[Flash Review] Birds of Prey; Harley Quinn Terlalu Cerewet?

Birds of Prey adalah film yang dari tahun lalu gaungnya sudah terdengar seantero bumi. Film yang punya judul lengkap cukup panjang, Bird of Prey (and The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn) ini memang tak seberhasil yang direncanakan. Dilansir dari CNN Indonesia, film ini gagal capai Box Office. Tapi di Flash Review ini kita tak hendak membahas itu. Kita akan sedikit mereview filmnya secara umum dari pandangan penikmat film, bukan pembuat film atau lulusan akademi film yang mengerti teori-teori perfilman. Kita juga akan mereview sedikit permainan para cast di film ini. 

Tenang, untuk kalian yang belum menonton, flash review ini bebas spoiler. Jadi aman dibaca sampai akhir. 

Birds of Prey

 

Birds of Prey Terlalu Cerewet

Karena kami adalah orang awam dalam soal pembuatan film, artinya tak begitu mengerti soal komposisi warna, gambar, musik, dan lain sebagainya, kecuali akting, kami melihat Birds of Prey pertama kali dari ceritanya. Sejauh yang kami lihat, kami merasa tidak ada yang spesial dari cerita film ini. Ia seperti kebanyakan film superhero lainnya. Tidak ada kejutan, tak ada spektakel, semua tertebak dengan mudah. Bahkan ketika alur film ini dibuat melompat maju mundur. Tapi tetap saja tak berhasil memunculkan alur cerita yang menarik dan lain dari kebanyakan cerita superhero.  

Tenang, kami hanya menyebutkan cara film ini bercerita, bukan bagaimana ceritanya. Film ini memiliki cara bercerita yang melompat-lompat. Di awal mungkin kalian akan merasa baru dengan cara bertutur macam ini di sebuah film superhero. Tapi pada pertengahan film kalian akan merasa bosan karena cara bercerita yang terlalu cerewet dan bertele-tele. Semuanya seperti harus diceritakan dan diungkapkan segamblang itu. Bahkan tak ada misteri yang berusaha dimunculkan. Semua pertanyaan terjawab tepat setelah pertanyaan selesai diucapkan. 

Birds of Prey bagi kami seperti Suicide Squad. Dimana kami merasa film ini kembali memposisikan penjahat sebagai orang baik. Entah apa pertimbangannya. Apakah karena di DC film yang laku adalah film macam ini? Penjahat yang melakukan hal baik dengan menyelamatkan penjahat lain dan membunuh penjahat yang lain? Hmmm… Menurut kalian? 

Satu lagi, pesan film ini soal emansipasi, yang juga jadi judul dari film ini, kami rasa tak cukup mengena. Pesan itu seolah terkubur dengan gemerlap aksi-aksi di film ini dan permainan para aktrisnya yang tidak sangat mewakili pesan emansipasi itu. Sejauh yang kami lihat, keberadaan mereka saja yang menandakan emansipasi. Dan tentunya ending film ini. Seperti apa? Nonton saja.

Birds of Prey

 

Margot Robbie Cukup Menyegarkan

Lalu bagaimana dengan permainan Margot Robbie? Kami merasa Margot Robbie cukup berani mengeksplorasi tokoh ini. Sejauh yang kami dengarkan, warna suara Margot Robbie agak diubah menjadi lebih kecil, cempreng, dan tajam. Kesan gila dari tokoh ini juga berhasil ditunjukkan dengan baik oleh Margot Robbie. Kita juga bisa melihat bagaimana Margot Robbie berusaha memunculkan ritme tokoh yang sembarangan. Ritme itu membantunya menciptakan respon-respon yang otentik. 

Tapi, ada persoalan dalam permainan Margot Robbie. Persoalan itu muncul ketika tokoh ini terlalu emosional. Kami merasa ketika tokoh ini terlalu emosional dan kehilangan kegilaannya, Margot Robbie jadi mirip dengan tokoh yang pernah ia mainkan. Semua ritme, warna suara, respon yang otentik, hilang. Seperti misalnya di adegan ketika… ah, tapi tak ingin mengatakannya. Nanti spoiler. Kalian nonton saja. 

Sementara untuk pemain lain, kami tak merasa ada yang spesial. Semua bermain aman saja. Tak ada yang mencengangkan. Margot Robbie juga sebenarnya hampir bermain aman dan tak mencengangkan kalau ia tak menggunakan kegilaan si Harley sebagai senjata utama si tokoh. Pembahasan lengkap soal permainan si Margot Robbie akan kita tulis nanti di Acting Review yang akan rilis setelah film ini turun dari bioskop. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: