fbpx

Sejarah Tokoh yang Begitu Penting, Kenapa?

Pernah melihat salah satu meme yang dibuat Akuaktor? Meme yang sedikit menyinggung soal sejarah tokoh yang begitu penting. Lupa? Untuk mengingatkan, akan kami berikan memenya di bawah ini. 

Sejarah Tokoh

Bagaimana? Dalam meme tersebut tertulis membuat sejarah tokoh adalah salah satu langkah awal yang penting dalam mencari dan menciptakan tokoh. Lalu kenapa penting? Berikut penjelasannya. 

Siapa Itu Tokoh?

Sebelum kita membahas kenapa mengetahui sejarah tokoh sebelum berperan itu penting, maka kita harus mengetahui tentang tokoh terlebih dahulu. Setidaknya kita tahu secara sederhana siapa itu tokoh. Sejauh yang kami baca dari buku-buku seni peran, entah yang dituliskan Stanislavski, Lee Strasberg, Stella Adler, Sanford Meisner, Suyatna Anirun, atau yang baru seperti David Mamet, Cynthia Baron, Bella Merlin, atau Larry Moss, semua mengatakan hal yang kami pikir senada. Bahwa tokoh adalah entitas, ia bisa manusia atau bukan manusia dengan kehidupan yang panjang. 

Seperti yang kami bilang, entitas ini punya kehidupan, yang bukan hanya muncul di naskah saja, tapi juga di luar naskah entah itu sebelum peristiwa di naskah terjadi atau di antara peristiwa naskah. Bagaimana bisa? Kita pakai logika yang paling sederhana saja. Bisakah sebuah naskah menuliskan semua sejarah satu tokoh? Itu kalau di film tersebut hanya ada satu tokoh. Bagaimana kalau di film ini ada 100 tokoh. Mau berapa lama durasi film itu? Seribu tahun? Tentu tidak kan?

Film atau naskah adalah penggalan dari kehidupan tokoh yang panjang. Ia hampir tidak mungkin (kecuali ada yang mau membuatnya) bisa menunjukkan setiap detik peristiwa yang dilalui entitas tersebut. Bahkan jika kalian bilang Boyhood, yang membutuhkan waktu penyelesaian 12 tahun, adalah film yang bisa menunjukkan kehidupan tokoh yang panjang, tetap tidak menunjukkan setiap detik perjalanan tokoh. Artinya, hampir tidak mungkin ada film yang bisa melakukan itu. Menunjukkan setiap detik perjalanan si tokoh.

Kita kembali pada kalimat; tokoh adalah entitas, entah manusia atau bukan, yang punya kehidupan yang panjang. Ingat dengan apa yang dikatakan Stanislavski yang sampai sekarang masih sangat relevan yaitu soal 3 dimensi tokoh? Jika kemudian kita sepakat bahwa tokoh adalah entitas, entah manusia atau bukan, maka tokoh pasti memiliki 3 dimensi tersebut, yakni fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Entitas tersebut pasti terdiri dari bentuk fisik, ia juga pasti punya latar belakang sosial, dan tentunya punya unsur psikologis karena ia berpikir dan merasakan. 

Tahu kan kalau 3 dimensi itu saling bertautan satu sama lain? Sekarang pertanyaannya, bagaimana 3 dimensi itu bisa terbentuk sebagaimana penampilan tokoh di peristiwa dalam naskah? Jawabannya adalah dari peristiwa apapun yang sudah dilalui oleh si tokoh. Dimana, singkatnya, adalah sejarah. Sejarah memang tidak secara gamblang disebutkan sebagai salah satu dimensi tokoh. Tapi ingat, pada logika yang paling sederhana, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang muncul seketika dan tanpa sejarah. Ia pasti punya kisah yang sudah dilalui dan alasan kemunculan. Ketika kamu tidak tahu bukan berarti tak ada kisah dan alasan. 

Jadi, ketika ditanya siapa itu tokoh, maka jawabannya adalah Entitas entah manusia atau bukan yang memiliki bentuk fisik, latar belakang sosial, punya pikiran dan perasaan, serta punya sejarah yang sudah pernah dilalui yang membentuk dirinya sekarang. 

Dengan pengertian itu, maka, kita sudah tahu bagaimana posisi sejarah pada tokoh dan sedikit banyak bisa mulai menjawab kenapa Sejarah Tokoh begitu penting. 

 

 

Sejarah Tokoh yang Begitu Penting

Lalu kenapa sejarah tokoh begitu penting? Jawabannya adalah karena sejarah itu juga lah yang membentuk tokoh. Benarkah begitu? Setidaknya itu yang kami pahami dari apa yang Sigmund Freud katakan, bahwa masa dewasa bukanlah hasil dari pengalaman masa lalu, tapi proses lanjutan dari apa yang sudah dilalui. 

Jika menurut Sigmund Freud, benar bahwa kita yang sekarang ini bukan hasil dari pengalaman masa lalu, tapi lanjutan dari masa lalu. Kenapa? Karena kalau kita hasil, maka kita mungkin berhenti dan tidak tumbuh lagi. Sementara pada kenyataannya setiap detik manusia itu tumbuh dan berkembang. Maka benar apa yang dikatakan Sigmund Freud bahwa kita yang sekarang adalah tahap selanjutnya dari apa yang sudah kita lalui. Lalu bagaimana kita menyebut “apa yang sudah kita lalui” itu. Apalagi kalau bukan sejarah. Iya kan? 

Sebenarnya ada teori kembangan soal bagaimana manusia berkembang menurut Erik Erikson, murid Sigmund Freud. Ada setidaknya 8 tahapan perkembangan manusia hingga sampai ada di tahap dewasa yang dikemukakan oleh Erik Erikson. Tapi kami berusaha menyederhanakan itu dengan mengatakan bahwa apapun yang manusia itu telah alami, adalah bagian dari proses pembentukan si manusia itu sekarang. Dari apa yang kami jelaskan di atas, kita bisa melihat betapa pentingnya sejarah. Karena sejarah itulah yang membentuk si tokoh sekarang. Masih agak membingungkan?. 

Kami beri contoh; kalian sedang memainkan seorang tokoh yang secara fisiologis memiliki bentuk kaki agak miring atau tidak simetris. Sebagai seorang aktor, kalian tak boleh mengamini begitu saja bentuk tersebut. Syukur-syukur kalau bentuk itu disebutkan oleh naskah, kalau tidak? Jangan asal mengarang. 

Katakanlah bentuk itu disebutkan oleh naskah, maka aktor tetap tak bisa asal mengamini. Kalian harus tahu bagaimana sejarah kaki yang asimetris itu. Apakah si tokoh pernah terkena musibah tertentu saat ia kecil, atau sejak lahir, ia sudah mengalami bentuk asimetris tersebut. Karena pasti berbeda bentuk dan efeknya ketika bentuk itu baru didapatkan berdekatan dengan waktu naskah terjadi dengan ketika si tokoh mendapatkan bentuk itu dari kecil. Efeknya bisa sampai pada aspek psikologis juga. Entah kemudian si tokoh jadi introvert, atau skeptis pada dunia karena sedari kecil ia sudah dicemooh, dan lain sebagainya. Jadi, penting untuk memahami bagaimana sejarah bentuk itu bisa muncul.

Itu kalau tercatat dalam naskah. Kalau tidak? Apa yang harus aktor lakukan ketika ia memiliki ide untuk memberikan bentuk kaki asimetris? Jawabannya ada pada analisis aspek dimensi yang lain, entah sosiologis atau psikologis. Misalnya, setelah membaca naskah sampai habis, kita mendapati bahwa si tokoh ini introvert sekali dan sangat skeptis pada dunia. Maka kita harus mencari tahu apa saja yang bisa membuat seseorang introvert dan skeptis. Misalnya kamu kemudian menemukan bahwa trauma masa lalu (kita bisa sebut itu sejarah), atau perlakuan lingkungan pada si tokoh yang pernah dialaminya (kita juga menyebutnya sejarah) adalah alasan kenapa ia jadi introvert dan skeptis. 

judy

 

 

Kemudian munculkan lagi pertanyaan “kenapa”? Kenapa ia diperlakukan macam itu oleh lingkungannya? Kita jadi nyerempet ke aspek sosiologis. Katakanlah di naskah disebutkan bahwa si tokoh hidup di sebuah tempat yang tingkat pendidikannya rendah dan sangat percaya bahwa ketika seseorang dilahirkan tidak normal, maka ia dikutuk oleh tuhan dan tidak layak ada di dunia atau semacamnya. Maka seharusnya si tokoh dikucilkan. Kita jadi menemukan alasan kenapa bentuk berjalannya yang asimetris. Mungkin karena memang ada kecacatan yang dimiliki si tokoh. Kita mendapatkan kesimpulan itu dari aspek sosiologis, dan tentunya dari sejarah tokoh. 

Tapi kenapa kaki? Kalian harus terus menanyakan itu sampai menemukan jawabannya. Hemat kami, jika ditanya; “Kapan kita harus berhenti mencari tokoh?” Jawabannya, selain karena memang sudah deadline, juga ketika tidak ada lagi pertanyaan kenapa, maka pencarian terhadap tokoh selesai. Selanjutnya kita hanya perlu melatihkan data yang sudah kita punya. Tapi ketika dalam pelatihan itu muncul lagi pertanyaan kenapa, maka lanjutkan pelatihan dan lanjutkan pencarian tokoh. 

Itu baru pada aspek fisiologis tentang cara berjalan. Belum lagi soal warna suara, alasan kenapa si tokoh memilih tinggal di tempat itu, alasan si tokoh ada di peristiwa tersebut, dan lain sebagainya. Semua yang berhubungan tentang tokoh itu pasti memiliki alasan. Dan alasan itu hampir selalu terjadi sebelum si tokoh masuk dalam peristiwa naskah (kita menyebutnya sejarah), atau peristiwa yang sudah dialami si tokoh dan tertulis di naskah (kita juga bisa menyebutnya sejarah), atau peristiwa yang terjadi di satuan waktu naskah, tapi tidak tertulis di naskah (kita juga menyebutnya sejarah).

Sekarang sudah tahu kenapa sejarah tokoh itu penting? Tentu saja sangat penting. Kami ulangi sekali lagi agar terpatri baik di kepala kalian; 

Tidak ada satu entitas pun di dunia ini yang tidak memiliki sejarah. Semua entitas itu memiliki sejarah yang membentuknya. 

Terima kasih, semoga mengerti dan mencerahkan, viva aktor