fbpx

The Little Things; Lengkap dan “Mengambang”

The Little Things

The Little Things sedang diputar di bioskop sekarang. Film yang menarik perhatian banyak pihak (di luar negeri tapi, tidak di Indonesia) ini sepertinya tidak akan bertahan lama di bioskop kita. Kenapa kami bisa bilang begitu? The Little Things yang bercerita soal proses pemecahan kasus pembunuhan bukanlah sebuah film action yang seru, penuh aksi dan disukai penonton Indonesia kebanyakan. Kami menyadari hal itu ketika menonton film ini. 

Tapi jika untuk seseorang yang menyukai film pada level tertentu, apalagi yang menyukai film dari permainan aktornya, maka ia akan betah menonton film ini sampai habis. Tapi bagi penonton yang lebih suka menikmati sebuah film dari aksi dan komedinya, maka The Little Things yang berdurasi 2 jam lebih akan sangat membosankan untuk mereka, dan selanjutnya nggak akan mereka rekomendasikan pada teman-temannya. 

Padahal jika kita melihat The Little Things dari sisi permainan para aktornya, kami bisa bilang The Little Things adalah salah satu film dengan permainan paling menarik tahun ini. Terdiri dari 3 peraih Oscar. Rami Malek, Denzel Washington, dan Jared Leto. Meski, ketika kami melihat lebih jauh, hanya permainan Jared Leto yang benar-benar menarik untuk dibedah. Jadi, bagaimana permainan Jared Leto? Apakah permainannya mengejutkan lagi seperti ketika ia bermain di Dallas Buyers Club?

 

 

Capaian Jared yang Paling Lengkap

Di antara semua pemain di The Little Things, dengan meyakinkan kami bisa bilang kalau Jared Leto memiliki capaian yang paling lengkap. Meski ia tampil paling singkat, tapi capaiannya yang paling lengkap. Secara fisiologis misalnya, Jared Leto jelas punya capaian terbaik. Kita mulai dari suara. Coba dengarkan baik-baik. Ini cuplikan warna suara Jared Leto di sebuah video dari Instagram pribadinya; 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by JARED LETO (@jaredleto)

Lalu coba bandingkan dengan ketika ia menjadi Sparma, tokohnya di The Little Things. Berikut cuplikan videonya;

Kita bisa dengan jelas mendengarkan warna suara yang berbeda jauh. Selain warna suara yang sejauh pendengaran kami terdengar jadi sedikit agak “mengambang”, tempo bicara Jared yang berubah juga membuat kesan perubahan pada suara semakin kuat. Perhatikan tempo yang cenderung pelan, tenang, dan bahkan terkadang datar. Meski datar, kami masih bisa mendengar dinamika yang unik dan menarik. 

Perhatikan ketika adegan interogasi misalnya. Di adegan tersebut, kita bisa mendengar tempo bicara Jared yang cenderung tenang dan lambat, tapi tidak diam. Cara dia bicara tetap dinamis. Di adegan ini kita bisa melihat Jared memiliki fokus permainan yang kuat. Ia tahu betul kemana karakternya harus dibawa. Hal itu membuat suaranya yang tenang, lambat tapi tetap bergerak itu tetap terdengar hidup dan sekaligus dinamis. Banyak pemain yang terjebak pada tempo lambat dan tenang. Kebanyakan dari mereka jadi tidak memiliki permainan yang dinamis. Padahal dengan tempo yang lambat dan tenang pun mereka tetap bisa memiliki permainan yang dinamis dan justru bisa dinamis dengan cara yang unik dan otentik. 

Selain warna suara dan segala aspek yang ada di suara, kita juga bisa melihat laku tubuh berubah drastis. Pertama yang paling terlihat adalah cara memandang. Kalau bagian ini kita tentu harus berterima kasih pada make up yang sejauh pencarian kami, tim make up Jared membuat sedikit perubahan pada hidung dan menambah sedikit sentuhan make up pada kantung mata. Hal itu membantu membuat cara memandang Jared berubah. Meskipun begitu, misalnya make up kita ambil, Jared tetap memiliki cara memandang yang baru karena pada dasarnya ia memang menciptakan cara memandang yang baru. Kesan yang paling jelas terlihat dari cara memandang karakter ini adalah “mengambang”. Itu kata yang kami pikir paling mendekati kesan yang kami tangkap dari pandangan mata Jared. Ia seperti kurang tidur, mabuk, tapi tetap sadar. Jadi seperti mengambang antara mau terbang atau mau mendarat. 

Selain kesan “mengambang” dari cara memandang, perhatikan baik-baik bagaimana Jared meminimalisir kedipan mata. Hal itu membuat karakternya memiliki kesan misterius. Kesan ini yang mampu membangun segala kecurigaan, baik itu pada kawan mainnya, atau pada penonton yang sedang menonton film ini. 

Setelah cara memandang, masih pada capaian fisiologis, kita bisa melihat cara berjalan yang sangat berubah. Ini ciptaan yang sangat menarik di antara ciptaan Jared yang lain. Coba perhatikan cara berjalan Jared dimana ujung kaki sebelah kanannya agak diarahkan keluar serta ayunan tangan yang agak diperlebar, ditambah gerakan pundak kiri kanan yang terlihat lebih besar. Terkesan seperti jungkat-jungkit. Serta langkah kaki yang cenderung lebih lebar. Semua hasil ciptaan pada cara berjalan ini kami rasa relevan dengan bentuk tubuh yang sepertinya dibantu wardrobe yakni perut yang gendut. Dengan bentuk berjalan macam itu, kami melihat kesan angkuh yang cukup kuat, tapi jika dikombinasikan dengan pandangan matanya serta kesan “mengambang” karakter ini, maka keangkuhan karakter Jared jadi terlihat tenang. Angkuh, tapi sekaligus tenang. Yang jika kita melihat The Little Things sampai selesai, kita tahu karakter Sparma ini adalah manusia cerdas. Ia tenang karena kecerdasannya. Ia juga terkesan aneh karena kecerdasannya. 

Kami rasa hal itu relevan dengan kesan karakter yang ingin dibangun sebagai manusia aneh tapi cerdas. Coba ingat satu dialog di adegan interogasi yang diucapkan salah satu polisi. Ia menyebutkan “Bicaralah, Aneh!”  Kami menduga itu kesan yang diharapkan muncul pada ciptaan Jared. 

Dari semua capaian fisiologis Jared ini yang memunculkan beragam kesan, kami menangkap satu hal yang menarik. Tokoh Sparma yang diciptakan Jared sendiri, terlepas dari filmnya, memiliki spektakelnya sendiri. Capaian yang tidak banyak aktor mampu mencapainya. Kenapa kami bisa bilang begitu? Coba ingat kesan kalian ketika menonton film ini? Kalau kami, memiliki kesan curiga pada karakter Sparma. Kecurigaan yang besar karena cara memandang yang aneh, tokoh yang seram, dan tenang. Ia seperti melengkapi persyaratan psikopat dalam kepala kami. Tapi ketika film selesai, kami malah menaruh simpati pada Sparma yang semata-mata orang baik dan pintar yang mungkin usil saja. 

Permainan emosi Jared bagaimana? Seperti yang kami bilang, dengan tempo karakter yang cenderung tenang dan lambat, Jared mampu tetap memunculkan dinamika permainan. Pada adegan interogasi dinamika itu muncul dengan baik dan disusun dengan sangat baik. Mungkin karena ada beberapa aksen “menggoda” yang dikeluarkan Sparma ketika diinterogasi dan respon yang baik oleh kawan mainnya membuat setenang dan selambat apapun tempo Sparma, tetap terlihat hidup dan menarik. 

Lalu di adegan menggali tanah, kita bisa melihat perlakuan yang sama pada tempo karakter. Meski tenang dan cenderung lambat, sekali lagi kita bisa melihat karakter yang dinamis dan pada beberapa laku yang ia keluarkan, “menggoda” kawan mainnya. Misalnya ketika ia berpura-pura menembak dengan tangan atau ketika ia salah menunjukkan tempat dimana – yang dicurigai sebagai korbannya – dikuburkan. Sama seperti kesan karakternya yang “mengambang”, visi dari Sparma juga “mengambang” tapi menarik. Karena mungkin memang itulah hidup Sparma dan visi-visinya. “Mengambang”. 

 

 

Pemain Lain The Little Things

Lalu bagaimana dengan pemain lain? Apakah benar-benar tidak memiliki capaian? Kami tentu tak bisa bilang begitu. Semua pemain di The Little Things tetap punya capaian. Misalnya pada Denzel Washington. Menurut kami Denzel berhasil menghidupkan sejarah karakternya dengan sangat baik. Kita bisa melihat pada banyak respon yang dihadirkan Denzel, entah pada peristiwa, benda, atau orang. Kita bisa melihat relasi yang menarik dan kuat pada setiap aspek tersebut. Apalagi ketika kita tahu bahwa tokoh Denzel, si Deke memiliki trauma di masa lalunya. Semua respon Denzel jadi sangat relevan. 

Caranya menjalankan sejarah ini juga membuat caranya menjalankan pikiran dan perasaan karakter menarik. Kita bisa melihat intensitas emosi yang baik dan unik pada beberapa momen. Misalnya ketika ia menerima sebuah benda dari rekan forensiknya. Atau ketika ia hadir di lokasi yang sama seperti beberapa tahun lalu ketika ia secara tak sengaja melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada orang lain. 

Meski, jika kita melihat capaian Denzel secara utuh, kita tidak akan bisa mendapatkan capaian fisiologis yang signifikan. Mungkin karena Denzel sudah terlalu tua dan tidak ada tenaga lagi untuk menciptakan fisik karakter. Tapi sejauh yang kami pernah ingat pada setiap permainan Denzel, ia hampir jarang mengubah fisiologis, kecuali pada beberapa film biopic, yang itu pun juga tidak sangat signifikan. Permainan Denzel memang kuat pada aspek emosi, baik emosi yang berjalan di luar, seperti ketika ia meledak-ledak di Training Day, atau emosi yang berjalan di dalam seperti ketika ia bermain Equalizer 1 dan 2, John Q di adegan-adegan awal, hingga Flight. 

Lalu Rami Malek bagaimana? Kami tak bisa bicara banyak pada permainan Rami. Kami pikir ia memang berhasil bermain baik ketika menjadi Freddie Mercury. Tapi sepertinya permainannya di Bohemian Rhapsody adalah permainan terbaiknya sampai saat ini. Setelah itu, bahkan ketika di The Little Things, kami tak bisa melihat capaian yang signifikan pada berbagai aspek. Pada fisiologis, tentu jangan berharap lebih. Pada permainan emosi luar atau dalam juga tak bisa berharap banyak. Hampir semua bentuk dan cara Rami menunjukkan emosi karakter sama dengan caranya di film yang lain. Entah itu di The Master, Papillon, atau filmnya yang lain. 

Satu-satunya yang bisa secara jelas kami katakan berubah dari permainan Rami adalah tempo karakternya. Kita bisa melihat tempo yang cenderung lambat, tenang, tapi pasti. Tapi ketika melihat capaian perubahan tempo ini kita harus mengenyampingkan segala ciptaan Rami sebelumnya. Karena jika melihat temponya di The Little Things lalu membandingkannya dengan ketika ia di Bohemian Rhapsody, tempo karakternya kurang lebih sama. Rami adalah salah satu pemain yang memiliki capaian paling rendah di antara Jared Leto dan Denzel. Agak ironis, mengingat ia berhasil mendapatkan Oscar 2 tahun lalu. Apakah itu sebuah kebetulan? 

Jika kita bicara soal kemungkinan Jared Leto masuk ke jajaran Oscar, maka kami bisa bilang Jared punya kesempatan besar sekali untuk bisa masuk kembali ke jajaran nominasi. Tapi untuk mendapatkan penghargaan itu cukup sulit. Awalnya kami menduga akan lebih mudah karena capaiannya cukup lengkap dan signifikan. Bahkan salah satu yang terlengkap dan paling signifikan tahun ini. Tapi kami lupa ada Daniel Kaluuya di Judah and the Black Messiah. Terlebih lagi Daniel Kaluuya baru saja mendapatkan Golden Globe yang secara statistik memperbesar kemungkinannya mendapatkan Oscar. Jadi mungkin pertarungan sengit akan terjadi antara Daniel Kaluuya dan Jared Leto di Best Supporting Actor Oscar. Tentunya jika keduanya masuk nominasi. We’ll see! 

Itu menurut kami. Menurutmu? Tulis di kolom komentar! 

Terima kasih, viva aktor!