[Acting Review] Beautiful Boy; Aktor adalah Penyampai Pesan yang Harus Baik

beautiful boy

Beautiful Boy merupakan sebuah film yang dirilis tahun 2018 dan disutradarai oleh Felix Van Groeningen. Film ini dibintangi oleh Timothee Chalamet dan Steve Carell. Beautiful Boy dibuat berdasarkan kisah nyata dan bercerita tentang seorang anak muda bernama Nic Sheff yang merupakan seorang pecandu narkoba dan ayahnya, David Sheff yang berusaha membantu anaknya keluar dari kekangan narkoba. Film yang dibuat berdasarkan 2 buku yang ditulis oleh Nic dan David Sheff ini mendapatkan banyak sekali pujian, terutama permainan kedua aktor utamanya. Melihat permainan mereka berdua, tim akuaktor seolah diingatkan kembali tentang apa sejatinya salah satu tugas seorang aktor; yakni menjadi penyampai pesan yang baik.

Lalu kenapa mereka berdua berhasil menjadi penyampai pesan yang baik, dan apa yang membuat kedua aktor tersebut mendapatkan banyak pujian? Bahkan untuk Chalamet sendiri digadang-gadang akan masuk dalam salah satu nominasi Oscar lagi tahun ini. Berikut ulasan lengkapnya!

Steve Carell dan Gesture yang Selaras

Melihat permainan Steve Carell, satu-satunya yang kami khawatirkan adalah munculnya sense komedi dalam aktingnya. Maklum saja, Carell, sejauh yang tim kami tahu lebih sering bermain sebuah film komedi dari pada film serius. Bahkan dalam film Vice, yang juga rilis di tahun yang sama dengan Beautiful Boy. Dalam film Vice terasa agak komedi akting yang dilakukan oleh Steve Carell. Tapi nampaknya kekhawatiran kami itu tidak terjadi. Pasalnya, dilihat dari menit-menit pertama di film ini, Steve Carell sudah berhasil menunjukkan ketebalan konflik dari tokohnya, David Sheff, seorang bapak yang khawatir dengan kondisi anaknya.

Tapi kemudian, ketika kami melihat track record permainannya, kami tidak merasakan ada perubahan yang signifikan dari tokoh David Sheff ini ke tokoh-tokoh yang dimainkan oleh Steve Carell di film-film sebelumnya. Hanya mungkin, jika dibandingkan dengan permainannya di film Vice, kita bisa melihat perbedaan yang cukup signifikan dari ciptaan di film Vice dan film Beautiful Boy. Tapi di luar itu, jika dibandingkan dengan ciptaannya di tokoh-tokoh lain sebelum film Beautiful Boy, Steve Carell tidak mencapai perubahan yang signifikan.

Kita belum membahas tentang kemiripannya dengan tokoh David Sheff yang asli. Atau mungkin pada artikel kali ini kita tak perlu membahas soal itu. Karena baik Steve Carell atau Timothee Chalamet pun nampaknya tidak memikirkan apakah mereka mirip secara fisik dengan Nic dan David Sheff atau tidak, meskipun film ini diangkat berdasarkan kisah nyata.

Kembali lagi soal perubahan yang tidak signifikan itu. Kami mencoba melihat kembali apakah benar-benar tidak ada perubahan yang diciptakan oleh Steve Carell? Apakah dia hanya membawa emosi tokohnya saja? Dengan menggunakan “bentuk lahiriah” yang sama? Tapi ternyata tidak sepenuhnya begitu. Dalam soal suara misalnya, setelah kami perdengarkan baik-baik suaranya, cara bicara, aksentuasi, dan penekanan-penekanan di beberapa huruf terasa perbedaan antara Steve Carell di luar film, di film sebelumnya, dan di film ini. Tapi perubahan itu pun hanya perubahan tipis yang bahkan mungkin tidak akan terlihat sama sekali jika kita tidak benar-benar memperdengarkan lalu membandingkan pengucapan kata perkata dan huruf perhuruf.

Selanjutnya kami melihat perbedaan lain pada tokoh ciptaan Steve Carell. Perbedaan tersebut terletak pada bentuk torso dan cara berjalan Steve. Bentuk torsonya terlihat sedikit dibusungkan ke depan dan diangkat ke atas. Bentuk torso semacam itu nampaknya juga mempengaruhi cara berjalan tokoh ini.

Setelah perubahan-perubahan yang kami lihat itu, kami tidak menemukan perubahan lain yang siginifikan. Bahkan bisa dibilang, untuk soal capaian fisiologis Steve Carell, tidak ada yang spesial. Lalu bagaimana dengan permainan emosinya?

 

Kalau bicara soal permainan emosi, Steve Carell terbilang cukup berhasil menjadi penyampai pesan yang baik. Ia dengan telak bahkan berhasil menyampaikan perasaan seorang ayah yang sangat khawatir pada anaknya. Ia juga berhasil menunjukkan depresi yang dalam, ketakutan yang besar atas apa yang terjadi pada anaknya dan kekhawatiran kalau-kalau sang anak akan berakhir tragis. Steve Carell menunjukkan ketertekanan itu dengan pilihan ekspresi yang tepat. Tekanan-tekanan itu juga berhasil ia tunjukkan di mata si tokoh. Hal yang paling menarik sejatinya bukan bentuk yang dibuat Steve Carell untuk mewakili emosi tersebut, tapi bagaimana ia bisa memunculkan gesture yang selaras dengan pikiran dan perasaan si tokoh.

Salah satu adegan dalam film Beautiful Boy yang berhasil menyampaikan emosi tokohnya dengan gesture yang selaras dan tepat adalah ketika ia menerima telepon dari pusat rehabilitasi dan ia berkata “… like crushing …”. Dalam adegan tersebut Steve memukul meja bersamaan dengan kata itu keluar dari mulutnya. Mungkin Steve merancang hal itu, tapi jika itu juga sebuah rancangan, gesture tersebut terasa tidak artifisial. Ia terasa selaras dan sejalan dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diucapkan si tokoh.

Selain itu, respon yang diciptakan oleh Steve juga selalu tepat antara laku dan perasaan yang sedang berjalan. Salah satunya ketika adegan bertemu dengan Nic di sebuah cafe. Steve berhasil menunjukkan kegelisahannya dan konflik batin yang dalam atas apa yang terjadi pada anaknya. Lalu pada momen sebelum Nic meninggalkan David Sheff, vibra emosi yang dimainkan Steve sangat terasa. Bukan hanya sebatas terasa saja, tapi tangga menuju kemunculan emosi tersebut logis. Seorang ayah yang ingin membantu anaknya tapi selalu gagal.

Mari sekali lagi meminjam apa yang dikatakan Stanislavski dalam buku Membangun Tokoh tentang tujuan gesture itu sendiri;

“…yaitu memproyeksikan pengalaman batin. Dengan demikian gesture tidak berhenti sebagai gesture semata; ia dijelmakan menjadi laku sejati yang punya maksud-tujuan dan isi”

Itulah yang terjadi pada permainan Steve Carell. Gesture yang ia munculkan bukan gesture yang berdiri sendiri sebagai gesture, tapi sebagai jelmaan dari laku yang punya maksud dan juga punya isi yang penting.

Lalu bagaimana dengan permainan Timothee Chalamet?

Timothee Chalamet

Secara garis besar, apa yang dilakukan dan dicapai oleh Timothee di film Beautiful Boy ini tidak jauh beda dengan apa yang dicapai oleh Steve Carell. Pertama adalah soal capaian fisiknya. Tidak ada yang sangat mencuri perhatian kecuali perubahan aksen dan cara tokohnya berbicara. Selain itu warna suara dan bentuk mulutnya ketika bicara terasa berubah. Jika dibandingkan dengan permainan Timothee Chalamet di film yang lain, atau katakanlah pada film Call Me by Your Name, maka akan terlihat perbedaan itu. Tapi bagaimana jika disandingkan dengan tokoh aslinya? Nic Sheff di kehidupan nyata? Kalau dilihat selintas, kami bisa menyimpulkan bahwa tokoh Nic Sheff yang diciptakan oleh Timothee tidak sama dengan Nic Sheff yang asli. Tapi jika kita melihat sedikit lebih detail, terutama pada bentuk mulutnya ketika berbicara, maka kita bisa melihat persamaan antara Nic Sheff ciptaan Timothee dan Nic Sheff asli. Kamu bisa mengeceknya di video wawancara Nic Sheff yang asli di bawah ini;

Lalu coba bandingkan dengan cuplikan permainan Timothee di video ini;

Jika diperhatikan betul, ada sedikit persamaan di antara keduanya.

Sebenarnya Timothee melakukan pencarian tokoh yang cukup gila dalam Beautiful Boy. Salah satunya adalah upaya Timothee untuk menurunkan berat badannya sampai terlihat seperti pecandu narkoba. Tapi jika kita tidak tahu soal berita itu, maka kita juga tidak akan sadar bahwa Timothee telah menurunkan berat badannya beberapa kilo. Untuk soal capaian fisiologis, sudah tidak ada yang menarik lagi dari ciptaan Timothee di film Beautiful Boy. Hanya itu saja. Tapi jika bicara soal capaian lain seperti psikologi, maka kita dibuat tercengang.

Tokoh Timothee adalah seorang pencadu narkoba. Diceritakan dalam film tersebut Nic Sheff awalnya hanya menggunakan ganja selama beberapa tahun dan baru mencoba sabu selama beberapa bulan. Jika kita melihat latar belakang tersebut, maka apa yang ditunjukkan Timothee terlihat cukup baik.

Jika kita menilik efek kecanduan dari sudut pandang kedokteran, maka apa yang diciptakan oleh Timothee tepat. Salah satu efek yang paling terlihat dari seorang pecandu sabu atau crystal meth ini adalah rasa tidak tenang yang ditunjukkan lewat nafas yang lebih cepat dan perubahan emosi yang drastis. Hal ini berhasil ditunjukkan oleh Timothee. Salah satunya bisa kamu lihat di adegan ketika ia bertemu dengan sang ayah di cafe. Dalam adegan tersebut setiap dialog dan laku yang keluar dari Timothee terasa asli. Kegelisahan dan efek sabu itu terlihat disusun dengan baik dan logis sesuai dengan keadaan tokohnya yang sedang sakau.

 

Tapi ada salah satu adegan dimana ekspresi yang ditunjukkan oleh Timothee terasa melompat tanpa tangga dan landasan yang jelas. Ini bisa kamu lihat di adegan ketika ia berbincang dengan sang ayah setelah sempat menghilang dan ditemukan di tempat sampah ketika hujan. Pada adegan tersebut, Timothee mengajak ayah dan ibu tirinya untuk masuk ke kamar. Kemudian ia bercerita tentang bagaimana perasaannya. Disitulah obrolan serius antara David Sheff yang marah pada Nic dan berusaha membantu terjadi. Sebenarnya permainan emosi di adegan ini terasa cukup dalam. Tapi ada yang mengganjal. Pada adegan ini terlihat mata Timothee berkaca-kaca. Yang menjadi persoalan adalah alasan di balik mata yang berkaca-kaca itu. Bahkan jika dikaitkan dengan kondisi medis dimana perasaannya bisa berubah dengan cepat, apakah akan secepat itu? Mata yang berkaca-kaca itu terasa tiba-tiba muncul tanpa ada tangga yang jelas menuju ke bentuk tersebut. Hal itu makin terasa janggal ketika kita menarik sedikit ke belakang ke adegan sebelumnya ketika ia mengajak ayah dan ibu tirinya masuk ke kamar. Tidak terlihat konflik batin yang besar dari tokoh tersebut ketika memasuki kamar.

Timothee sepertinya benar-benar mencari seperti apa efek mabuk sabu. Tak heran, karena dalam proses shooting film ini ia didampingi langsung oleh tim dokter yang melihat apakah efek sabunya benar-benar seperti orang yang sedang “makek” atau hanya dibuat-buat saja. Lakunya ketika menggunakan sabu dan hampir semua laku dan bentuk tubuhnya jadi tidak terkesan artifisial.

Timothee juga bermain cukup konsisten dalam film ini. Setiap gesture yang ia ciptakan dari awal sampai akhir film terasa tumbuh dan logis. Ia pun sepertinya benar-benar memperhatikan kecendurangan fisik si tokoh dan memegangnya sebagai landasan agar lakunya tetap konsisten.

 

Lalu kita bicara soal chemistry kedua aktor tersebut. Baik Timothee dan Steve sama-sama berhasil membangun chemistry antar tokohnya dengan sangat baik. Tokoh mereka terasa sangat dekat. Salah satu yang menjadi ejawantah dari kedekatan itu adalah setiap kali mereka berdua berpelukan. Pada setiap pelukan, perasaan yang dibawa seolah berbeda tapi punya landasan yang sama. Rasa sayang ayah pada anak dan sebaliknya. Pelukan mereka selalu terasa dalam.

Secara garis besar, permainan Timothee Chalamet dan Steve Carell sangat menarik. Mereka berdua berhasil menciptakan tokohnya luar dalam. Bisa dibilang tidak ada yang artifisial atau palsu dalam tiap akting yang mereka lakukan. Meskipun ada beberapa tangga emosi yang tidak terbaca dengan baik, tapi Steve dan Timothee tetap berhasil sebagai seorang aktor yang bertugas menyampaikan pesan. Mereka berhasil menjadi penyampai pesan yang baik.

Lalu kalau bicara soal kesempatan mereka berdua masuk nominasi Oscar, nampaknya kesempatan itu hanya akan dimiliki oleh Timothee Chalamet saja. Mengingat permainan Steve Carell dalam film ini bisa dibilang tidak sangat mencuri perhatian terlebih lagi jika dibandingkan dengan permainan aktor lain seperti Christian Bale di Vice, Rami Malek di Bohemian Rhapsody, Willem Dafoe di At Eternity’s Gate, dan Vigo Mortensen di Green Book. Dimana mereka semua punya kans besar untuk bisa masuk nominasi Oscar. Sementara untuk Timothee sendiri, kesempatannya bisa dibilang cukup besar. Mengingat dalam 3 penghargaan sebelumnya, termasuk Golden Globe, ia selalu masuk menjadi salah satu nominator meskipun pada 3 gelaran itu, termasuk Golden Globe, berhasil dikalahkan oleh Mahersala Ali.

Satu hal yang harus kalian garis bawahi dalam artikel ini adalah bahwa setiap aktor harus sadar bahwa dirinya adalah “The Messenger”. Ia adalah penyampai pesan. Maka sebagai seorang penyampai pesan, jangan sampai ada distorsi untuk pesan yang hendak kamu sampaikan. Karena aktor harus menjadi penyampai pesan yang baik!

Viva Aktor!

%d blogger menyukai ini: