Maleficent: Mistress of Evil Flash Review; Seperti Kebanyakan Film Disney

Maleficent Mistress of Evil

Sepertinya banyak orang yang menunggu kehadiran film Maleficent: Mistress of Evil ini. Tapi bukan kami salah satunya. Jauh sebelum menonton film ini, kami sebenarnya menimbang cukup lama. Apakah cukup worth it untuk menonton film Maleficent: Mistress of Evil? Bukan kami tak suka, atau apa. Ketika menonton trailernya,perasaan skeptis kami muncul. Kami khawatir film ini tidak dibuat untuk orang-orang seumuran kami. 

Dalam Flash Review ini kami akan menyampaikan alasan kenapa kami skeptis. Flash Review ini bebas spoiler. Jadi aman dibaca sampai akhir. 

Maleficent Mistress of Evil

 

 

Seperti Kebanyakan Film Disney Lainnya

Itu mungkin kata yang paling tepat menggambarkan film Maleficent: Mistress of Evil ini. Filmnya seperti kebanyakan film Disney lainnya. Hampir tidak ada satu hal pun yang membuat kami geleng kepala karena terkejut atau terpesona. Jalur ceritanya, caranya membangun dramatik, hampir semuanya sama dan terbaca. Hal itu mungkin terjadi karena dua hal. Pertama karena kami sering menonton film Disney, atau karena film ini memang tidak diciptakan untuk orang-orang seumuran kami. 

Mungkin alasan kedua yang paling aman untuk diutarakan. Film ini mungkin memang tidak diciptakan untuk orang-orang berusia di atas 18 tahun. Film ini lebih cocok ditonton anak-anak kecil. Tapi yang jadi pertanyaan kami, kenapa itu tidak terjadi di Maleficent yang pertama? Pada Maleficent yang pertama, kami menemukan hal baru. Filmnya seperti dibuat untuk segala usia. Ada banyak spektakel, penggeseran logika cerita yang sudah umum, dan hal menarik lainnya. Sementara pada sekuel keduanya, kami hampir tak menemukan hal tersebut. 

Misalnya soal spektakel. Tercatat hanya ada 1 spektakel yang kami lihat. Kami tentu tak bisa menunjukkan di adegan mana, karena flash review ini bebas spoiler. Tapi sejauh yang kami lihat, hanya ada 1 kejutan yang menarik. Mungkin ada banyak spektakel atau kejutan lain. Hanya saja yang berhasil mengambil perhatian kami cuma 1. Dan itu yang membuat plotnya juga sedikit berubah. 

Kalau bicara plot, kami hampir bosan. Karena kami tahu betul bagaimana perjalanan hampir semua film fantasi Disney. Mereka seperti punya formula yang sama pada setiap film fantasi mereka. Dimulai dari perkenalan, pemberian masalah, si tokoh utama pergi, lalu masalah makin besar, si tokoh utama kembali, dan tokoh utama menang. Selesai. Itu yang sering terjadi pada hampir semua film Disney, dan itu yang membuat kami hampir bosan. Atau, mungkin memang film itu bukan dibuat untuk kelompok usia kami. 

 

 

Tidak Ada Acting Review Untuk Maleficent: Mistress of Evil

Ya! Maaf sekali, tapi tidak akan ada acting review untuk film ini. Setidaknya sampai artikel ini diturunkan, kami tak berpikir akan membuat acting review untuk film ini. Kenapa? Bukan karena akting Angelina Jolie jelek. Tapi karena memang tidak ada yang menarik saja dari penciptaan hampir setiap pemainnya. Mungkin kalau kita mau fokus pada Jolie saja, kita hanya akan menemukan beberapa capaian yang dalam sudut pandang kami, terjadi karena dukungan Make Up. 

Sementara untuk bagian lain, kami tak menemukannya. Tokoh Maleficent pada film pertama dibangun sebagai tokoh yang dingin, tenang, dan menyeramkan, di film ini seperti dibalik 180 derajat. Tapi entah kenapa, perubahan itu “membunuh” karakter Maleficent yang pada film pertama terbangun dengan kuat. 

Selain itu, alasan kenapa tidak akan ada acting review adalah karena kami tak menemukan satu poin yang bisa dibahas dan dipelajari bersama dari permainan Jolie. Kami memang melihat Jolie bermain effortless. Tapi  bukan seperti “Aku sudah menjadi tokohnya!”. Malah lebih ke “Aku tak perlu menciptakan tokoh dan tak perlu akting”. Kami mungkin akan membuat acting review Jolie, tapi bukan di Maleficent: Mistress of Evil. Tapi di Maleficent yang pertama. 

Film ini memang wajib tonton. Tapi untuk anak-anak. Untuk orang dewasa, kalau kalian pecinta Disney, maka kalian wajib nonton. Jika tidak, lebih baik pilih film yang lain. 

Terima kasih, viva aktor!

%d bloggers like this: