fbpx

Layla Majnun; Satu Capaian yang Mengubah Hampir Segalanya

Layla Majnun

Setelah sekian lama kami tak pernah menulis Acting Review film Indonesia, akhirnya kami kembali menemukan satu film Indonesia yang kami rasa bisa kami buatkan sebuah Acting Review. Kami menangkap sebuah nilai yang menarik dari permainan para aktor di film ini. Nggak para aktor juga sih, mungkin salah satu atau salah dua aktor di film ini. Film yang kami bikin Acting Review kali ini adalah Layla Majnun. Sebuah film yang rilis di Netflix pada tanggal 11 Februari 2021 lalu. Film ini masih bisa kalian menonton di Netflix. Jadi, seperti apa review akting Layla Majnun? Ingat! Tonton dulu filmnya sebelum membaca atau menonton Acting Review ini! 

 

 

Satu Capaian yang Mengubah Segalanya

Apa dan siapa itu? Apakah semua pemain di Layla Majnun mengalami kondisi ini? Kondisi dimana satu capaian dalam aspek seni perannya berhasil mengubah hampir banyak aspek dalam permainannya. Sayangnya tidak. Hanya satu aktor yang kami rasa ada di kondisi ini. Dia, sudah barang tentu, adalah Reza Rahadian. Reza bermain sebagai Samir di Layla Majnun. Di antara sekian banyak pemain yang tidak (atau mungkin lupa) menciptakan aspek fisiologis, Reza tetap menciptakannya. Meskipun, jika diperhatikan baik-baik aspek fisiologis yang Reza ciptakan bukan aspek-aspek besar seperti cara berjalan, bentuk tubuh, atau bentuk wajah seperti ketika ia bermain sebagai Habibie atau Bossman. Di Layla Majnun, Reza hanya menciptakan cara bicara dan aksen. Tapi meski ia seperti hanya menciptakan satu aspek itu saja, kami rasa ciptaan di satu aspek itu berhasil membuat aspek lain terlihat berbeda dan diciptakan. 

Sebelumnya kita akan bahas terlebih dahulu ciptaan pada areal mulut yang di dalamnya termasuk aksen. Kita bisa mendengar dengan jelas bahwa aksen Reza berubah. Coba kalian perhatikan pengucapan huruf D dan R yang jelas terdengar sangat berubah. Perubahan dua pengucapan huruf itu menariknya juga mampu mengubah pengucapan huruf lain. Selain perubahan aksen pada dua huruf itu, kita bisa mendengar suara Samir juga dibuat agak sengau oleh Reza di beberapa bagian akhir pengucapan. Ditambah dengan satu sentuhan terakhir yakni tambahan E di beberapa akhiran kata membuat ciptaan cara bicaranya jadi menarik. Kami kemudian merasa bahwa cara bicara seperti itu mengubah sedikit warna suara Reza. Jika didengarkan baik-baik, warna suara Samir terdengar agak tebal atau gandhem dalam bahasa Jawa. 

Masih pada capaian suara, selain aksen dan warna yang berubah, tempo bicara Samir juga terdengar jelas berbeda dari tempo bicara Reza. Kita bisa menangkap kesan bahwa Samir tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia dengan baik, atau setidaknya tidak selancar orang Indonesia. Ada jeda-jeda yang menarik, hidup, dan kami rasa tepat. Satu hal lagi yang jauh lebih menarik dari pada penciptaan tempo, aksen, serta warna suara Samir adalah bentuk yang selalu konsisten dalam kondisi emosi apapun. Coba perhatikan baik-baik, mau dalam kondisi sangat emosional atau pun tidak, tempo bicara Samir tetap sama. Atau dalam kondisi marah yang besar pun temponya juga kurang lebih sama. Lebih menarik lagi, tempo tersebut tetap berhasil menjadi kendaraan yang baik untuk emosi karakter. Kami merasa bahwa pada setiap adegan yang dilalui Samir, dengan kondisi emosi apapun, kegagapan Samir berkata-kata tidak menghalangi Samir menyampaikan emosinya. Bentuk yang diciptakan Reza untuk Samir itu bukannya menghalangi Reza untuk menyampaikan emosi si karakter, tapi malah membantu Reza menciptakan cara merespon yang otentik dan hampir bisa dikatakan tanpa distorsi. Pun ketika ada distorsi semua itu sesuai dengan karakternya dan sesuai dengan peristiwa. 

Selain capaian suara, kami juga bisa menangkap sedikit capaian pada permainan tangan. Perhatikan beberapa adegan ketika Samir berbicara pada Layla. Kita bisa menangkap beberapa laku tangan yang sepertinya bukan laku tangan orang Indonesia kebanyakan. Bahkan jika kami membandingkan atau melihat para pemain yang asli Azerbaijan seperti teman-teman Samir, kami menangkap laku tangan yang sama. Ini menarik, artinya laku tangan Reza mendekati laku tangan orang Azerbaijan. 

Jika kita mem-breakdown semua capaian Reza, memang kita tak bisa bilang semua aspek diciptakan. Tapi kita tahu ada beberapa aspek yang berhasil diciptakan oleh Reza dan berhasil membuat aspek lain seperti ikut tercipta secara tidak sengaja. Meski tidak sengaja, sepertinya Reza menyadari itu dengan baik sehingga tetap terlihat konsisten. 

Kalau soal permainan emosi, tak perlu diragukan lagi. Reza berhasil memainkan emosi dengan cukup baik. Di banyak adegan Reza mendengarkan dengan baik dan berhasil merespon dengan baik. Hampir semua respon Reza di film ini sesuai. Tentu kecuali beberapa adegan di Layla Majnun yang kami rasa terlalu dipaksakan. Misalnya adegan-adegan terakhir. 

Kami menangkap pelajaran yang menarik dari permainan Reza. Sebenarnya bagi seorang aktor, kita tak perlu repot menciptakan terlalu banyak aspek karakter di banyak kondisi. Kita cukup menciptakan kondisi netral karakter. Misal karaktermu adalah orang dengan cara mengucap huruf D dan R yang berbeda, maka buat kondisi itu menjadi kondisi netral karakter. Sehingga ketika si karakter diberikan emosi dan peristiwa apapun, selama kamu paham betul dengan kondisi netralnya, maka kamu akan merespon dengan kondisi netral. Hasilnya, semua responmu menjadi otentik. 

 

 

Pemain Lain di Layla Majnun

Lalu bagaimana dengan pemain lain di Layla Majnun? Pemain lain bukannya tidak memiliki capaian sama sekali. Justru capaian permainan emosi mereka cukup menarik. Jika kita melihat akting lewat essay yang ditulis Michael Kirby soal Acting dan Not-Acting, serta melihat kontinuum akting yang dibuat Michael Kirby dalam tulisannya itu, maka kami bisa memasukkan permainan hampir semua aktor di Layla Majnun ke dalam skala Simple Acting. Jika ada yang belum tahu soal Kontinuum Acting dan Not-Acting milik Michael Kirby, kami akan jelaskan sedikit. 

Pertama perlu dipahami bahwa menurut Kirby, Akting adalah berpura-pura, meniru, mewakili, dan menyamar sebagai. Tentu penjelasannya akan lebih panjang, tapi untuk memahami Kontinuum Acting dan Not-Acting ini, pengertian akting yang disebutkan barusan seharusnya cukup. Jadi, di dalam Kontinuum Acting dan Not-Acting itu terdapat beberapa skala. Dimulai dari Not Acting, dimana di skala tersebut ada Nonmatrixed Performing atau kondisi dimana pelaku (performer) masuk ke dalam ruang peristiwa, tapi tidak melakukan kegiatan yang jadi satu dengan peristiwa dan tidak menggunakan kostum yang sesuai dengan peristiwa serta tidak melakukan akting (dalam pengertian apapun). Contoh paling jelas dari Nonmatrixed Performing adalah kru panggung yang menggeser setting. 

Kemudian ada Symbolized Matrix dimana para pelaku masih tidak berakting tapi ia sudah mengenakan kostum yang mewakili sesuatu atau seseorang yang secara sederhana kostum yang mereka gunakan masuk ke dalam realitas peristiwa. Mereka memang menggunakan kostum, tapi tidak “melakukan sesuai kostumnya”. Misalnya seseorang memakai baju dokter, tapi ia tak menciptakan laku tubuh seorang dokter, atau bahkan tak menyadari bahwa ia adalah dokter. Ia hanya menyadari sedang memakai baju dokter.  

Kemudian ada Received Acting yang kurang lebih adalah sebuah kondisi dimana si pelaku sudah memakai kostum yang sesuai dengan peristiwa, ada di setting yang sesuai dengan peristiwa, tapi tidak berakting. Received Acting ini sama seperti para ekstras di film Layla Majnun. Meskipun mereka mengaku sedang berakting, bagi Kirby mereka masih masuk ke dalam ruang Received Acting. Bagi Kirby, Received Acting adalah sebuah gelar kehormatan. 

Lalu ada Simple Acting, ruang dimana banyak pemain Layla Majnun berada di dalamnya. Baik tokoh utama seperti Acha Septriasa atau Baim Wong, atau tokoh lain yang porsinya tak sebanyak Baim atau Acha. Simple Acting kurang lebih merupakan sebuah kondisi dimana si pelaku sudah masuk ke dalam ranah acting tapi masih sederhana. Akting yang sederhana menurut Kirby adalah ketika si pelaku hanya menggunakan atau menciptakan satu elemen atau satu dimensi dalam seni peran yakni emosi saja. Jika kita melihat Layla Majnun, hampir semua aktor tidak menciptakan aspek yang lain kecuali emosi. Kita bisa melihat Acha tetap muncul sebagai Acha tanpa ada perubahan fisiologis atau sosiologis yang signifikan. Begitu juga dengan Baim. Kami awalnya menduga warna suara Ibnu, tokoh yang dimainkan Baim berbeda, sehingga ia mungkin menciptakan dua aspek atau bisa jadi 3 aspek dalam seni peran. Tapi setelah melihat lebih jauh, ia tak menciptakan aspek itu. Tidak ada warna suara yang berubah. Sekali lagi, hanya emosi saja yang dimainkan oleh Baim dan Acha. 

Acha memainkan banyak adegan yang memiliki emosi intens dengan cukup baik. Misal adegan ketika ia bertemu dengan Samir di depan pintu Kedubes setelah makan malam. Kami melihat emosi yang intens. Lalu adegan terakhir pun kami bisa melihat emosi yang cukup intens dan sesuai dengan peristiwa. Hal yang sama juga terjadi pada Baim. Permainan emosinya juga cukup intens dan sesuai dengan peristiwa. Bahkan pada pemain yang lain. Kami bahkan bisa bilang Layla Majnun adalah salah satu film dengan ansambel permainan paling seimbang dan baik tahun ini. 

Tapi, sekali lagi, tidak ada capaian di aspek lain selain emosi. Itulah yang kemudian membuat kami merasa kalau para pemain di Layla Majnun kebanyakan berada di skala Simple Acting dalam sudut pandang Michael Kirby. Jadi, mereka berakting, tapi masih dalam taraf sederhana karena hanya menciptakan satu aspek dalam seni peran saja yakni emosi. 

Berbeda dengan Reza yang segala capaiannya sudah kami sebutkan di atas, berada di fase terakhir dalam Kontinuum Acting dan Not-acting Michael Kirby, yakni Complex Acting. Reza, seperti yang kami bilang, sudah menciptakan aksen, yang kemudian membuat warna suaranya jadi berubah, beberapa laku tubuh juga ikutan berubah. Complex Acting itu kurang lebih kondisi dimana seorang aktor sudah berakting dan menciptakan atau menggunakan banyak dimensi dalam seni peran. Ia menciptakan fisik, ia memainkan emosi, ia menciptakan aspek sosiologis karakter, dan aspek lain dari karakter. Reza kami rasa sudah ada di skala tersebut meskipun, jika kita breakdown lagi lebih detail, capaian Reza tak cukup banyak. Untunglah ada Sponge Effect yang membuat satu capaian berhasil mengubah hampir segalanya. 

Sedikit tambahan, menurut Kirby, semua orang bisa melakukan akting, baik itu dari ranah Nonmatrixed Performing hingga Simple Acting. Tapi untuk ada di skala Complex Acting seorang aktor mestilah memiliki keterampilan dan juga kemampuan teknis. 

Itu menurut kami, menurutmu?

Terima kasih, viva aktor