Joker Flash Review; Sakit, Gelap, dan Gila!

Joker

Siapa yang sudah menunggu film Joker dari tahun lalu? Sepertinya kebanyakan dari kalian menunggu film ini karena melihat Joaquin Phoenix yang menjadi Joker kan? AkuAktor dan salah satu kontributor kami, Syarifah Lail baru saja selesai menonton Joker. Jika biasanya Tim AkuAktor membuat Flash Review sendirian, kali ini kita berkolaborasi. 

Seperti biasa, ini Flash Review. Tidak ada spoiler disini. Jadi untuk kamu yang belum menonton dan ragu-ragu apakah akan menonton atau tidak, baca ini dulu! 

 

 

Joker Bukan Film Superhero!

Hal pertama yang kami dapatkan ketika selesai menonton film ini adalah sebuah kesimpulan sederhana bahwa film ini sama sekali bukan film Superhero atau bahkan film Anti Hero. Film ini sepenuhnya bercerita soal masa lalu Joker yang rumit dan “begitu psikis”. Jadi bagi kalian yang ingin menonton film ini karena merasa akan seperti film superhero, sebaiknya ubah anggapan itu, atau jangan menontonnya agar kalian tak kecewa. Tapi kalau kalian tidak keberatan dengan hal itu, kalian akan disuguhi banyak sekali adegan-adegan psikologis yang menggetarkan! Atau bahasa paling sederhana adalah Sakit dan Gila! 

Todd Phillips sang sutradara sepertinya juga sengaja membuat film ini terasa “Sakit dan Gila”. Terlebih lagi Joaquin Phoenix yang juga sengaja membuat tokoh yang dimainkannya “Sakit dan Gila”. Jika kata Uul, panggilan akrab Syarifah Lail Al-Qusdyi, ia sampai merasa sangat takut setelah menonton film ini. Bahkan ia membayangkan bahwa semua orang di bioskop adalah badut. Ia jadi tak percaya pada setiap orang yang ditemuinya. Kesan itu yang mungkin muncul pada kalian setelah menonton film ini. Karena selain “Sakit dan Gila” film ini juga begitu “Gelap”. 

Dengan kesan “Gelap, Sakit, dan Gila” ini, pantas saja jika di Amerika sana, beberapa bioskop sengaja memasang keamanan lebih untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti kasus The Dark Knight, dimana setelah pemutaran terjadi pembunuhan yang terjadi karena menonton Heath Ledger di film itu. 

 

 

Joker, Joaquin, dan Ledger

Kalian ingin membandingkan permainan Joaquin dan Ledger? Jangan! Jangan dibandingkan! Kenapa? Karena kalian tidak akan bisa membandingkannya. Tokoh yang diciptakan Ledger adalah tokoh yang “sudah jadi”. Sementara Joaquin memainkan tokoh yang awalnya bukan Joker, tumbuh menjadi Joker. Lebih bagus yang mana? Tidak bisa dibandingkan karena beda ruang. Atau pemahaman paling sederhana, Joker-nya Heath Ledger ada di fase sudah beberapa tahun jadi penjahat, sementara Joker-nya Joaquin Phoenix, ada di fase orang biasa yang tumbuh jadi penjahat. 

Tapi yang jelas, dalam film ini kalian akan disuguhi penciptaan psikologis yang menarik dari Joaquin. Kalian akan mendapati permainan psikis yang “Sakit, Gelap, dan Gila”. Sepertinya memang tiga kata itu yang bisa mewakili film yang mendapatkan penghargaan di Venice Film Festival. 

Soal capaian yang lain, kami akan membahasnya lebih lengkap di Acting Review nanti. Tapi yang jelas, kalian tak perlu meragukan permainan Joaquin. Kami cuma bisa bilang; “Lengkap dan Sempurna!”
Joker

 

 

Please! Orang Tua Jangan Ajak Anak-anak!

Kami harus menulis sub judul ini. Tolong sekali untuk semua orang tua di Indonesia terutama! Jangan ajak anak kalian menonton film ini. Pertama, film ini sudah diberi rating 17+ oleh Badan Sensor Film. Kedua, film ini memang benar-benar film yang hanya boleh ditonton orang dewasa karena akan ada banyak sekali adegan yang disturbing baik secara fisik dan psikis. Sangat tidak baik untuk ditonton anak-anak. 

Jadi tolong, untuk para orang tua, jangan jadi orang tua yang kurang bijak dan kurang pintar. Ini bukan film superhero, dan ini film 17 tahun ke atas. Jangan ajak anak kalian menonton! Dan berhentilah menggunakan argumen “Saya bayar kok!” Sangat tidak bijak! 

Itu Flash Review kali ini. Tertarik pergi dan menonton? Siapkan jiwa dan raga untuk menonton film ini ya!

Terima kasih, viva aktor!

%d bloggers like this: