Aku dan Tokohku Sama, Benarkah?

Aku dan Tokohku Sama

Kita tahu, atau kalau kalian belum tahu, biar kami kasih tahu. Setiap aktor punya metode mereka masing-masing. Setiap aktor juga punya prinsip dalam keaktoran mereka masing-masing. Ada beberapa aktor yang punya prinsip; adalah sebuah keberuntungan ketika mendapatkan tokoh yang mirip dengannya. Ada juga yang sebaliknya. Mendapatkan tokoh yang sama seperti dirinya bukanlah suatu keberuntungan tapi justru tantangan yang jauh lebih berat. Nah, dalam artikel opini kali ini, kami akan membahas sedikit soal kondisi “Aku dan Tokohku Sama”. Benarkah bahwa jika “Aku dan Tokohku Sama” adalah sebuah keberuntungan. Lebih jauh lagi, benarkah “Aku dan Tokohku Sama”? 

 

 

Siapa Aku dan Siapa Tokoh?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka kita perlu tahu dulu siapa aku dan siapa itu tokoh. Aku, seperti katanya, adalah diri si aktor itu sendiri. Siapa itu? Seharusnya, aktor lah yang bisa menjawabnya. Tapi mari kita bantu menjawab. Aku, atau diri si aktor adalah manusia. Seperti banyak manusia yang lain, ia memiliki 3 dimensi yang membangun. Yakni dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis. 3 dimensi ini saling terkait. 

Fisiologis adalah hal-hal yang berhubungan dengan fisik si aktor. Bisa jadi bentuk tubuhnya, gaya rambutnya, warna rambutnya, caranya bicara, aksen, tinggi dan berat badan, hingga penyakit yang dideritanya dan lain sebagainya. Lalu sosiologis adalah hal-hal yang menyangkut sosial. Misalnya seperti dimana ia tinggal, dimana si aktor bersekolah, buku apa saja yang ia baca, ia biasa nongkrong dengan siapa, kuliah jurusan apa, anak ke berapa, bekerja dimana, siapa ayah dan ibunya, dan lain sebagainya. Pokoknya apapun yang berhubungan secara sosial maka kita menyebutnya sosiologis. 

Lalu psikologis adalah hal-hal yang berhubungan dengan psikisnya. Misalnya, apakah ia introvert, ekstrovert, atau ambivert. Apakah ia pemarah, apakah ia murah senyum, penakut, mudah gugup, mudah percaya orang, dan hal lain yang berhubungan dengan psikologis. Biasanya hal psikis ini beberapa tak terlihat kasat mata. Ia harus ditelaah lebih dalam. 

Nah, ketiga dimensi itu saling berkaitan. Tidak ada yang berdiri sendiri. Misalnya secara psikologis si aktor adalah seorang yang introvert. Si aktor harus mencari tahu kenapa ia introvert. Sejauh yang kami tahu, kami bisa salah, orang introvert biasanya terjadi karena faktor keturunan atau genetika, karena perlakuan orang tua atau trauma masa lalu. Salah dua dari tiga penyebab introvert adalah dimensi sosiologis. Karena itu si aktor harus mencari tahu apakah selama ia tumbuh, orang tuanya memperlakukannya lain sehingga ia menjadi introvert? Atau si aktor pernah mengalami sebuah kejadian yang membuatnya trauma sehingga menarik diri dari hingar bingar dunia? Atau, orang tua dari si aktor ternyata adalah seorang yang introvert? Lihat bagaimana setiap dimensi itu saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. 

Hal ini juga berpengaruh pada dimensi yang lain. Misalnya fisiologis. Katakanlah si aktor memiliki tempo berjalan yang cenderung cepat. Ingat, fisiologis bukan hanya soal bentuk tubuh, tapi juga tempo tubuh. Nah, kembali, si aktor mesti tahu apa yang membuat tempo berjalannya cepat. Tempo berjalan seseorang bisa dipengaruhi dari tempat ia tumbuh. Misalnya si aktor tumbuh di perkotaan yang ritme lingkungannya selalu cepat, maka logis jika si aktor memiliki tempo jalan yang cepat. Atau ternyata orang tua si aktor adalah anggota TNI. Sehingga selama ia tumbuh secara tak disadari dididik dengan cara-cara militer. Maka mungkin cara jalan si aktor punya tempo cepat dan pasti. 

Masih soal fisiologis. Misalnya rambut si aktor pendek ketika itu atau selama hidupnya ia tak pernah memiliki rambut gondrong. Maka si aktor harus memeriksa kenapa ia selalu memilih gaya rambut itu. Apakah karena budaya di keluarganya, atau karena ia tak nyaman dengan rambut panjang, atau karena ia tak percaya diri dengan rambut panjang? Si aktor harus berusaha mencari alasan atas segala bentuk yang dimilikinya sekarang. Tujuannya untuk tahu siapa dirinya, setidaknya secara kasat mata dan lewat sejarah si aktor itu sendiri. Kita tak hendak bicara hal-hal yang menyangkut tasawuf ya. Karena obrolan ini bisa sekali sampai ke obrolan soal tasawuf dan filsafat kedirian. 

Dari penjelasan kami di atas, kami ingin menekankan bahwa setiap manusia itu punya alasan atas segala bentuk yang dimilikinya sekarang. Tidak ada yang muncul tiba-tiba. Semua yang ada di dunia ini memiliki alasan kemunculan dan sejarah kemunculan. Disadari atau tidak. 

Lalu bagaimana dengan tokoh? Apa bedanya tokoh dan aktor? Tidak ada. Keduanya sama-sama entitas manusia (jika tokoh yang ia mainkan adalah manusia. Beda lagi jika yang dimainkan adalah hewan, makhluk halus, atau makhluk rekaan seperti di Avatar atau Star Wars). Mereka sama-sama terdiri dari fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Dan ketiga dimensi yang mereka miliki itu juga sama-sama saling berkaitan satu sama lain. 

Kalian boleh tidak bersepakat dengan apa yang kami jelaskan. Bebas-bebas saja. Tapi dalam buku Psikoanalisis, Sigmund Freud menjelaskan tentang konsep manusia. Secara singkat, atau kami persingkat, Sigmund Freud mengatakan bahwa manusia dibangun oleh 3 elemen. Pertama adalah Id, yakni aspek biologis yang sudah hadir sejak lahir. Lalu Ego yaitu aspek psikologis, dan superego yakni aspek sosiologis. Ketiganya juga saling bertautan satu sama lain dan ketiganya adalah elemen yang membentuk manusia. 

Sekarang setelah mengetahui pengertian Aku dan Tokoh, kita mulai menjawab pertanyaan yang sudah dilontarkan di atas. 

best actress oscar 2020

 

 

Apakah “Aku dan Tokohku Sama” Adalah Benar?

Menurut kami, kalian boleh tidak setuju. Tidak. Aku dan Tokoh tidaklah sama. Aku dan tokoh adalah dua entitas yang berbeda dengan bentuk dan latar belakang yang berbeda. Memang benar bahwa aku dan tokoh adalah sama-sama manusia yang dibentuk oleh 3 elemen. Tapi ketika kita sampai pada bentuk akhir, Aku dan Tokoh itu berbeda. Tak percaya? 

Sekarang kita ambil satu contoh saja. Katakanlah kamu mengatakan bahwa kamu dan tokoh itu sama karena sama-sama tomboy, terbuka, dan suka naik gunung. Benarkah kalian sama? Coba cek lagi. Misalnya dari poin tomboy saja. Tomboy macam apa yang dimiliki tokoh? Apakah ia tomboy yang sejarahnya sama denganmu? Apakah ia tomboy yang hidup di era yang sama denganmu? Apakah kalian berasal dari keluarga yang sama? Berasal dari strata ekonomi yang sama? Kuliah di jurusan yang sama? SMA di tempat yang sama? Tinggal di tempat yang sama? Jika semua jawaban ini Iya, maka mungkin itu film dokumenter tentang kamu. 

Kita coba telaah satu pertanyaan saja dulu untuk tahu apakah kamu dan tokoh sama-sama tomboy dari pertanyaan tomboy macam apa tokoh ini. Ingat, ada banyak jenis tomboy. Tomboy tak hanya satu kan? Ada tomboy yang punya gaya rocker, ada tomboy yang punya gaya pakai baju flanel, ada tomboy yang dandanannya ngepunk, dan lain sebagainya. Apakah kamu dan tokoh jenis tomboynya sama? Jenis tomboy bisa dipengaruhi era atau latar waktu hidupnya si tokoh. Coba pertanyakan, kapan dan dimana tokoh ini hidup? Katakanlah ia hidup pada tahun 2000an di Surabaya. Sementara kamu adalah orang Jakarta yang hidup di tahun 2020. Bentuk tomboy kamu dan tokoh tentu berbeda. Kenapa? 

Satu hal yang pasti, gaya berpakaian tahun 2000 pasti berbeda dengan gaya berpakaian 2020. Musik yang ngetrend di tahun 2000 juga tentu berbeda dengan musik yang ngetrend di tahun 2020. Bisa jadi tokoh ini menyukai musik-musik yang di eramu tidak ada atau bukan musik yang biasa kamu dengarkan atau bahkan bukan musik yang kamu sukai. Dimana kemudian cara berpakaiannya bisa jadi mengikuti musik yang sedang ngetrend kala itu. Itu baru tahunnya saja.

Lalu pada tempatnya. Surabaya dan Jakarta era 2000an. Apakah berbeda? Tentu berbeda. Setiap tempat punya aspek sosial yang berbeda. Di Surabaya bisa jadi tokoh ini tak memiliki akses ke luar negeri sebaik di Jakarta. Maka mungkin musik-musik yang ia dengarkan adalah musiknya Dewa 19, Sheila on 7, atau mungkin Boomerang dan Jamrud. Sementara Jakarta era 2000an, bisa jadi pengetahuan musiknya lebih luas. Hal itu bisa mempengaruhi cara berpakaian. Belum lagi ketika si tokoh tinggal di Surabaya tapi dekat dengan pondok pesantren. Bisa jadi bentuk tomboynya jadi berbeda. Pertanyaannya, apakah “Aku dan Tokohku Sama”?

Setelah pada cara berpakaian, kita sekarang mundur lebih jauh lagi. Soal alasan kenapa si tokoh berubah jadi tomboy. Apakah alasannya akan sama denganmu? Ingat, kita sebagai aktor tak boleh serta merta menyama ratakan apapun atau membuat semuanya seolah umum dan awam. Ingat lagi, setiap manusia itu spesial. Ada beberapa orang tomboy yang alasannya adalah karena perlakuan orang tua. Ada juga yang sama sekali bukan karena orang tua, tapi karena pergaulan sekitar. Lalu, yang mana alasan tomboy tokohmu dan alasan tomboymu? Apakah sama? 

Katakanlah alasan tokohmu dan kamu tomboy itu sama, sama-sama karena perlakuan orang tua. Maka pertanyaan lain muncul lagi. Seperti apa orang tua tokohmu dan kamu? Apakah mereka orang tua yang sama? Apakah bapakmu dan bapak tokohmu punya pekerjaan yang sama? Apakah ibumu dan ibu tokohmu juga punya pekerjaan yang sama? Dan pertanyaan lain yang masih banyak lagi. Artinya setiap tokoh itu punya sejarah yang kami hampir bisa jamin pasti berbeda dengan dirimu secara personal. Kecuali, lagi-lagi, film itu film dokumenter dan kamu memerankan dirimu sendiri atau kamu muncul dalam sebuah film, sebagai cameo, dan disuruh berperan sebagai dirimu sendiri. 

Dengan penjelasan macam itu, maka apakah benar frase “Aku dan Tokohku Sama”? Kembali kami jawab, tidak. Atau, biar agak aman dan seperti mengakomodir pendapat banyak orang, kami akan mengatakan, cari dulu tokohmu. Pelajari dulu tokohmu sedetail mungkin. Jangan dengan mudah memutuskan kamu dan tokohmu sama. Ingat, pengertian paling awam soal akting adalah memerankan orang lain. 

 

 

Lalu Bagaimana Kalau Ada yang Sama?

Bagaimana? Pertanyaannya, apakah semua aspek sama? Ingat, ada setidaknya 3 dimensi yang membangun tokoh dan tiap dimensi memiliki banyak aspek. Coba periksa tiap aspek dalam dimensi itu. Apakah sama? Jika ada yang sama, kalian justru bisa menyingkirkan kesamaan itu dan membuat ciptaan yang lain. 

Lalu bagaimana kalau sangat mirip? Inilah kesulitannya. Mendapatkan tokoh yang mirip dengan diri kalian itu bukan sebuah keberuntungan. Justru itu adalah sebuah rintangan yang cukup besar. Kenapa? Karena kalian harus mencoba mencari pembeda agar “aku diri” kalian berjarak dengan “aku peran”. Tapi kami percaya, ketika seseorang mencari tokohnya dengan detail, maka ia tidak akan menemukan kesamaan pada dirinya dan tokoh. 

Kami agak nyerempet sedikit ke agama. Tuhan pernah berkata bahwa manusia itu diciptakan berbeda-beda. Tidak ada yang sama. Maka kita harus menghargai perbedaan itu karena perbedaan adalah rahmat. Dari perkataan tuhan itu kita semestinya tahu bahwa memang tidak ada manusia yang sama. Semuanya berbeda. Tuhan aja bilang semua manusia itu diciptakan berbeda, kok kamu bisa bilang “Aku dan Tokohku Sama”. Gimana sih? 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: