Emotional Memory, Mengenal Metode yang “Dilarang” Stanislavski

Apakah kalian pernah mendengar tentang emotional memory? Recall Memory? Atau affective memory? Emotional memory adalah salah satu metode yang ditelurkan Stanislavski untuk dunia seni peran. Kalau kalian belum tahu soal Stanislavski, kalian bisa membaca artikel tentang Stanislavski dulu disini.

Pada artikel kali ini kita akan mengulas tentang Emotional Memory, salah satu metode yang mungkin dipakai oleh banyak aktor tapi mereka tak pernah tahu bahwa mereka menggunakan metode ini. Karena dari sepanjang pengalaman kami Bincang Aktor, banyak sekali aktor yang menggunakan metode ini tapi tak mengenal apa namanya. Kita juga akan sedikit membahas kenapa Stanislavski mengatakan bahwa Emotional Memory itu tidak disarankan.

Sedikit Sejarah Emotional Memory

Sebelum kita membahas apa itu Affective Memory, kita mesti tahu dulu bagaimana ia bisa muncul. Jadi, sejauh yang kami tahu, kehadiran metode ini pertama kali justru tak disadari oleh Stanislavski. Ketika Stanislavski berusia 25 tahun, ia yang sudah berkutat pada dunia seni peran dan memiliki banyak pertanyaan tentang seni peran merasa ada yang kurang dalam permainan atau akting yang ia ciptakan. Kala itu Stanislavski menciptakan tokoh dengan mengambil bentuk eksternal saja. Ia merasa metode itu ada yang kurang. 

Beberapa pertanyaan kemudian muncul dalam kepalanya. Seperti misalnya bagaimana caranya merangsang imajinasi? Kalau bentuk saja yang berhasil ia ciptakan, lalu bagaimana menciptakan jiwa dan emosi si tokoh? Dituliskan oleh Bella Merlin pada bukunya Konstantin Stanislavski, Stanislavski menghabiskan semalaman terkunci di ruang bawah tanah rumahnya. Ia berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Nah, proses pencariannya itu sampai pada pemahaman tentang cara menghidupkan jiwa si tokoh melalui ingatan emosi. Momen itulah yang menjadi cikal bakal Emotional Memory. Sekedar catatan, Stanislavski belum menamainya Emotional memory kala itu.  

Baru beberapa tahun berikutnya, ia menemukan seorang Psikolog Prancis bernama Théodule Ribot (1839–1916) yang memiliki teori bernama affective memory. Dimana ternyata teori itu sama dengan apa yang sedang Stanislavski lakukan. 

Dalam penemuan Ribot, ia mendapati bahwa pasien yang mengingat saat mereka sehat ternyata bisa sembuh lebih cepat dari pada pasien yang tidak menggunakan kenangan saat mereka sehat. Dalam teori Ribot, masa lalu memiliki efek terhadap masa kini. Nah, menggunakan efek masa lalu sebagai “pematik” perasaan masa kini itulah yang diambil oleh Stanislavski. Dari sanalah baru nama Affective Memory atau Emotional Memory dipakai untuk metode ini. 

Afektif memori ini adalah salah satu langkah kecil dalam proses penemuan metode Stanislavski. Jika dalam buku Stanislavski, Afektif memory ini adalah metode yang muncul sebelum Physical Action.

Kira-kira itu sejarah singkat kenapa Emotional memory bisa muncul. Lalu apa sebenarnya Afektif memori ini? Bagaimana cara kerjanya? 

 

Apa itu Emotional Memory dan Cara Kerjanya

Dalam pemahaman yang paling sederhana, seperti apa yang dijelaskan oleh Bella Merlin dalam buku Konstantin Stanislavski; (anyway, buku ini menurut kami adalah buku yang paling sederhana dalam menjelaskan Stanislavski. Sangat direkomendasikan untuk kalian yang ingin memahami Stanislavski). 

At its most simplistic, the sequence behind affective memory (or ‘emotion memory’) was easy: actors began by remembering from their own life an experience that was analogous to an event in the play. They then conjured up memories of all the physical and sensory details that were originally connected with that personal experience. Once these memories were sufficiently powerful, the actors related them to the given circumstances of their characters’ situations, so that the fictional roles could be flooded with real emotional content. (Merlin, 2003:16)

Dalam penjelasan Bella Merlin afektif memori ini dilakukan dengan cara si aktor mengambil ingatan dari kehidupan mereka sendiri. Ia bisa mengambil kenangan apapun yang sejalan atau selaras dengan peristiwa yang terjadi dalam naskah atau adegan yang sedang tokoh mereka jalani. Aktor kemudian menghubungkan memory tersebut dengan situasi si tokoh, sehingga tokoh fiksi tersebut dialiri emosi yang nyata. 

Lebih rincinya, setelah aktor memilih ingatan mana yang akan mereka pakai, si aktor membayangkan semua detail fisik dan sensorik yang terhubung dengan pengalaman pribadi itu. Aktor harus tahu apa saja yang bekerja ketika kenangan itu terjadi. Apa yang terjadi pada tubuhnya, apa yang otaknya pikirkan, apa yang ia rasakan, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk membuat ingatan itu cukup kuat sebelum kemudian dihubungkan dengan situasi dari karakter mereka.  

Satu hal yang perlu dipahami dalam emotional memory adalah bahwa si aktor hanya menjadikan kenangan mereka sebagai pemantik saja. Ia harus bisa membungkusnya dengan tubuh, laku, dan cara si tokoh memunculkan emosi. Emotional memory itu sekali lagi hanya menjadi trigger atau pemantik agar emosi yang keluar adalah emosi yang benar-benar hidup dan tidak dibuat-buat. 

Dalam Afektif Memori, Stanislavski memisahkannya menjadi 2 jenis, yakni memori indera dan memori emosi. 

Memori indera atau Sense of Memory ini melibatkan proses mengingat secara sadar atas kenangan tersebut dengan menggunakan indera. Tujuannya untuk bisa membangkitkan sensasi kenangan masa lalu itu ke masa sekarang (situasi yang sedang dialami tokoh). Indera itu antara lain penglihatan, pendengaran, pengecapan, sentuhan, dan bau. 

Jadi dalam sense of memory atau memori indera ini aktor diminta untuk mengingat detail apa saja yang terjadi pada kenangannya. Detail itu terletak pada setiap indera mereka. Mulai dari penglihatan, pendengaran, sentuhan, bau, hingga pengecapan. Tapi yang paling utama adalah indera penglihatan dan pendengaran. Kenapa? Menurut Stanislavski jika aktor hanya menggunakan pengecapan, sentuhan, dan bau saja, maka kurang kuat dan 3 indera itu seharusnya digunakan sebagai “bantuan” saja. Sementara alat utama dalam memori indera ini adalah penglihatan dan pendengaran. 

Jadi ketika aktor hendak mengambil ingatan memori mereka, aktor cukup berfokus pada apa yang mereka lihat dan dengar ketika peristiwa itu terjadi. Dalam pemahaman kami, kenapa penglihatan dan pendengaran jadi yang utama adalah karena dua indera itu mampu menangkap peristiwa dengan lebih detail, mampu memicu respon indera lain, dan terasa lebih mudah. 

Kemudian yang kedua adalah Emotion Memory atau ingatan emosi. Kalau yang satu Ini lebih condong ke kondisi psikologis. Secara sederhana ingatan emosi ini adalah tentang perasaan apa yang sedang aktor rasakan ketika kenangan personalnya terjadi. Ingatan emosi ini memang kurang nyata jika dibandingkan dengan ingatan penginderaan atau sense memory. Karena terkadang, kita menemukan bahwa perasaan atas ingatan masa lalu kita lebih kuat, atau lebih lemah, atau malah berbeda dari aslinya. Semacam terdistorsi. Tapi perubahan itu valid dan memang terjadi. 

Maksudnya begini, misalnya kalian pernah mengalami sebuah kesedihan karena kehilangan mainan ketika kecil. Kejadian itu telah terjadi sekian puluh tahun yang lalu. Nah, seiring berjalannya waktu, perasaan atas kenangan itu bisa jadi pudar, hilang, berubah, atau malah bertambah. Itu kenapa dikatakan perasaan atas kenangan si aktor bisa terdistorsi. 

Salah satu yang perlu dipahami adalah pemahaman bahwa dalam kenangan itu bukan hanya perasaan yang berubah, tapi juga ingatan atas detail kenangan tersebut. Sederhananya kenangan memang tidak tetap. Kenangan itu bisa bercampur dengan imaji yang lain.

Analogi paling sederhana begini; ketika kalian hendak mengingat tentang masa kecil kalian, ingatan tersebut pasti akan berkurang atau bertambah. Bahkan kenangan itu bisa jadi bercampur dengan kenangan lain yang bertahun-tahun sudah kalian lalui. Tapi kita tidak bisa mengatakan kalau ingatan itu melemah. Justru, respon aktor terhadap kenangan itu harusnya menjadi lebih sensitif. Kenapa? Kecerdasan si aktor pastinya tumbuh kan? Khasanah pikirannya juga pasti berkembang dan kepekaan serta kesadarannya juga pasti ikut berkembang, kan? Sehingga caranya untuk sampai pada kenangan itu pasti jadi lebih banyak. Selain itu kesadarannya untuk mengingat kenangan itu juga pasti jadi lebih baik. Nah, pertumbuhan kesadaran personal dan khasanah si aktor itulah yang perlu disadari. Karena kesadaran dan khasanah itu menjadi upaya untuk semaksimal mungkin mengambil segala detail atas kenangan tersebut. 

Lagi, yang perlu dipahami oleh para aktor adalah bahwa Emotional Memory ini tidak hanya sebatas recall memory atau memanggil ulang kenangan si aktor saja. Tapi ia adalah penyempurnaan kepekaan baik secara psikologis dan fisiologis atas kenangan tersebut. Seperti apa yang dikatakan Stanislavski di salah satu bukunya Persiapan Seorang Aktor atau An Actor Prepares;

 

Emotion memory ‘is a kind of synthesis of memory on a large scale. It is purer, more condensed, compact, substantial and sharper than the actual happenings’ (Stanislavsky 1980: 173).

Emotional Memory adalah semacam memory buatan dalam skala besar. Sehingga kenangan tersebut seharusnya lebih murni, lebih padat, tersusun rapi, substansial, dan lebih tajam daripada apa yang sebenarnya terjadi. Ingat apa yang kami katakan di paragraf sebelumnya bahwa tingkat kepekaan dan kesadaran si aktor sudah bertumbuh daripada ketika kenangan tersebut terjadi. Itu kenapa Afektif Memori menjadi sebuah memori buatan besar yang seharusnya lebih murni dan detail.

Ada mitos yang mengatakan bahwa emotional memory itu adalah soal akting yang meyakinkan. Dimana aktor hanya perlu meyakini bahwa kenangan mereka benar-benar sedang terjadi. Anggapan itu salah. Anggapan atas emotional memory tidak boleh berhenti disitu. Dari pembacaan yang teliti di Bab 9 buku An Actor Prepares, ditemukan bahwa emotional memory itu malah berhubungan erat dengan imajinasi, tindakan, dan analisis tekstual atas kenangan tersebut. Ingat kembali dengan apa yang kami sebutkan soal kesadaran dan kepekaan si aktor yang tumbuh. Aktor harus menggunakan khasanah ilmu pengetahuannya yang sudah tumbuh dan berkembang untuk menggunakan emotional memory tersebut. Jadi tidak hanya sebatas membayangkan dan mempercayai kenangan itu sedang terjadi. 

Jika yang dilakukan oleh si aktor hanya mempercayai kenangan itu sedang terjadi, maka sangat mungkin posisi Afektif Memori yang seharusnya hanya menjadi pemantik, malah menjadi emosi utama si tokoh. Jika itu terjadi, maka emosi mana yang sedang dijalankan? Emosi aktor atau emosi tokoh? Harusnya emosi tokoh kan?

Dijelaskan oleh Bella Merlin, yang terpenting dalam emotional memory adalah proses mengingat dan menganalisis kenangan tersebut. Hasilnya akan muncul dengan baik ketika prosesnya dilakukan dengan tepat dan sesuai. 

Bagi banyak aktor, metode ini mungkin lebih mudah. Karena mereka tak perlu sulit-sulit membangun emosi tokoh. Mereka hanya perlu mengingat kenangan mereka saja dan menjadikannya pemantik. Itu kenapa banyak sekali aktor, terutama yang otodidak, bahkan yang berasal dari akademi, menggunakan metode ini. Meskipun begitu aktor harus tetap berhati-hati. Aktor harus menyadari bahwa ia menggunakan emosinya hanya sebagai pemantik dan emosi yang sedang berjalan harus emosi tokoh. 

Tapi dengan tingkat popularitas yang sangat tinggi dari metode ini, kenapa Stanislavski dalam perjalanannya malah melarang banyak aktor menggunakan metode ini? Kenapa ia tidak berhenti melakukan pencarian metode?  

 

Kenapa Malah Dilarang?

Kenapa Emotional Memory ini dilarang? Kenapa Stanislavski tidak menyarankan penggunaan Emotional Memory ini? Padahal ia sendiri yang menelurkan metode ini. Kenapa malah Stanislavski sendiri yang menjadi paradoksikal atas apa yang dikatakannya? Kenapa ia sendiri yang melarang menggunakan Afektif Memori?

Dalam pembacaan dan pengertian kami, Afektif Memori ini dilarang karena ia berbahaya secara psikis. Dari yang kami ketahui, kesadaran Stanislavski itu muncul ketika Stella Adler, yang merupakan murid Stanislavski datang padanya. Ia mengatakan bahwa penggunaan Emotional Memory ini ternyata membahayakan Michael Chekhov, salah satu murid terbaik Stanislavski. Hal itu terjadi karena dalam upaya menggunakan Emotional Memory, Chekhov secara tak sengaja menyentuh kembali trauma masa lalunya. Dan untuk kembali normal, Michael Chekhov butuh waktu dan tenaga besar. Dari peristiwa itu kemudian Stanislavski tidak menyarankan penggunaan metode ini. 

Meski begitu, ternyata salah satu tokoh keaktoran yang namanya dikenal hampir oleh setiap aktor di dunia, Lee Strasberg, tetap menggunakan metode ini. Kami tidak tahu apakah Lee Strasberg sudah menemukan cara untuk mengendalikan resiko ini atau tidak. Tapi dari para muridnya yang berhasil “menguasai” Best Actor pada banyak award, kami rasa Lee Strasberg dengan Method Acting-nya berhasil menemukan “obat” dari Emotional Memory yang “berbahaya” ini. 

Tulisan ini masih sangat mungkin berkembang. Mungkin akan ada tulisan yang lebih dalam membahas soal Emotional Memory. Jadi jangan berhenti pada artikel ini. Cari lagi, karena kami sendiri sampai saat ini dan entah sampai kapan sedang meneliti Emotional Memory dan metode lain

Sekarang jika kalian aktor, apakah kalian akan menggunakan metode ini ketika kalian tahu resikonya? Coba tuliskan di kolom komentar! 

Terima kasih, Viva aktor!

%d bloggers like this: