fbpx

[Acting Review] Roma; Membahas Fenomena Yalitza Aparicio

Roma adalah film garapan Alfonso Cuaron yang mendapatkan penghargaan sebagai film berbahasa asing terbaik di Oscar dua tahun yang lalu. Bukan hanya filmnya saja yang mendapatkan penghargaan, tapi juga sang sutradara yang memenangkan penghargaan sebagai sutradara terbaik. 

Tapi yang lebih menarik dari penghargaan-penghargaan yang didapatkan Roma adalah bagaimana Yalitza Aparicio, seorang non-actor, yang sebelumnya tidak pernah bermain satu film pun, berhasil merangsek masuk ke dalam nominasi best Actress di Oscar. Menyaksikan fenomena ini kami jadi ingin membahas, apa yang membuat Yalitza meyakinkan banyak voter di Oscar? Kenapa banyak aktor dan aktris baru yang mendapatkan penghargaan bergengsi sementara aktor yang sudah berpengalaman tidak? 

Roma

 

 

Roma, Aparicio, dan Capaian yang Entah

Jujur saja, jika kami melihat apa yang Yalitza lakukan di film ini, kami tak melihat capaian yang menarik dan membuat kami tercengang atas permainannya. Tidak ada capaian fisiologis, tidak ada permainan emosi yang meledak-ledak dan dalam dan tidak ada bagian menyanyi dan menari. Kenapa kami menyebutkan itu semua? Karena 3 hal itulah yang paling sering jadi alasan para voter memilih nominasi di kategori Best Actress. 

Lalu jika kita mengambil pengertian aktor profesional yang diutarakan oleh Jean Benedetti di buku The Art of Actor; 

The difference between acting in life and professional acting proper is that the latter is planned, artistically shaped. The signs are selected. (Benedetti, 2007: 1)

Maka kami tak melihat tanda-tanda itu sama sekali. Tak ada tanda bahwa bentuk permainan Yalitza direncanakan secara artistik dan tanda-tanda bahwa bentuk-bentuk permainannya sengaja dipilih. Kenapa kami bisa mengatakan itu?

Dalam sebuah wawancara dengan Jimmy Kimmel, Yalitza mengatakan bahwa dia sebelumnya adalah orang yang sangat pemalu dan irit bicara. Sama persis dengan Cleo, tokoh yang ia mainkan. Artinya jarak antara dirinya dan tokoh begitu tipis. Lalu kami pikir karena dia bukan seorang aktris profesional, maka tidak ada kesadaran menciptakan manusia baru seperti yang disebutkan Stanislavski (bahkan mungkin ia tidak mengenal Stanislavski). Ditambah lagi, Roma benar-benar film pertama Yalitza. Sebelumnya ia sama sekali tidak pernah bermain film atau akting entah itu di teater atau di film pendek. Yalitza juga tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan seni peran. Itu yang dia katakan di Jimmy Kimmel. Maka dalam perkiraan kami tidak ada pikiran untuk “menciptakan manusia baru” atau prinsip “menjadi orang lain”. Kesimpulannya, menurut kami tidak ada ciptaan dari sudut pandang pengertian akting profesional menurut Jean Benedetti. 

Lalu jika kita melihat dan membandingkan kedua video Yalitza Aparicio ketika interview dan ketika ia menjadi Cleo, kami makin tak bisa menemukan perbedaan yang mencolok. Coba kalian perhatikan dua video ini;

Bandingkan dengan video trailer ini. 

Tidak ada perbedaan yang mencolok. Tokoh Cleo dan Yalitza tidak berjarak. Bentuk mereka berdua cenderung sama. Bahkan kalau kita bicara soal permainan emosi. Kenapa? Karena pada dasarnya Yalitza seperti bermain sebagai dirinya sendiri. Bukan sebagai Cleo. Hal itu tentu tidak sejalan dengan apa yang dikatakan Jean Benedetti soal akting. Di buku yang sama Jean Benedetti mengatakan hal ini;

In professional acting there is a crucial leap. The basic impulse is there: the desire to communicate an experience of something that has happened, or might have happened, but it is done by pretending to be someone we are not. (Benedetti, 2007: 1)  

Garis bawahi “pretending to be someone we are not”. Yalitza terlihat seperti tidak berusaha menjadi seperti orang lain. Karena memang mungkin ia tak punya kesadaran itu. Tapi apa yang membuatnya berhasil memukau banyak voter? Apakah para voter Oscar 2 tahun yang lalu itu sengaja menyingkirkan pengetahuan mereka atas acting ketika melihat permainan Yalitza? Kalau itu terjadi tentu jadi tidak adil untuk para pesaing yang lain. Lalu apa yang terjadi? 

Capaian Yalitza dalam sudut pandang pengertian akting profesional ada di kondisi “Entah”. Kami tak bisa menyebut Yalitza memiliki capaian, tapi kami juga tak bisa menyebut Yalitza punya capaian menarik yang menggetarkan. Sampai akhirnya, kami menemukan sesuatu yang sepertinya ini jadi jawaban kenapa Yalitza Aparicio, seseorang yang entah datang dari mana, tetiba masuk dan menjadi nominee dari salah satu kategori paling bergengsi di penghargaan film paling bergengsi di dunia. 

 

 

Antara Tangan Sutradara dan Acting yang Tidak Acting

Ada dua kemungkinan yang kami duga terjadi pada proses penciptaan tokoh dan permainan Yalitza. Pertama adalah yang paling mungkin, yakni tangan sutradara. Kami merasa Alfonso Cuaron adalah dalang di balik segala capaian menarik Yalitza. Alfonso seperti berhasil membuat Yalitza mengeluarkan segala yang dimilikinya. Bahkan seperti tanpa berusaha menjadi tokoh. Kami tak tahu apa yang dikatakan Alfonso, apakah ia hanya meminta Yalitza menjadi dirinya sendiri atau bagaimana. Satu hal yang pasti, tangan sutradara terlihat betul di hampir semua bagian permainan Yalitza. 

Perhatikan semua laku-laku kecil yang dilakukan Yalitza. Misalnya menyentuh anjing ketika berjalan, tiba-tiba mengambil barang di tengah jalan, dan bisnis akting kecil lainnya. Kami tak melihat bisnis akting itu direncanakan oleh Yalitza. Bisnis acting itu seperti mengalir dan jadi bagian dari hidup si tokoh. Dalam posisi ini, apa yang dikatakan Jean Benedetti bahwa bentuknya direncanakan, terjadi. Bukan oleh Yalitza, tapi oleh Alfonso Cuaron. Tapi kenapa tidak ada bentuk artifisial sama sekali dalam setiap laku kecilnya itu? Kami menemukan 2 jawaban. Pertama, sepertinya Yalitza begitu percaya pada Alfonso Cuaron dan yang kedua ada pada pengertian akting secara umum menurut Jean Benedetti. 

Acting is a normal human activity. Everybody acts in one way or another almost every day. Children play and learn. Adults act and learn. Acting is a way of showing our understanding of the world and passing it on to other people. (Benedetti, 2007: 1)

Jika kita melihat permainan Yalitza Aparicio dari sudut pandang pengertian acting itu, maka itulah yang dilakukan Yalitza. Ia seperti tidak sedang berakting. Ia seperti melakukan kehidupannya sehari-hari. Ia benar-benar mempercayai dunia imajiner yang sedang berusaha diciptakan oleh Alfonso Cuaron. Sehingga, apa yang dilakukan Yalitza jadi selaras dengan pengertian akting menurut Sanford Meisner yakni “Living truthfully under imaginary circumstances”. Yalitza sepenuhnya mempercayai dunia imajiner itu tanpa keraguan sedikitpun. Ditambah dengan begitu percayanya Yalitza pada arahan yang mungkin diberikan oleh Alfonso Cuaron.

Tapi masih belum terlihat Yalitza berubah menjadi orang lain. Seandainya sebelum Yalitza Aparicio bermain di Roma, sudah ada beberapa film yang pernah ia mainkan atau ada footage videonya, akan muncul pembanding. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa banyak voter yang memilih Yalitza sebagai nominee di Oscar 2 tahun lalu. Karena sebelumnya tidak ada satupun footage Yalitza dalam bentuk video apapun. Sehingga tidak ada pembanding. Yalitza benar-benar datang entah dari mana dan muncul seketika.  Lalu dengan kekuatan “Akting normal” dan bantuan ciptaan kreatif dari sang sutradara, Yalitza Aparicio berhasil memukau para voter. 

Hal tersebut mungkin bisa jadi salah satu alasan kenapa Yalitza terpilih. Mungkin juga bisa jadi alasan banyak aktris lain yang tetiba masuk nominasi penghargaan tertentu. Karena memang tidak ada pembanding sebelumnya. Sehingga ketika mereka bermain sebagai diri mereka sendiri pun orang-orang tak akan ada yang tahu bagaimana warna suaranya, bentuk tubuh aslinya, dan kebiasaannya di kehidupan sehari-hari. Jadi mereka cukup bermain sebagai diri mereka sendiri saja. 

 

 

Tapi Yalitza kami pikir lebih dari pada itu. Ia aktris yang menurut kami dalam banyak adegan punya visi yang kuat. Misalnya di adegan mencari anak majikannya yang hilang dan ia harus menerobos kerumunan kota. Di adegan itu kami melihat Yalitza memainkan motivasinya dengan sangat baik, konsisten, dan kuat. Ia hampir tak memperhatikan sekitar. Fokus hanya pada satu tujuan. Dunia sekitarnya pun diperhatikan oleh Yalitza seadanya sesuai motivasi yang ia punya. 

Adegan semacam ini terjadi berulang. Adegan lainnya terjadi di akhir film Roma ketika menyelamatkan anak majikannya di pantai. Kami juga melihat betapa Yalitza sangat kuat memainkan motivasinya tapi tak lupa menghidupkan ruang sekitarnya dengan merespon seadanya. Poin “kepercayaan” ini jadi potensi yang dimiliki Yalitza. Ia terlihat sepenuhnya mempercayai apa yang diberikan padanya. Entah itu peristiwa, laku, atau apapun itu. Tak ada pertanyaan atau keraguan di pikirannya. Sehingga di matanya pun tidak terlihat celah lepas konsentrasi atau emosi.

Kami tak melihat ada celah kurang konsentrasi atau mengintip ke kamera atau kehilangan motivasi di mata Yalitza Aparicio. Tak ada. Mata Yalitza kuat sekali. Tak bergeming dengan banyaknya kamera dan kru yang ada di balik kamera. 

Jika kami melihat permainan Yalitza dalam sudut pandang akting normal menurut Jean Benedetti lalu kami kombinasikan dengan kuatnya Yalitza memegang visi tokoh, dan “bantuan” Alfonso Cuaron membentuk tokoh Cleo, maka Yalitza Aparicio memang pantas disejajarkan dengan nominator Oscar tahun itu. Tapi jika kami menggunakan term aktor profesional yang harus “pretend to be someone we are not”, maka semua pujian itu ternegasikan dan Yalitza tak pantas masuk Oscar. 

Kenapa? Karena meski katakanlah benar bahwa Alfonso Cuaron membantu membentuk laku Yalitza. Tapi ia tetap tidak menjadi orang lain. Alfonso hanya menggunakan apapun yang Yalitza Aparicio punya. Pemahaman yang ia punya, perasaan yang dimilikinya, sehingga ia seperti bermain sebagai dirinya sendiri, tapi dalam film Roma diberi nama Cleo. 

Melihat permainan Yalitza di Roma, selain membahas kenapa ia bisa bermain sangat bagus adalah juga fenomena aktris dan aktor baru yang bisa menggebrak dunia perfilman dengan masuk nominasi aktor terbaik. Menurut kami, hal itu terjadi karena tidak ada pembanding sebelumnya atas permainan mereka di film yang masuk penghargaan itu. Jika ada pembanding, maka mungkin mata juri akan berkata lain. Itu kenapa, menurut kami rintangan sesungguhnya bagi seorang aktor bukan di film pertamanya, tapi di film-film selanjutnya ketika semua mata sudah tertuju padanya. Apakah ia tetap bisa bermain baik seperti film pertamanya, atau keok dengan kondisi industri perfilman?  

Terima kasih, viva aktor!