas peristiwa dan hal lain di luar dramatik yang membuat film ini tidak membosankan. 

Untuk soal peristiwa, kami merasa Scorsese memang sudah tidak bisa merubahnya. Membuatnya lebih dramatik, berdarah-darah, atau apa. Ia hanya menunjukkannya sesuai dengan kehidupan nyata saja. Bahkan tanpa pemilihan angle yang ribet dan semacamnya. Hanya betul-betul seperti prinsip dalam teater realisme, slice of life. Martin Scorsese menjadikan semua peristiwa dalam film ini sebagai peristiwa yang hidup dan apa adanya. Lalu untuk membuat peristiwa itu tidak membosankan, karena ada waktu 3 jam lebih, Martin menggunakan musik untuk menjaga intensitas penonton dan tentunya pemain yang dengan baik berhasil menjaga intensitas mereka. 

Dengan cara macam itu, 3 jam lebih pun terasa memuaskan. Kita tidak akan dibuat kelelahan, juga tidak akan dibuat berlari sana sini. Kita hanya akan disuruh duduk manis oleh Martin Scorsese, dan menikmati filmnya sampai habis.

 

 

Joe Pesci yang Pertama, Al Pacino, Lalu De Niro

Kalau kita bicara permainan para aktornya, maka tak ada kata lain selain luar biasa untuk akting Pesci, Pacino, dan De Niro. Mereka bertiga, dengan usia yang tak lagi muda, berhasil menggetarkan. They are not rusty, they still legend! That’s true! 

Tapi, jika kami menelaahnya lebih dalam, lalu melihat capaian mereka secara dimensional terlebih dahulu, maka kami merasa bahwa Pesci lah yang memiliki capaian paling menarik. Pesci berhasil mengubah sedikit warna suara, logat, cara berjalan, bentuk tubuh, dan dimensi fisiologis lain. Sementara Pacino, kami menangkap perubahan yang tidak sebanyak Pesci, tapi ia berhasil mengubah dimensi fisiologisnya dengan cukup baik. De Niro ada di posisi yang sama dengan Al Pacino dalam hal ini. 

Tapi kalau soal permainan emosi, respon antar pemain, sampai emosi-emosi yang bertumpuk, Pesci memiliki capaian yang menarik. De Niro ada di posisi kedua karena memang banyak porsi adegan yang mengharuskannya bermain layer. Lalu Al Pacino. Bukan karena tidak bagus, tapi karena porsi tokoh yang dimainkannya. Lalu kalau soal wajah mereka yang terlihat tampak lebih muda, kami rasa ini berkat make up dan sedikit sentuhan CGI. 

Hal yang terpenting, ketiga aktor ini berhasil menghidupkan karakter mereka masing-masing. Ulasan soal acting mereka akan lebih dalam kita bahas di acting review. 

Secara garis besar, The Irishman memang betul-betul film legenda dimana semua legenda berkumpul. Kalian mungkin tidak akan kecewa. Ya jelas mungkin, karena selera kalian mungkin berbeda. 

Terima kasih, viva aktor!

%d bloggers like this: