[Acting Review] A Beautiful Day in the Neighborhood; Tom Hanks, Kedalaman yang Aneh

A Beautiful Day in the Neighborhood adalah film yang dibintangi Tom Hanks dan rilis sekitar tahun lalu. Film ini kurang lebih bercerita tentang Lloyd Vogel, seorang penulis yang saat itu ditugaskan untuk menulis tentang Fred Rogers. Film ini mendapat banyak penghargaan dan nominasi ketika rilis. Tom Hanks pun mendapatkan banyak pujian atas permainannya. Secara garis besar, kami menyebut permainan Tom Hanks, setelah selesai menonton, strangely deep. Permainannya terasa dalam tapi ada yang aneh. Apa itu? Berikut pembahasannya;

Tom Hanks

 

 

Tom Hanks Cukup Signifikan

Sebelum kita membahas kenapa kedalamannya terasa aneh, bahkan dari menit pertama, kami ingin membahas pencapaian Tom Hanks secara menyeluruh terlebih dahulu. Capaian-capaian ini yang bisa dilihat dan bisa menjadi salah satu parameter apakah Tom Hanks cukup berhasil bermain menjadi Fred Rogers. 

Kita mulai dari yang muncul di adegan pertama. Kami melihat Hanks bernyanyi. Tentu ini sebuah capaian. Mengingat ada semacam standar yang tidak disebutkan bahwa seorang aktor mestilah mampu menyanyi, menari, dan tentunya berakting. Hanks melakukan itu. Lebih menarik lagi, bukan hanya soal nyanyiannya, tapi bagaimana Hanks bisa menyanyi dengan dua warna suara yang berbeda. Pertama ketika ia menjadi Fred Rogers dan yang berikutnya ketika ia memainkan Daniel, boneka musang atau singa, atau kucing, atau apalah itu, kami tak terlalu jelas melihatnya. 

Menyanyi saja sudah jadi sebuah capaian yang menarik. Apalagi menyanyi dengan warna suara yang lain. Sekedar informasi, tak ada banyak aktor yang mampu menyanyi dengan warna suara tokoh. Biasanya, ketika ada aktor yang bermain dalam sebuah film, ia mungkin akan merubah warna suaranya ketika bicara. Tapi ketika bernyanyi, ia menggunakan warna suaranya sendiri. Entah apa alasannya. Salah satu contohnya ketika Bradley Cooper bermain di A Star is Born. Ia memang merubah warna suara ketika sedang berdialog biasa. Tapi saat bernyanyi, Bradley kembali ke warna suaranya. Nah, Hanks tidak begitu. Ketika ia menjadi Daniel, ia sepenuhnya merubah warna suaranya entah itu ketika bernyanyi atau ketika dialog. 

Di film ini Hanks juga berhasil memunculkan setidaknya 3 warna suara yang berbeda. Terutama ketika ia menjadi boneka-boneka yang dimainkannya. Kami rasa itu memang karena kemampuan Fred Rogers yang mau tak mau harus Hanks kuasai juga. 

Tapi sayang, jika kami kembali pada warna suara Fred Rogers yang asli, dan mendengar warna suara Hanks, terutama ketika berdialog, kami tak melihat sedikitpun kemiripan. Coba lihat video Fred Rogers dan Tom Hanks ketika menjadi Fred Rogers berikut ini. 

https://youtu.be/_biMtzAxiy0

Kalian bisa langsung lompat ke Fred Rogers tua. Sekitar di pertengahan video itu. Lalu coba bandingkan dengan warna suara Hanks ketika menjadi Fred Rogers. 

Suara Hanks tidak mirip sama sekali dengan Fred Rogers. Ini bisa jadi bukan sebuah kekurangan, karena jika kita memegang paham bahwa ketika bermain biopic, ada “ruang kesenimanan” yang mana tujuannya bukan menjadi semirip mungkin, maka Hanks bermain sempurna. Sayangnya, paham itu sepertinya bukan jadi paham yang umum. Pasalnya ada banyak aktor yang bermain biopic berusaha sekali mengejar bentuk tokohnya semirip mungkin. 

Tapi terlepas dari itu semua, jika kita dengarkan di film cara Hanks berbicara dan Fred Rogers bicara, keduanya memiliki tempo yang sama dan pilihan nada yang hampir sama. Hal itu memberikan kesan yang nantinya akan mengarahkan kita pada “strangely deep” atau kedalaman yang aneh. 

Selain capaian suara yang dimiliki Hanks, kami juga melihat capaian lain yakni pada bentuk tubuh, bahasa tubuh, dan ritme tubuhnya. Pada bentuk tubuh, secara spesifik kami melihat bentuk punggung yang sedikit diubah dan bahasa tubuh yang selaras dengan bentuk tubuhnya. Ciptaan ini memang tidak sangat signifikan, tapi ciptaan pada aspek tubuh yang terbilang minim itu berhasil menguatkan kesan tenang, dan dewasa ala Fred Rogers. 

Selain itu, kami tak menemukan capaian fisiologis lain. Sisanya adalah permainan emosi dan kedalaman yang aneh. 

Kedalaman yang Aneh

Itu yang kami tulis di catatan kami saat pertama kali melihat Hanks bermain. Adegannya tepat setelah ia membuka acaranya dan bicara pada penonton. Entah apa yang sedang terjadi, kami merasakan kedalaman yang aneh dan ada sesuatu yang luar biasa menentramkan dan membuat haru yang mendadak menyentuh perasaan kami ketika menonton. 

Kami masih bertanya apa yang terjadi? Kenapa Hanks bisa memunculkan kesan itu. Kode tubuh apa yang berhasil ia capai sehingga bisa membuat kami tersentuh dengan cara yang aneh. 

Awalnya kami mengira kesan dalam yang aneh itu muncul karena cara bicara tokoh yang nadanya sengaja dibuat rendah, bertempo pelan, tapi pasti dan jelas sehingga kami tersentuh. Tapi setelah kami menonton sampai selesai, ternyata bukan hanya itu yang bisa membuat kesan kedalaman yang aneh ini muncul. 

Nada dan tempo bicara memang salah satu alasan kenapa Hanks berhasil menyentuh kami yang menonton dengan cara yang aneh. Tapi selain nada dan tempo bicara, ada hal lain yang membuat kesan itu begitu kuat muncul. Kami merasa tokoh ini seperti memiliki visi yang sangat kuat dan jelas ketika ia bicara. Hanks seperti tahu dengan siapa ia bicara, apa yang mau disampaikannya, dan respon apa yang diinginkan Hanks untuk ditangkap oleh penonton. 

Visi yang sangat jelas itu mampu membuat setiap kata dan bahkan laku yang dilakukan Hanks ketika menjadi Fred Rogers benar-benar tidak ada yang sia-sia. Semua lakunya berarti. Fred Rogers yang diciptakan Hanks terlihat dan terasa luar biasa sempurna. 

Kami mendapatkan jawaban kenapa Tom Hanks bisa memunculkan kesan yang begitu kuat tapi sekaligus aneh di salah satu adegan. Pada adegan itu kurang lebih Fred Rogers berkata bahwa setiap kali ia berdialog, ia membayangkan dirinya sedang berbicara kepada seorang anak dan langsung melihat jauh ke dalam mata anak tersebut. Ia berusaha sepenuhnya hadir sesuai perasaan dan kebutuhan siapapun yang sedang ia ajak bicara. Kalau konteksnya adalah pertunjukan yang dilakukan Fred Rogers, berarti pada penonton.

 

 

Tapi prinsip bicara itu tak hanya ia lakukan ketika sedang melakukan pekerjaannya. Dalam beberapa adegan ketika ia bertemu dengan Lloyd dan berbincang dengan si jurnalis itu, kami melihat cara yang sama persis dipakai oleh Fred Rogers. Seperti apa yang ia bilang, ia hadir sesuai perasaan dan sesuai apa yang sejatinya dibutuhkan oleh Lloyd. Kalau kita melihat sekilas memang terkesan seperti memaksa. Tapi kalau kita melihat lebih jauh di beberapa adegan, Fred Rogers adalah tokoh yang “membaca dulu” siapa yang akan ditemui. Dari sana ia akan mengetahui apa yang sebenarnya sedang dirasakan si partner bicaranya dan apa yang si partner bicaranya butuhkan. Itulah yang membuat tokoh Fred Rogers ini strangely touching and deep. Menyentuh dan dalam dengan cara yang aneh. Anyway, perasaan itu bahkan masih tersisa sampai saat kami menulis acting review ini. 

Visi yang jelas sebenarnya sudah menjadi kunci. Karena visi yang jelas itu adalah akar dari segalanya. Dengan visi yang jelas, Hanks jadi tahu bagaimana cara menggunakan tubuh, suara, dan terutama matanya. Coba perhatikan baik-baik pada hampir semua adegan. Kita bisa melihat Hanks selalu memperhatikan lawan mainnya dengan baik. Matanya hampir selalu fokus pada mata lawan mainnya. Tapi tidak menekan atau memburu. Pandangan matanya begitu menentramkan. 

Hanks juga memilih kecepatan respon yang tepat. Pada beberapa adegan ketika berhadapan dengan Lloyd, kita bisa melihat ada beberapa momen Rogers berusaha untuk mendengarkan Lloyd, membiarkan ada jeda yang panjang di sela perbincangan mereka dan di satu waktu yang lain tampak sedang memburu. Ketepatan memilih respon ini yang menurut kami menjadi salah satu alasan kenapa tokoh ini begitu kuat menyentuh tiap orang yang melihatnya. 

Di adegan “silence for one minute”, di sebuah restoran, kami bisa melihat hal itu. Kami melihat perjalanan pikiran dan perasaan dari Rogers yang pasti, tapi tenang. Ia tahu akan kemana pikirannya. Jika kami boleh mengandaikan, Rogers ciptaan Hanks seperti Dalai Lama. Ia berhasil menguasai dirinya secara menyeluruh. 

Tapi ada yang lebih menarik lagi di luar soal kedalaman yang aneh ini. Hal tersebut muncul di adegan terakhir. Dari adegan awal sampai akhir, kami hampir tak pernah melihat Rogers ciptaan Hanks marah. Tapi di adegan akhir, kami melihat ia marah dengan caranya. Disanalah, kami yang awalnya berpikir Rogers ciptaan Hanks adalah manusia sempurna, nyatanya ia tetap manusia biasa. Ia hanya lebih baik dalam mengendalikan diri dan perasaannya saja. 

Melihat permainan Tom Hanks di A Beautiful Day in the Neighborhood membuat kami ingat bahwa di luar soal capaian fisiologis dan permainan emosi yang dalam dan meledak-ledak, ada satu hal yang harus dicapai si aktor. Ia harus tahu betul apa visi tokohnya. Dengan cara itu ia tahu akan kemana. Dan yang paling penting, si aktor tidak akan berusaha menguasai tokoh tersebut, melainkan membiarkan tokoh membawa diri si aktor sesuai visi tokoh itu sendiri. 

Terima kasih, viva aktor! (Sambil mengusap air mata yang turun karena lagu A Beautiful Day in the Neighborhood)