[Flash Review] Lampor Keranda Terbang; Drama Horor yang “Menguras”

Lampor Keranda Terbang

Lampor Keranda Terbang adalah sebuah film horor yang rilis 31 Oktober lalu. sebenarnya Flash Review ini agak basi. Tapi setidaknya, karena Lampor masih bertengger di bioskop, maka baiknya kalian yang belum menonton segera menonton. Kenapa? Ada banyak hal yang bisa dibahas di film ini. Terutama soal permainannya. 

Sekali lagi kalian bisa membacanya sampai akhir karena flash review ini bebas spoiler. 

Lampor Keranda Terbang Bukan Soal Ketakutan Semata

Betul sekali. Seperti genre film ini, Drama Mystery, film ini tidak melulu memberikan ketakutan semata. Dari kami yang melihat, kekuatan film ini justru ada pada drama yang terjadi di dalamnya. Lampor memang menjadi pusat dari cerita ini. Tapi bukan Lampor yang membuat film ini menakutkan. 

Dari adegan pertama, kalian akan disuguhi drama yang cukup menyayat. Tentunya kita abaikan permainan para aktornya ya. Setidaknya soal permainan emosi, mereka cukup berhasil membawa adegan pertama menjadi pijakan yang baik untuk sebuah film drama misteri. 

Setelah di adegan pertama, kalian akan disuguhi juga pola-pola drama yang sama. Dimana pusat gejolaknya ada pada manusianya dan pertemuan antar manusia dengan berbagai gejolak itu yang menghadirkan peristiwa. Sementara Lampornya sendiri muncul sebagai “pemanis” dan seperti menjadi penggerak cerita. Dalam sudut pandang kami, bukan Lampor yang menjadi penggerak cerita, tapi peristiwa tiap manusianya yang menjadi penggerak cerita. 

Dengan tokoh-tokoh yang hadir bersama gejolaknya masing-masing itu, Lampor menjadi sangat berarti. Penonton seperti diberikan boldline bahwa Lampor lah muasal dari semua persoalan ini. Tapi coba deh kalian tonton dan sadari baik-baik. Bukan Lampor inti persoalannya, tapi manusia. Bagi kami ini menarik jika melihat kecenderungan film horor Indonesia. Meskipun, pada beberapa bagian, Lampor tetap dibangun dengan cara yang “awamnya film horor”.

 

 

Siapa Cast yang Menarik?

Semua cast disini menarik. Tapi banyak dari mereka yang menarik di satu sisi saja tidak di sisi yang lain atau beberapa sisi. Seperti misalnya Adinia Wirasti dan Dion Wiyoko. Jangan mengharapkan capaian fisiologis yang menarik. Kalau soal capaian psikologis dan permainan emosi, tentu sangat menguras. Baik itu Adinia Wirasti atau Dion Wiyoko. Tapi terkadang, emosi yang menguras itu melelahkan penonton. 

Sementara untuk pemain lain, kami tak mendapati ciptaan yang tebal. Mungkin yang perlu kalian perhatikan adalah permainan Landung Simatupang dan Rendra Bagus Pamungkas. Setidaknya, dua orang ini memiliki capaian permainan yang menarik dari sisi fisiologis. Dimensi yang paling jarang diciptakan aktor Indonesia. Sementara soal dimensi yang lain, mungkin soal ruang yang diberikan ke para aktor ini, sehingga beberapa dimensi permainan lain tidak tereksplor dengan baik. 

Lampor tetap wajib tonton. Mumpung belum turun layar dan cocok untuk kalian yang suka dikuras perasaannya.  

Terima kasih, viva aktor!

%d bloggers like this: