[Flash Review] Imperfect; Sejarah Baru Dunia Keaktoran Indonesia

Imperfect

Imperfect adalah salah satu film yang kami tunggu. Meski flash review ini terhitung terlambat karena satu dan lain hal, beruntunglah kami masih diberi kesempatan menonton film ini. Melewatkan film Indonesia sama seperti melewatkan komet halley. Ia akan baru bisa ditonton puluhan tahun kemudian, ketika secara sengaja si empunya film memutarnya di TV, atau menjualnya pada platform menonton streaming. Sesulit itulah mendapatkan akses menonton film-film Indonesia yang sudah turun bioskop. Mungkin itu kenapa Indoxxi jadi seperti Robin Hood pada penonton kita. Ah, sudahlah, kami tak ingin membahas itu.  

Kembali ke Imperfect. Lalu kenapa kami menunggu film ini? Alasannya hanya satu. Tampilan Jessica Mila yang berubah drastis menjadi lebih gemuk. Flash Review ini tanpa spoiler. Jadi bebas dibaca sampai akhir. 

 

 

Imperfect, Racikan yang Tepat

Sebelum kita membahas soal keaktorannya yang menjadi sejarah baru keaktoran Indonesia, kita bahas dulu filmnya dari sudut pandang paling awam karena kami memang tak paham betul soal teori-teori perfilman. 

Imperfect dalam sudut pandang kami berhasil muncul sebagai sebuah film yang punya racikan menarik. Ia memang drama komedi. Tapi entah kenapa, kami merasa komposisi drama dan komedinya tepat. Film ini tidak sangat komedi, yang bisa bikin ketawa ngakak terjungkal hingga salto. Tapi ia akan menggelitik sesekali di tempat yang tepat. Peletakan komedi yang menurut kami tepat itu membuat dramatik film ini jadi menarik. 

Sebenarnya film ini sudah tertebak akan kemana arahnya. Bahkan kami bisa menebak apa yang akan jadi ending dari film ini. Sama seperti kebanyakan film drama yang muncul dengan masalah, ditambah masalah, lalu muncul solusi, kemudian masalah lagi, hingga muncul solusi lagi. Bahkan tidak ada spektakel yang “wah!”. Tapi fokus kami tidak pada bagaimana film ini bisa mengejutkan dalam sudut pandang cerita. Tapi pada bagaimana Ernest Prakasa berhasil meletakkan komedi dan drama di tempat yang tepat sehingga ia bisa membuat efek dramatik film ini muncul lebih kuat. 

Dan lagi, ini mungkin persoalan selera. Komedi yang dipakai oleh Ernest Prakasa bukan slapstik kami rasa, setidaknya pada banyak adegan. Ia bukan komedi pukul-pukulan atau komedi receh macam itu. Komedi Imperfect adalah komedi cerdas yang diletakkan di tempat yang tepat. Sehingga ia bisa membuat film ini lebih solid dari segi cerita, penyampaian cerita, hingga dramatik.  

Lalu dramanya? Mungkin hati kami yang sudah baal atau bebal. Kami memang menyadari bahwa pesan dari film ini tersampaikan dengan baik. Tapi tak seperti banyak orang yang menangis setelah menonton film ini dan merasa perasaannya diaduk-aduk, kami tak merasakan itu. Kami hanya bahagia saja, bahagia bukan sepenuhnya karena film, tapi karena capaian keaktoran dan perlakuan produksi film ini pada si aktor.  

Sejarah Baru Keaktoran Indonesia

Kalian boleh koreksi kami jika kami salah. Tapi sejauh yang kami tahu, hampir tidak ada aktor yang berhasil menaikkan berat badannya sampai 10 kg untuk bermain di sebuah film. Bukan hanya menaikkan saja, ia juga harus menurunkan berat badan itu lagi. Sebuah kondisi yang sangat amat langka. Bahkan mungkin menjadi satu-satunya. Coba cek, setidaknya dalam satu dekade ini. Adakah sebuah film yang aktornya menaikkan berat badan sampai 10kg? Kalau ada, pertanyaan selanjutnya, adakah yang menurunkannya lagi hingga ada di berat badan normal? Kami yakin jawabannya tidak ada. Hal itulah yang membuat capaian Jessica Mila menjadi sebuah tonggak sejarah dalam keaktoran Indonesia. 

Hal lain yang membuat sisi keaktoran film ini bersejarah adalah karena produksi film ini menyediakan ahli gizi untuk si aktor. Hal yang sangat awam dilakukan di Hollywood tapi hampir tidak pernah dilakukan di Indonesia. Atau setidaknya sangat jarang dilakukan. Sehingga menyediakan ahli gizi adalah sebuah hal yang luar biasa spesial. Itulah yang membuat film Imperfect bersejarah dalam sudut pandang kami pada dunia seni peran Indonesia. Ini merupakan sebuah angin segar bagi para aktor serius di Indonesia. Artinya, mungkin pada banyak produksi selanjutnya, sutradara atau tim produksi akan lebih “menghargai” si aktor. Perkembangan yang menyenangkan. 

Lalu selain bertambah gemuk dan menjadi kurus, apalagi capaian Jessica Mila? Sayangnya kami tak menemukan perubahan fisiologis lain selain gemuk dan kurus. Tapi kita akan bahas itu lebih lengkap di Acting Review. Kami hanya ingin merayakan kabar baik ini. Kabar baik bahwa produksi film Indonesia sekarang sudah mulai memikirkan “ekosistem keaktoran” yang menyehatkan untuk si aktor. Betapa menyenangkannya. 

Terima kasih, viva aktor!

%d bloggers like this: