[Acting Review] Ratu Ilmu Hitam: Emosi yang Intens

Ratu Ilmu Hitam

Ratu Ilmu Hitam adalah sebuah film horor penuh darah yang bisa bikin kalian ngilu dan bergidik sepanjang film. Film ini disutradarai oleh Kimo Stamboel dan naskahnya ditulis oleh Joko Anwar. Menurut banyak orang, ketika Kimo dan Joko bergabung membuat film bersama, hasilnya akan luar biasa. Benarkah begitu? 

Kalau kami dari sudut pandang awam menonton filmnya, maka kami dengan yakin bisa mengatakan bahwa film ini memang ngeri dan bikin ngilu. Ini jika kami menilai filmnya secara keseluruhan dari sudut pandang awam yang tak paham banyak soal teori-teori angle kamera, pencahayaan, dan teknis film lainnya. 

Lalu bagaimana jika kita melihatnya dari sudut pandang keaktoran? Seperti biasa, acting review ini akan mengulas tentang permainan para cast di film Ratu Ilmu Hitam. Apakah mereka bermain “sengeri” filmnya? 

 

 

Emosi yang Luar Biasa Intens di Ratu Ilmu Hitam

Hal pertama yang kami dapatkan setelah menonton Ratu Ilmu Hitam dan sangat membekas di kepala kami adalah permainan emosi yang luar biasa intens. Terutama pada bagian-bagian setelah konflik mulai masuk. Hampir semua pemain berhasil bermain dengan cukup intens dan merespon peristiwa dengan sangat baik. Kami menuliskan dalam catatan kecil kami setelah menonton film ini bahwa emosi para aktor dijalankan dengan baik di setiap adegan. 

Misalnya adegan ketika Ario Bayu dan Miller Khan mendatangi bis yang penuh mayat anak panti. Pada adegan itu baik Ario Bayu atau pun Miller Khan menjalankan emosi dan respon mereka dengan cukup baik. Mereka merespon kondisi sekitar, matanya nampak awas, gesture tubuhnya pun begitu. Sesuai dengan adegan yang sedang mereka jalankan. Begitu juga ketika mereka bertemu dengan sekumpulan mayat di dalam bis. Mereka berhasil merespon apa yang mereka lihat dengan porsi yang cukup dan sesuai dengan tokohnya. 

Selanjutnya pada Tanta Ginting yang didatangi Ario Bayu dan Miller Khan dengan mayat di dalam mobil. Sama, di adegan tersebut ia juga berhasil merespon apa yang tertangkap matanya dengan baik. Bahkan, untuk 3 aktor ini mereka berhasil merespon dengan halaman nol yang sesuai. Ingat, di akhir film dijelaskan tentang sejarah dari 3 tokoh ini. Ketakutan atas bu Mirah dan Ilmu Hitam yang terjadi 25 tahun yang lalu itu berhasil dijalankan dengan baik entah melalui dialog atau pun gesture-gesture tubuh, baik besar atau yang kecil. 

Lalu Hannah Al-Rasyid pun berhasil memainkan emosinya dengan sangat intens. Misalnya pada adegan-adegan terakhir ketika mendekati klimaks. Ia berhasil menjalankan emosi ketakutan yang intens dari awal sampai akhir. Tidak mudah menjalankan emosi se-intens itu. Butuh stamina yang tinggi untuk bisa melakukan adegan dengan intensitas setinggi itu. Tak hanya soal stamina saja yang kemudian membuat emosi tersebut konsisten. Tapi juga soal kekuatan untuk memunculkan emosi itu serta mengantarkannya pada penonton. 

Suyatna Anirun pernah berkata dalam bukunya bahwa setiap modal dasar aktor, entah itu suara, tubuh, emosi, atau pikiran, ia harus memiliki stamina, kelenturan dan kekuatan. Nah, dalam kasus Hannah Al-Rasyid, ia berhasil menunjukkan bahwa emosinya memiliki stamina, dan kekuatan yang baik. 

Pun begitu dengan pemain yang lain seperti Imelda Therinne, Salvita Decorte, Ari Irham, Ade Firman Hakim, Sheila Dara, Ruth Marini, dan Muzakki Ramdhan. Mereka semua berhasil menjalankan emosi mereka dengan intens dan konsisten. 

Lalu bagaimana dengan Putri Ayudya yang menjadi Ratu Ilmu Hitam? Sama seperti pemain yang lain. Emosi yang ia jalankan berhasil dilakukan dengan sangat intens. Terlebih ketika ia hanya muncul di adegan terakhir saja. Pada satu adegan di dalam sebuah kamar, intensitas emosi yang dijalankannya cukup baik. 

Para pemain Ratu Ilmu Hitam memang menjalankan emosi mereka dengan sangat baik dan konsisten. Tapi itu hanya jika kita melihat dari satu sisi saja. Tapi jika kita juga melihat dari sisi yang lain, maka akan beda persoalan. 

 

 

 

Logika yang Buntung 

Stella Adler berkata dalam bukunya The Art of Acting pada bagian Class Nine di halaman 88;

Every action you do has its nature, its truth. In order to be truthful onstage you must know the nature of what you’re doing, and it must be truthfully done. Everything has to have its logic. It must have truth, growth (progression) and a beginning, middle and end (sequence). (Adler, 2000:88)

Stella Adler mengatakan bahwa setiap aksi memiliki sifat dan kejujurannya sendiri. Agar menjadi jujur di atas panggung, aktor harus tahu sifat dasar dari tindakan yang dilakukan dan harus dilakukan dengan penuh kejujuran. Semuanya harus memiliki logikanya sendiri. Laku tersebut harus jujur, tumbuh dalam perjalanannya, entah itu di awal, pertengahan, atau akhir. 

Masih di halaman yang sama, Stella Adler melanjutkan kalimat tersebut dan berkata begini; 

A play is made intelligible to an audience through the actor’s actions, a series of separate but logically connected physical or psychological activities that breathe life into the play and create the moment-by-moment truth. (Adler, 2000:88)

Sebuah naskah, entah itu film atau panggung, dibuat agar bisa dimengerti penonton melalui aksi para aktornya. Naskah itu terdiri dari serangkaian laku fisik atau psikis yang terpisah tapi berhubungan satu sama lain secara logis. Hasilnya, laku tersebut akan mampu memberikan hidup pada naskah tersebut dan menciptakan kebenaran pada tiap momen yang terjadi. 

Dari penjelasan Stella Adler soal “laku” atau aksi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa setiap aksi haruslah memiliki logikanya sendiri. Ia tak boleh asal muncul begitu saja. Menurut kami, aksi adalah buah dari perjalanan pikiran dan perasaan yang terpengaruhi kondisi tokoh. Entah itu kondisi sosial, psikologis, atau pun fisiologis. Tokoh memiliki kondisi dasar, yang dijadikan basis, dan kondisi kembangan yang tumbuh seiring peristiwa yang sedang terjadi. Kondisi Dasar dipakai untuk memutuskan bagaimana kondisi kembangan akan tumbuh dan berbentuk. Ini kemudian berefek pada laku yang keluar. 

Contoh paling sederhana yang terjadi di Ratu Ilmu Hitam tentang Kondisi Dasar dan Kondisi Kembangan bisa kalian lihat di adegan Ario Bayu ketika ia kehilangan anaknya dan serangan Ratu Ilmu Hitam terus berdatangan. Ingat, Tokoh Ario Bayu adalah seorang ayah dengan 3 anak. Dalam adegan tersebut, ia telah kehilangan anaknya. Dimana mungkin, anak lelakinya yang paling kecil yang diperankan oleh Muzakki sudah mati. Bukankah pikiran itu mungkin muncul? Nah, Kondisi tokoh Hanif yang dimainkan Ario Bayu dengan 3 orang anak dan salah satu anaknya menghilang adalah Kondisi Dasar. Lalu Kondisi Kembangannya adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika ia berusaha menemukan anaknya. Entah ketika ia berbincang dengan orang lain di dapur, atau ketika ia menemukan foto-foto di kamar Pak Bandi. 

Tapi ingat, Kondisi Dasarnya adalah Hanif seorang ayah yang anaknya menghilang. Dengan Kondisi Dasar tersebut, seharusnya Hanif akan tetap fokus pada anaknya yang hilang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di hadapannya seharusnya tidak akan jadi peristiwa yang lebih besar dari hilangnya Haqi yang diperankan Muzakki. Memang peristiwa macam menemukan foto dan mendapati kenyataan yang berbeda 25 tahun yang lalu adalah peristiwa besar. Tapi ingat, peristiwa itu seharusnya tidak lebih besar dari anaknya yang menghilang. Juga, Hanif adalah seorang ayah yang anaknya sedang menghilang entah dimana dan mungkin anaknya sudah mati dan tubuhnya dipotong-potong. 

Intensi itu tidak terjadi pada permainan Ario Bayu. Kondisi Dasar itu seperti menghilang dan berganti dengan Kondisi Dasar yang lain. Entah tentang rahasia Pak Bandi atau yang lainnya. Lalu dimana jiwa ayah si Hanif ketika ia lebih berpikir soal rahasia pak Bandi ketimbang anaknya? Bukankah itu jadi tidak logis? Atau Hanif adalah seorang ayah yang tidak sangat perhatian pada Haqi? Nampaknya dengan latar belakang pernah tumbuh di panti asuhan, ia bukan tipikal ayah yang macam itu. 

Kembali pada apa yang dikatakan Stella Adler bahwa setiap aksi harus memiliki logika dan dilakukan dengan jujur sebagai tokoh, maka dalam sudut pandang ini, aksi Ario Bayu tidak logis dan tidak jujur. Ingat juga bahwa tujuan aksi, seperti apa yang dikatakan Stella Adler di atas adalah menciptakan moment-by-moment truth. Kejadian-kejadian berkesinambungan yang jujur. Jika tak menuruti logika tokoh, maka bagaimana kejadian yang jujur itu bisa terjadi? Bukankah secara tak langsung si aktor telah membohongi diri si tokoh? Atau memang Hanif adalah ayah yang tak sebegitu perhatiannya pada anak-anaknya? Kami perlu bertanya dan berbincang dengan Ario Bayu. Semoga diberi waktu. 

ratu ilmu hitam

 

 

Lalu pada pemain lain kasus yang hampir sama terjadi. Logika-logika peristiwa atau pun logika tokohnya terasa buntung. Misalnya pada Hannah Al-Rasyid ketika di adegan menjelang akhir. Dimana di sub judul sebelumnya kami katakan bahwa ia bermain intens. Memang, ia memang intens. Tapi ada beberapa persoalan yang terjadi. Pertama, intensitas emosinya seperti mendadak muncul. Kenapa begitu? Perhatikan aksi-aksi yang dilakukan Hannah pada adegan itu. Ia tiba-tiba menjadi perempuan yang meneliti apapun. Padahal di awal tokoh Nadya tidak dibangun macam itu. Nadya di awal dibangun sebagai tokoh yang tidak tahu apa-apa, jauh dari sejarah kelam panti asuhan tersebut dan tidak ada satupun laku di awal yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat perhatian pada detail. Dari apa yang kami baca, tokoh Nadya tak punya pikiran apapun kecuali datang mengunjungi pak Bandi, yang dulu menyelamatkan suaminya. Itu saja.

Tapi jika kita menggunakan alasan bahwa ia adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya sehingga terus mencari jalan untuk mendapatkan anaknya, alasan ini membuat lakunya sedikit agak logis di satu sisi tapi tetap tidak logis di sisi lain. Dari apa yang kami lihat dan tangkap, tokoh Nadya tidak dibangun sebagai tokoh yang sangat cerdas dan memperhatikan detail. Ketika tetiba Nadya yang cerdas dan memperhatikan detail muncul, pertanyaannya, dari mana sifat itu muncul? Ingat apa yang dikatakan Stella Adler, bahwa kita harus memahami sifat dasar tokoh yang kita mainkan. Memahami artinya juga mengetahui kan? Bahkan lebih dari mengetahui. Nah, dari mana sifat dasar peneliti, cerdas dan pemerhati detail itu muncul? Tak ada bangunan yang tepat. Atau sifat dasar si tokoh adalah peneliti, cerdas, dan pemerhati yang detail? Tapi dimana adegan yang menunjukkan hal itu sebelum klimaks terjadi? Apakah ini halaman nol tokoh? Tapi jika itu sifat dasar, bukankah seharusnya tercermin pada laku-laku entah besar atau kecilnya?

Selain soal logika laku Nadya yang buntung, kami juga mendapati permainan emosi yang hampir monoton. Perhatikan baik-baik. Dari awal sampai akhir adegan ketika Ratu Ilmu Hitam hadir dan menghadirkan neraka untuk Nadya, permainan emosi Hannah ada di taraf yang sama. Kami bahkan menulis tidak ada dinamika dalam permainan emosi Hannah. Iya, memang intens. Tapi monoton. Atau mungkin persoalannya karena tidak adanya Kondisi Dasar yang dipegang Hannah yang kami sebutkan di atas. 

Hannah mungkin tidak bergerak menggunakan Kondisi Dasar tokoh. Jadi yang muncul dari permainan Hannah adalah Kondisi Dasar – Kondisi Dasar yang selalu baru. Padahal tokoh seharusnya hanya memiliki satu Kondisi Dasar, sementara kondisi selanjutnya adalah Kondisi Kembangan. 

Atau ini analogi paling sederhana, semoga ini jadi terdengar lebih sederhana. Tokoh memiliki satu motivasi utama dalam tiap adegan. Nah, motivasi utama itu adalah juga Kondisi Dasar. Tokoh harus memenuhi motivasi utamanya terlebih dahulu. Ketika terjadi peristiwa saat ia berusaha memenuhi motivasi utama, maka itu yang disebut sebagai motivasi sampingan. Disanalah kesempatan dinamika bisa muncul. Karena motivasi utamanya dimainkan sedemikian rupa setiap mendapatkan sebuah keadaan baru.

Motivasi utama Nadya adalah menyelamatkan anaknya. Lalu motivasi utama itu dibumbui dengan banyak emosi. Misalnya kebingungan, ketakutan dan kemarahan yang masing-masing tidak muncul dengan porsi yang sama tentunya. Setelah itu motivasi utama tersebut dijalankan. Pada perjalanannya, motivasi utama itu mendapatkan peristiwa-peristiwa lain yang memunculkan motivasi-motivasi sampingan. Motivasi utama itu tetap jadi pegangan utama, dan ketika muncul peristiwa lain, motivasi sampingan itu bergerak atas dasar motivasi utama. Jika perlakuan macam itu yang terjadi di adegan akhir, maka mungkin permainan Hannah jadi lebih dinamis. 

Bagaimana Dengan Si Ratu Ilmu Hitam?

Lalu bagaimana dengan permainan Putri Ayudya sebagai Ratu Ilmu Hitam atau Murni? Tokohnya lebih kompleks dari pada tokoh yang lain di film ini. Kami sempat Bincang Aktor dengan Putri Ayudya soal ini dan mendapati bahwa ia ingin memunculkan Ratu Ilmu Hitam sebagai tokoh yang dekat tapi sekaligus jauh di mata penonton. Ia ingin efek itu muncul pada permainannya. 

Sejatinya, sejauh pembacaan kami, efek itu tak terlalu terasa oleh kami. Kami memang mendapati bentuk-bentuk yang aneh. Tapi aneh saja, bukan sesuatu yang dekat lalu kami merasa itu sesuatu yang jauh dan aneh. Mungkin ini soal bagaimana membangun sejarah tokoh ini sehingga menghasilkan bentuk macam itu. Dimana dalam bahasa kami, bentuk Ratu Ilmu Hitam yang diciptakan Putri Ayudya begitu stereotipe. 

Seperti yang diketahui, tokoh ini punya sejarah panjang. Dimana ia harus lari ke hutan, tinggal selama 25 tahun disana dan belajar ilmu hitam. Sejarah tokoh ini begitu kompleks dan sulit untuk dicari perbandingannya di kehidupan nyata. Sehingga dalam sesi wawancara itu Putri berkata bahwa sense of truth milik Stanislavski tidak bisa dipakai dalam tokoh ini. Tapi kami rasa, bukan tidak bisa dipakai, hanya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa mencari ejawantah yang tepat atas tokoh ini. Meskipun tidak seluruh bagian dari tokoh, tapi matriks si tokoh saja. Bentuk stereotipe itu cukup mengganggu kami. Kami bahkan bisa berkata bahwa ciptaan Putri Ayudya jadi tidak sangat spesial. Jika bicara soal caranya menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh, kami rasa masih ada dalam taraf yang cukup aman. 

Satu lagi, dalam Bincang Aktor, Putri Ayudya berkata bahwa ia ingin menciptakan Ratu Ilmu Hitam yang bisa mengendalikan perasaannya dengan baik sehingga ia bisa mengontrol pergerakan otot-otot wajahnya dengan baik. Mirip seperti Dr. Hannibal di The Silence of The Lamb. Tapi hal itu tampaknya tidak sepenuhnya terjadi. Karena pada beberapa bagian, kami melihat mata yang terlalu melotot dan ekspresi wajah yang stereotipe. Dari bagian-bagian yang kami lihat itulah kemudian kami merasa bahwa tokoh yang diciptakan Putri Ayudya Stereotipe. 

ratu ilmu hitam

 

 

Capaian yang Lain

Para cast di film ini bukan muncul hanya dengan capaian emosi saja. Tapi beberapa pemain berhasil menunjukkan capaian pada dimensi lain yang menarik. Seperti misalnya Ade Firman Hakim yang membuat pipi bawah bagian kirinya bergerak sesekali. Bentuk itu cukup  menarik bagi kami. Meskipun bentuknya kecil, tapi bentuk tersebut cukup menarik. Lagi yang lebih menarik adalah tokoh Ade Firman Hakim kecil juga memiliki bentuk itu. Sehingga bentuk yang dimunculkan Ade relevan. 

Pun begitu dengan Ruth Marini. Kami bisa melihat cara berjalan dan warna suara yang diubah. Meskipun ia tak memiliki porsi kemunculan yang cukup banyak, tapi perubahan yang diciptakannya menarik. 

Untuk soal pemain lain, sayang. Kami tak menemukan capaian yang lain selain capaian emosi saja. Soal fisiologis kami tak menemukan perubahan apapun. 

 

 

Tapi kan Ratu Ilmu Hitam Bukan Film Logis? 

Memang, memang Ratu Ilmu Hitam bukan soal peristiwa yang logis. Dari mana logikanya seseorang bisa putus kepalanya lalu hidup lagi. Iya, memang benar. Tapi ingat, logika mana yang dipakai? Jika pakai logika barat, maka itu mungkin terjadi. Tapi kita menggunakan logika yang beragam di film ini. Satu hal yang pasti, kita menggunakan logika kemanusiaan. 

Apa yang kami jelaskan di atas adalah logika manusia. Bagaimana seorang ayah seharusnya menjalankan perasaannya ketika anaknya hilang dan entah nasibnya bagaimana. Disadari atau tidak, hidup manusia sejatinya sudah dinamis. Bahkan ketika itu adalah emosi yang paling sederhana sekalipun.     

Dan lagi, bukankah untuk menabrakkan logika, kita harus tetap menggunakan logika? Memangnya ada di dunia ini yang tak pakai logika? Satu-satunya jawaban yang tepat adalah banyak yang belum terlogikakan, bukan tidak bisa dilogikakan. 

Permainan para cast Ratu Ilmu Hitam memang menarik jika kita melihatnya dari satu sisi. Tapi jika kita menggunakan sudut pandang lain atau tak hanya menggunakan satu sudut pandang, maka permainan mereka tak cukup menarik

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: