[Acting Review] Joker; Sense of Truth yang Baik

Joker

Joker, siapa yang tidak tersita perhatiannya dengan film ini? Hampir semua orang tersita perhatiannya. Film ini pun mendapatkan banyak sekali pujian sejak pertama kali ia dipertontonkan ke publik. Bahkan tak sedikit reviewer yang memberikan nilai sempurna untuk film ini. Pujian datang untuk berbagai aspek dalam film ini. Salah satunya untuk permainan si aktor, Joaquin Phoenix. 

Tidak dipungkiri, permainan Joaquin Phoenix di film ini adalah salah satu yang paling kami tunggu sejak pertama kali berita tentang film ini akan dibuat rilis.Kami menunggu karena kami juga tahu bagaimana kualitas permainan aktor yang beberapa kali masuk nominasi Oscar tapi tak pernah sekalipun mendapatkan penghargaan di ajang tersebut. 

Bagaimana sebenarnya permainan Joaquin Phoenix dalam film ini? Apakah benar-benar spesial? Apakah capaiannya sempurna? Dan apakah Best Actor Oscar sudah pasti ada dalam genggamannya? Berikut pembahasan lengkapnya;

 

 

Joker Sebagai Hasil Ciptaan yang Utuh

Melihat pencapaian Joaquin Phoenix di film ini, maka kita harus melihat setiap aspek yang ia ciptakan. Karena kesan pertama setelah selesai menonton film ini selain “Anj*ng” dalam arti buruk dan baik adalah ciptaan yang utuh. Hampir tidak ada aspek yang tidak tercipta dengan baik pada permainan Joaquin Phoenix.

Kita mulai pada penciptaan fisiologis yang paling mudah terlihat. Pada bagian ini sudah jelas terlihat perubahan fisik yang signifikan. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari beberapa berita, Joaquin Phoenix menurunkan berat badannya hingga 24 kilogram. Dengan penurunan berat badan sebesar itu, secara fisik ia sudah tampak berbeda. Tapi bukan soal menurunkan berat badannya yang menarik. Justru detail tubuh yang ia ciptakan setelah ia menurunkan berat badan. 

Jika kalian perhatikan baik-baik, terutama ketika adegan di depan loker dan ia tak memakai baju, kamu akan melihat tulang belikat yang seperti menonjol sebelah. Bentuk itu sangat menarik bahkan ketika hanya diam saja. Kami penasaran, apakah memang tulang belikat Joaquin berbentuk seperti itu atau ia sengaja menciptakannya. Anyway, kalau misalnya sengaja diciptakan, tentu kami sangat angkat topi. Itu artinya penguasaan Joaquin Phoenix atas tubuhnya sangat baik. Tapi jika tidak, jika bentuk itu muncul karena efek dari penurunan berat badan hingga 24 kilogram, kami juga tetap angkat topi. Setidaknya karena berat badannya yang turun drastis. 

Masih pada aspek fisiologisnya. Kali ini pada bentuk tubuh ketika berhenti, berdiri, dan duduk. Kita bisa melihat bentuk tubuh yang lain. Terutama ketika ia masih menjadi Arthur Fleck. Bentuk tubuhnya menarik. Jika dalam posisi berdiri, kita bisa melihat bentuk yang sedikit bungkuk. Lalu pada posisi duduknya ketika menjadi Arthur Fleck, misalnya di adegan bis, kalian bisa melihat posisi duduk yang dalam bahasa kami, insecure, sama seperti Arthur Fleck yang insecure

Kita masih bicara fisiologis Arthur Fleck, belum ketika ia menjadi Joker. Berlanjut ke cara berjalan. Kita bisa melihat bentuk berjalan yang relevan dengan bentuk diamnya. Jika ketika diam ia tampak agak bungkuk, ketika berjalan Joaquin Phoenix mempertahankan bentuk itu. Ia seperti menyadari soal anatomi tubuhnya dengan baik sehingga hal itu juga membantunya menciptakan cara berjalan yang berbeda dari tokoh yang ia mainkan sebelumnya. 

Soal cara berjalan, kami sebenarnya menangkap bentuk yang hampir mirip dengan tokoh yang ia ciptakan di The Master. Cara berjalannya sama-sama menunduk. Tapi yang membuat berbeda adalah tingkat menunduknya serta arah leher. Jika di The Master arah leher si tokoh menjulur ke depan, sementara Arthur Fleck berusaha lurus ke atas. Sementara di The Master, tokoh yang dimainkan Joaquin Phoenix tampak sangat menunduk, sementara pada Arthur Fleck terlihat sedikit menunduk. 

Tapi karena arah leher yang condong ke atas, bukan ke depan seperti tokohnya di The Master, sehingga kesan yang muncul adalah tubuh yang tegap. Tapi perhatikan baik-baik. Pundaknya sedikit lebih naik dari pada lehernya. Hal ini perlu diperhatikan karena ketika menjadi Joker, bentuk ini hampir hilang. 

Masih pada tahapan fisiologis Arthur Fleck. Mohon maaf sebelumnya, soal fisiologis akan sangat panjang. Karena memang capaiannya cukup banyak dan menarik. Kali ini soal warna suara. Coba bandingkan dua video ini;

Dan video ini;

Pada dua video tersebut kita bisa mendengar warna suara yang hampir sama. Warna suara Joaquin Phoenix ketika menjadi Arthur Fleck dan Joker terasa sedikit lebih berat cempreng jika dibandingkan dengan suara Joaquin yang asli. Selain itu tempo bicara keduanya juga berbeda. Kami tahu bahwa tempo bicara juga dipengaruhi oleh suasana, emosi dan peristiwa. Tapi ingat, setiap orang punya tempo bicara yang berbeda-beda. 

Kami bertanya-tanya, apa yang membuat ciptaan Joaquin Phoenix ini tampak berbeda? Tak dipungkiri bahwa di awal kami menganggap suara Joaquin Phoenix dan Arthur Fleck berbeda jauh. Tapi setelah kami dengarkan lagi, ternyata suara keduanya hampir sama. Atau kami bisa bilang hampir tidak ada perubahan. 

Kami berusaha mencari alasan kenapa kesan suara yang berbeda itu muncul. Kemudian kami menemukan kesimpulan sementara. Kesan yang berbeda itu berhasil muncul lantaran komponen lain yang membuat suaranya kedengaran berbeda. Seperti misalnya cara tertawa, jeda pengucapan tiap kalimat, cara beberapa kata muncul, bahkan bentuk tubuh si Arthur Fleck. Padahal jika kalian mengulang dua video itu beberapa kali, kalian akan mendapati suara yang hampir mirip. Tapi dengan bantuan komponen lain, suara yang tidak cukup berubah itu jadi terkesan memiliki perubahan. 

Lalu ketika ia menjadi Joker, perubahan yang tertangkap pertama adalah gesture. Coba perhatikan baik-baik. Ketika Joaquin Phoenix menjadi Arthur Fleck, gesture tubuhnya cenderung masuk ke dalam. Tubuhnya cenderung mengecil. Dimana kalau kami berusaha menyimpulkan, hal itu terjadi karena kondisi psikis si tokoh yang merasa dirinya ditekan dari berbagai sisi. 

Sementara ketika ia menjadi Joker, bahkan bentuk tubuh yang agak menunduk tadi hilang. Bentuk tubuhnya jadi lebih terbuka dan gerakan-gerakan tubuhnya pun jadi lebih luas. Berbeda ketika ia menjadi Arthur Fleck dimana gerakan tubuhnya terlihat sempit.

Selain gesture tubuh secara keseluruhan, arah leher dan arah pandang mata si Joker dan Arthur Fleck terlihat berbeda. Jika di Arthur Fleck arah pandangnya cenderung ke bawah dan mengecil, di Joker, arah pandangnya hampir selalu ke depan atau ke atas. Arah pandang itu juga yang kami rasa mempengaruhi bentuk lehernya. Perhatikan baik-baik ketika ia menjadi Joker. Dagunya nampak sedikit terangkat, pandangan matanya ke depan dan ke atas. 

Kami merasa bahwa hal itu terjadi karena kondisi psikis Joker yang ketika ia menjadi Arthur Fleck, dirinya selalu merasa insecure, sementara saat menjadi Joker, rasa tidak aman itu hilang seketika. Hal itulah yang membuat semua bahasa tubuhnya tampak lebih berani. 

Joker

 

 

Pseudobulbar Affect dan Cara Tertawa yang Menyita Perhatian

Apa yang paling mencuri perhatian dari permainan Joaquin Phoenix sebenarnya? Jawabannya adalah penyakit ini; Pseudobulbar Affect atau Pathological Laughter. Inilah yang hampir selalu menjadi headline di semua media. Tidak dipungkiri, pilihan Joaquin Phoenix untuk menggunakan Pseudobulbar Affect ini tepat. Kenapa bisa begitu?

Pertama, ketika Pseudobulbar Affect ini muncul, bentuknya sangat mencuri perhatian. Bukan hanya dari bentuk tertawa yang diciptakan oleh Joaquin Phoenix yang jauh berbeda dari tertawanya di film lain dan di kehidupan nyata. Tapi juga karena bentuk tawa yang seolah relevan dan menjawab pertanyaan banyak orang kenapa tokoh Joker (di film yang lain) memiliki bentuk tertawa seperti itu.

Kedua karena bentuk yang diambil oleh Joaquin Phoenix ini benar-benar ada di kehidupan nyata. Prinsip yang sama yang diucapkan oleh Stanislavski yakni Sense of Truth. Dimana si aktor mengambil bentuk dari dunia nyata dengan tujuan agar dekat dengan penontonnya dan membantu penonton relate serta merasakan keaslian atas ciptaan si aktor.   

A sense of truth depends on physical, naturalistic details, which actors draw from real life to provide both themselves and the audience with a feeling of authenticity – that ‘this looks like something that we recognise from real life’. (Merlin, 2003: 57)

Ketiga, karena saat Joaquin melakukannya, kita bisa melihat perjalanan tawa yang jelas. Bahkan ketika ini adalah sebuah penyakit yang mengganggu saraf dan muncul seketika. Joaquin Phoenix tetap memunculkannya tahap demi tahap. Ia tidak memunculkan tawa ini tiba-tiba. Coba perhatikan baik-baik. Penyakit ini muncul ketika ia sedang ada dalam sebuah kondisi emosi besar. Entah itu sedih, senang, takut, atau bingung. Kemudian ketika ia berusaha mengendalikan emosinya, penyakit ini muncul. 

Munculnya pun tidak seketika ketawa. Kita bisa melihat ada tahap-tahap yang terjadi. Biasanya dimulai dari ketawa kecil, seperti di adegan bis. Kemudian muncul upaya mengendalikan penyakit ini terlebih dahulu. Meskipun ia tetap tidak bisa mengendalikan penyakit ini, tapi upaya mengendalikan di awal membuat bentuk tertawanya tidak artifisial atau palsu. 

Meski begitu, pada adegan kereta, kita bisa melihat tawa yang meledak. Tapi coba perhatikan baik-baik ekspresi wajahnya dan tegangan yang terjadi pada otot Arthur Fleck. Semuanya mengarah pada proses kemunculan tawa yang seolah mendadak itu. Jika diperhatikan baik-baik, tidak ada yang mendadak dalam kemunculan tawanya.

Kami memang tidak sangat paham dengan penyakit ini. Psikolog yang lebih tahu bagaimana penyakit ini berjalan. Tapi rasa-rasanya, dengan menggunakan logika paling sederhana; tak ada sesuatu dalam semesta ini yang muncul tiba-tiba. Semua ada tahapan, proses dan alasannya. Tinggal apakah si manusia itu menyadari keberadaan proses tersebut atau tidak. 

Prinsip yang sepertinya juga harus dipegang oleh banyak aktor. Bahwa bentuk yang ia munculkan tidak boleh asal dan seketika muncul. Ingat bahwa bentuk itu muncul karena banyak kondisi. Mulai dari kondisi psikis, fisiologis, sosiologis, dan lain sebagainya. Dengan menyadari alasan di balik kenapa bentuk itu muncul, maka bentuk yang dilahirkan menjadi bernyawa. Dan itulah yang dilakukan oleh Joaquin Phoenix.  

Ada satu lagi yang mau kami tambahkan atas penciptaan “tertawa” si Joaquin Phoenix. Ketika ia berusaha mengendalikan penyakitnya, kami yang menonton merasakan kesakitan yang sama. Kenapa? Kami pikir karena Joaquin Phoenix begitu mempercayai apa yang sedang terjadi padanya sebagai tokoh. Ingat, acting is believing kan?

 

 

Lalu Kenapa Joker Bagus?

Pertanyaan yang sama masih terngiang. Kenapa permainan Joaquin Phoenix di Joker terasa dan terlihat bagus? Kami menduga, selain karena penciptaan Joaquin Phoenix, juga karena andil sutradara serta DOP. Coba perhatikan baik-baik. Pada beberapa adegan, misalnya ketika ia menari di kamar mandi. Pada adegan tersebut beberapa gambar diambil dengan close up. 

Memang benar bahwa adegan itu muncul karena improvisasi dari si aktor. Tapi nampaknya jika improvisasi itu tidak ditangkap dengan baik oleh DOP dan sutradara, tidak akan jadi sebagus itu. 

Selain itu ketika Joker menari di tangga. Coba perhatikan, pada adegan itu kebanyakan shoot yang diambil dibuat lambat atau slow mo. Kami pikir karena slow mo itu, tarian yang sebenarnya biasa saja, jadi terasa kuat. Intinya, tidak dipungkiri bahwa yang juga “menyempurnakan” permainan Joaquin Phoenix di Joker adalah Todd Phillips, dan divisi lain. 

 

Peluang Joker di Oscar

Sekarang kita bicara peluang si Joaquin Phoenix di Oscar. Banyak yang menduga bahwa ia sangat mungkin mendapatkan Oscar tahun depan. Apakah benar begitu? Bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Kenapa? 

Iya, karena Joaquin Phoenix memiliki capaian yang memuaskan hampir pada semua aspek. Mulai dari fisiologis, sosiologis, hingga psikologis. Capaiannya adalah “selera para voters” di Oscar. Tapi bisa jadi tidak karena tahun ini Best Actor Oscar akan sangat panas peta persaingannya. 

Dalam kacamata kami, Joaquin Phoenix masih mungkin tidak mendapatkan Oscar jika permainan Christian Bale di Ford vs Ferrari memiliki capaian yang lebih lengkap dan gap antara dirinya sebagai aktor dan tokoh lebih jauh. Sebatas yang kami lihat di trailer, soal suara dan tubuh, ada perubahan signifikan. Meskipun soal adegan dengan emosi besar kami belum bisa melihatnya. Tapi Joaquin Phoenix tetap perlu berhati-hati. 

Lalu bagaimana dengan saingan yang lain? Apa tidak ada? Kami tak melihat saingan yang berarti untuk Best Actor selain Christian Bale. Adam Driver yang digadang-gadang masuk Oscar pun tampaknya harus puas di nominasi saja. Termasuk Jonathan Pryce di The Two Popes dan Brad Pitt di Ad Astra. Tapi, ini hanya dugaan kami. Bisa jadi meleset. 

Itu tadi sedikit pembahasan soal permainan Joaquin Phoenix. Secara garis besar sudah jelas oke. Hampir tidak ada celah pada permainan Joaquin Phoenix. Satu pelajaran yang patut di ambil oleh para aktor adalah untuk selalu bersungguh-sungguh dalam mencipta dan bersungguh-sungguh atas apa yang sudah kalian ciptakan

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: