[Stage Review] Silap Cilaka; Tragedi Dukun Beranak yang Digelitik Komedi

Silap Cilaka, sebuah pertunjukan yang menceritakan tentang tragedy seorang Dukun Beranak yang menjadi gila karena tidak punya anak. Dukun Beranak, sebagai pengganti bidan di tengah-tengah hutan tempat tinggal Suku Dayak, menjalani perannya di masyarakat bukan hanya dengan ilmu medis, namun juga dengan ilmu hasil kedekatannya dengan kekuatan-kekuatan gaib yang mereka yakini, Jubata sebutannya. Kehidupan yang supranatural itulah, yang menjadi resiko baginya pula saat ia ditimpai ujian dengan tidak dianugerahinya seorang anak. Kian dalamnya ia terpuruk sampai berujung pada kegilaandalam arti sebenarnya, yakni secara mental dan psikologis.Dalam puncak kegilaannya ia menjadi merasa punya anak dan meraupkan silap-silap (darah) ke wajahnya.

Cerita seperti itulah yang dipilih Oleh Wahyu Damayanti, Seorang Mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta sebagai sajian Tugas Akhirnya, tolak ukur akhir atas perjalanan keaktoran dan perteaterannya di kampusnya tercinta. Dengan mengambil peran Seorang Dukun Beranak yang disapa “Inay”ðalam pertunjukan tersebut, Perempuan dengan panggilan akrab Dama itu harus menghadapi berbagai tantangan dalam menghidupkan perannya. Ini berarti melingkupi bagaimana membangun wibawa seorang Dukun Beranak yang Termahsyur dan satu-satu di pedalaman tersebut, juga Kesabaran Seorang Istri yang begitu setia berbakti pada suami walaupun tidak dikaruniai seorang anak, serta perempuan yang nelangsa karena merasa tidak dapat memenuhi salah satu kewajibannya di dunia ; melahirkan seorang anak.

Sebagai gambaran, pertunjukan yang di Teater Arena ISI YK  ini digelar dengan tata artistik / penataan panggung yang dapat dibilang megah, Teater Arena dengan tribun tapal kuda itu oleh segenap tim disulap menjadi halaman sebuah Rumah yang terletak di tengah hutan, lengkap dengan dua buah pohon yang menghapit terasnya, beberapa langkah di depan teras rumah yang diletakkan miring dari barat ke selatan itu juga terdapat bale-bale ; tempat bersantai dan bercengkrama. Lantai kayu panggung nyaris penuh tertutupi tanah merah basah dan guguran dedaunan serta ranting-ranting kering, juga kalau kalau kamu berada di dalamnya saat itu dapat kamu cium aroma daun-daun khas hutan tropis yang menyegarkan. Betul-betul tampilan yang detail, megah, dan nyaris seperti aslinya (barangkali).

Secara sederhana, kalau kita menonton pertunjukan ini, dapat kita rasakan bahwa ia terbagi menjadi 3 (tiga) bagian besar : Pertama, adalah pengenalan Sosok Inay dengan adegan ia pulang dari membantu kelahiran seorang bayi. Kedua, datang segerombolan tetangga yang berkunjung ke rumah Inay, ada yang sekedar bercengkrama dan bercanda, ada yang menghantarkan hadiah yang diberikan oleh yang keluarga yang Inay bantu. Kemudian para tetangga itu diantara gelak tawanya menyempatkan diri untuk mengejek Inay karena tidak punya anak. “Masa Dukun Beranak tidak punya anak”, begitu kira-kira ejekannya yang terasa begitu pedih di hati Inay. Ketiga, Pertengkaran Inay dengan suaminya yang terjadinya karena Sang Suami merasa Inay tidak dapat menerima takdir yang tlah digariskan oleh Sang Jubata. Sementara Inay tetap kekeh dan percaya, bahwa ia akan memiliki anak entah bagaimana dan dengan kuasa apa, ia telah merasa berbhakti pada Jubata dan yakin bahwa Jubata akan mendengar keluh kesah Seorang Dukun Beranak yang baik sepertinya.

Sekilas cerita ini membuat saya teringat pada sebuah lagu dari Metallica yang berjudul “The God That Failed” yang bercerita tentang seorang Pendeta yang gagal selamat dari penyakit yang dideritanya hanya dengan berdoa. Atau nyaris segaris namun tak sama juga dengan drama-drama Yunani Klasik, salah satunya mahakarya Oedipus yang selalu menempatkan tokoh utama untuk berusaha melawan atau mengingkari takdir yang sudah dituliskan atas dirinya, namun selalu gagal di akhir cerita. Sudah jelas, bahwa drama-drama seperti itu dan ini adalah sebuah Tragedy.Dalam sebuah Tragedy selalu diperlihatkan kemulukan-kemulukan yang ada dalam sifat manusia, dan kegagalan yang ada di akhir akan membawa kita atau penonton semua menuju sebuah fase katarsis, sederhananya : pensucian jiwa. Bahwa kita sebagai manusia hanyalah berencana, tidak berkuasa benar-benar atas segalanya, Kebenaran tidak bisa dijadikan senjata manusia, yang bisa dilakukan manusia hanyalah berserah diri pada Tuhan sebagai penguasa yang sesungguhnya. Itulah katarsis. Titik kesadaran atau penyadaran kembali, yang mendorong kita untuk mensucikan diri kembali.

Sampai disini, mari kita kerucutkan pembahasan. Bagaimana kualitas perwujudan Tokoh Dukun jika dipadu dengan Keindahan Artistik dalam rangka menguak Kedalaman Sebuah Tragedy ? Terkesan rumit bukan ? Memang. Begini lah pembahasan tentang teater, selalu panjang, menguras imajinasi dan membosankan. Mari kita berusaha bersama-sama.

Kembali ke Silap Cilaka. Agar mudah membahasakan hal-hal yang terkesan rumit diatas, maka akan coba saya kulik lewat alur atau jalinan peristiwa yang membangun cerita terlebih dahulu. Sebelum masuk ke dalam pertunjukan (tetap sabar ya semua), kalau disimak dari dialog-dialog dan narasinya yaitu teks Silap Cilaka ini, saya rasa ada jalinan yang kurang kuat untuk meruncingkan konfliknya. Sebab selain Dukun Beranak dan Suaminya, kehadiran tokoh lain tidak memiliki pengaruh kuat dalam mengubah alur serta arah jalannya cerita. Memang, para tetangga itu lah yang menyakiti hati si Dukun dengan bilang bahwa dia adalah Dukun Beranak yang tidak beranak, tapi setelah kalimat itu terlontar mereka tidak muncul lagi. Keterkaitan tokoh tersebut hanya berbatas pada “kata” tidak menjadi suatu bagian “aksi” atau laku. Jadi konflik hanya bergulir, berputar pada Tokoh Dukun Beranak dan Suaminya. Karena itu persolan kemudian menjadi sedemikian lirih, antara sepasang suami istri saja, tidak ada pihak ketiga bagi mereka selain takdir itu sendiri. Pada titik ini, kesimpulan sementaranya tidak ada tokoh antagonis yang menjadi counter dari impian Si Dukun Beranak selain Takdir itu sendiri. Saya sebut takdir karena tidak baik rasanya kalau kita mempersalahkan Jubata, sementara ia adalah penjelmaan Sang Pencipta.

Dari kecenderungan ini berarti Drama Silap Cilaka ini bukanlah Drama Aristotelian biasa yang selalu berkutat pada perkara antar manusia dengan manusia (konflik yang terjadi bersifat nyata), namun juga bukan Drama Klasik karena Tokoh yang terlibat di dalamnya sama sekali tidak membahas hubungan antara Raja dan titah dewa. Tapi ada sebuah keadaan lain, titik skak mat yang sedang digambarkan, sekilas mengingatkan kita pada konsep Absurditas yang mencoba menempatkan persoalan semisal perihal-perihal metafisik seperti kesejatian diri, nasib atau takdir, serta ekstase kegilaan sebagai jalan kabur dari kenyataan sebagai persoalan utama manusia, dibalik persoalan yang nyata. Hal-hal seperti itu yang tergambar dalam perbincangan antara Inay dengan Suaminya. Bagaimana mereka sebagai manusia harus menerima segala takdir yang diberikan Jubata, namun juga tidak dapat membohongi diri sendiri bahwa keinginan untuk memiliki anak itu telah tertanam jauh di lubuk hatinya.

Dama, dalam memerankan Seorang Dukun dengan persoalan seperti itu menggunakan penghayatan emosi sebagi senjata utamanya dengan dukungan tata rias dan kostum yang identik dengan kenyataan tentunya. Itu sudah merupakan pilihan terbaik untuk menghadapi sebuah lakon tragedy, yaitu dengan mempertontonkan dunia yang semirip mungkin dengan kenyataan sehingga penonton bisa terhanyut dalam drama. Kecenderungan ini hamper mirip sifatnya dengan pertunjukan teater barat yang beridiom Realisme, dimana dunia panggung ditata sedemikian rupa agar penonton dapat mengamati peristiwa panggung seperti saat mengamati kenyataan sebenarnya (performance as illution of reality). Sehingga dari situlah segala penataan ruang dan perwujudan  tokoh dibuat senyata mungkin. Senada dengan sifatnya, pilihan penataan seperti itu pun efektif untuk mempertunjukkan persoalan-persoalan yang nyata sebab dan akibatnya, sehingga kemungkinan yang muncul adalah cakupan persoalat tersebut adalah antar manusia dan manusia (person to person)

Namun, tatanan ruang yang terlalu besar, serta komedi-komedi yang melenakan menjadi lawan yang agak terlalu besar untuk ia taklukkan dalam rangka menciptakan keintiman yang sesuai dengan teks yang dilantunkan. Dalam kritik ini, supaya tidak terkesan menyudutkan, saya rasa persoalan yang mendasar adalah kesatuan pilihan atau kesatupaduan antara gaya akting, konsep artistik serta kerangka dramatikpengadeganan. Misal, sederhananya kalau yang dipilih adalah Aristotelian, yang mana terdiri pondasi dasarnya dari orientasi (pengenalan) , konflik (permasalahan), rising action (peruncingan masalah), climax(puncak) dan resolusi (solusi dan simpulan cerita), maka rising action akan kurang panas untuk melahirkan climax apabila tidak dilengkapi detail konfliknya. Maksudnya, bahwa untuk menaikkan fase dramatic tersebut diperlukan masalah-masalah baru yang dapat memperkuat masalah pokok sehingga dapat melahirkan tension (tegangan). Aktor sebagai ujung tombak dan energi utama juga perlu untuk diberikan senjata atau baju zirah yang sesuai dengan Medan perangnya. Begitulah kira-kira analoginya.

Pada bagian awal Silap Cilaka sudah dipertontonkan, bagaimana sakti dan berjasanya Tokoh Dukun Beranak itu dengan laku berupa ia yang pulang dari membantu sebuah persalin kemudian sebagai gantinya ia diberi hadiah, beragam pujian dan rasa terima kasih. Lalu datang tetangga yang lain mencibir padanya, cibiran itu lah yang menggores hatinya kemudian mendorongnya untuk mempertanyakan kembali nasibnya. Dua tahap terlalui dalam serangkaian peristiwa ini; orientasi dan munculnya konflik. Sayangnya pada bagian tengah, kemunculan berbagai komedi-komedi ringan itu menggoyahkan bangunan ini. Sebab titik berat permasalahan yang sebelumnya terpusat pada perbincangan tentang anak menjadi teralihkan. Setelahnya yang tersisa di panggung adalah Dukun beranak saja bersama suaminya. Mereka berdua terus saja berdebat satu sama lain sampai di suatu titik Si Istri menjadi gila. Kegilaan ini yang kemudian menjadi ganjil kurang terpaparkan sebabnya. Apabila yang dianggap sebagai alas an adalah roh ghaib, maka penonton perlu diberikan pemahan yang lebih jelas tentang nalar ceritanya.

Pada bagian akhir, peristiwa panggung sempat membuat saya terenyuh. Saat Inay bersikeras bahwa ia tengah mengandung seorang anak, sementara suaminya tetap berusaha menyadarkan agar tetap rela menerima kenyataan. Pada bagian itu ada dialog “kita masih punya cinta ” terucap dari sang suami, sementara istrinya tidak peduli dan terus semakin gila. Saya rasa inilah puncak dari semua permainan. Suatu titik penyadaran bahwa penerimaan takdir sesuai atau tidaknya dengan cita-cita tetaplah harus dilakukan dengan cinta. Ini lah bomb atomnya! Ledakan besar di dalam hati. Saya membayangkan betapa indahnya ketidakberdayaan dalam cara yang seperti ini,dalam Duet yang menarik antara Dama dan Jody.

Tentang dua paragraph diatas, kesenjangan anatara bagian awal dan akhir sebenarnya merupakkan potensi atau kekuatan dalam suatu drama. Tapi  juga perlu dibangunkan jembatan dramatic diantara keduanya. Sehingga actor dapat meletakkan tumpukan atau lipatan emosinya dengan cara yang tepat dalam progress yang akurat. Dama pun tampaknya memiliki modal emosional yang kuat, kemampuan yang baik dalam memicu munculnya emosi-emosi yang ekstrim. Namun dalam setiap fase dramatik, sebuah tokoh dalam drama pun tentu memiliki perjalanan pikiran, emosional serta kejiwaan yang dinamis sebagai akibat dari jalinan peristiwa yang dialaminya.  Sehingga dari pembangunan bersama dua unsur itu dapat berdiri kokoh lah bangunan sebuah tragedy atau komedi.

Sebagai sebuah karya pertunjukan teater modern yang mengusung cerita tradisi, pertunjukan ini menarik. Memiliki beragam kerumitan di tiap bagiannya. Terasa segar dan renyah untuk ditonton oleh semua kalangan dan usia. Indah dalam tatanan panggung, kostum, serta megah musik iringannya. Namun juga, kembali lagi kita sadarkan bahwa drama adalah dunia ketiga, setelah sastra (lakon)adalah yang kedua, perlu kita renungkan kembali bagaimana memunculkannya dengan bulat dan tepat sasaran sehingga mampu melemparkan kembali penontonnya pada dunia pertama. Saya senang terlibat dalam peristiwa itu, sebuah sajian pembuka yang hangat renyah dari serangkaian Parade Tugas Akhir di Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Kurang lebihnya mohon maaf, tetap semangat dan terus berkarya. Viva teater!

Kontributor: Maulana Mas

AkuAktor :