[Flash Review] Ratu Ilmu Hitam; Film Horor Indonesia Terbaik Tahun Ini(?)/(!)

Ratu Ilmu Hitam

Ratu Ilmu Hitam baru saja rilis. Film yang merupakan remake, reboot, adaptasi, saduran bebas, atau apapun itu sebutannya, dari sebuah film Suzanna yang rilis berpuluh tahun yang lalu ini baru saja rilis kemarin, 7 November 2019 di seluruh bioskop di Indonesia. Film ini naskahnya ditulis oleh Joko Anwar, yang sudah sangat berpengalaman menulis naskah horor dan disutradarai oleh Kimo Stamboel, yang juga sudah sangat berpengalaman menyutradarai film horor. Terutama yang gore, berdarah-darah, dan ngeri-ngeri ngilu. 

Dengan jajaran pembuat yang sudah memiliki rekam jejak sangat panjang, maka sangat mungkin film ini menjadi film horor terbaik Indonesia tahun ini. Benarkah Ratu Ilmu Hitam adalah film horor Indonesia terbaik tahun ini? Hmmm… sepertinya kami tertahan untuk dengan yakin menyebut kalimat tersebut. Kenapa? 

Berikut Flash Review Ratu Ilmu Hitam. Tenang, Flash Review ini bebas spoiler, jadi kamu semua masih wajib menonton! Buruan! Sebelum turun layar film-film Indonesia! 

Ratu Ilmu Hitam, Ngeri, Serem, dan Didikte

Kata pertama yang bisa menjelaskan soal film ini tentunya ngeri. Kalau boleh ditambahi, film ini juga bikin ngilu, puyeng, dan hampir muntah. Lalu kata kedua yang muncul juga serem. Atau kata apapun lah yang mewakili sebuah ketakutan yang amat terhadap sesuatu. Tapi sayang, kata ketiga yang muncul dari film ini adalah dikte. Tahu kan dikte? 

Menurut KBBI, dikte artinya diucapkan keras-keras agar ditulis oleh orang lain, atau menyuruh orang lain berbuat apa saja yang sedang dikatakan. Dan kami merasa didikte dengan semua semiotik yang muncul di film ini, terutama musik. Entahlah, kami memang merasa serem luar biasa, ngeri dan ngilu yang nggak ada bandingannya, dan sedikit mual. Tapi itu hanya di awal. Setelah lewat pertengahan film, kami tak mendapati kesan itu lagi. Kami lelah menonton film ini. Kami didikte habis-habisan dengan musik, dengan pola keterkejutan yang sama, dan berulang.  

Ketika kami selesai menonton film ini, kami ingin menambahkan satu kata lagi yang cocok. Film ini memang dibuat dengan mengikuti cara orang awam takut dan ngeri. Semua idiom, semiotika, atau perangkat apapun yang dipakai dalam film ini seperti sengaja dipilih yang sangat awam di telinga, mata, dan indera penonton. Tentu film ini akan dipuji banyak orang. Karena memang film ini dibuat menggunakan semiotik-semiotik awam yang menggugah rasa takutnya. 

Tapi entah disadari atau tidak, ada beberapa adegan kecil yang tidak mengikuti selera penonton yang asyik untuk dinikmati. Kami tak bisa menyebut adegan yang mana. Tapi coba kalian tonton, lalu catat bagian mana saja yang menggunakan “cara umum menakuti penonton” dan bagian mana yang tidak menggunakan cara umum, tapi kalian merasa ketakutan. Jadi, nonton dulu, biar tahu. 

 

 

Intens, Tapi Buntung

Lalu bagaimana dengan para pemainnya? Apakah permainan mereka menarik untuk dibahas? Jawabannya tentu iya. Permainan para pemain ini menarik sekali untuk dibahas. Tapi bukan karena bagus, karena justru membuat kami bingung. Iya, kami memang menulis permainan mereka intens. Ketakutan mereka intens pada hampir setiap adegan. Tapi sayang, kami tak melihat sejarah tokoh pada tiap permainan mereka. Kami tak melihat alasan yang jelas kenapa ketakutan itu muncul dan kenapa begitu bentuk ketakutannya. 

Belum lagi beberapa adegan yang ketakutannya muncul terus-terusan. Kami merasa ketakutan itu tidak dinamis. Bahkan cenderung monoton. Kami memang agak bingung membahasakannya ketika menonton. Kami kurang lebih bilang begini; 

“Mainnya bagus sih ini, tapi apa? Apa yang bikin kayak setengah-setengah gitu bilang bagusnya !” dan jawaban kami adalah;

“Sepertinya tokoh-tokoh ini tidak dibangun dan dimunculkan dengan logika yang benar”. 

Kami tahu sebagian dari kalian akan bilang “Ini kan film horor, ya jelas nggak logis donk”. Tentu, tapi ingat, dalam kata “nggak logis” ada kata-kata logis. Maka ia seharusnya membenturkan logika kan? Apa yang mau dibenturkan kalau logikanya saja tidak ada? 

Tapi di luar soal logika permainan para aktornya yang terkadang buntung dan membuat permainannya hampir artifisial, ada beberapa aktor yang memiliki capaian menarik. Salah satu yang memiliki capaian menarik, setidaknya bisa kami nikmati adalah Ade Firman Hakim dan Ruth Marini. Mereka berdua memiliki capaian fisiologis yang menarik. Seperti apa bentuknya? Kalian tentu harus menonton dulu. 

Ya, film ini memang film horor yang menguras tenaga. Tapi untuk menyebutnya sebagai film horor terbaik Indonesia tahun ini, belum waktunya. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: