[Flash Review] Knives Out; Seperti Adaptasi Novel Agatha Christie?

Knives Out

Mungkin Flash Review ini terkesan terlambat, tidak seperti namanya. Tapi kami tak bisa menahan diri untuk tetap membuat flash review soal film ini. Tak peduli apakah ini terlambat atau sudah basi. Karena ini penting. Kami menemukan hal yang menarik dari film Knives Out yang dibintangi Ana De Armas dan Daniel Craig serta disutradarai oleh Rian Johnson. Tenang, film ini masih ada di bioskop, dan bagi kalian yang belum menonton, aman membaca flash review ini sampai akhir. 

Knives Out

Knives Out, Spektakel Sampai Akhir

Film yang mendapat banyak review positif ini memang benar-benar menarik. Dari menit pertama film ini dimulai, kalian akan dibuat bingung, tapi dengan pengertian bingung yang bagus. Di menit pertamanya saja, film ini memberikan sebuah presentasi alur cerita yang lain. Kami belum bisa sepenuhnya menyebut alur film ini otentik. Knives Out di menit pertamanya seperti dibuat main-main dan sengaja menggoda penonton. Bentuknya seperti apa? tentu kami tak akan mengatakannya. Tonton saja! Pada intinya, misteri sudah dimulai dari menit pertama. 

Masih pada alur cerita. Satu hal yang pasti, kalian tidak akan pernah bisa menebak kemana alur cerita film ini. Kalian tidak akan tahu kemana film ini dibawa sampai kalian menontonnya hingga selesai. Kenapa begitu? Karena di film ini kalian akan diberikan – kalau kami menyebutnya – “konflik palsu”. Kalian akan dibuat berpikir bahwa film ini berbicara soal itu. Tapi nyatanya tidak. Kalian akan dibawa entah kemana oleh sutradara dan membuat kalian makin bingung kemana arah film ini. Tapi sekali lagi, in a good way

Masih soal alur cerita, akan ada banyak spektakel di film ini. Spektakel itu muncul sampai menit terakhir film. Kami merasa Knives Out mirip seperti film detektif, tapi bukan Sherlock Holmes. Coba kalian tonton Murder on the Orient Express. Nah, alur cerita dan kejutannya kira-kira mirip seperti film yang diangkat dari novel karya Agatha Christie itu. Itu kenapa kami belum bisa sepenuhnya menyebut film ini otentik. Tapi tak apa. Melihat film ini kami jadi ingat teori Interteks Julia Kristeva, bahwa tak ada karya yang benar-benar baru. Sederhananya begitu. 

Lalu ada satu lagi yang menarik, cara memperkenalkan tokoh dan cara si sutradara meletakkan tempat duduk tokoh ketika ada di sebuah adegan kunci. Kami tak bisa menyebutkan adegan itu seperti apa, tapi kalau kalian melihat poster atau trailer dan ada pisau melingkar, nah, di adegan itulah soal perkenalan tokoh yang menarik. Juga soal peletakan tempat duduk menurut kami jadi penting. 

Daniel Craig yang Lain dan Ana De Armas yang Sama

Kalau bicara soal permainan para aktornya, ini juga jadi alasan kami memilih menonton film ini. Pasalnya di Golden Globe, baik Daniel Craig atau pun Ana De Armas masuk dalam jajaran nominasi untuk Best Actor in Musical or Comedy dan Best Actress in Musical or Comedy.  

Di menit pertama kemunculan Ana, kami tahu bahwa Ana akan bermain dalam seperti ia di banyak filmnya. Tentu saja kami tak memungkiri kelihaian Ana untuk bermain dengan emosi yang dalam. Tapi coba perhatikan bentuknya, lalu bandingkan dengan film Ana De Armas yang lain seperti misalnya Exposed, atau beberapa filmnya yang lain. Ana pasti akan bersedih dan berkaca-kaca matanya dengan bentuk dan cara yang sama. Memang dalam, tapi bentuknya sama. Bukankah tiap tokoh yang ia mainkan adalah manusia yang berbeda, dimana mereka memiliki cara berekspresi dan bentuk ekspresi yang berbeda? 

Sementara untuk Daniel Craig, kami berhasil dibuat terkejut. Aktor satu ini kan sangat lekat dengan tokoh James Bond? Tokoh yang dingin, minim bicara, dan selalu terlihat flamboyan. Hal yang menarik dari permainan Daniel Craig di film ini adalah karena ia berhasil menyingkirkan kesan James Bond. Ia melakukannya dengan banyak cara, salah satu yang paling terlihat adalah perubahan aksen dan warna suara. Selain itu perhatikan juga bentuk mulutnya ketika berbicara. Daniel Craig dalam sudut pandang kami berhasil lepas dari tipikal castnya yang sering mendapatkan tokoh flamboyan dan dingin. 

Knives Out sangat layak ditonton. Apalagi untuk kalian yang suka dengan film detektif. Film ini kurang lebih memiliki sense yang sama dengan film-film detektif yang diadaptasi dari novel Agatha Christie. Entah si sutradara sangat mengidolai Agatha Christie, atau memang ia tumbuh sendiri. Selebihnya, kalian tonton ya! Masih ada di bioskop!

Terima kasih, viva aktor!

%d bloggers like this: