[Acting Review] The Gift; Tubuh yang Hidup

The Gift

The Gift adalah sebuah film romance yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan dibintangi Ayushita, Reza Rahadian, Dion Wiyoko, dan Christine Hakim. Film ini secara sederhana bercerita tentang pertemuan seorang novelis perempuan yang memiliki latar belakang hidup yang pelik bernama Tiana dan lelaki buta bernama Harun. Premis kedua tokoh tersebut sudah sangat menarik. Tapi apakah permainan Ayushita sebagai Tiana dan Reza Rahadian sebagai Harun semenarik tokohnya di film The Gift ini? Berikut ulasan lengkap akting film The Gift. Selamat membaca!

 

Tiana, Ayushita, dan Tokoh yang Complicated

Pada sub judul yang pertama ini kita akan membicarakan permainan Ayushita di film The Gift terlebih dahulu. Seperti apa yang sudah dikatakan di atas bahwa tokoh yang dimainkan Ayushita secara 3 dimensi sangat menarik. Terlebih lagi secara psikologi. Jika kita melihat The Gift sampai selesai lalu mencoba mencatat 3 dimensi tokoh yang tersurat atau tersirat di film, maka kita akan menemukan tokoh yang unik dan kuat, baik dari sudut pandang sosiologi, fisiologis, dan bahkan psikologis. Tokoh ini punya latar belakang atau halaman nol yang pelik dan menarik. Ia punya pola pikir yang berbeda dan punya cara merespon sesuatu yang juga berbeda. Belum lagi sahabat-sahabat imajiner yang dimilikinya. Tapi apakah permainan Ayushita semenarik tokoh ini? Kita bedah dari sudut fisiologis terlebih dahulu.

Sorry to say, tapi pada bagian ini kami tidak bisa melihat capaian fisiologis yang mengesankan. Capaian fisiologis dalam hal ini artinya cara berjalan, cara melihat, cara berbicara, bentuk tubuh, model rambut, warna suara, hampir tidak ada perubahan. Jika tidak percaya, coba bandingkan 2 video ini.

Berikut ini adalah video wawancara Ayushita yang diselenggarakan beberapa tahun sebelum film dibuat.

Lalu bandingkan dengan cuplikan trailer The Gift ini. Dengarkan suaranya baik-baik, lihat pembawaannya, dan perhatikan bentuk fisiknya.

Kami secara fisiologis masih sangat melihat Ayushita, bahkan pada tataran pembawaan. Kami juga tidak bisa menangkap pembawaan fisik yang berbeda dari ciptaan Ayushita. Jika pada review-review sebelumnya kami tidak menemukan perubahan fisik tapi mendapati cara membawakan tokoh yang berbeda, pada permainan Ayushita, kami tak mendapati itu. Ini dalam tataran fisiologis ya. Dimana dimensi ini sangat penting dan bisa dibilang menjadi salah satu dimensi “termudah” karena terlihat dan bisa diraba, tapi sekaligus menjadi yang tersulit karena sering dilupakan. Secara garis besar, soal fisik, tidak ada yang berubah. Tapi bagaimana dengan permainan emosi Ayushita dalam The Gift? Dalam tataran ini kami sedikit terobati.

Tokoh Tiana ini adalah tokoh dengan masa lalu yang sangat pelik. Ketika kecil ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya gantung diri, hidup di panti asuhan, hingga kemudian menciptakan teman khayalan. Bukankah itu artinya tokoh ini punya dimensi psikologis yang menarik? Setidaknya, pada tataran ini Ayushita berhasil meyakinkan penonton bahwa semua teman khayalannya itu nyata. Setidaknya juga ia berhasil meyakinkan kami bahwa ia seperti baik-baik saja. Hingga di akhir film The Gift kami semua dibuat tersentak bahwa ternyata semua kawan-kawannya itu hanya khayalan. Meski begitu, “ketidak beresan” pada bagian psikis tokohnya bisa kami tangkap pada beberapa bentuk gesture yang diciptakan Ayushita. Misalnya pada caranya mencerna setiap apa yang terjadi di depannya. Gesture yang diciptakannya seperti memiliki arti lain dari gesture itu sendiri. Ada semacam layer-layer yang diciptakan pada gesture Tiana.

Akan tetapi jika Ayushita sedang beradegan sendiri, kami tidak bisa menemukan respon atau cara ungkap emosi yang menarik. Tapi ketika ia bermain bersama aktor lain, entah dengan Dion Wiyoko, Reza Rahadian atau aktor lain, Ayushita seperti punya “hidup yang lebih”. Respon, emosi, gesture, semua yang keluar ketika ia bersama tokoh lain terasa lebih hidup. Bahkan bukan cuma Ayushita seolah berhasil dihidupkan oleh keberadaan tokoh lain, tapi ia juga berhasil memberikan hidup pada tokoh yang sedang berhadapan dengannya. Sementara ketika ia sendiri, seperti ada yang miss pada gesture dan laku yang dimunculkannya.

Overall, Ayushita bermain cukup bagus di The Gift pada beberapa dimensi dan bagian. Sementara pada bagian lain ada sedikit kekurangan.

 

Reza, Tubuh yang Hidup, dan Frank Slade?

Setelah membahas Ayushita, kali ini kita membahas Reza Rahadian. Salah satu aktor terbaik Indonesia yang secara kualitas kita tidak bisa meragukan permainan dan ciptakan Reza pada tiap tokoh yang dimainkannya. Tapi apakah pada film The Gift ini Reza berhasil menunjukkan kelasnya sebagai salah satu aktor terbaik Indonesia?

Pada poin pertama kita akan melihatnya dari sudut pandang ciptaan fisik. Secara garis besar, ciptaan fisik Reza sama seperti Ayushita. Ini jika kita melihat ruang fisiologis dari kenampakan fisik, warna suara, dan cara berbicara ya? Bahkan pada caranya tertawa dan beberapa aksen bicara tokoh, ada ciptaan Reza di tokoh sebelumnya yang muncul. Beberapa yang sering tertangkap adalah cara Habibie yang sering secara tak sengaja cara-cara mengucapkan huruf konsonan yang “Habibie banget” ikut keluar. Tapi jika kita melihat secara utuh, maka tokoh yang buta menjadi nilai plus yang secara tak langsung membuat dimensi fisiologis tokoh ini sudah pasti berbeda dari Reza.

Salah satu bentuknya adalah bagaimana Reza menciptakan cara telinganya mendengar, cara tangannya meraba, dan caranya “menyalakan” indera yang lain untuk menjadi “mata yang lain”. Pada bagian itu Reza Rahadian terbilang berhasil menciptakan tubuh yang hidup dan menghidupi kebutaannya. Salah satu contohnya bisa kamu lihat pada adegan ketika ia mendengarkan lagu dengan headphone dan Tiana datang menemuinya. Pada adegan itu, ketika simbok menyentuh pundaknya, Reza dengan baik menggunakan tangannya sebagai “mata yang lain” dimana itu  makin menghidupkan kebutaannya. Selain itu cara Reza menggerakkan telinganya untuk mencari sumber suara juga menarik. Cara itu juga semakin menghidupkan kebutaan dari tokoh Harun. Bahkan dari adegan pertama kemunculannya yang hanya terlihat punggungnya saja, kami sudah diperlihatkan bentuk torso dan cara menggerakkan torso yang lain. Meskipun belum sepenuhnya mengirimkan pesan pada penonton bahwa ia buta, tapi gerakan torso yang kecil itu berhasil memberikan pesan pada kami bahwa tokoh ini buta.

 

Selain soal gesture tubuhnya, mata Reza yang buta juga berhasil dibangun dengan baik di film The Gift. Salah satu contohnya adalah ketika adegan Reza bercerita tentang masa lalunya pada Ayushita. Pada adegan itu, jika kamu memperhatikan betul, Reza hampir tidak mengedipkan matanya sama sekali. Dimana itu merupakan salah satu tanda bahwa matanya benar-benar tidak bisa menangkap respon yang menyebabkannya berkedip. Tapi sayang, ada sedikit yang bocor pada adegan ini. Pada saat Reza menunjuk matanya dengan tongkat, ia berkedip. Kekuatannya untuk tidak berkedip dan berusaha meyakinkan penonton bahwa ia benar-benar buta dan apapun yang terjadi di depan matanya tidak akan membuatnya berkedip, karena ia tak tahu respon yang akan datang, runtuh dengan satu kedipan itu. Meskipun jika kita fokus pada cara dan emosi yang disampaikan Reza, kita tak akan sempat melihat kebocoran yang sangat sedikit itu.

Secara laku tubuh, ciptaan Reza hampir sempurna. Kebocoran-kebocoran kecil dari mulai aksen yang tak sengaja keluar, mata yang tak sengaja berkedip, dan kebocoran kecil lainnya itu bisa dibilang tak ada artinya dibanding capaian Reza yang menarik pada keseluruhan fisiologis si tokoh. Lalu bagaimana dengan respon, jalan pikiran, dan emosi si tokoh? Apakah Reza juga seberhasil ini di film The Gift?

Jawabannya adalah Iya! Reza sangat berhasil menyampaikan emosi dan jalan pikiran si tokoh dengan sangat baik. Semua respon yang dikeluarkan oleh Reza juga berhubungan secara logis dengan peristiwa yang terjadi di hadapannya. Bahkan bukan hanya apa yang terjadi di depannya saat itu, tapi halaman nol yang terungkit dihadapannya. Salah satu contohnya bisa kamu lihat ketika ia marah saat Ayushita berkata bahwa ia dulunya sering melukis. Kemarahannya muncul dengan bangunan emosi dan timing yang tepat. Kemarahannya muncul tepat sebelum Ayushita mengucapkan kata “lukisan”. Dimana, jika dipikir secara logika, Harun bukan tokoh yang buta sejak kecil. Sebelumnya ia bisa melihat dan ia juga punya hobi dalam bidang kesenian. Kehidupan yang ia miliki sebelum kebutaan itu mungkin membuatnya marah sehingga ia ingin menghilangkan semua kehidupan yang ia jalani sebelum kebutaannya itu. Sehingga ketika Ayushita hendak mengucapkan soal lukisan atau yang berhubungan dengan lukisan, pikirannya akan langsung terbang ke emosi dimana ia membenci semua karya-karyanya tersebut. Sehingga ledakannya tepat dan dibangun dengan motivasi dan tangga emosi yang juga tepat.

Selain itu Reza juga berhasil membuat emosi dan cara respon tokohnya tumbuh dan berubah. Jika kalian perhatikan betul di film The Gift ini, sebelum dan sesudah Harun dekat dengan Tiana, caranya bicara terasa berbeda. Kita bisa menangkap itu dari nada, intonasi, dan jeda kata perkata yang berbeda dibandingkan yang pertama. Terasa bahwa perasaannya berbeda. Ia seperti lelaki yang sedang jatuh cinta. Perasaan itu bisa terbaca dengan baik oleh kami. Selain emosi yang tumbuh dengan baik dan logis, porsi emosi pada tiap adegan yang dilalui oleh Reza sepanjang film The Gift juga muncul dengan porsi yang tepat. Salah satunya bisa kamu lihat di adegan saat Tiana bertemu Harun lagi setelah ia bersama Ari. Cara Harun marah pada Tiana terasa berbeda terutama pada pilihan nada yang diucapkan.

Di luar soal permainan emosi dan capaian fisiologis yang cukup menarik, permainan Reza sebagai orang buta di awal film hingga ia mulai jatuh cinta pada Tiana tercitra seperti Letnan Kolonel Frank Slade di film A Scent of a Woman. Jika kamu perhatikan betul caranya berdialog, dinamika emosi yang dimunculkan di adegan-adegan awal, terutama ketika Harun bertemu Tiana saat mendengarkan lagu, terasa seperti Frank Slade. Bahkan bukan cuma dinamika emosinya saja, tapi juga nada dialog, tinggi rendahnya dialog yang diucapkan, terasa seperti Kolonel Frank Slade. Entah apakah salah satu inspirasi Reza dalam penciptaan tokoh ini adalah Frank Slade atau memang kebetulan semua orang buta punya bentuk dan dinamika yang sama?

Emosi Berlapis dan Ansamble yang Baik

Kita sudah bicara soal permainan Ayushita dan Reza Rahadian. Kali ini kita akan membahas bagaimana permainan ansamble pada film ini terasa saling menghidupi. Ada banyak sekali adegan ansamble yang permainan kedua aktornya saling menghidupi satu sama lain. Salah satu contohnya bisa kamu lihat pada saat Harun dan Tiana bertengkar. Jika diperhatikan dengan baik, respon keduanya saling menghidupi satu sama lain. Semua emosi yang muncul pada adegan tersebut terasa logis dan tidak ada yang tiba-tiba. Baik Reza atau Ayu sama-sama mencoba mendengarkan lawan main sebaik-baiknya.

Selain itu permainan ansamble emosi yang baik antara Reza dan Ayushita bisa kamu lihat di adegan pertemuan Harun dan Tiana di rumah sakit di Italia. Di adegan tersebut, tangga emosi yang tersusun dari ketidak tahuan Harun menuju kesadaran kalau itu Tiana tersusun dan muncul dengan baik. Upaya Ayushita untuk mengontrol emosi Tiana pun terlihat menarik. Ledakan-ledakan yang tertahan itu malah berhasil memunculkan efek lain pada kami sebagai penonton.

Pada akhir-akhir film The Gift, kami disuguhi banyak sekali emosi berlapis. Hal yang menarik adalah hampir semua emosi berlapis yang muncul, berhasil disajikan dengan cukup sukses. Salah satu contohnya pada adegan ketika Ari, tokoh yang dimainkan Dion Wiyoko, dipeluk oleh Harun karena ia berhasil melihat kembali. Kegembiraan yang disampaikan di depan Harun dan emosi yang lain berhasil ditunjukkan dengan baik. Selain itu pada adegan terakhir saat Harun bertemu Tiana yang sudah buta juga menarik. Emosi yang dimainkan oleh Reza terasa menarik. Ledakan emosi yang tertahan itu justru berhasil menembak sasaran dengan sangat tepat. Dalam kaidah keaktoran Brechtian, apa yang dilakukan Reza kurang lebih seperti melampaui empati. Dimana pada adegan itu, ia menahan tangisannya. Ia membiarkan penonton menangis untuknya.

 

Aktor Lain dan Ciptaan Mereka yang Menarik

Selain permainan ketiga aktor utama itu, permainan para pemain pendukungnya juga menarik. Paling tidak soal ciptaan fisik pada masing-masing tokoh. Salah dua yang cukup menarik perhatian adalah ciptaan fisik tokoh Simbok yang secara konsisten pincang dengan tingkat kepincangan yang jika diperhatikan selalu sama dan konsisten. Kita juga bisa menangkap alasan dibalik kepincangan itu. Selain itu tokoh Pak Rosadi juga menarik. Lelaki tua yang terkena demensia dan katarak diciptakan dengan baik oleh Rukman Rossadi. Kebetulan punya nama yang sama juga dengan tokohnya. Tapi bentuk tubuh, cara menggerakkan tangan, warna suara, cara menggerakkan mata dan menghidupkan matanya yang katarak, semua terasa hidup dan lengkap.

Secara garis besar, permainan semua aktor dalam film The Gift cukup baik. Terlebih pada Reza Rahadian yang secara garis besar tetap ada di kadar kualitas yang sama. Meskipun pada beberapa bagian masih ada sedikit kekurangan, tapi secara utuh tidak mengurangi kualitas permainan Reza Rahadian. Sementara untuk Ayushita dan Dion Wiyoko, kami tidak bisa bicara banyak soal pencapaian fisiologis. Meski dalam soal permainan emosi, keduanya punya kekuatan yang menarik. Terutama Ayushita yang seperti punya kemampuan untuk menghidupkan lawan mainnya dengan baik. Tak banyak aktor yang punya kemampuan semacam itu. Overall, Well played!

Viva Aktor!

%d bloggers like this: