Piala Citra 2019, Tim Penyeleksi yang Kurang Kredibel?

Menulis artikel ini mungkin akan sangat berbahaya untuk AkuAktor, tapi tak apalah. Rasa-rasanya lebih aman menulis kritik pada FFI dari pada soal negeri ini. Ups! Jadi begini, ada sesuatu yang harus disampaikan dan menjadi kegelisahan kami. Hal tersebut adalah jajaran Tim Seleksi Piala Citra 2019. Kenapa kami gelisah? Pantas dan tepatkah kami gelisah? Atau kami hanya anak bawang yang seharusnya tidak banyak bicara? 

 

 

Piala Citra dan Tujuan Mulianya

Sebelum kita membahas soal siapa saja tim seleksi Piala Citra 2019 dan kenapa kami begitu gelisah, kita bahas dulu Piala Citra dan tujuan mulianya. Karena justru tujuan mulia inilah yang membuat kami gelisah dengan kondisi Piala Citra dari tahun ke tahun, terutama tahun ini ketika kami melihat jajaran Tim Seleksi Piala Citra 2019. 

Dikutip dari website resmi FFI, disebutkan bahwa tujuan dari Piala Citra adalah; 

…ingin semakin mengukuhkan posisinya sebagai otoritas kualitas film Indonesia. (website FFI, dibuka 27 September 2019

Lukman Sardi sebagai Ketua Komite pun mengatakan bahwa; 

“Bersama Badan Perfilman Indonesia (BPI), Komite FFI melakukan evaluasi untuk mencari tahu apa yang harus diperbaiki tahun ini. Terutama yang penting adalah penilaian, supaya kita dapat menghasilkan yang lebih baik lagi.” (website FFI, dibuka 27 September 2019)

Ia menambahkan, 

“Tugas Komite FFI pertama ini membentuk fondasi. Tentunya perlu proses, tapi kita pastikan akan diperkuat dengan organisasi yang lebih rapi.” (website FFI, dibuka 27 September 2019)

Pertama, perlu dipahami bahwa tidak ada yang salah soal tujuan itu. Kami justru sangat mendukung tujuan tersebut. Tapi nampaknya, dengan tujuan tersebut dan kemampuan FFI untuk menciptakan langkah-langkah belum sangat dimaksimalkan. Kami mengatakan hal tersebut berdasarkan jajaran Tim Seleksi Piala Citra 2019 dan menilik Piala Citra dari tahun ke tahun. 

Kedua, perlu dipahami juga bahwa kami, seperti nama kami, AkuAktor, lebih fokus pada perkembangan keaktoran, dimana di dalamnya termasuk penilaian dan si penilai keaktoran di Piala Citra. Hal ini yang lebih menggelisahkan kami dari apapun. 

Maka jika Lukman Sardi mengatakan bahwa komite FFI melakukan evaluasi untuk mencari tahu apa yang harus diperbaiki tahun ini, apakah bagian “memilih penilai yang capable” (terutama dalam keaktoran) sudah dilakukan? Jangan-jangan ada yang luput dalam evaluasi tersebut? Sehingga perkembangannya, terutama kualitas keaktoran, tidak melonjak tajam dan cenderung stagnan. 

Terlebih lagi dikatakan bahwa Komite FFI sedang membentuk fondasi. Kalau fondasi yang mereka bentuk ternyata “berlubang”, bisa jadi berbahaya kedepannya nanti. Dan lagi-lagi, kami fokus pada sisi keaktorannya. Mungkin dari pandangan yang khusus ke seni peran ini, aspek lain dalam film bisa menggunakan “logika pandang” yang sama.

Piala Citra 2019

 

Siapa saja Tim Seleksi Piala Citra 2019

Dilansir dari website resmi FFI, ada 15 orang yang ditunjuk sebagai Tim Seleksi Piala Citra 2019. Tim ini dibagi menjadi beberapa kelompok penilaian yakni film cerita panjang, film cerita pendek, film dokumenter, dan film animasi. Mereka adalah tim yang akan memilih film untuk kemudian diserahkan pada para asosiasi profesi dan komunitas untuk dipilih dan kemudian disaring hingga muncul beberapa nama yang masuk nominasi. 

Kami hanya akan membahas soal kelompok penilaian film cerita panjang karena itu berhubungan langsung dengan nominasi yang bersangkut paut dengan seni peran (Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Pemeran Pembantu Pria Terbaik, Pemeran Pembantu Wanita terbaik, dan Pemeran Anak Terbaik). Tim Seleksi ini ada 7 orang. Mereka adalah jurnalis, filmmaker (sutradara), dosen, dan aktor serta aktris (yang ada “tapi” nya). 

Berikut nama-nama tim seleksi Piala Citra 2019 untuk Film Cerita Panjang; 

  1. Lisabona Rahman
  2. Hera Diani
  3. Makbul Mubarak
  4. Rangga Wisesa
  5. Tam Notosusanto
  6. Prima Rusdi
  7. Nungki Kusumastuti

   

Siapa saja mereka? Kenapa membuat kami gelisah? 

Lisabona Rahman

Dari data yang berhasil kami himpun dari website ciptamedia.or.id Lisabona Rahman adalah seorang penggiat film dan sejarah film. Dari penjelasan website tersebut dikatakan bahwa sekarang ia menjadi aktivis pengarsipan film. Tapi, ia bukan aktor. Mungkin ia penggiat film, paham soal penilaian film dari sudut pandang filmmaker. Tapi ia bukan aktor. 

Hera Diani

Dari profil LinkedIn-nya Hera Diani adalah co-founder Magdalene.co. Sebuah majalah online yang menyuarakan hal-hal berbau feminis. Dari apa yang kami lihat, ia memiliki jejak panjang dalam dunia jurnalisme. Hera punya pengalaman 17 tahun di bidang jurnalistik. Sangat berpengalaman sebagai jurnalis. Tapi, ia bukan aktor. 

Makbul Mubarak

Dilansir dari artikel di website infoscreening.co Makbul Mubarak adalah seorang filmmaker yang sebelumnya dikenal sebagai kritikus film. Ia adalah seorang penulis dan editor juga di portal kritik film daring bernama Cinema Poetica. Makbul Mubarak tentu tak perlu diragukan kemampuannya sebagai sutradara. Apalagi sudah banyak filmnya yang mendapatkan penghargaan, salah satunya Ruah yang mendapatkan Film Pendek Terbaik FFI 2017. Tapi, Makbul bukan aktor. 

Rangga Wisesa

Dari apa yang kami lihat di profil LinkedIn-nya, Rangga Wisesa adalah seorang Dosen di UI dan dijelaskan bahwa ia mengajarkan Media Relations, Event Management, Human Relations, Introduction to Public Relations, dan Customer Relations. Tentu kredibel, sebagai dosen dan publisis. Tapi Rangga Wisesa bukan aktor.

Prima Rusdi

Dilansir dari Wikipedia, Prima Rusdi adalah seorang penulis skenario film Indonesia yang namanya melambung lewat film Ada Apa Dengan Cinta? Ia lulusan Komunikasi UI. Prima Rusdi tak diragukan dalam kemampuan penulisan. Karyanya sudah sangat banyak dan sangat kredibel. Ia sangat kredibel sebagai penulis. Tapi ia bukan aktor. 

Tam Notosusanto

Selanjutnya adalah Tam Notosusanto. Dari IMDb dan filmindonesia.or.id Tam Notosusanto adalah Produser, aktor, dan telah mengamati FFI sejak tahun 1982 dan Oscar sejak 1987. Tam memang berprofesi sebagai aktor. Dari sekian banyak orang yang “bukan aktor” di atas tadi, Tam adalah satu dari sedikit aktor dalam jajaran tim penyeleksi ini. Sejauh informasi yang kami dapatkan dari beberapa artikel berita, Tam sering menulis artikel tentang film. Ia juga rajin menulis tentang Oscar di tahun 2013 lalu. Kami bisa melihat itu di timeline Twitternya. 

Tapi sejauh yang kami lacak di internet, Tam tidak pernah menulis sesuatu tentang keaktoran yang berbasis teori maupun praktis. Jadi, ia aktor, tapi bukan akademisi keaktoran. 

Nungki Kusumastuti 

Nungki Kusumastuti adalah seorang penari, aktris, dan dosen. Ia mengajar di IKJ sebagai Dosen Tari. Dilansir dari ahmad.web.id Nungki Kusumastuti yang memiliki nama asli Siti Nurchaerani Kusumastuti ini mengajar apresiasi seni pertunjukan, literatur tari, dan manajemen tari. Ia memang berprofesi juga sebagai aktris, bermain banyak film, sinetron, sitkom, hingga FTV. Tapi sayangnya, dia bukan akademisi keaktoran. 

 

Dari susunan tim Seleksi itu, kami memiliki satu pertanyaan, kenapa dari 7 orang itu tidak ada orang yang berasal dari akademi seni peran? Bukankah kita memiliki orang-orang itu? Katanya mencari tim seleksi yang kredibel? Kenapa pada bagian aktor dan aktrisnya, tidak ada kredibilitas? Setidaknya dalam sudut pandang ilmu seni peran. 

Kalau begini, bagaimana dengan tujuan mulia FFI yang ingin cara penilaian di FFI membaik? Jika untuk keaktoran, kita selalu menyerahkannya pada aktor yang tidak memiliki dasar praktis dan teoritis yang baik. 

Sekarang coba analogikan begini; katakanlah FFI sekarang sedang sakit. Lalu ada seseorang yang berpengalaman pernah sakit berkali-kali dan seorang dokter yang paham seluk beluk penyakit secara praktis dan teoritis, dan bisa menyembuhkan. Mana yang seharusnya lebih dipercaya? Bukankah kita seharusnya lebih percaya pada si Dokter yang paham keilmuannya? Jika ternyata kita lebih percaya pada yang “berpengalaman sakit” dan bukan pada dokter yang paham keilmuannya, maka mungkin kita akan terus berkutat pada hal-hal yang berbau esoteris atau mistis. Rasanya itu yang akan membuat keaktoran kita tak berkembang dengan baik. Itu yang menjadi kegelisahan kami. 

Dari 7 penyeleksi itu hanya 2 yang berprofesi sebagai aktor tapi mereka bukan dari akademisi keaktoran. Lalu bagaimana mereka bisa memilih aktor dan aktris terbaik kalau pada jajaran itu tidak memiliki keilmuan atau pisau bedah yang mumpuni dan tepat untuk menilai akting yang bagus dan tidak? 

Mayoritas tim penyeleksi adalah para kritikus film atau seseorang yang berkecimpung dalam dunia film sebagai sutradara. Apakah mereka memahami keaktoran? Apakah mereka tahu bagaimana seharusnya menilai permainan seseorang? Sulit. Terlebih ketika mereka tidak punya bekal keilmuannya. Lalu apakah kredibel film-film yang dihasilkan oleh tim penyeleksi? 

Dengan kondisi semacam itu, maka para aktor yang bermain di sebuah film, harus siap menerima kenyataan kalian tidak akan terpilih. Meskipun menurut banyak orang permainan kalian bagus. Karena bisa jadi, permainan bagus kalian tidak terlihat oleh tim penyeleksi dan tidak dipilih oleh para voter. 

Itu baru pada tahapan penyeleksi, belum pada tahapan voting oleh asosiasi profesi dan komunitas. Komunitas mana saja yang dilibatkan? Adakah komunitas yang suntuk pada keaktoran yang dilibatkan? Jika ada, berapa banyak? Atau adakah seseorang yang berangkat dari akademi seni peran dan suntuk di keaktoran yang ada di komunitas atau asosiasi profesi tersebut? Jika ada berapa banyak? Kalau cuma 1 atau 2 ya sama saja. Karena ini sistemnya voting, maka keilmuan mereka akan kalah dengan jumlah voting. 

Kalau begitu kondisinya, bagaimana keaktoran Indonesia bisa berkembang lebih baik ketika para penilainya saja tidak kredibel? 

Piala Citra 2019

 

 

Cara Menilai Akting yang Belum Jelas

Kami akhirnya menyimpulkan sementara pada kalimat ini; FFI belum menemukan cara menilai akting yang jelas. Tidak ada parameter yang jelas. Kenapa? Karena sepertinya dalam jajaran komite tersebut tidak ada seseorang yang berbasis akademi seni peran. Kenapa tidak ada? Padahal kita punya kan? Di IKJ kita ada, di ISI Yogyakarta kita punya, ISBI Bandung juga punya, Institusi kesenian lain dengan minat utama keaktoran pun banyak. Bahkan ada tokoh teater yang paham seni peran baik secara teoritis dan praktis yang tersebar di kelompok-kelompok teater. Seperti misalnya Teater Satu Lampung dengan Iswadi Pratama-nya.

Dikemanakan orang-orang itu? Atau mungkin sudah diajak tapi kami kudet atau kurang update? Nampaknya tidak begitu. Karena orang-orang yang paham seni peran, praktis atau teori, ada dalam lingkaran terdekat AkuAktor. Jadi sedikit banyak kami tahu. 

Kalau kemudian pembelaannya adalah para tim penyeleksi itu hanya mengumpulkan film yang siap dipilih oleh para komunitas dan asosiasi profesi, dan sisanya diserahkan pada para asosiasi profesi dan komunitas itu, bagaimana pun kan yang menyaring pertama tim penyeleski. Kemudian yang jadi persoalan, apakah kita punya asosiasi profesi seni peran yang kredibel? Bukan hanya berdasar pada prakteknya saja, tapi juga teori. Apakah kita punya? Rasa-rasanya tidak ada. Sehingga semua penilaian itu berdasarkan pada selera, suka tidak suka, dan pengalaman subjektif. Hasilnya? Penjurian FFI jadi tidak Objektif. 

Dan lagi, siapa yang seharusnya lebih dipercaya ketika memilih aktor terbaik? Apakah yang memang punya keilmuannya, atau yang pernah dan sering bermain? Analogi Dokter dan Orang Sakit itu bisa kita pakai lagi. Hasilnya, apakah nominasi yang hadir, dan bahkan pemenang FFI itu kredibel? Atau sekarang ini sedang tumbuh pemahaman “Akting itu yang penting praktek! Teori nggak penting!” Ingat, Hollywood bisa sebagus sekarang aktingnya, karena teori-teori yang dikembangkan Konstantin Stanislavski dan murid-muridnya seperti Lee Strasberg, Stella Adler, Sanford Meisner, dan banyak lainnya. Itu fakta! Jadi kalau ada yang mau bilang begitu, semoga bukan aktor-aktor yang punya nama besar. 

Berkaca pada Academy Award atau Oscar. Sejauh yang kami tahu anggota AMPAS (Academy of Motion Pictures Arts and Sciences) ada sekitar 6500an orang lebih. 6500an orang itu dibagi ke dalam beberapa profesi mulai dari sutradara, produser, hingga aktor dan aktris. Mereka masing-masing berangkat dari pendidikan yang jelas, termasuk para aktornya yang kebanyakan berasal dari akademi seni peran yang jelas. 

Setidaknya kebanyakan dari mereka berangkat dari pendidikan seni peran yang jelas. Entah itu dari Acting Academy seperti Robert De Niro, Al Pacino, Daniel Day-Lewis, hingga kursus yang juga kredibel seperti Lupita Nyong’o. Dengan jajaran penyeleksi semacam itu, maka ketika seseorang masuk Oscar, ia berhasil melewati penilaian yang sangat objektif. Sementara FFI? Nampaknya tidak begitu. 

Dalam sudut pandang kami, dengan akses yang dimiliki FFI dan BPI (Badan Perfilman Indonesia), mereka sangat amat bisa memberdayakan akademisi-akademisi seni peran di Indonesia. Sangat mudah bahkan. Tapi, tinggal mau atau tidak mengajak para akademisi untuk membuat penilaian seni peran kita jadi lebih baik, yang berefek langsung pada kualitas keaktoran kita. 

Tapi kenapa hampir tidak ada? Jangan-jangan masalahnya bukan hanya pada FFI, tapi pada para akademisinya? Apakah orang-orang yang paham seni peran secara teori dan praktek ini terlalu arogan untuk diajak bekerja sama? Sehingga FFI sudah “males duluan” mengajak orang-orang akademisi? Nampaknya masing-masing perlu berkaca lagi. Termasuk kami.

Jadi bagaimana Panitia FFI? Jika kami bertanya, bagaimana cara menilai akting bagus dan tidak bagus, apa jawabannya? 

Artikel ini mungkin terasa agak meracau. Tapi artikel ini kami tulis karena kegelisahan atas kondisi seni peran Indonesia yang rasa-rasanya tidak pernah bisa berkembang dengan baik. Dan percayalah (boleh enggak kok) bahwa kami menulis ini karena kami sayang pada Perfilman Indonesia. Jika tak begitu, capek men, nulis panjang dengan resiko yang tidak terduga.

Mumpung usianya masih muda untuk sebuah festival film, berlakulah seperti anak muda yang tidak kolot dan terbuka. Mari berkembang bersama, FFI! 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: