[Flash Review] Wet Season; Sejatinya Menarik

Wet Season adalah sebuah film dari Singapura yang disutradarai oleh Anthony Chen. Jujur saja, ini film Singapura pertama yang kami tonton. Kami pikir negara se-berkembang Singapura tak akan berpikir soal film. Ternyata mereka memiliki film. Menarik. 

Jadi, setelah menonton Wet Season, kami sebenarnya tidak sangat terkejut melihat filmnya. Kenapa? Akan kita bahas di Flash Review ini. Tenang, tanpa spoiler, jadi meskipun kemungkinannya kecil kalian akan menonton film ini, tapi siapa tahu kalian berjodoh dengan Wet Season dan bisa menonton, maka flash review ini tetap aman dibaca sampai akhir. 

Wet Season

 

Wet Season, Tidak Tertebak, Tapi Lalu Tertebak 

Aneh kan? Sub judul ini aneh kan? Bagaimana mungkin awalnya tidak tertebak lalu tertebak? Sebelum kita bicara soal itu, kami mau bicara soal alur film dan dramatiknya. Pada hari kedua kami menonton ini, tercatat hanya Bento Harassment saja yang memiliki alur dan dramatik yang segar. Sementara 2 film lain yang kami tonton memiliki dramatik yang sama. Ode to Nothing dan Wet Season punya dramatik yang pelan, dan hampir membosankan. 

Lalu soal alur film. Nah, ini yang kami bilang tidak tertebak lalu tertebak. Maksudnya begini. Pernah nggak ketika kalian menonton film, kemudian kalian tahu endingnya macam apa? Pernah kan pasti? Kalian sudah bisa menebak kemana arah cerita film ini. Nah, tapi, dalam perjalanan menuju ending, tetiba kalian disuguhi hal-hal yang membuat kalian menyingkirkan tebakan kalian dan bilang “Oh, nggak sesuai tebakanku di awal nih, akan ada kejutan nih”. Sampai akhirnya di menjelang akhir film, kejutan itu muncul dan ternyata sesuai tebakan kalian di awal. Pernah merasa begitu? 

Kalau dalam sudut pandang kami, ini yang pertama. Tapi ini jadi tidak mengasyikkan. Karena tebakan kami jadi tertebak dan tepat. Kami tak bisa menyebutkan apa karena akan sangat berpotensi spoiler. Intinya, film ini secara alur agak menyebalkan menurut kami. Iia membuat penonton menebak, lalu membuat penonton menyingkirkan tebakannya, kemudian menjawab tebakan penonton sesuai apa yang penonton tebak di awal. Kalau dalam bahasa Jawa, kagol

Tapi setelah tebakan kalian terjawab dan sesuai, kalian akan diberikan twist ending yang menarik. Jadi, setelah tebakan kalian itu sesuai, kalian akan punya ekspektasi lanjutan bahwa si Ling, ibu guru dan Lun, si murid akan melakukan ini itu. Tebakan itu seketika muncul. Tapi, akan dibalik lagi sedemikian rupa oleh Anthony Chen. 

Nah, kalau kita melihat dari sudut pandang itu, maka film ini bisa menyebalkan tapi sekaligus menarik. Hanya saja, mungkin tak banyak orang yang mau dipermainkan. Tapi it’s okay, ini bukan film industri juga kan. Mereka sedang tak memberi makan pasar. 

 

 

Permainan yang Hampir Monoton

Lagi-lagi. Permainan aktor di film ini hampir monoton. Terutama Ling yang jadi tokoh utama. Diperankan oleh Yann Yann Yeo. Ling memang tokoh yang sedari awal dibangun memiliki gejolak besar dalam diri dan hidupnya. Sehingga ada banyak sekali layer yang berjalan dalam tokoh ini. Sebenarnya, layer-layer itu cukup berhasil dijalankan. Misalnya pada beberapa adegan ada momen akting dalam akting yang menarik. Nah momen itu berhasil ditunjukkan dengan baik. Tapi karena terlalu sering dan hampir selalu ditunjukkan pada pola yang sama, terkadang hampir terasa monoton. 

Tapi di luar itu, Yann Yann Yeo bisa dibilang berhasil memainkan tokoh ini, setidaknya dalam tataran emosi dan capaian psikologis. Kami tak tahu bagaimana track recordnya sehingga tak bisa melihat bagaimana capaiannya di dimensi yang lain. 

Di film ini yang menurut kami aktingnya paling menarik adalah Shi Bin Yang. Aktor yang menjadi bapak mertuanya Ling. Kami sudah melihat bahwa Shi Bin Yang di kehidupan nyata masih sangat sehat. Kecuali dia yang menggunakan kursi roda. Tapi ia tak sesakit tokohnya di film Wet Season ini. Itulah yang kemudian membuat akting Shi Bin Yang menarik. Ia berhasil mengendalikan tubuhnya dengan sangat baik. Bukan hanya itu, ia juga bisa menjalankan emosi-emosi apapun tetap dalam bentuk tubuh yang macam itu. Shi Bin Yang sangat konsisten. 

Soal pemain lain, kami tak bisa bicara banyak karena memang tak ada yang bisa kami lihat dalam permainan mereka. 

Wet Season sejatinya menarik. Itu yang harus selalu kami bilang dalam tiap Flash Review kami. Karena kami yakin setiap hal itu sebenarnya menarik. Hanya kita sebagai manusianya saja yang pintar-pintar meletakkan sudut pandang untuk objek tersebut dan mau memakai kacamata yang mana untuk menikmati film ini. Kalau kacamatanya tak tepat ya bukan salah filmnya, tapi salah kami yang salah memilih kacamata

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: