[Acting Review] Ad Astra: Brad Pitt Oscarable Banget!

Ad Astra

Ad Astra adalah sebuah film yang dibintangi Brad Pitt. Film ini kurang lebih bercerita tentang perjalanan seorang anak yang mencari ayahnya sampai ke Neptunus. Itu singkatnya. Terlalu ribet kalau harus dijelaskan satu persatu. Lagi pula kami tak hendak membahas ceritanya. 

Mendengar Ad Astra sudah tayang di Indonesia, justru yang pertama kali terbayang oleh kami adalah akting Brad Pitt. Sebelum menonton film ini kami membaca beberapa artikel yang memprediksi bahwa Brad Pitt akan masuk ke Oscar karena film ini. Seketika kami tertarik pada Ad Astra. Meskipun dalam beberapa berita yang lain Brad Pitt tak mau memikirkan keberhasilannya di Oscar nanti. 

Tapi diluar itu, ketika ada seorang aktor yang digadang-gadang masuk Oscar, naluri kami untuk menonton dan membedah capaian keaktorannya seketika tergugah. Sebagus apa sebenarnya permainan Brad Pitt kali ini? Lebih bagus kah dari permainannya di Once Upon a Time in Hollywood? 

Ad Astra

 

 

Minim Capaian Fisiologis, Kaya Capaian Psikologis

Begitu film dimulai, kami berusaha mencari apa yang menarik dari capaian fisiologis Brad Pitt. Setidaknya dimensi itu yang terlihat pertama. Sayangnya kami kecewa. Secara singkat kami mengatakan bahwa untuk fisiologis tiada capaian. Suara Brad tidak berubah, aksennya sama, laku tubuhnya tidak berubah, dan hampir tidak ada perubahan apapun. Bahkan pada caranya berjalan yang sejauh penglihatan kami masih sama dengan cara berjalan Brad di kehidupan nyata di luar film. 

5 menit setelah film dimulai, kami merasa bahwa yang menarik dari tokoh ini sepertinya bukan capaian fisiologis tapi psikologis. Dan ya, kami menangkap gejolak yang besar dalam psikologis tokoh bernama Roy McBride ini. Setelah kami menyadari hal tersebut, kami seketika berhenti mencari pencapaian fisiologisnya dan fokus untuk menikmati Brad Pitt memainkan gejolak dalam tokohnya. 

Dalam salah satu sesi wawancara yang dilakukan Inverse dengan psikolog NASA, Jim Picano, kami menyadari bahwa tokoh Brad Pitt yang seorang astronot memang diwajibkan untuk bisa mengendalikan emosinya sebaik mungkin. Ia harus bisa selalu tenang dalam kondisi apapun, terutama ketika sudah berada di luar angkasa. Dimana dalam kondisi semacam itu apapun bisa terjadi. 

And the appropriate regulation of emotion is a very important skill. – Jim Picano, Inverse.com

Seperti apa yang dikatakan oleh Jim Picano, kemampuan untuk mengendalikan emosi itu sangat penting untuk seorang astronot. 

Jika merujuk pada penjelasan Picano, kami juga mendapatkan informasi bahwa pengendalian emosi itu juga sering berefek pada kehidupan personal si astronot. Hal itu juga terjadi pada tokoh yang Brad Pitt mainkan. Dengan membaca penjelasan Jim Picano lalu membandingkan dengan permainan Brad Pitt serta film Ad Astra secara keseluruhan, kami mendapati suasana-suasana yang sangat mirip. 

Melihat dari satu sudut pandang soal valid tidaknya ciptaan Brad Pitt, kami menyimpulkan bahwa penciptaan Brad Pitt valid dan tidak mengada-ada. Satu hal yang oleh Stanislavski disebut sebagai Sense of Truth terjadi pada proses penciptaan dan permainan Brad Pitt. Kami menemukan tingkat objektifitas yang tinggi. 

Sementara dari permainan Brad Pitt, kami mendapati capaian yang menarik dari sisi permainan psikologis. Hal pertama yang sangat terlihat dan membuat kami mengenyampingkan capaian fisiologis dan fokus pada permainan psikologis tokoh adalah mata Roy McBride. Brad Pitt sepertinya melakukan apa yang disebut Stanislavsky latihan “immobility” atau dalam bahasa kita yang paling sederhana dan mendekati arti immobility adalah silent act.

Ad Astra

 

 

Dari mata saja, kita bisa melihat banyak sekali emosi yang sedang berusaha ia kendalikan. Seperti kata banyak orang bahwa mata tidak bisa berbohong, Brad Pitt tidak berusaha membohongi siapapun. Ia tampak benar-benar menjalankan pikiran dan perasaan tokoh kemudian menyalurkan semua gejolak itu dalam matanya. 

Hal itu sangat bisa kalian lihat pada hampir semua adegan. Salah satunya adalah ketika adegan di kamar tidur. Kita bisa melihat Brad Pitt tidak bergerak banyak, tapi matanya berbicara sangat banyak. Selain itu pada adegan dimana ia menerima informasi tentang kenyataan bahwa sang ayah masih hidup menarik. Lagi-lagi, kami melihat permainan mata yang dalam, dan “berisik dalam arti yang baik”.

Tapi kalian tidak bisa hanya berhenti memperhatikan matanya saja. Jika dalam  psikologi ada micro expression, maka dalam permainan Brad Pitt hal itu muncul banyak sekali.  

Mengutip penjelasan tentang apa itu micro expression di website paulekman.com;

Micro expressions are facial expressions that occur within a fraction of a second. This involuntary emotional leakage exposes a person’s true emotions.

Ia merupakan ekspresi wajah yang terjadi dalam sepersekian detik. Micro Expression juga merupakan sebuah kebocoran emosional yang tidak disengaja dan mengungkapkan emosi sejati orang tersebut. Merujuk pada penjelasan tersebut, maka penjelasan tentang micro expression itu sesuai dengan apa yang kami tangkap dari permainan Brad Pitt. 

Pada momen-momen dimana Roy McBride mengendalikan emosinya, kita bisa melihat laku-laku kecil yang menjadi ejawantah dari gejolak yang terjadi dalam perasaan Roy McBride. Semua ekspresi kecil yang keluar itu sangat berarti. Penonton seolah dibuat tahu bahwa Roy McBride memang ahli mengendalikan emosi, tapi jauh di dalam dirinya, ia sedang tidak baik-baik saja. 

Dalam film ini Brad Pitt tidak hanya mendapatkan kesempatan menunjukkan gejolak emosi tokoh dengan micro expression. Tapi ia juga mendapatkan adegan-adegan dimana emosi Roy McBride ditunjukkan dengan gamblang. Ketika adegan itu terjadi, kami bisa menangkap vibrasi yang kuat dari emosi tersebut. Jika dianalogikan, permainan Brad Pitt pada adegan tersebut seperti gunung yang sedari tadi tertahan untuk meletus dan sekarang ia bisa meledak bebas. Vibrasi atau getarannya sangat terasa. 

Ketika seorang aktor mendapatkan tokoh yang “sibuk dengan emosi dirinya sendiri” si aktor biasanya lupa untuk merespon yang sedang terjadi di luar dirinya. Tapi tidak dengan Brad Pitt. Pada beberapa momen dimana ia berhadapan dengan lawan main, respon yang keluar pun berbeda. 

Misalnya ketika ia berhadapan dengan sang ayah. Ketika pertama kali ia melihat ayahnya, kami melihat permainan emosi yang sangat menarik. Kami seperti melihat gejolak yang besar dalam diri Roy McBride. Semuanya terwakilkan lewat mata yang sangat kuat, dan micro expression yang terjadi di wajahnya. 

Kami sempat bertanya, bagaimana itu bisa terjadi? Dari buku yang kami baca, kami sedikit banyak berusaha menyimpulkan bahwa micro expression itu bisa terjadi karena Brad Pitt terus-terusan menjalankan dengan konsisten operasional dalam atau inner life dari tokoh tersebut. Atau bahasa paling sederhana adalah Brad Pitt berusaha terus menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh. Sehingga semua bentuk yang keluar dan terlihat oleh penonton adalah bentuk yang lahir dari pikiran dan perasaan yang berjalan. 

Untuk para aktor mungkin perlu menyadari hal tersebut. Bentuk luar memang seharusnya tidak perlu mengada-ada. Terutama soal ejawantah emosi ya. Jika soal bentuk tubuh, cara berjalan dan lain sebagainya, aktor harus membentuknya sesuai data. Tapi jika soal laku tubuh sebagai buah dari emosi, maka harus disadari jika laku tubuh tersebut adalah hasil dari emosi yang berjalan. Bukan muncul tetiba.

 

 

Ad Astra Oscarable Banget!

Jika kita melihat film Ad Astra, maka kalian harus mengingat film The Martian dan Gravity yang dimainkan Matt Damon dan Sandra Bullock. Kedua aktor tersebut berhasil masuk nominasi Oscar meski tidak sampai meraih Best Actor. Dengan berkaca pada dua film tersebut, maka kami sedikit menyimpulkan tentang selera para voters di Oscar. 

Apa yang Brad Pitt lakukan di Ad Astra adalah permainan yang sepertinya akan menjadi selera banyak Academy Member. Sehingga ia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk bisa masuk ke Oscar. Tapi hanya sebagai nominasi saja. Kenapa hanya nominasi? Sejauh yang kami tahu, para voter di Oscar juga memiliki preferensi umum dalam memilih Best Actor. 

Setidaknya, aktor yang akan mendapatkan Best Actor harus memiliki capaian permainan yang lengkap. Ia harus memiliki capaian fisiologis yang bagus, lengkap  dan jauh dari dirinya, kesempatan bermain psikologis yang banyak dan berhasil, serta kemampuan meyakinkan penonton bahwa si aktor bukanlah si aktor itu sendiri tapi tokoh. 

Dari kondisi semacam itu, Brad Pitt hanya ada pada posisi “mendapatkan kesempatan bermain psikologis yang banyak dan berhasil”. Sementara untuk capaian fisiologis yang jauh dari diri si aktor, Brad Pitt jauh dari kata berhasil. Lalu untuk soal meyakinkan penonton bahwa ia adalah tokoh dan bukan si aktor, Brad Pitt juga berada pada posisi yang kurang kuat untuk bisa mendapatkan Oscar. Secara sederhana, kami masih sangat bisa melihat bahwa itu Brad Pitt yang sedang bermain. Hal tersebut dipengaruhi oleh capaian fisiologis yang hampir tidak ada. 

Singkat kata, Brad Pitt itu Oscarable banget. Tapi hanya sebagai nominasi. Sementara untuk mendapatkan Best Actor, kemungkinannya sangat kecil. Terlebih lagi ketika tahun ini banyak aktor yang lebih memiliki kans kuat untuk mendapatkan Oscar seperti Christian Bale di Ford v Ferrari, dan Joaquin Phoenix di Joker. Kami malah menduga, Best Oscar tahun ini akan jadi pertarungan antara Christian Bale dan Joaquin Phoenix. 

Secara keseluruhan permainan Brad Pitt di Ad Astra sangat bagus secara psikologis. Tapi tidak sangat memuaskan dalam sudut pandang fisiologis. Meski ciptaan psikologisnya rumit dan ia berhasil menunjukkan kerumitan inner life dari si tokoh, tapi ia tak berhasil merubah “kendaraan” emosinya dengan cukup signifikan. Jadi, masuk nominasi Oscar itu pasti. Tapi mendapatkan Best Actor itu urusan yang lain lagi. 

Terima kasih, Viva Aktor!  

%d bloggers like this: