[Flash Review] Marriage Story; Kisah Perceraian yang Seperti Sederhana

Marriage Story

Marriage Story adalah satu dari sekian banyak film yang dibuat Netflix tahun ini yang sepertinya akan menghiasi Oscar. Banyak yang berkata bahwa film ini akan menyumbangkan beberapa nama di nominasi. Seperti Scarlett Johansson dan Adam Driver untuk Best Actor dan Best Actress. 

Tapi Apakah benar film ini akan memiliki capaian macam itu di Oscar tahun depan? Apakah benar Adam Driver dan Scarlett Johansson bermain sebagus itu? Flash Review ini tanpa spoiler. Kami akan membahas sedikit permainannya. Untuk akting, akan kita bahas lebih lengkap di Acting Review nanti. 

Marriage Story

 

 

Marriage Story, Kisah Perceraian yang Tidak Sederhana

Sebelum kita membahas bagaimana permainan Adam Driver dan Scarlett Johansson, mari kita bahas filmnya secara keseluruhan dulu. 

Marriage Story menurut kami adalah sebuah film tentang perceraian yang tidak bisa kami sebut sederhana. Tapi di satu waktu yang bersamaan, ia juga bisa kita sebut sederhana. Kenapa? Dalam film ini kalian tidak akan mendapati banyak adegan yang sedu sedan, atau meledak-ledak. Memang ada, tapi tidak seperti lazimnya film perceraian yang sudah-sudah. Seperti Kramer vs. Kramer misalnya kalau boleh dibandingkan dengan itu, atau film bertema perceraian yang lain. Film ini terasa sangat sederhana di satu sisi. Tapi ketika kami berusaha memutuskan bahwa film ini memang sederhana, kami tak bisa. 

Kenapa? Karena memang film ini rumit. Kerumitannya bukan ada di dramatik yang signifikan dan fluktuatif atau adegan-adegan yang besar dan meledak-ledak serta luar bisa sendu. Kerumitannya ada pada si manusia. Bagaimana dua tokoh dalam film ini menunjukkan cara mereka menanggulangi peristiwa proses perceraian mereka tersebut. Hal inilah yang membuat film ini tidak sederhana. Seperti kata kebanyakan filsuf. Manusia itu tidak pernah sederhana. Di Marriage Story, manusia memang tidak pernah sederhana. 

Dengan posisi macam itu, antara sederhana dan tidak, kalian akan merasakan kebosanan. Terlebih bagi kalian yang ingin dikuras habis emosinya dengan adegan yang meledak-ledak, sangat sedih, atau semacamnya. Bisa jadi pada menit ke-30 film ini berjalan kalian akan bosan. Tapi untuk kalian yang gandrung pada bagaimana manusia sebenarnya menjalani kehidupan mereka, kalian akan sangat tertarik pada film ini. 

 

 

Emosi Berlapis yang Menarik

Salah satu alasan selain kesederhanaan manusia-manusia (baca; tokoh-tokoh) dalam film ini adalah bagaimana mereka memiliki emosi-emosi yang berlapis. Atau dalam dunia seni peran, di antara para aktor biasa menyebutnya dengan layer. 

Baik tokoh yang dimainkan Adam Driver atau Scarlett Johansson, keduanya memiliki layer emosi yang menarik. Dimana menurut kami, inilah alasan utama mereka berdua mencuri perhatian dan digadang-gadang bisa masuk Oscar. Emosi berlapis macam ini tak mudah dimainkan oleh aktor. Ia harus menjalankan inner life si tokoh, tapi membungkusnya dengan bentuk yang kadang bertolak belakang dari apa yang dirasakannya di dalam. Jadi berat karena aktor harus bisa menunjukkan layer itu pada penonton. Bagaimanapun ini film, bukan kehidupan nyata yang layer itu bisa benar-benar disembunyikan. Di Marriage Story, Adam Driver dan Scarlett Johansson harus mengatur sedemikian rupa bahasa tubuhnya sehingga ia mampu memberikan petunjuk pada penonton bahwa ia sedang tak baik-baik saja seperti kelihatannya, sekaligus membuat penonton meyakini bahwa ia sedang berusaha baik-baik saja.  

Nah, kondisi inilah yang terjadi pada tokoh Adam Driver dan Scarlett Johansson. Kondisi ini yang sekaligus membuat film Marriage Story jadi tidak sederhana. Dan dalam sudut pandang keaktoran jadi sangat rumit dan sulit. Selain itu perjalanan emosi tokoh di beberapa adegan cukup menarik. Kami tak bisa menyebutkan yang mana, hanya saja akan ada banyak perjalanan emosi yang dinamis dan menarik. Meskipun ya… tidak ada capaian fisiologis. Jadi untuk masuk Oscar. kami piki nominasi saja cukup. 

Terima kasih, viva aktor!

%d bloggers like this: