[Acting Review] Susi Susanti Love All; Aksen-aksen yang Menarik

Susi Susanti Love All

Susi Susanti Love All adalah salah satu film biopic yang rilis tahun ini. Film ini cukup mencuri perhatian banyak pihak termasuk kami. Akuaktor jelas melihatnya dari sisi permainan atau setidaknya kesempatan para aktor untuk bisa mengeksplorasi kualitas permainan mereka. Laura Basuki juga menjadi salah satu alasan kuat kenapa kami mau menonton film ini. 

Laura bagi kami adalah salah satu aktor yang cukup jarang main film tapi sekalinya bermain, ia selalu mencuri perhatian. Tapi apakah benar di Susi Susanti Love All Laura Basuki dan beberapa pemain lain seperti Lukman Sardi, Dion Wiyoko, dan Dayu Wijanto berhasil menunjukkan kualitas permainan mereka? Sebelum membaca, akting review ini penuh dengan spoiler, dan film ini masih ada di bioskop. Jadi kami sarankan untuk tidak membacanya jika kalian belum menonton filmnya. 

Susi Susanti Love All

 

Susi Susanti Love All, Aksen yang Menarik

Ketika menonton film ini, hal menarik yang pertama kali kami tangkap dan simpan sampai film selesai adalah bagaimana para pemain berhasil menguasai aksen dengan sangat baik. Hampir semua aksen yang diciptakan oleh para pemain tidak artifisial dan yang paling penting konsisten. 

Kita mulai dari Laura Basuki. Jika dirunut dengan baik, Susi Susanti memang kelahiran Tasikmalaya. Dengan latar belakang tokoh macam itu, maka sudah jelas bahwa ia memiliki aksen Sunda yang kental. Seperti yang kita tahu, bahwa aksen adalah sesuatu yang tumbuh dari dalam dan terbiasa dilakukan selama bertahun-tahun. Maka aksen itu akan sulit hilang ketika seseorang masuk ke tempat yang baru. Logika sederhana ini dipakai dengan baik oleh Laura Basuki. Meskipun tokohnya berada di pusat pelatihan di Kudus, tapi aksen Susi Susanti tak ia rubah ke aksen Jawa. Logika sederhana yang jika tidak diperhatikan dengan baik akan merusak bangunan permainan si aktor. 

Capaian soal aksen ini jadi terasa menarik ketika kita tahu juga bahwa Laura Basuki tidak memiliki darah Sunda (Setidaknya itu hasil googling kami). Ia adalah keturunan blasteran Indonesia-Vietnam. Ia lahir di Jerman dan besar di Jakarta. Dari informasi itu, bermain dengan aksen Sunda dan bisa bermain sekonsisten itu menjadi capaian yang menarik. 

Selanjutnya pada Dayu Wijanto. Seperti yang kami sampaikan di atas; bahwa mengetahui si aktor bukan asli Sunda dan mereka berhasil menguasai aksen Sunda dengan baik jadi sebuah capaian yang menarik. Dayu Wijanto adalah salah satu di antaranya. Ia lahir di Malang dan besar di Pare. Tapi di film ini Dayu bisa menguasai aksen Sunda dengan sangat baik. Bahkan tak hanya aksennya saja, tapi juga bahasa Sundanya. Capaian ini tak bisa kita ingkari begitu saja. 

Pun begitu dengan Dion Wiyoko dan Lukman Sardi. Keduanya berhasil memainkan aksen masing-masing tokohnya dengan baik. Dion misalnya. Ia memainkan aksen Jawa yang sangat kental. Semua dialognya pun hampir tidak ada yang terasa artifisial. Lukman Sardi juga begitu. Ia berhasil memunculkan aksen Medan yang tipis. Kami rasa ini relevan dengan tokohnya, M.F. Siregar. 

Sejauh yang kami tahu dari salah satu laman Antara News, M.F. Siregar memang memiliki nama Medan dan darah Medan. Tapi M.F. Siregar lahir dan besar di Jakarta. Maka meski ciptaan aksen Lukman Sardi pada tokoh ini tidak sangat kental seperti pemain lain, itu jadi tak masalah. Pasalnya, bentuk itu relevan karena sejarah tokohnya yang membuat aksen Medan tidak terucap kental. 

Soal aksen kami tak ada komentar lanjutan. Karena hampir semua aksen yang diucapkan oleh para pemain benar-benar berhasil diposisikan sebagai milik mereka. Bukan hanya sekedar menempel dan kemudian jadi terasa palsu. 

Susi Susanti Love All

 

 

Tentang Permainan Emosi di Susi Susanti Love All

Capaian atas aksen memang menarik. Tapi apakah permainan emosi dan respon para pemain semenarik capaian aksen mereka? Jawabannya adalah iya dan tidak. Pada beberapa adegan, para pemain berhasil mendengarkan dan merespon dengan sesuai. Mereka juga berhasil menumbuhkan emosinya dengan tepat. Tapi ada beberapa adegan dimana emosi mereka terasa buntung. 

Salah satunya ada pada adegan ketika Dayu Wijanto berdialog pada Bapak saat si Bapak sedang menerima telepon. Kami merasa pada adegan tersebut pergerakan emosi Dayu terasa mendadak. Emosinya seperti muncul tanpa dinamika sehingga kesan yang hadir ke penonton adalah nada dialog yang palsu. Kami menduga hal itu terjadi karena Dayu tidak benar-benar menjalankan responnya atas suasana. Ingat, respon bukan hanya soal mendengarkan lawan main. Tapi juga mendengarkan dan melihat suasana. Respon itulah yang akan mengantarkan pada penyampaian emosi yang tepat. 

Sementara pada permainan Laura Basuki, kami melihat permainan emosi yang menarik. Terutama di adegan ketika ia sedang berkompetisi di Barcelona untuk Olimpiade. Pada adegan tersebut, setelah Susi Susanti berhasil menang dan menerima medali, kami melihat pergolakan emosi yang menarik. Kita bisa melihat dari matanya, bahwa ada semacam kemarahan, kesedihan, sekaligus rasa bangga yang ketiganya sedang berkecamuk di waktu yang sama. Perasaan-perasaan itu relevan dengan peristiwa yang sedang terjadi. 

Seperti yang kita tahu Indonesia diceritakan sedang kacau-kacaunya ketika adegan itu terjadi. Hampir semua keturunan Tionghoa dalam kondisi terancam kala itu. Tentunya juga keluarga Susi Susanti. Maka gejolak yang dihadirkan oleh Laura tepat. Satu lagi yang menarik adalah porsi emosi yang ditunjukkan Laura juga pas. Ia tak berusaha melebihkan porsi emosinya, juga tak berusaha mengurangi.  

Satu lagi adegan yang menurut kami juga menarik adalah ketika ia diwawancara oleh CNN. Kami tak menemukan footage video wawancara itu, sehingga tak bisa membandingkan pengucapannya. Tapi dengan halaman nol yang sedang terjadi di diri Susi Susanti, maka nada, respon, pandangan mata, dan momen mengucapkan dialog Laura tepat. Ia tak sekedar asal saja mengucapkan dialognya. Laura terlihat benar-benar menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh. Mungkin jika kami bisa menyimpulkan, Laura memposisikan dialog sebagai buah pikir dan rasa. Ia tidak muncul sendiri, tapi bentuk ekspresi dari rasa dan pikir si tokoh. 

Pemain lain sejatinya juga melakukan hal yang sama. Semuanya memainkan emosi dengan tepat. Tapi hampir semuanya melakukan emosi dengan cara yang sama seperti mereka di film-filmnya yang lain. Mungkin itu kenapa kami tak bisa menulis banyak soal capaian mereka. Mereka memang bermain bagus. Tapi bagus yang biasa. 

 

 

Ini Biopic, Miripkah?

Sayangnya tidak ada yang sangat mirip dalam sudut pandang kami. Semua pemain memiliki upaya untuk mendekati tokoh yang mereka mainkan. Tapi upaya itu seperti tidak sampai di titik yang semestinya. Kami tak tahu apakah ini soal waktu persiapan yang tidak panjang atau ada kendala lain. 

Misalnya soal perubahan suara. Hanya beberapa pemain yang bisa kami lacak capaiannya. Susi Susanti dan Alan Budikusuma misalnya. Pada dua tokoh ini Laura dan Dion memang berusaha sekali mendekatkan diri mereka ke tokoh. Tapi pada bagian suara, tidak banyak yang tercipta. Kami bahkan menangkap perubahan suara Laura yang tidak sangat signifikan. Kami mendapati pembawaannya atas tokoh saja yang berbeda. Sementara warna suara tidak sangat berbeda. Begitu juga dengan Dion Wiyoko. Aksen memang sangat berhasil ia ciptakan. Tapi tidak dengan warna suara yang sejauh pendengaran kami tidak mirip Alan Budikusuma dan masih mirip dengan warna suara Dion. 

Untuk Dayu Wijanto dan Lukman Sardi serta pemain lain, kami tak bisa membandingkan mereka dengan tokohnya karena kami tak mendapati footage tokoh-tokoh tersebut. Tapi kami berusaha membandingkannya lewat warna suara asli mereka. Hasilnya, kami tak menemukan perbedaan yang cukup signifikan pada bagian suara. Dayu Wijanto malah lebih tertolong dengan aksen yang ia ciptakan. Sehingga suaranya jadi lebih cempreng dengan tempo bicara yang lebih cepat. 

Sementara pada Lukman Sardi, kami tak mendapati perubahan suara yang signifikan. Kami malah menuliskan soal ketidak-konsistensianya pada aksen. Meskipun kemudian kami merasa ciptaan itu relevan dengan dimensi sosiologis si tokoh. Sehingga ketidak konsistensiannya itu jadi baik-baik saja. Sementara untuk warna suara, nada, tempo bicara, kami tak menemukan perubahan. Kami rasa cara bicara Lukman masih sama seperti cara bicaranya dan cara bicaranya di film-film sebelumnya.  

Lalu apakah mereka berhasil memainkan tokoh biopic ini? Jika kita melihat pada sudut pandang permainan biopic yang ideal, maka mereka tidak sepenuhnya berhasil. Tapi jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, setidaknya pada sudut pandang aktor sebagai penyampai pesan, maka mereka bisa kami bilang sukses. Tapi bukankah ini seni peran? Dimana tujuannya bukan hanya menyampaikan pesan, tapi menciptakan “Manusia baru”?  

Ini adalah acting review yang paling pendek yang pernah kami tulis. Kenapa? Kami tak mendapati capaian yang sangat menarik dari film ini sehingga membutuhkan sebuah pembahasan yang panjang. Tapi kami juga tidak bisa mengingkari capaian yang sudah dimiliki oleh para pemain. Secara garis besar permainan mereka memang cukup baik. Hanya tidak sangat spesial. 

Jika kalian ada kesan lain saat menonton film ini, silahkan tulis di kolom komentar. 

Terima kasih, viva aktor!   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: