[Flash Review] Habibie Ainun 3; Bikin Sesak Dada

Habibie Ainun 3 rilis hari ini tanggal 19 Desember 2019. Film yang kali ini bercerita soal Ainun ini menarik perhatian kami untuk ditonton dan dibuat acting reviewnya. Tapi sayang, sampai tulisan ini dibuat, kami masih menimbang-nimbang apakah kami akan betul-betul membuat acting review untuk film ini atau tidak. Sembari menunggu keputusan AkuAktor apakah akan membuat acting review untuk para aktor di film ini atau tidak, kami buatkan flash review untuk kalian yang mau menonton. Tenang, seperti biasa, Flash Review ini tak ada spoiler. Jadi aman untuk dibaca sampai akhir. 

Habibie Ainun 3

 

Habibie Ainun 3, Bikin Sesak Dada

Setelah selesai menonton film yang sekarang bercerita soal perjalanan hidup Ainun ini, dada kami dibuat sesak. Sesak dada ini dalam pengertian yang baik dan dalam pengertian yang buruk. Kita bahas dalam pengertian yang baik dulu. 

Kita mulai dari alur cerita dan kawan-kawannya. Hanung Bramantyo kembali berhasil membuat sebuah cerita yang menarik dengan dramatik yang terjaga baik dari awal sampai film selesai. Dengan alur yang linier, Hanung Bramantyo tetap berhasil membuat penonton bertahan sampai akhir. Ada beberapa kejutan juga dalam alur cerita film ini. Kalian akan mendapatkannya di beberapa adegan yang menurut kami sangat menarik. Di sebelah mana? Kalian tonton saja. Kalian akan mendapati sebuah plot twist kecil dalam film ini. Plot twist kecil itu berhasil membuat tokoh Ainun lengkap sebagai seorang manusia dan membuat cerita ini jadi sangat manusiawi. Plot twist kecil itu yang membuat dada kami sedikit sesak dalam pengertian yang baik.  

Selain itu ada juga beberapa adegan yang membuat dada kami sesak menahan haru. Misalnya seperti di adegan… kami tak bisa mengatakannya. Tapi yang jelas, kalian harus menonton sampai habis untuk mendapatkan kesan sesak di dada dalam pengertian yang baik. Lalu selain itu apa? Kami tak mendapati apa-apa lagi. Setidaknya, film ini kembali mengingatkan kita pada pak Habibie dan perjalanan cintanya yang mungkin menjadi impian banyak orang. 

 

 

Sesak yang Tak enak

Kami sudah mengatakan sesak di dada dalam pengertian yang baik. Dimana kalian bisa melihatnya pada aspek penyutradaraan. Lalu apa yang membuat kami sesak dalam pengertian yang buruk? Jawabannya adalah permainan para cast. Kami akan berkata sejujur-jujurnya soal ini. Tentunya tanpa memunculkan spoiler apapun. 

Soal permainan para aktornya, kami tak mendapati apapun yang menarik dari para cast. Entah itu main talent yakni Maudy Ayunda, dan Jefri Nichol, atau supporting talent seperti misalnya aktor yang menjadi Agus yakni Arya Saloka, dan beberapa supporting talent yang lain. Kenapa kami berkata begitu? Kami merasa semua permainan mereka tidak memiliki capaian apapun yang signifikan. Dari dimensi fisiologis, kami tak mendapati capaian yang signifikan. Bahkan tidak ada capaian. Dari permainan emosi, kami rasa hanya Maudy Ayunda, Jefri Nichol, Marcella Zalianty, Lukman Sardi dan Reza Rahadian yang bermain dalam posisi aman. 

Sementara supporting talent yang lain kami tak mendapati permainan emosi yang menarik. Tidak cukup menarik karena mereka tampak seperti tidak menjalankan inner life si tokoh. Mereka seperti hanya memunculkan dialognya karena diwajibkan oleh naskah. Selebihnya tidak ada rasa dan bahkan jika pun ada rasa, entah itu marah atau sedih, semuanya terkesan artifisial atau palsu. Tentu saja palsu. Mereka tidak mendengarkan lawan main dan peristiwa dengan baik. Bagaimana respon-respon yang baik bisa terbentuk kalau mendengarkan lawan main saja kurang? 

Sebenarnya Maudy Ayunda dan Jefri Nichol bermain dalam taraf yang aman. Tapi jika kita melihat lebih detail, maka mungkin mereka hampir-hampir berada di bawah rata-rata. Misalnya pada Maudy Ayunda. Kami sangat menunggu ada permainan emosi yang menggetarkan, atau capaian fisiologis yang lain. Nihil. Kami tak mendapati apapun. Pun begitu dengan Jefri Nichol. Memang ada beberapa adegan dimana dalam adegan tersebut si tokoh harus menjalankan emosi yang kompleks. Tapi nyatanya, kami tak merasakan getaran sedikit pun pada permainan emosinya. Kami hampir merasakan getaran itu, tapi gagal. Kami sempat berpikir apa mungkin kami yang terlalu bebal hatinya sehingga tak bisa merasakan emosi apapun? Mungkin tidak. Karena kemudian kami mendapati ada yang tidak relevan dari emosi yang sedang dijalankan dengan peristiwa yang sedang terjadi. Bahkan ada beberapa adegan yang kami rasa si tokoh Ahmad yang dimainkan Jefri Nichol tidak akan melakukan hal tersebut. Akhirnya ini juga bicara soal kemampuan si aktor menganalisis naskah dan tokoh dimana mungkin akar persoalannya ada disana. 

Selain itu, dalam aspek permainan yang membuat kami sangat sesak di dada dalam pengertian yang buruk adalah bagaimana bahasa menjadi sebuah persoalan di para pemain muda ini. Coba dengarkan baik-baik ketika menonton nanti. Bahasa yang mereka ucapkan terasa asing dan jauh sekali dari diri si aktor. Tidak ada keluwesan dan rasa memiliki pada bahasa yang diucapkan.

Dalam sudut pandang kami, permainan yang bisa dinikmati hanya ada pada Reza Rahadian dan sedikit pada Marcella Zalianty. Selebihnya bermain pada posisi aman, atau tidak memiliki capaian yang signifikan. Di bagian mana saja permainan para cast terasa janggal dan palsu? Kami belum bisa menyebutkan. Kalian harus menontonnya sendiri. 

Sebenarnya ada satu lagi yang membuat dada kami sesak dalam pengertian yang buruk. Tapi ini soal teknis. Di film ini Hanung sepertinya menggunakan CGI macam The Irishman. Tapi nampaknya terasa agak dipaksakan. Di adegan yang mana? Tonton saja dulu. 

Terima kasih, viva aktor