Wajib Tahu! Ini 4 Modal Dasar Seorang Aktor

Modal Dasar Seorang Aktor

 

Pasti ada beberapa dari kamu yang pengen jadi aktor terus pernah nanya, apa sih yang dibutuhkan untuk jadi seorang aktor? Modal apa aja sih yang harus dipersiapkan seseorang yang pengen jadi aktor? Modal? Emangnya aktor ini bisnis buka toko? Ada modal segala? Tentu saja! Tapi bukan modal duit seperti yang dibutuhkan dalam bisnis ya. Definisi modal artinya semua barang atau induk yang ada pada perusahaan dan punya fungsi produktif untuk bisa menghasilkan sesuatu. Nah, modal dalam dunia keaktoran juga kurang lebih sama. Ia adalah “barang” yang punya “fungsi produktif” agar bisa “menghasilkan sesuatu”. Modal Dasar Seorang Aktor secara garis besar adalah sesuatu yang dimiliki oleh aktor, atau wajib dipunya oleh aktor untuk menghasilkan “sesuatu” dimana kalau dalam dunia keaktoran berarti menghasilkan tokoh atau menciptakan tokoh. Bukan hanya sekedar menciptakan saja, tapi menciptakan dengan baik dan hasil yang bagus.

Terus apa aja modal dasar seorang aktor? Apakah duit juga termasuk salah satunya? Atau niat yang kuat juga modal dasar aktor? Berikut ini ada 4 modal dasar yang wajib dimiliki oleh seorang aktor dan wajib diketahui siapapun yang ingin berkecimpung dalam dunia keaktoran.

Tubuh

Salah satu modal dasar aktor yang pertama dan utama adalah tubuhnya! Jelas! Kalau nggak ada tubuh, gimana mau bisa menciptakan, kan? Tapi bukan berhenti disitu pengertian tubuh sebagai modal dasar aktor. Tubuh dalam modal dasar seorang aktor artinya adalah semua perangkat fisik yang dimiliki oleh aktor. Bukan cuma perangkatnya, tapi yang paling penting adalah kemampuan dari perangkat tersebut. Karena kalau kita bicara tubuh lalu bicara soal perangkat, maka kasian teman-teman yang kehilangan anggota tubuhnya dan punya mimpi jadi aktor. Dengan pemahaman yang terhenti pada tubuh adalah perangkat fisik, maka bagi yang tidak punya tangan, tidak punya kaki, atau memiliki kekurangan lain, seolah-olah jadi tidak bisa menjadi aktor. Karena itu, tubuh disini fokusnya tidak berhenti pada wujud perangkat yang dipunya tapi pada kemampuan. Jadi, perlu digaris bawahi bahwa untuk siapapun yang ingin jadi aktor dan bagaimana pun kondisimu, kalian tetap bisa jadi aktor.

Kembali soal tubuh, seperti apa tubuh yang harus dimiliki seorang aktor? Apakah tubuh yang sixpack, proporsional? Atau semacamnya? Jawabannya tidak! Stanislavski dalam bukunya Membangun Tokoh mengatakan bahwa;

“Satu-satunya tugas saya adalah memperingatkan kalian bahwa hasil binaraga yang berlebihan semacam itu biasanya tidak pas untuk digunakan dalam teater. Kita membutuhkan tubuh yang kuat, bertenaga besar, berkembang dalam proporsi yang baik, bagus bangunnya, tapi tanpa keberlebihan yang tidak wajar.” (Membangun Tokoh, 2008, 44)

Dalam kutipan itu Stanislavski sudah mengatakan bahwa tidak penting tubuh yang sixpack atau seperti binaraga. Justru yang terpenting dari tubuh seorang aktor itu adalah kekuatannya atau staminanya, tenaga atau power yang dimilikinya, kokoh, dan lentur atau fleksibel.

 

Punya kekuatan; kalian sudah paham pasti ya, artinya tubuh harus punya stamina yang baik. Power atau tenaga, artinya tubuh punya power, punya kekuatan, seperti kemampuan mengangkat berat sekian kilo dan hal semacamnya. Kokoh artinya tidak klemar-klemer. Tubuhnya “menancap” dengan baik dan kuat di tempat ia berdiri. Lalu yang terakhir adalah fleksibel atau lentur. Apa yang dimaksud dengan tubuh yang lentur atau fleksibel ini? Fleksibel berarti tubuh siap untuk dibentuk seperti apapun. Ia siap menempuh berbagai macam bentuk tubuh, mau bungkuk, membusung, ngesot, headstand, handstand sepanjang pertunjukan atau film, dan kelenturan yang lainnya. Fleksibel juga berarti banyaknya kosa gerak yang dimiliki oleh seorang aktor. Karena lagi-lagi tubuh adalah modal, maka semakin banyak dan berkualitas modal yang dimiliki, maka semakin siap aktor untuk masuk ke tokoh apapun dan menciptakan tokoh apapun dengan kualitas yang baik.

Contoh kecil begini; kamu mendapatkan peran di sebuah film dimana tokohmu harus membungkuk selama film tersebut. Pertama, kalau kamu tidak punya pengalaman tubuh membungkuk, maka bentuk tubuh bungkukmu akan aneh, itu kenapa Kosa Gerak jadi penting. Selanjutnya soal stamina. Kalau misalnya tubuhmu tidak punya stamina yang baik, bisa jadi bentuk bungkukmu itu tidak akan konsisten karena kelelahan. Lalu soal power, gimana kalau di tengah adegan, kamu harus mengangkat batu besar tapi tetap dalam kondisi bungkuk? Kalau kamu tidak memiliki tubuh yang kuat, maka kamu akan kesulitan mengangkat dalam bentuk tubuh bungkuk yang notabene bentuk tubuh itu bukan bentuk tubuh normalmu. Lebih buruk lagi, kamu bisa kesleo, lalu menghambat proses shooting, dan merugikan banyak orang. Soal power juga, setidaknya kamu bisa meyakinkan penonton bahwa bentuk bungkuk itu adalah memang milikmu. Bukan asal pasang dan asal memunculkan bentuk saja sehingga artifisial.

Ada banyak latihan yang bisa kamu lakukan untuk mempersiapkan modal tubuhmu ini. Mulai dari bela diri, tari, olah raga, dan kegiatan apapun yang berhubungan dengan tubuh. Suyatna Anirun di buku Menjadi Aktor bilang kalau;

“Latihan-latihan tubuh dimaksudkan supaya aktor memiliki fisik yang prima dan sehat karena kesehatan adalah syarat utama bagi seorang aktor sebelum mencipta peran. Latihan olah tubuh adalah suatu proses pemerdekaan.” (Suyatna Anirun, Menjadi Aktor, 1998, 154)

Jadi kalau kamu keberatan berlatih karena takut capek dan berpikir tubuhmu sudah cukup kuat, maka pikirkan saja soal kesehatan. Latihan tubuh, seperti yang dibilang Suyatna juga punya tujuan agar kamu jadi lebih sehat. Selain itu, yang perlu digaris bawahi dari pernyataan Suyatna adalah bahwa latihan tubuh adalah proses pemerdekaan. Dimana kata-kata ini selaras dengan apa yang dikatakan Yoshi Oida dan Lorna Marshall di buku mereka yang berjudul Ruang Tubuh Aktor;

“Bekerja dengan tubuh bukanlah sesuatu yang aktor kerjakan dengan mudah untuk kesehatan, atau memperbaiki pertunjukan mereka. jika kamu terbiasa mengeksplorasi tubuh dengan teratur maka tubuh menjadi sangat bebas dan terbuka, mentalmu juga berproses menjadi lentur. Lagipula, kehidupan perasaan akan menjadi lebih kaya” (Yoshi Oida, Lorna Marshall, Ruang Tubuh Aktor, 2012, 102)

Ketika kamu terbiasa mengeksplorasi tubuh maka tubuhmu jadi lebih bebas dan terbuka. Bahkan berefek pada mental dan juga perasaanmu. So, tubuh adalah modal dasar aktor yang wajib kamu persiapkan sebaik mungkin.

Suara

Modal dasar aktor yang kedua adalah suara. Suara juga jadi modal yang sangat penting untuk aktor. Suara ini capaiannya kurang lebih sama dengan tubuh. Ia harus memiliki fleksibilitas, power, dan stamina yang baik. Lalu apakah modal suara yang baik dan fleksibel itu artinya bisa menyanyi? Tidak juga. Menyanyi juga jadi modal suara yang penting, tapi tidak berhenti pada “Modal Suara yang bagus adalah bisa menyanyi”. Modal suara yang bagus adalah juga stamina, kekuatan, dan fleksibilitas seperti yang sudah disebutkan di atas. Stamina artinya suaramu setidaknya tidak mudah habis. Kekuatan artinya kamu bisa menjangkau penonton paling belakang, jika ini di panggung teater, agar suaramu bisa terdengar sampai tempat duduk paling belakang. Sementara Fleksibilitas artinya adalah kemampuan untuk menyanyi, kemampuan untuk merubah suara ke warna suara apapun, penguasaan intonasi, artikulasi, dan yang berhubungan dengan suara. Lalu, lagi-lagi bertanya, apakah bisa menyanyi itu sudah cukup. Tidak juga.

Stanislavski mengatakan bahwa;

“Suara yang sudah bagus dan alami pun masih perlu dikembangkan bukan hanya untuk bernyanyi, melainkan juga untuk berbicara.” (Stanislavski, Membangun Tokoh, 2008, 116)

Bahkan ketika kamu sudah memiliki suara yang bagus, kamu tetap harus mengembangkannya. Bukan hanya untuk bernyanyi, tapi yang paling penting adalah untuk berbicara.

 

Lalu soal fleksibilitas yang lain, seperti kemampuan merubah suara. Apa yang harus dilakukan untuk bisa mengubah suara? Kami kutip Stanislavski lagi ya, semoga kalian nggak bosan karena memang buku itu yang paling komprehensif mengenai keaktoran.

“Tentu suara kalian harus ‘jadi’ dan terlatih jika kalian ingin mengubah-ubahnya” (Stanislavski, Membangun Tokoh, 2008, 5)

Kalau menurut Stanislavski, kamu harus memiliki suara yang sudah “jadi”. Jadi disini artinya kamu sudah memiliki stamina suara yang bagus, power suara yang bagus, dan mengenali warna suaramu sendiri. Jadi ketika kamu ingin merubahnya, dengan modal stamina dan power suara yang bagus serta pengetahuan atas suaramu sendiri, kamu sudah bisa merubahnya. Setidaknya kamu sudah tahu bagaimana warna suaramu. Sehingga ketika berubah ke warna suara lain, akan lebih mudah tahu kalau ini sudah berubah atau belum. Di luar itu, aktor juga harus punya daya analisis yang baik untuk bisa tahu warna suara yang mau ia mainkan cirinya dimana, pergerakan otot kerongkongannya di sebelah mana, pengucapan huruf konsonannya dimana, dan lain sebagainya. Semakin tahu dengan detail, maka semakin mudah merubah suara.  

Rasa

Rasa, atau emosi, juga merupakan modal dasar yang wajib dimiliki seorang aktor. Bagaimana emosi atau rasa bisa dikatakan sebagai modal dasar aktor? Karena aktor pasti akan memainkan emosi tokoh. Ia harus bisa merasakan emosi tokoh dan juga lawan mainnya. Bahkan ia juga harus bisa merasakan emosi peristiwa. Maka kemampuan untuk memainkan emosi atau menguasai emosi sangat penting bagi seorang aktor. Rasa atau emosi ini sama seperti tubuh dan suara. Ia juga harus punya fleksibilitas.

Apakah fleksibilitas artinya bisa menangis, marah, dan ketawa dengan mudah? Bisa jadi begitu, tapi tidak berhenti disitu. Emosi yang baik juga tentang seberapa peka seorang aktor bisa merasakan emosi tokoh, lalu mengejawantahkan emosi tersebut dan menyampaikannya dengan baik pada penonton. Jika kamu tidak memiliki penguasaan emosi yang baik, kamu akan kesulitan merasakan emosi tokoh, bahkan kamu tidak akan bisa menyampaikan emosi tokoh pada penonton. Jadi, emosi atau rasa juga harus dipersiapkan dengan baik sebagai modal dasar seorang aktor.

 

 

Stanislavski mengatakan dalam buku My Life in Art bahwa;

“Setiap aktor mestilah melatih sukmanya agar selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan ketika ia bermain.” (Stanislavski, My Life in Art, 2006, 124)

Dari kutipan itu, kita bisa tahu bahwa emosi, rasa, jiwa, atau bahasa lainnya sukma, harus selalu dilatih. Tujuannya jelas,  agar ia selalu siap kapanpun dibutuhkan. Lalu apa saja bentuk latihannya? Ada banyak sekali bentuk latihan emosi. Mulai dari meditasi, menyadari setiap emosi yang kalian alami secara personal lalu mencatatkan dan mengingat emosi tersebut dan lain sebagainya.

Pikiran

Pikiran juga menjadi modal dasar seorang aktor yang wajib dimiliki. Kalau soal pikiran ini lebih kepada seberapa luas wawasan yang dimiliki. Tentang apa? Tentang apapun! Pengetahuan, apapun jenis dan namanya sangat penting untuk seorang aktor. Misalnya ekonomi. Pengetahuan tentang ekonomi jadi penting ketika kamu memainkan seorang tokoh ahli ekonomi, mahasiswa ekonomi, atau yang berhubungan dengan ilmu ekonomi. Begitu juga dengan pengetahuan yang lain. Selain soal luasnya wawasan, modal pikiran juga penting untuk menganalisis tokoh yang kamu mainkan. Semakin banyak pisau bedah yang kamu miliki untuk menganalisis tokoh, semakin detail kamu mengetahui tokoh. Hasilnya, ciptaanmu terhadap tokoh itu akan jadi semakin bagus dan detail juga.

Kalau misalnya kamu memiliki pikiran yang bagus, daya analisis yang detail, suara, tubuh, dan emosi yang siap, maka kamu bisa menciptakan tokoh dengan baik. Lalu apa latihannya? Kalau pikiran latihannya ya belajar. Membaca buku, membaca orang, melihat orang, mempelajari banyak orang, menonton film, menyadari hidup yang kamu jalani sendiri, itu semua bisa menjadi latihan pikiran yang sangat baik untuk seorang aktor.

 

Itu tadi 4 modal dasar seorang aktor yang wajib dimiliki. Aktor itu harus seperti pistol yang terkokang. Ia siap menembakkan pelurunya kapan pun dibutuhkan. Jadi, kalau kalian ingin jadi aktor, latihlah terus 4 modal dasar tersebut. Semakin kamu sering melatihnya, semakin bagus permainanmu.

Lalu kapan berhenti berlatih? Tidak pernah! Aktor adalah observer seumur hidup. Selama kamu masih memutuskan ada dalam dunia keaktoran, maka setidaknya selama itu juga kamu harus melatih semua perangkat yang kamu punya. Gimana? Siap jadi aktor?

Viva Aktor!

%d bloggers like this: