[Acting Review] The Theory of Everything; Tumbuh dan Relevan

The Theory of Everything

Jika kamu lebih suka mendengarkan daripada membaca, bisa mendengarkan versi Podcastnya DISINI.

 

The Theory of Everything adalah film yang sempat booming di tahun 2014. Film yang bercerita tentang perjalanan hidup Stephen Hawking ini bukan hanya booming karena ceritanya saja, tapi juga karena permainan aktor utamanya, Eddie Redmayne. Bahkan bisa dibilang The Theory of Everything adalah salah satu performa terbaik Eddie Redmayne sepanjang karirnya sejauh ini. Hal ini terbukti dari beberapa penghargaan bergengsi yang berhasil didapatkan, hingga ia berhasil masuk nominasi Oscar untuk pertama kalinya dan langsung memenangkan Best Leading Actor di Oscar kala itu.

Melihat film ini dan permainan Eddie Redmayne, memang menarik untuk membahas apa saja yang sudah berhasil dicapainya dan kenapa ia bisa begitu gemilang kala itu. Lalu apa saja yang sudah berhasil dicapai Eddie pada film ini? Berikut pembahasannya;

 

Pembukaan yang Tak Signifikan

Ketika pertama kali film ini dimulai, dan kami melihat hasil ciptaan Eddie Redmayne, kami merasa tidak menemukan perubahan yang sangat signifikan. Kita mulai dari suaranya dulu. Pada pendengaran pertama dan pendengaran berikutnya, kami tidak menemukan capaian yang sangat signifikan pada warna suara Eddie Redmayne. Sementara dari logatnya, kami sepertinya menyimpulkan bahwa aktor dan tokoh yang dimainkan memiliki logat yang sama, jadi secara tak langsung ia sudah mendekati tokoh yang diciptakannya. Untuk warna suara, kami memang tak menemukan rekaman suara Stephen ketika masih muda, tapi kami membandingkan kesamaan tersebut dari wawancara yang dilakukan Eddie di luar film, dan Eddie ketika sudah menjadi Stephen Hawking muda.

Wawancara setelah film Les Miserables, 2012.

Adegan awal setelah mengikuti kelas.

Pada bagian warna suara, tidak terasa perubahan yang drastis dari penciptaan Eddie menuju ke Stephen Hawking muda.

Tapi nampaknya perubahan yang tidak signifikan hanya berhenti pada bagian itu saja. Karena ketika kami melihat perubahan lainnya, terutama di bagian awal sebelum ia sakit, kami melihat bentuk tubuh yang berubah. Bagian yang paling terlihat berubah di awal adalah pada bagian pundak, leher, dan kepala. Bentuk dan gesture pada bagian itu berubah. Lalu merinci pada bagian lain, seperti misalnya pada bentuk mulut di beberapa adegan awal sebelum ia sakit, cara mulutnya bicara dan membuka berbeda dan melompat cukup jauh dari Eddie.

Perubahan-perubahan yang disebutkan di atas sebenarnya sudah memberikan imaji yang cukup untuk mendekatkan diri pada tokoh. Tapi perubahan gaya rambut dan kacamata membuat imaji tokoh semakin terasa tebal dan membuatnya makin jauh dari bayang-bayang Eddie Redmayne.

Selain pada tubuh bagian atas yang berubah, cara berjalannya juga berubah, Tokoh ciptaan Eddie terlihat sedikit pincang, atau pada bagian tubuhnya yang sebelah kiri kalau tak salah, seperti mau sakit dan terlihat ringkih. Hal itu bisa kamu lihat pada beberapa adegan ketika tangannya sedang berkegiatan, entah menulis di papan, menulis di kertas, memegang gelas, dan laku tangan lainnya. Pada bagian itu saja, kami melihat sebuah pertumbuhan yang menarik dari laku tangannya.   

 

 

Secara garis besar, pada adegan sebelum ia sakit, semua gesture, bentuk tubuh pada posisi apapun, hampir semuanya menarik. Sepertinya, pada bagian tubuh Eddie Redmayne menelitinya dengan sangat detail. Kita bisa melihat cara berjalan yang berbeda, cara memandang yang berbeda, cara duduk yang lain, dan gesture-gesture lain yang berbeda dan menarik. Sepertinya cukup kita membicarakan capaiannya ketika memainkan tokoh Stephen Hawking yang masih sehat. Karena capaiannya bisa dibilang sama dengan capaian aktor lain yang juga masuk nominasi Oscar kala itu. Justru yang menarik adalah bagaimana Eddie Redmayne menciptakan bentuk tubuh tokoh yang tumbuh. Itulah yang akan kita bahas lebih mendalam.

 

The Theory of Everything, Tumbuh dan Relevan!

Apalagi yang menarik dalam penciptaan Eddie Redmayne di film ini selain penciptaan tubuhnya yang tumbuh dan punya pertumbuhan yang relevan? Terlebih lagi ketika kamu mendengar kabar bahwa ia tidak melakukan pengambilan gambar The Theory of Everything secara linier, melainkan melompat-lompat dan acak. Coba bayangkan, bagaimana cara Eddie bisa menyusun bentuk itu, lalu menumbuhkannya dengan begitu relevan? Kita akan bahas satu persatu.

Dalam ciptaan Eddie Redmayne, dari awal sampai tokohnya sakit, semua gesture yang dilakukannya menunjukkan perubahan ke arah kesehatan yang memburuk. Misalnya pada adegan ketika ia menulis di papan tulis dengan banyak rumus. Pada adegan itu kita bisa melihat tangannya yang bergetar dan terkesan ringkih, memberikan pintu masuk menuju sakit yang selanjutnya. Hal yang menarik adalah gesture-gesture menuju sakit itu muncul satu persatu dan tetap ada di jalur yang relevan. Misalnya, dari bagian tangan, setelahnya kita melihat bagaimana kakinya mulai mengalami bentuk yang berubah, hingga pada adegan dimana ia jatuh dan mulai “masuk” ke dalam kesehatan yang terus menurun.

Bentuk tangan dan cara menulis yang berbeda.

 

 

Dalam film ini, setidaknya ada 5 fase kondisi tubuh. Pertama adalah ketika ia masih sehat, fase kedua adalah ketika ia sakit pertama kali dan menggunakan 1 tongkat, fase ketiga adalah ketika ia menggunakan dua tongkat, fase keempat adalah ketika ia mulai memakai kursi roda, dan fase kelima adalah ketika ia menggunakan mesin untuk membantunya berbicara. Dari kelima fase tersebut, kami bisa melihat pertumbuhan yang sangat baik, jelas, dan relevan pada tiap gesture tubuhnya.

Kenapa kami berulang kali mengatakan relevan? Karena jika kalian perhatikan betul gesture tubuhnya ketika ia masih sehat, dan membandingkan dengan gesture tubuhnya ketika sakit, maka kita bisa melihat bentuk dasar yang sama, hanya dalam kondisi yang lebih sakit. Misalnya dari bentuk tangan, kita bisa melihat tangan yang seperti mencengkram di awal, lalu ketika sakit, bentuk tangan itu tetap pada posisi yang hampir sama hanya terlihat lebih ringkih dan lebih mencengkram ke dalam lagi.  

 

Bukan hanya bentuk tangannya, pada caranya berjalan kami juga melihat pertumbuhan yang relevan. Ketika ia berjalan, kita bisa melihat langkah yang agak menyeret, ketika Eddie mulai masuk fase sakit yang kedua, dimana ia menggunakan satu tongkat, kita bisa melihat cara berjalan dengan bentuk dasar yang sama, sama-sama menyeret. Hanya ketika ia mulai sakit dan masuk fase kedua, seretan kakinya terlihat lebih diperbesar. Lalu ketika masuk fase ketiga, saat ia berjalan dengan dua tongkat, kita pun bisa melihat bentuk yang punya dasar yang sama, sama-sama menyeret hanya seperti bentuk yang semula kecil di fase kedua, lalu diperbesar ketika masuk fase ketiga. Mungkin hal itu yang membuat pertumbuhan bentuk tubuh tokoh ciptaan Eddie Redmayne ini terasa lebih relevan di film The Theory of Everything. Bahkan saat ia sudah ada di kursi roda, kita bisa melihat bentuk kaki yang diam dan sama dengan bentuk kakinya di fase ketiga dan kedua, hanya kali ini kakinya dalam keadaan diam. Lagi-lagi, itulah yang membuat pertumbuhan tubuhnya relevan.

Tidak berhenti pada bentuk kaki dan tangannya ketika berjalan dan bergerak serta bagaimana bentuk kaki dan tangan itu tumbuh. Kami juga melihat pertumbuhan yang relevan dari bentuk mulutnya. Kami melihat bentuk mulut Eddie saat berbicara dari awal sebelum ia sakit, sampai masuk ke fase-fase yang sudah kami sebutkan di atas tadi, dimana bentuknya tetap ada pada bentuk dengan dasar yang sama. Bentuk mulutnya di awal terlihat agak miring ke kanan. Lalu bentuk itu tumbuh. Ketika masuk ke fase yang kedua, bentuk mulutnya kurang lebih sama dengan fase pertama. Berlanjut ke fase ketiga, bentuk mulutnya mulai agak sedikit diperbesar. Lalu ketika ia masuk ke fase keempat, kita melihat bentuk yang makin diperbesar dan cara bicara yang berubah, tapi tidak ke bentuk yang berbeda, tapi ke bentuk yang masih juga relevan. Sementara pada fase kelima, kita melihat bentuk yang masih relevan, tapi kali ini tanpa bicara dan hanya punya ekspresi tersenyum, bersedih atau diam.

Ini bentuk mulut ketika ia masuk fase ketiga, dengan 2 tongkat.

 

Ini bentuk mulut saat ia masih di fase pertama, masih sehat. Kita bisa melihat dasar yang sama.

 

Setelah bicara soal bagian-bagian tubuh yang “besar” itu, sekarang kita akan bicara soal gesture atau laku tubuhnya. Apakah laku tubuhnya juga ikut berubah dan masih relevan seperti ciptaan tubuhnya? Jawabannya adalah Iya! Laku tubuhnya juga ikut berubah menyesuaikan kondisi tubuhnya. Eddie Redmayne sepertinya betul-betul memperhatikan hal tersebut sehingga pada tiap fase yang ia mainkan, laku tubuh yang dihasilkannya bertolak dari kondisi tubuh yang dimilikinya. Ia seperti memahami betul bahwa pada fase-fase tersebut ia ada di tubuh yang tidak bisa melakukan banyak kegiatan. Sehingga harus mengatur laku tubuh yang lain dengan tubuh atau modal yang dipunya. Eddie berhasil memanfaatkan itu dengan sangat baik.

Misalnya ketika ia sakit dan masuk fase kelima. Pada bagian itu ia sudah sulit menggerakkan wajah dan berekspresi secara maksimal. Eddie hanya punya mata, kemampuan untuk menggerakkan otot dahi, dan sedikit ekspresi pada bagian mulut. Dengan apa yang ia punya, Eddie memanfaatkannya sebaik mungkin. Ia menggunakan perangkat yang dimilikinya pada fase kelima untuk sebisa mungkin menyampaikan apa yang sedang terjadi di pikiran dan perasaannya. Dan Eddie Redmayne sukses!   

 

Soal Ejawantah Emosi yang Menarik

Kita sedikit menyinggung soal bagaimana permainan emosi Eddie Redmayne di film The Theory of Everything ini. Secara garis besar mungkin kami bisa mengatakan bahwa apa yang dilakukannya di awal The Theory of Everything tidak sangat spesial. Tapi ketika sudah dihadapkan pada kondisi sakit, atau kita sebut saja sudah mulai masuk ke fase dua, tiga, empat, dan lima, caranya mengejawantahkan emosi menjadi sangat menarik. Menarik karena Eddie Redmayne kemudian hanya memiliki perangkat yang sedikit untuk bisa menyampaikan emosi yang sedang terjadi di pikiran dan perasaannya.   

Adegan saat cemburu pada Jonathan

Salah satu contoh adegan ketika Eddie hanya bisa menggunakan sedikit bagian tubuhnya untuk menunjukkan emosi yang sedang ia rasakan adalah saat ia cemburu pada Jonathan. Caranya menunjukkan kecemburuan menarik. Ia mengerahkan matanya untuk bermain, sedikit nada bicaranya yang sudah mulai terbatas, hingga gerakan leher ke arah atas dan gerakan lain yang juga terbatas. Semua yang masih bisa digerakkannya ketika masuk fase keempat dipakai dengan sangat maksimal.

Selain itu pada adegan kamar tidur, ketika ia berbicara dengan istrinya dan berkata bahwa ia tak keberatan kalau ada yang “membantu” sang istri untuk merawat keluarganya menarik. Perangkat yang terbatas itu kembali memberikan ekspresi yang menarik. Bahkan dengan senyumannya yang sedikit di adegan tersebut bisa mewakili apa yang setidaknya terjadi di pikiran dan perasaan si tokoh.

Adegan saat Jane dan Stephen mulai masuk fase Sakit kelima dan belajar bicara.

 

Adegan yang menarik juga terjadi ketika Jane, istrinya, yang diperankan oleh Felicity Jones, menunjukkan papan untuk menandakan Stephen ingin bicara apa. Pada adegan itu, emosi keduanya sangat menarik. Baik Felicity Jones atau pun Eddie Redmayne. Pada adegan itu tokoh Stephen sudah tidak bisa berbicara lagi, ia hanya bisa sedikit berekspresi dan memainkan mata. Tapi dengan perangkatnya yang minim itu, ia berhasil menyampaikan emosinya dengan sangat baik. Kita seolah-olah bisa membaca apa yang terjadi pada perasaannya dari caranya memainkan mata, menggerakkan mata, hingga pilihannya membuang pandangan ke arah bawah.

Lalu apakah ketika ia masih “sehat” dalam The Theory of Everything ini permainan emosinya tidak bagus? Tentu tidak, ia tetap bagus. Tapi bagus yang sama seperti bagusnya aktor lain. Sehingga tidak sangat spesial. Itu kenapa kami lebih condong membahas soal bagaimana ia mengatasi perubahan kapabilitas tubuhnya untuk tetap menjadi perpanjangan tangan yang baik bagi emosi yang sedang terjadi di pikiran dan perasaannya.

Adegan paling menarik sepanjang film

 

Satu adegan yang menurut kami paling menarik di sepanjang film The Theory of Everything adalah ketika ia meminta izin pada Jane untuk pergi ke Amerika bersama Elaine. Pada adegan itu kita melihat Stephen Hawking menangis untuk pertama kalinya sepanjang film The Theory of Everything. Lagi-lagi, yang membuatnya sangat menarik adalah karena pada adegan itu Stephen bisa dibilang sudah tidak memiliki senjata untuk menunjukkan emosinya kecuali mata dan sedikit kemampuan menggerakkan otot wajah. Karena ia juga sudah tidak bisa bersuara, wajahnya tidak bisa banyak berekspresi, dan keterbatasan lain. Tapi dengan keterbatasan itu, semua emosi yang terjadi di pikiran dan perasaannya bisa tersampaikan dengan baik dan bahkan menggetarkan. Terlebih ketika akhirnya ia menangis. Bentuk tangisan dan ekspresinya sangat menarik.

Jika kami melihat permainan Eddie Redmayne sepanjang film The Theory of Everything, maka kami bisa bilang bahwa kami lebih menyukai bagian saat ia mulai masuk fase sakit, daripada ketika ia masih sehat. Alasannya karena dengan keterbatasan yang dimilikinya, ia masih bisa memaksimalkan apa yang ia punya. Eddie dengan baik bisa menyampaikan semua emosi yang terjadi di pikiran dan perasaannya pada penonton dan lawan mainnya. Sementara kalau secara garis besar, tanpa melihat apa yang kami suka, maka capaian fisiknya menarik. Caranya membuat ciptaan fisik itu tumbuh juga menarik. Terlebih ketika kami tahu bahwa dalam pembuatan film The Theory of Everything, adegan yang diambil acak dan tidak linier. Hal itu tetap harus menjadi bagian yang wajib diapresiasi dari ciptaan dan proses penciptaan Eddie Redmayne di film The Theory of Everything.

Kalau bagi kalian, bagian mana yang paling menarik dari ciptaan Eddie Redmayne di The Theory of Everything? Tuliskan di kolom komentar ya!

Viva Aktor!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: