[Flash Review] The Cave; Intensitas yang Berwarna

The Cave adalah film ketiga yang kami tonton di hari ketiga JAFF. The Cave merupakan sebuah film Thailand yang disutradarai oleh Tom Waller dan bercerita tentang 12 anak dan seorang pelatih yang terjebak selama lebih dari dua minggu di sebuah gua yang ada di Thailand. Film ini diangkat dari kisah nyata, peristiwa yang terjadi sekitar pertengahan tahun 2018 lalu. Seharusnya kalian masih ingat dengan peristiwa ini karena hampir semua media di dunia, termasuk Indonesia memberitakan peristiwa ini. 

Nah, setelah beberapa waktu, ternyata peristiwa itu dijadikan sebuah film. Sejujurnya kami memilih film ini karena ingin lebih tahu bagaimana peristiwa penyelamatan itu terjadi. Lalu bagaimana impresi setelah menonton film ini? Flash Review ini bebas spoiler. Jadi aman dibaca sampai akhir. Just in case, kalian mendapatkan kesempatan nonton film ini. 

The Cave

 

 

The Cave, Intens dan Berwarna

Hal pertama yang kami dapatkan ketika menonton film ini adalah intens. Film ini sangat intens di hampir 95% bagian filmnya. Dari awal kalian akan diberikan intensitas yang cukup tinggi. Kami menangkapnya dari musik, dan cara ia mengambil gambar. Tapi yang menarik adalah dengan intensitas yang hampir memenuhi 95% film, kami bisa dibilang hampir tidak bosan. Kenapa? Seperti judul dari flash review ini, The Cave memberikan intensitas yang berwarna. Maksudnya?

Kalian tahu kan bahwa intens itu bukan hanya persoalan satu emosi saja. Intens bisa jadi dalam bentuk banyak emosi. Nah, ini yang kami dapatkan dari The Cave. Film ini berhasil memberikan intensitas yang berwarna hampir pada setiap adegannya. Kalian akan mendapati intensitas dengan emosi marah, lalu pada satu waktu yang lain akan mendapati intensitas dengan emosi sedih, sementara di waktu berikutnya anda akan mendapatkan intensitas dengan emosi senang, takut, gelisah, khawatir, dan emosi-emosi yang lain. Emosi-emosi itulah yang “menyelamatkan” film ini dari kemonotonan karena dari awal sudah dibuat intens. 

Tapi sayangnya, kami merasa dengan intensitas setinggi itu, film ini jadi agak kehilangan dramatiknya. Maksudnya begini, karena dari awal tensi adegan sudah tinggi, kami agak kebingungan untuk menangkap adegan mana yang menjadi puncak dari semua adegan. Karena mereka semua ada di puncak yang hampir sama. Mungkin bedanya hanya sedikit.  

Di luar soal itu, sebagai sebuah penggambaran ulang sejarah, film ini cukup menarik. Setidaknya bagi kami yang juga mengikuti peristiwa aslinya waktu itu bisa merasakan ketegangan, kekhawatiran, dan emosi lain yang ada ketika proses penyelamatan anak-anak yang terjebak dalam gua. 

 

 

Tak ada Komentar Soal Pemain

Kami tak ada komentar soal pemain. Sudah jelas bahwa film ini sama sekali tak berupaya menonjolkan keaktorannya. Kenapa? Pertama, sebagian tokoh dimainkan langsung oleh pemain aslinya. Sehingga sudah barang tentu tidak ada capaian. Ia hanya menjadi dirinya sendiri yang mengingat kejadian kala itu. Kedua, tidak ada satu adegan yang fokus pada satu atau beberapa orang sehingga kita bisa melihat capaian permainan mereka. Semua adegan di film ini terasa cepat, dan kemunculan tiap tokoh pun hanya sedikit-sedikit di tiap adegan. Tidak ada yang bisa kami lihat. 

Kami pikir kami akan disuguhi perjalanan pikiran dan perasaan para korban ketika mereka berada di dalam goa. Nyatanya tidak. Kami disuguhi proses penyelamatannya. Film ini pun terasa hampir mirip dengan film dokumenter. Mungkin jika ini film dokumenter, akan terasa lebih baik. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: