Paul Agusta di Abracadabra; Penemuan Tokoh Lewat Kostum

Paul Agusta

Ketika ada orang yang bertanya, bagaimana caranya menemukan tokoh, maka jawabannya adalah ada banyak sekali cara menemukan tokoh. Tapi satu hal yang harus dilakukan adalah mencarinya terlebih dahulu. Jelas dong, gimana bisa menemukan kalau mencari aja enggak. Proses menemukan tokoh pun ada sangat banyak. Seperti misalnya cara yang dilakukan Paul Agusta untuk tokoh Madam Zakaria di film Abracadabra

Yups! Di artikel ini kita akan membicarakan bagaimana Paul Agusta, seperti apa yang dikatakannya di Bincang Aktor, mendapatkan bentuk tubuh tokoh Madam Zakaria dari kostum si Madam Zakaria. 

 

 

Paul Agusta, Madam Zakaria dan Abracadabra

Dalam Bincang Aktor episode 21, Paul Agusta sempat mengatakan bahwa mencari tokohnya di film Abracadabra cukup sulit. Pertama karena tokoh yang dimainkan adalah perempuan. “Jelas saja, aku bukan perempuan dan belum pernah menjadi perempuan” begitu katanya. Kedua, karena ia tak kunjung menemukan bentuk tubuh Madam Zakaria. 

Hingga akhirnya, sebuah “keajaiban” muncul. Kami beri tanda kutip dalam kata keajaiban karena tak tahu kata apa yang tepat untuk menggambarkan kejadian ini. Paul Agusta kemudian menghubungi wardrobe film Abracadabra. Ia mengatakan ingin mencoba kostum Madam Zakaria. Disitulah “keajaiban” terjadi. Kostum Madam Zakaria ternyata membantu Paul untuk menemukan bentuk tubuh Madam Zakaria secara terperinci. 

Misalnya dari arah dagu. Paul mengatakan bahwa arah dagunya jadi hampir selalu mendongak ke atas karena Madam Zakaria selalu memakai mahkota entah dengan bentuk apapun. Selanjutnya, tubuh Madam Zakaria selalu tegak karena ia selalu menggunakan korset. Lalu pada bentuk tangan; Paul Agusta menemukan bahwa bentuk tangan Madam Zakaria akan selalu mengangkat, karena Madam Zakaria selalu menggunakan selendang, dan arah jari-jarinya akan selalu turun ke bawah karena Madam Zakaria menggunakan cincin-cincin besar. Bentuk tersebut ditemukan Paul Agusta ketika mencoba kostum Madam Zakaria. Bentuk itu juga yang berhasil kami lihat di film Abracadabra. 

Abracadabra

 

 

Kenapa Bisa Dengan Kostum?

Nah, sekarang pertanyaannya adalah; Bagaimana bisa kostum membantu menemukan tokoh? Jelas bisa donk! Coba ingat ini baik-baik. Setiap manusia punya cara berpakaian mereka masing-masing. Untuk saat ini kami berpendapat bahwa tidak ada manusia yang memiliki cara berpakaian yang sama. Coba sebutkan siapa yang punya selera yang sama dalam berpakaian? Meskipun katakanlah bentuknya sama, bisa jadi warna yang dipilih berbeda, bahan yang dipilih berbeda, dan unsur lainnya juga berbeda. Bahkan kalau mau detail, pada suasana-suasana tertentu pilihan baju tiap manusia pasti berbeda. 

Apa yang membuat itu bisa terjadi? Salah satu alasannya adalah konstruk sosial dari si manusianya. Bayangkan saja begini. Jika dari kecil kalian tumbuh di keluarga yang menjunjung tinggi agama, mengatakan bahwa memakai jubah adalah sunnah, memakai baju putih adalah sunnah, memakai celana yang setinggi mata kaki adalah yang terbaik dan paling tampan, lalu kalian terbiasa dengan kondisi itu selama puluhan tahun, maka bentuk baju macam apa yang akan manusia itu pilih? Kecil kemungkinan si manusia akan memilih celana yang panjangnya melewati mata kaki, baju yang bukan jubah, dan lain sebagainya. Manusia itu pasti memilih baju yang nyaman untuknya. 

Lalu bicara kenyamanan, disadari atau tidak, ketika seseorang mengatakan “Aku memilih baju bukan karena aku suka, karena aku nyaman!” Sebenarnya itu tetap terjadi karena konstruk sosial yang membangun standar kenyamanannya. Ingat, tingkat kenyamanan seseorang itu juga berbeda-beda. Tingkat kenyamanan itu juga muncul karena sosial dan tergantung konstruk sosial yang membangunnya. Bahkan juga tergantung pada kondisi fisiologis hingga psikologis lho! Jadi ketiga dimensi ini selalu berkait.  

Misalnya begini; bayangkan kalau kalian suka dan terbiasa menggunakan kaos dengan bahan yang tipis, atau kami menyebutnya “saringan tahu”, semacam baju partai yang panas dan gerah. Entah karena kalian suka ikut kampanye atau tidak mampu beli baju yang berbahan dingin dan terpaksa harus beradaptasi sekian tahun menggunakan baju itu, atau secara fisiologis kalian tidak gampang merasa gerah dan berkeringat sehingga baju itu lebih nyaman untuk kalian dan alasan lainnya. Nah, kalian pasti akan jauh lebih nyaman menggunakan baju dengan bahan yang tipis dari pada yang berbahan dingin kan? 

Orang mungkin akan memandang aneh. Tapi kalian juga bisa jadi memandang orang yang pakai baju berbahan dingin aneh. Karena dalam budaya personal kalian, memakai baju berbahan dingin malah akan bikin panas dan lain sebagainya. 

Selain itu, baju juga sangat mempengaruhi seseorang dalam membentuk tubuh dan memperlakukan tubuhnya. Maksudnya begini. Misalnya kalian pakai jarik dan tidak bisa melangkah lebar. Maka bentuk jalan kalian akan berubah kan? Langkahnya tidak akan sangat besar seperti ketika kalian menggunakan celana biasa. Pun begitu ketika kalian menggunakan baju dengan bentuk yang lain dari baju yang kalian pernah pakai, misalnya kalian memakai jas lengkap. Maka disadari atau tidak, akan ada bahasa tubuh yang tertahan dan muncul bahasa tubuh yang lain. Entah badan kalian jadi terasa lebih tegap, atau jadi tidak bisa ngupil sembarangan karena kalian merasa sudah terlihat keren dan kalau ngupil jadi nggak keren, atau hal yang lainnya. 

Jadi baju atau kostum memang sangat bisa membantu menemukan bentuk tubuh si tokoh. Lalu pertanyaan muncul. Gimana kalau bajuku dan tokoh sama? Ingat, tidak ada yang sama! Kalau kami menyarankan, cari perbedaannya. Baju kalian dan tokoh bisa jadi berbeda dari segi bahan, warna, model, atau unsur yang lain. Lalu bagaimana cara menemukannya? Tentu dengan mengetahui tokoh sebaik mungkin dan juga mengetahui diri kalian sebaik mungkin. Jadi bisa membedakan diri kalian dan diri tokoh. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: