[Flash Review] Ode to Nothing; Gelap dan Tidak Untuk Semua Kalangan

“Apa yang mau ditulis?” Itulah kalimat pertama yang kami catat setelah menonton film Ode to Nothing selama kurang lebih 30 menit. Kami hampir tak mendapati apapun kecuali sebuah premis yang unik dari film ini. Apakah itu artinya film ini tidak cukup bagus? Kami rasa tidak. Kami kemudian berusaha mereset ulang cara kami memandang film. Hingga akhirnya kami menemukan titik yang tepat untuk menikmati film ini. Setidaknya setelah film ini berjalan separuh lebih sedikit. 

Flash Review ini bebas spoiler, insyaallah. Jadi aman dibaca sampai akhir. Maaf pakai insyaallah, kami takut khilaf. 

Ode to Nothing

 

 

Ode to Nothing Bukan Untuk Semua Kalangan 

Setelah kami kebingungan mau menuliskan apa di film ini, kami mulai sedikit berhasil menikmati film ini. Kami rasa hal itu muncul karena Ode to Nothing tidak bisa diperlakukan seperti banyak film pada umumnya. Kami berusaha keras untuk bisa mencari kenikmatan dari film ini. Karena kami yakin film ini film yang bisa dinikmati. Kenapa?

Pertama, karena film ini adalah film yang premisnya sangat menarik dalam sudut pandang kami. Premis film ini kurang lebih bicara soal kehidupan. Bagaimana kehidupan “muncul” dari kematian. Sebuah keluarga yang dihuni Sonya dan Ayahnya, mulanya seperti keluarga “mati”. Tak ada asa sama sekali dalam hidup mereka. Tak ada perbincangan, tak ada obrolan, bahkan tak ada emosi yang berjalan. Hingga suatu ketika Sonya mendapatkan mayat seorang perempuan, yang kemudian dirawat hingga dianggapnya bagian dari keluarga. Dari sana kehidupan dalam keluarga itu mulai lahir kembali. 

Di awal film, kalian kurang lebih hanya akan mendapati adegan-adegan yang diam, panjang, dan membosankan. Tak bisa dipungkiri, untuk beberapa kalangan film ini luar biasa membosankan. Apalagi kalau tak tahu bagaimana cara menikmati film ini. Ada banyak sekali pilihan gambar yang diam, dan kadang dibiarkan kosong lama. Bagi yang biasa melihat film dengan bentuk yang lebih “ramai” akan cepat bosan bahkan saat 10 menit pertama film Ode to Nothing diputar. 

Lalu soal dramatik dan alur cerita. Seperti yang kami bilang, hampir datar. Tak ada konvensi aristotelian yang dipakai. Tak ada konflik yang signifikan, atau mungkin ada tapi karena kami melihat aktornya tak cukup berhasil mempertajam konflik, sehingga semua terasa hampir lempeng. Sementara untuk alur cerita, ada beberapa titik dimana kejutan muncul. Kami tak bisa menyebutkan apa. Tapi, kejutan itu tak banyak dan kalau kalian sudah kadung bosan dengan film ini, kejutan itu tak akan berarti banyak. 

Ode to Nothing sejatinya bagus, premis filmnya. Tapi bukan untuk semua kalangan. Ode to Nothing tidak bisa kalian nikmati jika sudut pandang penikmatan film yang kalian gunakan adalah sudut pandang awam. Film ini gelap, luar biasa gelap. Komedi yang dipakainya pun luar biasa gelap. Jadi butuh kacamata militer yang bisa melihat dalam gelap serta kacamata tidur untuk berjaga-jaga kalau ngantuk saat menonton, kalian bisa tidur nyenyak. 

 

Permainan yang Agak Janggal

Untuk soal aktornya, kami lebih bingung lagi. Film ini berasal dari Filipina. Sehingga kami rasa film ini punya logika yang berjalan dengan cara mereka sendiri. Kami pikir, bukan aktingnya yang janggal, tapi kami yang tidak bisa memahami cara logika orang Filipina berjalan. Dalam film ini setidaknya ada 2 tokoh yang jadi pusat. Pertama adalah Sonya, kemudian ayahnya. Mayat tak bisa kita bilang aktor. Karena mungkin dia manekin yang dibuat. 

Pada Sonya, kami kebingungan. Di awal kami mendapati banyak sekali aksi-aksi yang artifisial. Beberapa laku tubuh bahwa terkesan dimunculkan begitu saja. Satu hal yang paling terasa adalah soal ekspresi wajah Sonya, yang dimainkan oleh Pokwang, seorang aktor Filipina. Pada ekspresi wajahnya kami kadang tak mendapati pertumbuhan emosi. Kami tak tahu, apakah memang di Filipina era itu orang-orangnya memang tak bisa berekspresi banyak? Atau apakah mungkin tokoh Sonya memang ingin dibangun sebagai tokoh yang tidak bisa lagi menjalankan ekspresi wajahnya karena begitu muak dengan hidupnya? Nampaknya alasan kedua yang bisa menyelamatkan kondisi tersebut. 

Karena di awal sampai hampir pertengahan, Sonya tak menunjukkan pergerakan emosi yang menarik. Ia cenderung bosan, muak, dan datar. Kami tak menemukan dinamika. Di satu waktu yang bersamaan, kami mengira dinamika itu memang sengaja tak dimunculkan karena tokohnya mau begitu. Tapi bukankah pun ketika seolah-olah tidak dinamis, tetap ada pergerakan emosi? Bukan datar? 

Lalu satu hal lagi yang menarik dan bisa kita pelajari dari permainan di film ini. Hal itu adalah soal kepura-puraan. Kalian bisa melihat ini di trailer. Dimana Sonya berbincang dengan Mayat. Pada momen itu, Sonya monolog. Sonya bukan orang teater, dia hanya perempuan 43 tahun yang tidak laku-laku. Tidak tahu bagaimana caranya bermain drama. Pada momen itu Pokwang terlihat bermain dengan tepat. Karena Sonya tak bisa akting, maka di momen Sonya bicara dengan Mayat, aktingnya jelek. Sesuai dengan tokohnya. Karena tokoh ini tak pintar berpura-pura. 

Tapi yang jadi persoalan, upaya yang gagal dalam menghidupkan peristiwa dan lawan main itu juga terjadi di beberapa adegan yang tidak bersama Mayat. Lalu, apakah itu artinya akting Pokwang… Anyway, aktor harus sadar siapa tokoh yang ia mainkan. Sehingga ia bisa bermain sesuai porsi. 

Overall Ode to Nothing menarik. Premis filmnya menarik. Aktingnya kadang menarik kadang janggal. Satu kesimpulan dari film ini. Film ini bukan untuk semua kalangan. Jadi para penonton, pintar-pintarlah dalam memilih film. Jangan-jangan bukan filmnya yang jelek, tapi kalian saja yang salah pilih film. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: