[Acting Review] Kramer vs Kramer; Tentang Ritme

kramer vs kramer

Kramer vs Kramer adalah sebuah film yang rilis sekitar tahun 1979. Film ini dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep. Di tahun film ini rilis, keduanya mendapatkan banyak sekali penghargaan karena permainannya. Keduanya juga kemudian berhasil meraih Oscar di tahun tersebut. Apa nilai yang bisa kita pelajari dari permainan mereka berdua? Kami menemukan apa yang menarik, tapi sebelumnya minta maaf, karena kita tidak akan membahas bagaimana permainan mereka berdua. Kita akan membahas bagaimana itu Ritme dalam seni peran.  Berikut pembahasan lengkapnya;

 

Setiap Manusia Lahir dan Hidup Dengan Ritme Sendiri

Ingat selalu yang diucapkan oleh Stella Adler di bukunya The Art of Acting; 

You must understand that each character has a rhythm. (Adler, 2000:176)

Semua manusia, atau karakter, dalam sudut pandang seni peran, memiliki ritmenya masing-masing. Hal inilah yang menarik dalam permainan Dustin Hoffman dan Meryl Streep di film Kramer vs Kramer. 

Kita tidak akan membahas bagaimana permainan emosinya, bagaimana kadar emosi atau laku yang tepat, atau bahkan perubahan fisik yang terjadi dalam penciptaan Meryl Streep dan Dustin Hoffman karena semuanya sudah pasti bagus, berubah dan tepat. Kami, sekarang ini juga sedang bosan membahas seni peran melulu dalam hal itu. Karena hampir semuanya memiliki pola dan capaian yang sama. Sehingga kami memutuskan untuk membahas hal ini; “Ritme”. 

Seperti yang diucapkan oleh Stella Adler, bahwa setiap karakter memiliki ritmenya masing-masing. Kami kemudian juga menyimpulkan bahwa setiap manusia memiliki ritmenya sendiri. Disadari atau tidak, kita kadang akan bisa merasakan seberapa cepat atau lambat ritme kita dalam menjalani hidup atau bahkan bagaimana ritme orang lain ketika mereka menjalani hidupnya. 

Kenapa kemudian kami bisa menyimpulkan bahwa manusia juga sama seperti karakter, karena memiliki ritmenya masing-masing? Kalian pasti bisa menjawabnya. Sederhana saja, karena karakter dalam film itu juga terkadang manusia atau sudah pasti “dimanusiakan”. Setiap karakter yang ada di film, entah itu hewan, alien, benda, semuanya pasti di”personifikasi”kan oleh si pembuatnya. Sehingga secara tidak langsung, karakter tersebut, apapun itu, adalah manusia. Karena karakter tersebut adalah juga manusia atau memiliki sifat seperti manusia atau “dimanusiakan”, maka ia juga pasti memiliki ritme dan tempo.

 

 

Atau kami tambahi, bukan hanya manusia saja, tapi setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki ritmenya masing-masing. Kukang punya ritme hidupnya sendiri. Nyamuk bergerak dengan ritme yang dimilikinya, dan setiap makhluk hidup di dunia ini akhirnya kemudian memiliki ritmenya masing-masing.  

Lalu apa yang membuat seorang manusia, atau karakter memiliki ritmenya sendiri? Jawabannya juga sederhana, dalam kerangka logika, tempat dimana karakter itu hidup, cara karakter itu besar, sosial budaya yang terjadi di sekitar si karakter, dan hal lain yang ada di luar dirinya bahkan caranya berpikir dan merespon yang terjadi di luar dirinya adalah unsur-unsur yang mampu membentuk ritme karakter. 

Kita ambil contoh tokoh Dustin Hoffman dalam film Kramer vs Kramer misalnya. Dalam film ini kita bisa melihat bahwa ia memiliki ritme yang sangat cepat. Kita kemudian bisa sedikit melogikakan dan menyimpulkan dari mana datangnya ritme secepat itu. Dari informasi yang ada di film, kita tahu bahwa ia adalah seorang workaholic, tinggal di sebuah kota dengan mobilitas yang tinggi, dan ia adalah orang dengan tingkat kesibukan yang tinggi, dimana ia bisa rapat di pagi hari, lalu dalam sehari bisa rapat beberapa kali dan harus mengejar banyak pekerjaan. Kondisi itu membuatnya memiliki ritme yang sangat cepat.

Jika dalam film Kramer vs Kramer ini kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa tempat dimana si tokoh hidup sangat mempengaruhi ritme yang dimilikinya, maka membahas bagaimana kondisi sosial bisa mempengaruhi ritme manusia jadi menarik. 

Sosial yang Mempengaruhi Ritme

Bagaimana sosial bisa mempengaruhi ritme seseorang? Kami tidak punya kutipan buku apapun soal ini. Tapi kami menyadari satu logika yang jelas bahwa apapun yang tertangkap oleh indera manusia, ia akan bisa merubah manusia itu, sedikit atau banyak, seketika atau perlahan.  

Kami akan coba memberikan analogi yang sederhana soal bagaimana sosial bisa mempengaruhi Ritme; 

Sekarang bayangkan bahwa kalian hidup di sebuah tempat yang tenang. Setiap orang dalam lingkungan itu bergerak dengan tempo yang cenderung lambat. Tidak ada dari mereka yang berlari, mereka semua berjalan, dengan ritme yang lambat. Mungkin, ketika hari pertama atau kedua, atau minggu pertama atau minggu kedua kalian hidup di tempat itu, tidak akan merubah ritme kalian. Tapi lingkungan yang mengelilingi kalian itu, disadari atau tidak, “memaksa” kalian untuk mengikuti ritme mereka. Perlahan tapi pasti, dan tidak bisa diingkari, kalian akan merubah ritme diri kalian menjadi lebih lambat.  

Analogi lain yang semoga lebih dekat dan jelas; Ketika kalian masih duduk di bangku sekolah, entah SD, SMP, atau SMA, kalian bisa pilih. Lalu kalian duduk dengan teman yang pendiam, atau dengan teman yang tidak bisa diam. Ada 2 hal yang mungkin terjadi, pertama, kalian akan nyaman dan mengikuti ritmenya, atau kalian akan tidak nyaman, mencoba merubah ritme lawan main kalian (dalam hal ini teman sebangkumu. Kamu bisa melakukannya dengan mengajaknya melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukannya) atau jika kalian gagal, maka kalian akan pergi dari lingkungan tersebut. 

Dari setidaknya dua analogi yang semoga cukup sederhana dan bisa dipahami itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sosial, sekecil apapun, jika itu dialami terus menerus, maka ia bisa merubah sesuatu dalam tubuh manusia, dalam hal ini ritme. 

 

Kenapa Ritme Penting Dalam Seni Peran?

Setelah pembahasan yang agak acak adul di atas soal ritme, sosial, dan karakter di atas, sekarang pertanyaan selanjutnya adalah kenapa ritme dari seorang tokoh itu penting untuk diketahui dan dimainkan? Bahkan tidak hanya dimainkan saja, tapi juga dijadikan prinsip atau pegangan ketika bermain. Kenapa? 

Kalau kita bicara seni peran, maka kita juga bicara seni (Jelas, karena dalam seni peran ada kata seni, gimana sih?!). Woles men, maksudnya begini, dalam seni ada yang namanya proporsi dan komposisi. Dimana mungkin kami bisa bilang jika tidak ada komposisi yang beragam dan proporsi yang beragam, maka sebuah karya seni menjadi tidak menarik. Atau bahasa paling sederhananya menjadi monoton dan membosankan lah. 

Dalam wilayah populer sekarang ini mungkin yang bisa jadi contoh adalah mbak-mbak yang jadi pengisi suara di Google Translate. Gimana? Cukup membosankan mendengarkan si mbak berbicara? Atau bahkan muak mendengarkannya berbicara? Jelas! Kenapa? Karena ritmenya sama, temponya sama, nadanya sama, hampir semuanya sama sehingga sangat membosankan. 

Nah, kembali lagi soal ritme dalam seni peran, kenapa ia jadi penting? Karena ritme yang akan memberikan warna pada film secara keseluruhan. Itu kalau kita bicara film secara keseluruhan. Kalau kita perkecil lagi, ke tokohnya sendiri? Maka kita juga bisa menemukan warna yang menarik pada tokoh tersebut. 

Lihat apa yang terjadi di film Kramer vs Kramer. Dustin Hoffman hidup dengan ritme yang sangat cepat. Tapi Meryl Streep dan anaknya hidup dengan tempo yang cenderung lebih lambat. Lalu ketika keduanya digabung, apa yang kita dapatkan? Sebuah kombinasi ritme yang menarik. Film Kramer vs Kramer juga jadi tidak membosankan. Karena pada satu waktu kita akan diajak berlari dengan Dustin Hoffman sebagai pemimpinnya, dan di satu waktu yang lain kalian akan diajak nyelow sama Meryl Streep dan anaknya. Lalu ketika keduanya ada di satu adegan yang sama? Kalian akan diberikan asupan yang kaya rasa. 

Jadi kesimpulannya kurang lebih begini; ritme sangat penting dalam seni peran. Kenapa ia penting? Karena ritme memberikan warna lain pada si tokoh. Dimana kemudian tokoh tersebut juga berperan memberikan warna pada film tersebut. Ketika sebuah film terasa “berwarna” dan memiliki kombinasi “warna” yang menarik, maka kita bisa menikmati film tersebut. 

Tulisan kali ini memang agak amburadul. Maklum, kami sedang mencari bentuk tulisan yang paling tepat, bukan hanya untuk membuat kalian lebih tahu, tapi juga membuat kami tumbuh. Feel free kalau ingin memberikan masukan, kami sangat terbuka. Terima kasih, viva aktor! 

%d bloggers like this: