fbpx

[Acting Review] Little Women; Ciptaan yang Asing dan Berjarak

Little Women

Little Women adalah film garapan Greta Gerwig yang kami tak bisa sangkal memang film yang menarik dan berkualitas. Secara cerita kami sangat terpuaskan. Cara Greta bertutur juga membuat kami puas meski dengan alur yang maju mundur. Lalu bagaimana dengan permainan para cast di film yang diadaptasi dari novel ini? Apakah permainannya sebaik hasil penyutradaraan Greta? Berikut pembahasannya;

Hasil Ciptaan Little Women yang Asing

Kesan yang pertama kali kami dapatkan ketika menonton film ini, menyaksikan bagaimana para castnya bermain dan melihat ensembel permainan mereka adalah ciptaan yang terasa jauh dan asing sekali dari latar waktu terjadinya peristiwa di film. Apa maksudnya? Film Little Women ini berlatar tahun 1860an. Dimana era ini berdekatan dengan era film lain seperti Gangs of New York, dan Lincoln. Kami merasa bahasa tubuh yang dipakai oleh para cast di Little Women ini tidak relevan dengan bahasa tubuh era itu. Kami tentu menggunakan film lain, yang kami sebutkan di atas sebagai perbandingan. Bukan hanya sekedar film lain, tapi film lain yang punya kualitas penciptaan yang tidak diragukan lagi. Atau mau meragukan Daniel Day-Lewis, Leonardo DiCaprio, dan film garapan Martin Scorsese dan Stephen Spielberg? 

Bagi kami, setidaknya 2 film itu bisa menjadi tolak ukur bagaimana seharusnya laku tubuh era 1860 an. Nah, di film Little Women, kami tak mendapati laku tubuh yang senada dengan eranya. Kami masih melihat laku tubuh yang bahkan cenderung kekinian. Kami melihatnya tentu secara garis besar. Sebab jika diperhatikan lebih detail lagi, kami menemukan laku tubuh yang tetap relevan dengan zamannya. Hanya saja jumlahnya kecil dan hampir tidak terlihat. Seperti di beberapa momen ketika entah Saoirse Ronan, Florence Pugh, Emma Watson atau tokoh lain merespon baju mereka.   

Tapi tetap ada beberapa pemain, hanya 2 sejauh penglihatan kami yang berusaha dan berhasil membuat laku tubuh mereka relevan dengan tahun terjadinya peristiwa. Mereka adalah Timothee Chalamet dan Meryl Streep. Kami mendapati keduanya memiliki bahasa tubuh yang tertata dan sesuai dengan era mereka. Bukan, jangan berpikir kalau ini soal kasta. Jangan bilang kalau Laurie, tokoh Timothee dan tokoh yang dimainkan Meryl Streep adalah tokoh yang berkasta tinggi sehingga bahasa tubuhnya lebih terlihat jelas dan ada perbedaan. Jika kalian melihat baik-baik, bahkan figuran yang menjadi keluarga miskin dan anaknya meninggal karena sakit saja laku tubuhnya kami rasa tetap relevan dengan tahunnya. Sementara laku tubuh keluarga Saoirse Ronan dan Florence Pugh terasa modern sekali. 

Kami tak ingin membahas capaian fisiologis kali ini. Kenapa? Karena memang tak ada. Ini yang membuat kami bingung kenapa Saoirse Ronan dan Florence Pugh bisa masuk Oscar. Permainan keduanya menurut kami tidak sangat mencengangkan. Saoirse tidak merubah suaranya, hampir tidak ada bahasa tubuh yang diubah secara signifikan, dan bagi kami melihat permainan Saoirse Ronan, kendaraan yang ia pakai untuk tokoh Jo march ini tidak diubah. Ia masih memakai tubuh dan bahasa tubuh Saoirse Ronan yang kami lihat entah itu di Lady Bird, atau di filmnya yang lain. 

Tapi Saoirse Ronan tak muncul tanpa capaian sama sekali. Sejauh yang kami lihat, jika capaian satu dua aspek fisiologis Saoirse Ronan tak cukup signifikan, pada aspek lain di fisiologis Saoirse Ronan bermain cukup apik. Aspek tersebut adalah ritme tubuh. Kami merasa ritme tokoh ini lebih cepat. Selain itu Saoirse juga berhasil memunculkan bisnis acting yang menarik. Kita bisa melihat itu salah satunya di adegan pertama. Kami angkat topi juga tentunya untuk DOP karena menangkap laku tubuh itu. Kerjasama yang apik. 

Lalu soal permainan emosi, kami melihat capaian yang cukup baik. Misalnya saat adegan Saoirse marah karena karyanya dikritik oleh Friedrich Bhaer, kami melihat perjalanan perasaan dan pikiran yang menarik. Dalam laku Saoirse kami melihat keangkuhan, ego, dan upaya bertahan yang besar atas kritik yang ditujukan padanya. Kemarahannya muncul dengan tangga yang menarik, dan kontrol yang (mungkin) relevan dengan latar belakang sosial tokohnya.

 

 

Permainan emosi yang menarik lainnya ada di adegan ketika Timothee menembak Saoirse dan Saoirse menolaknya, kami melihat permainan emosi yang menarik baik dari Timothee dan Saoirse. Satu adegan panjang yang keduanya berhasil mendengarkan dengan baik. Dari adegan itu kami jadi tahu bahwa sepertinya tokoh yang dimainkan Saoirse adalah tokoh rebel atau pemberontak atas banyak hal. Dengan cara berpakaian yang dipilih, ritme tokohnya, semuanya jadi relevan. Tapi sayangnya laku tubuhnya kami rasa masih terlalu modern, seperti yang sudah kami sebutkan di atas. 

Di adegan ketika berbincang dengan Marmee, ibunya, di loteng, intensitas emosi Saoirse cukup baik. Ledakannya menarik dan relevan dengan tokoh yang sedang dibangunnya. Seorang “pemberontak” yang mengendalikan banyak emosi dan berusaha kuat atas apapun yang sedang dihadapinya. Kekuatan itu masih terlihat, tapi perasaan lelah itu tetap muncul. Kombinasi perasaan yang menarik.

Lalu adegan lain dengan emosi yang menarik terjadi ketika Timothee mengatakan kalau ia menikahi Pugh. Pada adegan itu respon Saoirse menarik. Ada layer emosi yang berjalan baik. Sebuah kekecewaan, rasa marah, kesedihan, keterkejutan, semuanya campur jadi satu tapi berhasil dikendalikan dengan baik oleh Saoirse dan dimunculkan dengan porsi yang sesuai. 

Sementara untuk Florence Pugh pun sama. Kami tak melihat ada perubahan yang signifikan pada 3 dimensi tokohnya di Little Women. Pada fisiologis kami tak menemukan perubahan besar kecuali sedikit pada cara berjalan. Itu pun tipis sekali. Kalau kalian tak melihatnya dengan baik, kalian tak akan mendapati cara berjalan yang berbeda. Cara berjalan Pugh yang berbeda terlihat ketika adegan ia berada di rumah Meryl Streeps. Kita bisa melihat cara berjalan yang sedikit diubah, baik tempo dasar atau bentuk berjalannya sendiri. Tapi itu kecil, tipis, dan sebentar. Sehingga tak bisa membuat siapapun yang melihatnya tercengang karena ciptaannya. 

Pugh pun memiliki beberapa capaian lain di Little Women. Misalnya di adegan ketika Pugh diundang Timothee ke ruangan semacam perpus, caranya menjalankan emosi menarik. Kita bisa melihat sisi manja dari tokoh ini. Tapi anehnya, kami merasa kemanjaan itu terkesan artifisial. Kesan itu yang juga kami dapatkan hampir di semua pemain terutama 4 kakak beradik, Saoirse Ronan, Florence Pugh, Emma Watson, dan Eliza Scanlen. Kami bisa bilang, kami sebenarnya menikmati permainan para aktornya, tapi merasa ada yang janggal. Dimana berikutnya kami menemukan alasannya. Pertama adalah bentuk dan laku tubuh yang terasa asing untuk si aktor dan pikiran dan perasaan yang tidak dijalankan dengan baik.

Lalu pada Emma Watson di Little Women capaiannya malah lebih parah. Kami sempat mengira Emma merubah aksennya. Kami lalu mengecek apakah Emma benar-benar mengubah aksennya? Memang, Emma berusaha mengubah aksennya, tapi kami mendapati perubahan yang nanggung. Setelah kami telusuri, dalam sebuah artikel di popbuzz.com hampir semua orang mengatakan kalau aksen Emma Watson buruk sekali. Ia gagal mencapai aksen Amerika yang dibutuhkan. Emma Watson sendiri berasal dari Inggris, sehingga memang butuh effort besar untuk bisa mengubah aksennya menjadi aksen Amerika. Tak dipungkiri Emma sudah berjuang. Tapi sayang, gagal. 

Kalau pada Timothee Chalamet, kami melihat capaian yang menarik. Selain yang sudah kami sebutkan di atas, kami melihat Timothee bermain luruh. Ia mengikuti kemana tokohnya akan pergi. Ia juga memiliki laku tubuh yang otentik. Misalnya ketika adegan ia naik ke atas altar untuk dilukis oleh Pugh. Kita melihat cara naik yang beda. Ia naik dengan satu kaki, berdiri dengan satu kaki dalam waktu yang cukup lama, lalu duduk dan meletakkan kakinya di kursi yang lain. Tokoh Timothee, Laurie, seperti perwakilan dari orang kaya yang rebel pada etika kaumnya.

Permainan Timothee yang menarik lainnya terjadi di adegan ketika Pugh berbincang dengan Timothee di ruang lukis. Kami menangkap permainan yang menarik dari Timothee terutama ketika Pugh pergi dengan lelaki lain. Kami melihat layer emosi yang lain. Timothee seperti berusaha menyembunyikan perasaannya yang lain. 

Little Women

 

 

Sejarah Tokoh yang Berhasil

Film Little Women memiliki alur yang maju mundur. Sejarah hampir semua tokoh di Little Women dijelaskan dengan cukup gamblang. Akan jadi sebuah persoalan besar ketika si aktor tak berhasil menunjukkan sejarah tokohnya pada tubuh tokoh yang dimainkannya. Beruntung, kami mendapati sejarah yang berjalan selaras dengan tubuh mereka di peristiwa “disini dan sekarang”nya skenario. 

Salah satu sejarah yang berhasil kita lihat ada di adegan ketika Pugh dan Timothee di taman. Timothee kemudian mengatakan untuk jangan menikah dengan orang lain kecuali dia. Pada adegan itu permainan emosi Pugh menarik. Ia menjalankan sejarah tokohnya dengan baik. Kesedihannya bertumpuk, sejarah yang sudah dilalui berjalan di kepala dan perasaannya, tapi terlihat berusaha dikendalikan. Meski Pugh kemudian gagal mengendalikan perasaannya dan memilih pergi. Bentuk ini menarik. Di satu sisi kita bisa melihat tubuh yang sudah melalui banyak peristiwa dan perasaan. Di sisi lain kita melihat respon itu selaras dengan sejarah yang terinformasikan dengan jelas di beberapa adegan sebelumnya.

Lalu adegan lain dengan ejawantah sejarah yang menarik terjadi ketika Beth, adik terkecil sakit dan Saoirse ada disampingnya. Selain intensitas emosi Beth yang menarik, Beth juga berhasil menjalankan sejarah hidupnya. Begitu juga dengan Saoirse. Kenapa kami bisa bilang begitu? Semua informasi tentang sejarah tokoh-tokoh ini disampaikan dengan gamblang. Jadi hampir tak ada celah untuk mengarang respon. Semua lakunya harus sesuai dengan sejarah yang sudah ditunjukkan. Beruntungnya, baik Saoirse Ronan atau Beth di adegan ini berhasil membuat semua reaksi mereka selaras dengan sejarah yang sudah diutarakan sebelumnya.

Secara garis besar, para pemain berhasil menunjukkan sejarah tokoh mereka dengan baik. Satu rintangan berat yang berhasil mereka lalui meski rintangan lain tak berhasil dilalui dengan sempurna. 

 

 

Lalu Apakah Oscar Pantas Untuk Mereka?

Itulah pertanyaan berikutnya. Apakah Florence Pugh dan Saoirse Ronan pantas mendapatkan tempat di Oscar? Dengan pembacaan kami, kami bisa jadi salah, jadi tak perlu sangat diamini. Dalam pembacaan kami, Saoirse Ronan dan Florence Pugh punya kesempatan yang sama dengan pemain lain yang digadang-gadang masuk Oscar waktu itu. Misalnya seperti Lupita Nyong’o, Awkwafina, atau Ana De Armas. 

Kami pikir yang membuat Saoirse Ronan dan Florence Pugh dimasukkan dalam nominasi adalah karena keberhasilan mereka menjalankan sejarah tokoh masing-masing. Kondisi ini tentu jadi kesulitan tersendiri mengingat semua sejarah tokohnya diceritakan dengan gamblang pada penonton. Maka jika ada satu bentuk saja yang tidak relevan, akan sangat terlihat. Beruntungnya, baik Saoirse atau Pugh berhasil melewati itu. 

Sementara jika bicara soal aspek lain dalam permainan mereka, kami rasa setara dengan Lupita, Ana, atau Awkwafina. Bahkan ada di bawah nama-nama itu. Misalnya soal permainan emosi. Kami rasa Ana De Armas dan Lupita rintangannya jauh lebih kompleks dan bentuk yang ia munculkan juga lebih baik. Pun begitu dengan Awkwafina. 

Jadi, Saoirse Ronan dan Florence Pugh memang pantas, tapi karena keberhasilannya menunjukkan sejarah tokoh mereka masing-masing. Tidak bersepakat? Tak masalah. Tulis di kolom komentar dan mari berbincang. 

Terima kasih, viva aktor!