[Prediksi] Best Actress Oscar 2020; Apakah Oscar Benar-benar Rasis?

Best Actress Oscar 2020

Sudah baca prediksi kami untuk Best Actor Oscar 2020? Jika belum membacanya, kalian bisa membacanya disini. Setelah membaca prediksi untuk Best Actor, yang sudah jelas siapa yang akan mendapatkan penghargaan itu, kali ini kami akan membuat prediksi Best Actress Oscar 2020 yang sepertinya juga jelas siapa yang akan mendapatkan penghargaan ini. 

Tapi di luar soal siapa yang kira-kira akan mendapatkan penghargaan ini, kami juga akan sedikit membahas soal isu Oscar yang begitu rasis. Jika orang sana menyebut, Oscar is too white. Apakah itu benar-benar terjadi? Kami rasa kategori ini sedikit banyak bisa mewakili kondisi itu. 

Lalu siapa yang punya kans paling besar dalam mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik tahun ini? Berikut pembahasannya;  

judy

 

Best Actress Oscar 2020, Renee Zellweger “Judy” 40%

Kenapa Renee Zellweger mendapatkan tempat pertama dengan kans paling besar? Alasan pertama sebelum menyebut soal kualitas permainannya adalah karena tahun ini Renee memiliki track record peraih penghargaan yang sangat baik dan bahkan hampir sempurna. Maksudnya? Pertama, Renee mendapatkan Golden Globe, berikutnya ia berhasil mendapatkan Screen Actors Guild, lalu yang terakhir ia mendapatkan BAFTA. Setidaknya, dari 3 penghargaan itu, kami bisa yakin bahwa Renee sangat mungkin mendapatkan Best Actress Oscar 2020. 

Sepanjang sejarah, siapapun yang sudah memenangkan penghargaan di 3 award tersebut, sudah bisa dipastikan ia akan mendapatkan Oscar. Sangat jarang, bahkan mungkin hanya terjadi sekali dalam 20 tahun seorang aktor yang berhasil mendapatkan 3 award tersebut tapi gagal di Oscar. Jadi dalam sudut pandang capaiannya di penghargaan yang lain, Renee Zellweger adalah yang paling punya kans besar untuk mendapatkan Best Actress Oscar 2020. Lalu kalau dari sudut pandang kualitas bagaimana? 

Jika melihat dari sudut pandang kualitas, kami rasa ia tetap memiliki kans paling besar di antara 4 pesaing lainnya. Kenapa? Pertama, di antara 4 nominee yang lain, Renee Zellweger adalah aktris dengan capaian fisiologis yang paling lengkap. Ia merubah warna suara, merubah laku tubuh, dari yang besar hingga yang paling kecil dan detail. Capaian fisiologisnya adalah yang paling lengkap di antara yang lain. 

Alasan selanjutnya adalah semua laku tubuhnya dilakukan dengan konsisten dan berhasil dijadikan basis tokoh yang baik. Sehingga dalam semua respon yang ia jalankan, semuanya otentik dan baru. Sejauh yang kami lihat, hanya Renee Zellweger yang melakukan ini. Sementara nominee yang lain hampir tidak ada yang melakukan itu kecuali satu orang. Charlize Theron di Bombshell.  

Lalu soal permainan emosi. Jika dalam Best Actress yang terpenting dan paling dilihat para voter adalah seberapa dalam permainan emosi si aktris, maka Renee beruntung. Jika kita melihat kebutuhan naskah, ada banyak sekali porsi emosi yang dalam. Renee lebih beruntung lagi ketika porsi emosi yang dalam adalah selera para voter. Renee tak membiarkan kesempatan itu melayang. Ia menciptakan tokohnya dengan detail, menirukan si Judy Garland dengan hampir mirip, sehingga setiap bagian dimana ia harus bermain emosi yang dalam, Renee tak hanya berhasil memainkan emosi dalam dengan baik, tapi juga dengan otentik. Satu hal yang tidak dilakukan oleh satu pun nominee bahkan termasuk dalam kategori Best Actor. Mungkin hanya Joaquin Phoenix saja yang melakukan itu. Sementara aktor lain tidak. 

Kembali bicara soal selera para voter. Kita tahu bahwa acting, singing, dan dancing adalah selera para voter. Jika ada sebuah film dimana si aktris diharuskan menari dan menyanyi, maka bisa dipastikan ia akan masuk Oscar. Dan Renee sekali lagi beruntung, karena dalam film ini ia mendapatkan porsi menyanyi dan menari. Renee pun memanfaatkannya dengan baik karena ia menyanyi sendiri, tanpa suara Judy Garland (dengan bantuan editing tentunya), dan ia juga menari. Lengkap sudah capaian Renee. Semua yang Renee lakukan di film Judy memenuhi semua selera voter. Selain memenuhi selera para voter, Renee juga berhasil mengeksekusi semua kesempatan itu dengan apik dan epik. Luar Biasa. 

 

 

Scarlett Johansson “Marriage Story” 25%

Tempat kedua dengan 25% diisi oleh Scarlett Johansson. Bagi kami, kenapa Scarlett mendapatkan tempat kedua dengan prosentase 25% adalah karena porsi emosi yang diberikan oleh naskah dan eksekusinya atas porsi emosi tersebut. Kita tak perlu bicara soal capaian fisiologis karena Scarlett Johansson memang tak punya capaian fisiologis sama sekali. Itu kenapa kami bilang kalau satu-satunya alasan kenapa ia berhasil masuk nominasi Oscar adalah karena permainan emosinya. 

Tokohnya dalam Marriage Story tak memiliki alasan yang lengkap dan sebanyak Renee Zellweger untuk disukai oleh para voter. Di film ini Scarlett tak menyanyi dan tak menari. Ia juga tak memiliki capaian fisiologis yang signifikan. Permainan emosi lah yang menjadi alasan utama kenapa Scarlett bisa masuk nominasi. Jika kita melihat dari permainan emosi, maka Scarlett lebih baik dari Renee Zellweger. Atau mungkin bukan lebih baik, tapi porsi permainan emosinya lebih banyak. 

Selain itu, sepertinya alasan dipilihnya Scarlett Johansson adalah karena beredar berita bahwa ia sama sekali tak merubah apa yang tertulis di naskah. Dimana menurut sebagian orang hal itu adalah hal yang luar biasa. Menurut kami hal itu perlu dipelajari lebih lanjut sebelum mengatakan itu hal luar biasa. Karena bisa jadi, Scarlett berdialog mengikuti naskah dan tak merubah banyak karena naskahnya memang sudah sangat kuat sehingga tak perlu diubah. Atau, Scarlett tak cukup punya pengetahuan untuk mengubah dialog yang tertulis di naskah. Tentunya butuh kroscek langsung ke Scarlett Johansson, apakah ia ada perbincangan dengan si penulis naskah atau tidak. Ketika aktor merubah dialog dalam naskah adalah karena si aktor lebih tahu tentang tokohnya dari pada si penulis. Atau karena si aktor yang melakukan peristiwa, lalu memiliki resepsi atas peristiwa tersebut dan merasa bahwa dialog di naskah tak sesuai dengan resepsi si tokoh. 

Anyway, bagi kami, alasan utama Scarlett masuk nominasi adalah karena permainan emosinya. Tapi itu saja tak cukup, terlebih kalau mau mengungguli Renee Zellweger. Jadi, sepertinya Scarlett harus puas menjadi nominee saja tahun ini, bahkan di kedua kategori, Best Actress Oscar 2020 dan Best Supporting Actress Oscar 2020.  

 

Best Actress Oscar 2020 Charlize Theron “Bombshell” 20%

Ingat dengan apa yang kami katakan di atas ketika ada satu nominee yang memiliki capaian fisik sebaik Renee Zellweger? Charlize Theron lah orangnya. Jika dibandingkan dengan pemain lain, Charlize Theron adalah yang terbaik kedua dalam soal dimensi fisiologis. Ia berhasil merubah warna suara. 

Sejauh yang kami lihat, Theron tak merubah cara berjalan dan laku tubuh lainnya. Hanya ritme tubuh saja yang kami pikir diciptakan. Tapi, dengan bantuan Kazu Hiro, peraih best Make Up kala merubah Gary Oldman menjadi Winston Churchill, Theron jadi punya capaian fisiologis yang meloncat jauh. Tapi, itu make up. Jika kita menanggalkan make up tersebut, maka sejauh yang kami lihat, Charlize Theron hanya berhasil merubah warna suara dan ritme tokohnya. 

Lalu apakah itu saja cukup dan bisa membuatnya layak masuk nominasi Best Actress Oscar 2020? Tentu tidak. Jika kita melihat dimensi yang lain dalam penciptaannya, dan membandingkannya dengan aktris lain dalam kategori ini, maka dalam soal permainan emosi, Charlize Theron terbilang cukup berhasil. Bukan karena ia memiliki adegan dengan emosi-emosi yang besar dan dalam, tapi karena ada banyak sekali adegan dengan emosi bertumpuk. Emosi bertumpuk adalah salah satu tantangan besar untuk seorang aktris. Ia harus bisa menunjukkan hal itu pada penonton. Nah, Charlize Theron berhasil melakukan hal itu dengan cukup baik. 

Tapi hanya itu. Itu kenapa kami hanya memberikan 20% saja untuk Charlize Theron dan ia berada di bawah Scarlett Johansson. Karena kalau kita hitung, emosi bertumpuk Charlize Theron di Bombshell, jumlahnya tak mengungguli emosi besar dan dalam yang dilakukan Scarlett Johansson di Marriage Story. 

best actress oscar 2020

 

 

Saoirse Ronan “Little Women” 10%

Jujur saja, kami awalnya luar biasa bingung dengan masuknya Saoirse Ronan dalam kategori ini. Kami tahu bahwa ia memang pernah masuk kategori ini sekitar 3 tahun lalu lewat film Lady Bird. Tapi kami tak menyangka kalau Ronan akan masuk lagi tahun ini. 

Kami masih bingung kenapa ia bisa masuk. Bahkan setelah kami menonton filmnya, kami masih bingung kenapa Ronan bisa masuk. Karena, sejauh yang kami lihat, capaian fisiologis Ronan hampir tak ada. Bahkan kami merasa kalau laku tubuh yang Ronan ciptakan terasa asing dan jauh dari laku tubuh tokoh dan era tokohnya hidup. Bahkan itu terjadi hampir pada semua pemain di Little Women kecuali Meryl Streep dan Timothee Chalamet.

Selain soal capaian fisiologis, kami rasa capaian pada permainan emosi juga aman saja. Tidak ada yang sangat mengejutkan. Maksud kami, kalau dengan permainan emosi macam itu, dan porsi permainan emosi yang hanya segitu, ada banyak aktris lain yang mengeksekusi dengan lebih baik dari pada Saoirse Ronan. Misalnya pada Lupita Nyong’o di Us. Tapi kenapa Ronan berhasil masuk? 

Kami terus mencari alasannya, hingga di akhir film kami menemukan alasan yang mungkin paling logis. Kami merasa Ronan berhasil meletakkan tokohnya pada posisi yang tepat. Ia juga berhasil menyampaikan pesan tokohnya dengan tepat. Kami bisa bilang dari awal sampai akhir film, ia cukup konsisten dan paham dengan pesan tokohnya, lalu paham bagaimana caranya agar pesan itu bisa sampai ke penonton. Tapi kalau kita bicara soal cara menyampaikan pesan dan keberhasilan menyampaikan pesan bukankah Lupita Nyong’o, Awkwafina di The Farewell, Ana De Armas di Knives Out, dan Cate Blanchett di Where’d You Go, Bernadette juga melakukan hal yang sama dan sama-sama berhasil? Bahkan lebih punya capaian yang lengkap? 

Cate Blanchett misalnya, punya capaian fisiologis yang baik. Begitu juga Lupita Nyong’o. Ia bahkan bermain dua tokoh sekaligus. Lalu kenapa mereka tak masuk kategori ini? Kami masih merasa janggal dengan masuknya nama Saoirse Ronan.

 

 

Cynthia Erivo 5%

Jika pada Saoirse Ronan kami merasa janggal, pada Cynthia Erivo kami lebih merasa janggal lagi. Kami merasa pada permainan Erivo hampir tak ada capaian yang signifikan. Soal yang paling umum, fisiologis dan permainan emosi misalnya, kami rasa tak ada yang sangat mengejutkan atau membuatnya lantas pantas masuk Oscar. Tak ada juga emosi besar dan dalam dengan porsi yang banyak di film ini. Tercatat kami hanya melihatnya di awal saja. Setelahnya kami hampir tak mendapati emosi dalam dan besar. 

Bahkan dalam permainan Cynthia Erivo, kami melihat tokoh yang tidak jelas akan dibawa kemana. Kami paham bahwa Harriet adalah seorang perempuan pemberani yang sepertinya oleh Erivo dibangun sebagai tokoh pemberani. Tapi sayangnya, pada beberapa adegan, Erivo seperti memilih cara memandang yang salah. Cara memandang tokoh terkesan dibuat bodoh dan penuh keragu-raguan karena pada momen penting, tokoh ini melihat ke bawah. Bahkan pada momen dimana tokoh ini seharusnya sangat yakin dengan keputusannya. Harriet melihat ke bawah pada momen-momen tersebut.

Soal memposisikan dirinya sebagai tokoh dan memahami pesan tokohnya pun, kami rasa Erivo belum sangat berhasil. Bahkan, kami mencatat setelah menonton Harriet, ada banyak sekali akting artifisial yang dilakukan Erivo. Dengan banyaknya ketidak tepatan yang dilakukan Erivo, bagaimana bisa ia masuk kategori ini? 

5% kami berikan karena Erivo bermain film biopic dan permainan emosi yang sedikit banyak menyentuh di awal. Selain itu juga karena ada adegan menyanyi sedikit. Kami rasa itu adalah alasan utama kenapa Erivo dipilih oleh para voter di Oscar. Tapi bukankah ada banyak pemain lain yang memiliki capaian lebih baik dari Erivo, terutama soal permainan emosi? Lalu kenapa Erivo masuk nominasi ini? Apakah benar Oscar sangat rasis dan memasukkan nama Erivo semata agar tak dibilang Oscar rasis? 

Oscar dan Isu Rasial

Kita hampir selalu mendengar isu ini setiap Oscar diselenggarakan. Tapi dari dulu kami tak pernah menggubris isu ini karena ketika kami melihat nama-nama yang masuk nominasi, tak ada yang tak beres. Semuanya pantas masuk nominasi. Tapi tahun ini berbeda. Tahun ini kami rasa ada yang tak beres dengan nama-nama yang terpilih menjadi nominasi. Isu rasial itu mendadak mengambil perhatian kami. Kenapa bisa begitu? 

Kategori Best Actress Oscar 2020 menjadi kategori yang kami rasa cukup mewakili. Jika kita sepakat bahwa pemilihan nama-nama nominee setiap kategori adalah karena kualitasnya, maka seharusnya ada banyak nama yang lebih pantas masuk dari pada nama-nama yang menjadi nominee di kategori ini. Kami sudah menyebutkan beberapa. Mulai dari Lupita Nyong’o, Cate Blanchett, Awkwafina, dan siapa lagi? Kalian boleh menyebutkan yang lain. Kenapa nama-nama itu tak masuk nominasi? Kenapa juga Saoirse Ronan dan Cynthia Erivo yang terpilih masuk nominasi? Dimana menurut kami tak ada yang sangat spesial dari permainan mereka berdua. Artinya, ada banyak aktris yang punya capaian permainan lebih baik dari mereka. Tapi kenapa yang dipilih oleh para voter adalah Saoirse Ronan dan Cynthia Erivo? 

Kami tak ingin berprasangka buruk. Kami hanya percaya bahwa Oscar adalah salah satu penghargaan yang menjunjung tinggi kualitas dan sama sekali tidak mempertimbangkan persoalan politis dalam memilih siapa saja yang akan masuk nominasi. Tapi dengan melihat kategori ini, kami jadi merasa Oscar tak lagi melihat kualitas seutuhnya. Mereka jadi melihat pertimbangan politis. Memasukkan nama Erivo hanya sebagai perwakilan saja agar tak dibilang rasis. 

Pertanyaannya, apakah Oscar tak lagi melihat kualitas? Semoga dugaan kami salah, dan semoga para voter melihat apa yang tak kami lihat, dalam ruang lingkup kualitas. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: